Dari Moderator:
Dalam Islam, orang yang membunuh pembunuh yang telah membantai keluarganya
tanpa alasan yang benar tidak bersalah. Dia sekedar melakukan qishash yang
seharusnya dilakukan oleh negara.
Wassalam
just forward
----- Original Message -----
From: "Adi Wisaksono"
> ---------- Forwarded message ----------
> From: pambudi tyas
>
>
>
> penuturan ini mungkin bisa menggambarkan Ryan dan yang lain
> kisah anak cerdas yang jadi pembunuh..
> saya ambil dari milist psikologi tetangga kita..
> silahkan simak..
> Dari milist Psi Ind.
>
> anna
> ---------------------------------------------------
> Ini rasanya perlu mendapat perhatian dari teman2 komunitas psikologi
> dan juga teman2 yg menjadi anggota psikologi forensik yg sedang
> menyusun peta fungsi psikologi forensik.
> Saya tersadar ada yg terlewat saat ada rekan anggota yg menghubungi
> saya membicarakan warta ini. Dan kami menyepakati untuk ber-sama2
> berusaha melakukan sesuatu yg terbaik dan untuk tahu berapa banyak
> lagi "arief"2 lainnya diseluruh pelosok negeri ini.
> Yg bisa menbantu menjawab mungkin teman2 komunitas yg sering
> beraktivitas di lapas yg saya tahu banyak juga menjadi anggota milis ini
> namun jarang atau bahkan tidak mau share berbagi pengalaman di sini.
> Atau mungkin juga kak Seto bisa bersama kami bertemu untuk
> membahas hal ini?
>
> Untuk rekan Andi, banyak yg saya ingin persiapkan sebelum kami
> melangkah lebih jauh. Saya ingin bertemu bicara dg anda dan semoga
> tidak keberatan untuk memberikan nomor hp anda ke hp saya dg nomor
> 0815 1440 1150. Ini sebagai langkah awal, untuk langkah2 ke depan
> berikutnya.
>
> Semoga komunitas ini dapat melakukan sesuatu yg lebih baik lagi.
>
> Salam, Lukman SS
> Kepada rekan Yf, terima kasih sudah mengingatkan saya; dan saya tunggu
> perkembangan lebih lanjut.
>
> ----- Original Message -----
> From: andi andi
> To: psiindonesia@ yahoogroups. com
>
>
> ---------- Pesan terusan ----------
> Tanggal: 2 Mei 2008 16:01
> Subjek: [milis-nakita] [Swift-Indonesia] Nice story... {01}
> Ke: milis-nakita List Member <milis-nakita@ news.gramedia- majalah.com>
>
> . . . .pengalaman dari teman2 yang melayani di LP Tangerang
>
> Ya kembali gw bilang, this is Indonesia... .
> Terus terang, meski sudah beberapa kali mengadakan penelitian Kriminal di
> LP,
> pengalaman kali ini adalah pengalaman pertama saya ngobrol langsung dengan
> seseorang yang didakwa kasus pembunuhan berencana. Dengan jantung dag dig
> dug,
> pikiran saya melayang-layang mengira-ngira gambaran orang yang akan saya
> temui.
> Sudah terbayang muka keji hanibal lecter, juga penjahat-penjahat
> berjenggot
> palsu ala sinetron, dan gambaran-gambaran pembunuh berdarah dingin lain
> yang
> sering saya temui di cerita TV.
>
> Well, akhirnya setelah menunggu sekian lama berharap-harap cemas, salah
> satu
> sipir membawa seorang anak kehadapan saya.Yup, benar seorang anak berumur
> 8
> tahun. Tingginya tidak lebih dari pinggang orang dewasa dengan wajah yang
> diliputi senyum malu-malu. Matanya teduh dengan gerak-gerik yang sopan.
>
> Saya pun membaca berkas kasusnya yang diserahkan oleh sipir itu. Sebelum
> masuk
> penjara ternyata ia adalah juara kelas di sekolahnya, juara menggambar,
> jago
> bermain suling, juara mengaji dan azan di tingkat kanak-kanak. Kemampuan
> berhitungnya lumayan menonjol. Bahkan dari balik sekolah di dalam penjara
> pun
> nilai sekolahnya tercatat kedua terbesar tingkat provinsi. Lantas kenapa
> ia
> sampai membunuh? Dengan rencana pula?
>
> Kasus ini terjadi ketika Arif sebut saja nama anak ini begitu, belum genap
> berusia tujuh tahun. Ayahnya yang berdagang di sebuah pasar di daerah
> bekasi,
> dihabisi kepala preman yang menguasai daerah itu. Latar belakangnya karena
> si
> ayah enggan membayar uang 'keamanan' yang begitu tinggi. Berita ini
> rupanya sampai di telinga Arif. Malam esok harinya setelah ayahnya
> dikebumikan
> ia mendatangi tempat mangkal preman tersebut. Bermodalkan pisau dapur ia
> menantang orang yang membunuh ayahnya.
>
> 'siapa yang bunuh ayah saya!' teriaknya kepada orang yang ada di tempat
> itu.
>
> 'Gue terus kenapa?' ujar kepala preman yang membunuh ayahnya sambil
> disambut gelak tawa di belakangnya.
>
> Tanpa banyak bicara anak kecil itu sambil melompat menghunuskan pisau ke
> perut
> si preman. Dan tepat mengenai ulu hatinya, pria berbadan besar itu jatuh
> tersungkur ke tanah. Arif pun langsung lari pulang ke rumah setelahnya.
> Akhirnya
> selesai sholat subuh esok paginya ia digelandang ke kantor polisi.
>
> 'Arif nih sering bikin repot petugas di Lapas!' ujar kepala lapas yang
> ikut menemani saya mewawancarai arif sambil tersenyum. Ternyata sejak di
> penjara
> dua tahun lalu. Anak ini sudah tiga kali melarikan diri dari selnya. Dan
> caranya
> pun menurut saya tergolong ajaib.
>
> Pelarian pertama dilakukannya dengan cara yang tak terpikirkan siapapun.
> Setiap
> pagi sampah-sampah dari Lapas itu di jemput oleh mobil kebersihan. Sadar
> akan
> hal ini, diam-diam Arif menyelinap ke dalam salah satu kantung sampah.
> Hasilnya
> 1-0 untuk Arif. Ia berhasil keluar dari penjara.
>
> Pelarian kedua lebih kreatif lagi. Anak yang doyan baca ini pernah membaca
> artikel tentang fermentasi makanan tape (ingat loh waktu wawancara usianya
> baru
> 8 tahun). Dari situ ia mendapat informasi bahwa tape mengandung hawa panas
> yang
> bersifat destruktif terhadap benda keras. Kebetulan pula di Lapas anak ini
> disediakan tape uli dua kali dalam seminggu. Setiap disediakan tape, arif
> selalu
> berpuasa karena jatah tape itu dibalurkannya ke dinding tembok sel
> tahanannya.
> Hasilnya setelah empat bulan, tembok penjara itu menjadi lunak seperti
> tanah
> liat. Satu buah lubang berhasil dibuatnya. 2-0 untuk arif. Ia keluar
> penjara ke
> dua kalinya.
>
> Pelarian ke tiganya dilakukan ala Mission Imposible. Arif yang ditugasi
> membersihkan kamar mandi melihat ember sebagai sebuah solusi. Besi yang
> berfungsi sebagai pegangan ember itu di simpannya di dalam kamarnya. Tahu
> bahwa
> dirinya sudah diawasi sangat ketat, Arif memilih tempat persembunyian
> paling
> aman sebelum memutuskan untuk kabur. Ruang kepala Lapas menjadi
> pilihannya.
> Alasannya jelas, karena tidak pernah satu pun penjaga berani memeriksa
> ruangan
> ini. Ketika tengah malam ia menyelinap keluar dengan menggunakan besi
> pegangan
> ember untuk membuka pintu dan gembok. Jangan tanya saya bagaimana caranya,
> pokoknya tahu-tahu ia sudah di luar. 3-0 untuk Arif.
>
> Lantas kenapa ia bisa tertangkap lagi? Rupanya kepintaran itu masih berada
> di
> sebuah kepala bocah. Pelarian-pelarianny a didorong dari rasa kangennya
> terhadap
> ibunya. Anak ini keluar dari penjara hanya untuk ke rumah sang ibunda
> tercinta.
> Jadi dari Lapas tanggerang ia menumpang-numpang mobil omprengan dan juga
> berjalan kaki sekian kilometer dengan satu tujuan, pulang!
>
> Karena itu pula pada pelarian Arif yang ketiga, kepala Lapas yang juga
> seorang
> ibu ini meminta anak buahnya untuk tidak segera menjemput Arif. Hasilnya
> dua
> hari kemudian Arif kembali lagi ke lapas sambil membawa surat untuk kepala
> Lapas
> yang ditulisnya sendiri.
>
> Ibu kepala Arif minta maaf, tapi Arif kangen sama ibu Arif. Tulisnya
> singkat.
>
> Seorang anak cerdas yang harus terkurung dipenjara. Tapi, saya tidak
> lantas
> berpikir bahwa ia tidak benar-benar bersalah dan harus dibebaskan.
> Bagaimanapun
> juga ia telah menghilangkan nyawa seseorang. Tapi saya hanya
> berandai-andai jika
> saja, polisi bertindak cepat menangkap pembunuh si ayah (secepat polisi
> menangkap si Arif) pastinya saat ini anak pintar dan rajin itu tidak akan
> berada
> di tempat seperti ini. Dan kreativitasnya yang tinggi itu bisa berguna
> untuk hal
> yang lain. Sayangnya si Arif itu cuma anak pedagang sayur miskin sementara
> si
> preman yang dibunuhnya selalu setia menyetor kepada pihak berwajib
> setempat.
> Itulah yang namanya keadilan!
> ............ ......... ......... ......... ......... ......... .........
> ......... .........
>
>