Salam, Sebuah pelajaran menarik seputar perbedaan yang menjadi sunnatullah ... semoga bermanfaat.
satriyo -- Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang now surely by Allah's remembrance are the hearts set at rest >> al-Ra'd [13]: 28 *Pembedaan Itu Memang Perlu* assalaamu'alaikum wr. wb. Kita tidak mungkin membayangkan dunia ini dipenuhi dengan dua jenis manusia yang sama persis. Frase "dua jenis" dan "sama persis" saja sudah kedengaran kontradiktif. Bagaimana ia bisa dikatakan dua jenis jika atributnya sama persis? Tidak sulit untuk kita pahami bersama bahwa Allah SWT memang menciptakan manusia dalam jenis laki-laki dan perempuan dengan perbedaan-perbedaan yang terlalu nyata untuk dibantah oleh siapa pun. Masalah dari gerakan feminisme ala Barat kurang lebih sama seperti karakter perempuan pada umumnya ; mereka seringkali terlalu sensitif dan reaktif terhadap segala sesuatu yang membedakan mereka dari lelaki. Seolah-olah setiap pembedaan itu selalu bermakna negatif. Seolah-olah perempuan selalu direndahkan dari lelaki jika mereka dianggap berbeda dari segi apa pun dari kaum Adam. Padahal, jika mau mempelajari masalah ini secara seksama, tidak mesti demikian. Masalahnya adalah pada pengambilan sudut pandang yang salah, dan ini bisa terjadi baik pada lelaki maupun perempuan. Sensitifitas perempuan, misalnya, seringkali dianggap sebagai suatu hal yang buruk. Kaum lelaki kadang menganggap perempuan sebagai makhluk yang manja, terlalu peka, *overreacting*, dan sebagainya. Ironisnya, kaum perempuan sendiri mengikuti begitu saja pandangan sebagian kaum lelaki yang seperti ini. Oleh karena itu, kaum feminis langsung menolak mentah-mentah jika perempuan dibilang lebih sensitif atau lebih mengutamakan perasaan daripada pikirannya. Padahal "sensitif" adalah sebuah kata yang netral, tidak berkonotasi baik maupun buruk. Artinya, selain ada penyimpangan yang dapat terjadi akibat sensitifitas yang berlebihan, ada pula sisi positif dari atribut yang satu ini. Kita sering mendengar cerita tentang seorang ibu yang baru saja selesai ber-*jihad* melahirkan anaknya. Berjam-jam ia berjuang melawan rasa sakit yang tak terbayangkan, bahkan hingga bersimbah darah. Namun setelah bayi itu lahir, dan dilihatnyalah wajah bayi itu, kemudian ditimang-timangnya dalam pelukan, hilanglah rasa sakit itu semuanya. Bukankah ini adalah produk dari sensitifitas itu sendiri? Saking sensitif perasaannya, rasa sakit yang sangat pun bisa terlupakan jika ada emosi yang lebih besar, yaitu kebahagiaan menggendong anak yang lahir dari rahimnya. Meskipun darah masih terus mengalir, namun keadaan emosional bisa mengatasi kesulitan fisik pada saat itu. Kaum lelaki, yang identik dengan obyektifitas dan ketajaman akal, tidak akan mampu melakukan hal yang serupa. Kemampuannya mengurusi dua hal sekaligus akan membuatnya sangat tersiksa saat melahirkan (andaikan memang lelaki bisa melahirkan). Sakit iya, bahagia pun iya. Akhirnya ia hanya bisa tersenyum sanggil meringis-ringis, karena rasa sakitnya tidak sirna meskipun hatinya bahagia. Coba bayangkan seandainya ibu kita Khadijah ra. bukanlah seorang perempuan yang amat lembut dan sensitif hatinya. Ketika Rasulullah saw. menggigil ketakutan setelah menerima wahyu, hati Khadijah ra.-lah yang cukup sensitif untuk merasakan kebenaran dari wahyu tersebut. Khadijah ra.-lah yang hatinya begitu kuat melakukan pembelaan secara emosional terhadap suaminya. Ketika Rasulullah saw. merasa ragu dan ngeri, dengarkanlah pembelaan emosional sang istri terhadapnya : *"Tidak! Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya, karena engkau suka menyambung tali persaudaraan, ikut menanggung beban orang lain, memberi makan orang yang miskin, menjamu tamu dan menolong orang yang menegakkan kebenaran!"* Dalam cerita-cerita kepahlawanan *mujahidin *Palestina yang *syahid* melawan kaum Zionis, kita temukan kaum ibu yang mencetak para pahlawan dari rumahnya sendiri. Hatinya yang sensitif memang mampu merasakan takut, namun sensitifitas itu pula yang menyebabkan mereka begitu kuat berpihak pada kebenaran. Perasaan itulah yang memberi mereka kekuatan melepas anak-anaknya untuk pergi bertempur dan siap untuk menerima mereka kembali dalam keadaan sudah menjadi *syuhada*. Meskipun kelak menangis-nangis juga melihat anaknya *syahid*, namun di sana juga ada rasa bangga yang membuncah tinggi yang dengan segera akan mengobati sakit karena kehilangan. Perempuanlah yang paling mampu bersabar dengan janji Allah SWT pada orang tua yang mengirimkan anak-anaknya ke surga dengan predikat *syuhada*. ** *Pilih Lelaki atau Perempuan?* Ketika isu homoseksualitas merebak, mulai dari 'fatwa' Siti Musdah Mulia yang menghalalkan komoseksualitas hingga pada kasus Ryan dari Jombang, status jenis kelamin kembali diperdebatkan. Baik-buruknya homoseksualitas kembali mendapat sorotan, dan ini adalah sebuah kesempatan yang sangat baik bagi dakwah, jika kita mampu memanfaatkannya. Salah satu hal yang menarik dari kasus Ryan adalah terungkapnya kenyataan bahwa kaum homoseksual terutama *gay* memang memiliki kecenderungan lebih besar untuk melakukan kekerasan, terutama jika merasa dikhianati. Hal ini bukan merupakan hasil kesimpulan para ulama dan psikolog belaka, melainkan juga pengakuan dari kaum homoseksual sendiri. Logikanya, karena jumlah kaum homoseksual memang sangat minoritas, maka jika pasangannya meninggalkannya, muncullah perasaan putus asa karena khawatir takkan lagi mendapatkan pasangan. Penjelasan ini cukup logis dan dapat diterima. Namun teori ini belum bisa menjelaskan baik-buruknya homoseksualitas dan ketidakseimbangan yang dihasilkannya pada diri manusia secara personal maupun peradaban manusia pada umumnya. Hemat saya, jenis kelamin adalah satu paket dengan atribut-atribut mental yang mengiringinya. Jika memiliki kelamin lelaki, maka ia harus pula memiliki atribut-atribut kelelakian, demikian pula sebaliknya. Keseimbangan akan terganggu jika atribut-atribut ini dimiliki secara setengah-setengah. Perhatikan, ketika saya mengatakan "harus memiliki", itu artinya mereka yang belum memilikinya harus berjuang agar bisa mendidik dirinya sendiri untuk memiliki atribut-atribut tersebut. Yang terjadi pada kaum *gay* seperti Ryan adalah perilaku impulsif yang bisa meledak tanpa peringatan sebelumnya karena sesuatu hal yang memancing kemarahannya. Karena salah bicara saja, ada orang sesama *gay* yang langsung dihabisinya di tempat. Ini adalah bukti ketidaksempurnaan atribut yang dimilikinya. Seorang lelaki memang tidak sesensitif perempuan, namun jika kemarahan sudah di ubun-ubun, maka penyelesaian secara fisik adalah opsi yang akan diambilnya. Payahnya, Ryan memiliki perasaan sensitif seorang perempuan sehingga membuatnya mudah terluka, dan di sisi lain juga memiliki atribut lelaki yang mengambil opsi kekerasan fisik. Hasilnya adalah sebagaimana yang dapat ditemukan di halaman rumahnya sendiri. Penjelasan ini, menurut saya, menunjukkan bahwa pada akhirnya kita memang harus memilih : akan menjadi lelaki atau perempuan? Kaum pembela homoseksual selalu mengatakan bahwa para waria itu memang lahir dengan fisik lelaki namun dengan perasaan seorang perempuan, namun penjelasan ini agaknya terlalu menyederhanakan masalah. Pada kenyataannya, para waria itu meskipun memiliki beberapa atribut perempuan namun sisi kelaki-lakiannya tetaplah dominan. Demi kebaikan mereka sendiri, mereka harus berjuang untuk menjadi lelaki sejati, bukannya malah berpura-pura menjadi perempuan dan terus menyakiti diri sendiri. Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Kita pun harus menghentikan sikap terlalu mendramatisir masalah ini, sehingga tak perlu muncul klaim bahwa Allah SWT-lah yang telah menciptakan mereka dengan orientasi seksual yang demikian. Klaim ini sepintas kedengaran seperti ideologi Mu'tazilah yang mengatakan bahwa karena Allah SWT tak mungkin menciptakan keburukan, maka segala yang buruk adalah ciptaan manusia belaka. Pandangan ini sekilas kedengaran baik, namun juga mengimplikasikan bahwa di dunia ini ada hal-hal yang berada di luar kuasa Allah SWT. Padahal, Al-Qur'an pun menjelaskan bahwa Iblis pun meminta ijin Allah sebelum menggoda manusia. Di sisi lain, klaim ini seolah menutup mata terhadap hal-hal buruk lain yang dijadikan Allah SWT sebagai ujian terhadap manusia. Ada orang yang, misalnya, punya kecenderungan menyakiti orang lain dengan lisannya. Abu Dzar al-Ghifari ra. adalah seorang sahabat Rasulullah saw. yang diwanti-wanti untuk menjaga lisannya, karena ia lebih tajam daripada pedang. Ada pula yang punya kecenderungan berbohong, malas, bahkan suka mencuri (*kleptomaniac*). Apakah mereka ini tidak wajib berjuang mendidik dirinya sendiri untuk melepaskan diri dari sifat-sifat buruk tadi? Tentu wajib! Oleh karena itu, kaum homoseksual pun memiliki kewajiban untuk kembali ke jalan yang lurus. Bukankah agama adalah tuntunan bagi manusia yang ingin mendapatkan *ridha* Allah SWT? *Siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari Barat, maka Allah akan menerima taubatnya. **(H.R. Muslim)* * * *Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla menerima taubat hamba-Nya sebelum nyawa sampai di tenggorokannya.** (H.R. Muslim)* wassalaamu'alaikum wr. wb. Link: http://akmal.multiply.com/journal/item/687/Pembedaan_Itu_Memang_Perlu [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ === Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta Informasi lengkap di: http://www.media-islam.or.id http://www.syiarislam.wordpress.comYahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

