Acara besar yang dihadiri puluhan ribu orang dari dalam dan luar negeri.
Tanpa liputan media, tanpa spanduk ataupun poster. "Dai" nya disebar ke
'penjuru bumi'

Hidayatullah.com-Puluhan ribu orang menyemut berpakaian putih-putih.
Sepinya hutan di Desa Cihuni, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang

siang itu seolah sirna karena hadirnya lautan manusia. Jumat (8/ 8)
kemarin, tepat di area hutan yang banyak ditumbuhi ilalang dan dipenuhi
Pepohon

Kelapa ini berubah menjadi lautan manusia. Lantunan ayat suci Al-Quran
dan bau aroma minyak wangi turut menambah kekhusukan di tengah 

area hijau yang jauh dari rumah penduduk itu. Inilah sebuah hajatan
berkelas internasional. Bertempat di hutan ilalang, tepatnya di lahan
perkebunan kelapa seluas 35 hektar, di dekat danau di kawasan Serpong,
Banten, di bagian barat Pulau Jawa. Meski dianggap hajatan
internasional, Anda tidak akan menemukan spanduk atau

backdrop raksasa. Tidak pula tempelan poster dan famplet, atau bahkan
serabutan moncong kamera dan riuh wartawan.

"Asas (acara ijtima ini) kesederhanaan saja," ujar Ustadz Luthfi Yusuf,
salah seorang dewan syuro gerakan dakwah Jamaah Tabligh Indonesia kepada

www.hidayatullah.com di sela acara yang berlangsung pada 8-10 Agustus
lalu ini. Ya, ini adalah pertemuan tahunan para dai gerakan dakwah
transnasional,

Jamaah Tabligh markas Indonesia. Acara yang dihadiri 50 ribu lebih orang
dari dalam dan luar negeri. Dari acara ini dikeluarkan 19 ribu-an jamaah

untuk berdakwah ke seluruh Indonesia bahkan ke manca  negara. Ke
Amerika, Afrika, Australia, Suriname, hingga Eropa. Dana dakwah dari
kocek sendiri.

"Berkorban untuk agama dengan harta dan diri sendiri," tukas
Abdurrahman, seorang penanggung jawab ijtima asal Jawa Tengah.

 

Menjelang Sholat Jumat, Wakil Presiden Jusuf Kalla dengan pengawalan
cukup ketat dari Paspampres hadir ditengah ribuan jamaah yang kerap
disebut Jamaah

tabligh tersebut. Yah, Jusuf Kalla didampingi Bupati Tangerang H Ismet
Iskandar menghadiri Ijtimah Jamaah Tabligh yang digelar pertama kalinya
di

Tangerang. Acara ijtima ini, lanjut Ustadz Luthfi, adalah untuk
meneladani perjuangan Nabi shallallahu 'alaihi wassallaam dan para
sahabatnya radhiallahu 'anhum.

"(Jadi) nggak perlu hotel. Ini kan semuanya sama, berbaur. Jadi mendekat
dengan perjuangan Nabi SAW dan para sahabatnya r.hum," tambah ustadz
lulusan

Mesir dan Pakistan yang juga pimpinan sebuah pondok pesantren di
Bajarmasin, Kalimantan Selatan ini. Meski terbilang sederhana, namun
acara ini jauh dari kesan 

asal-asalan. Menurut Abdurrahman, seorang penanggung jawab ijtima asal
Jawa Tengah,

persiapan acara sudah dilakukan sejak empat bulan  sebelumnya. Lebih
dari lima ribu orang dikerahkan tanpa dibayar sepeserpun. "Lillahi
ta'ala. Dari

kita untuk kita," kata Abdurrahman. Meski demikian juga ada infak dari
para muhsinin, termasuk penyedian lahan untuk ijtima. Jenggot, gamis dan
siwak

Memasuki area ijtima yang hanya khusus untuk kaum Adam ini, anda akan
melewati sejumlah posko penerima tamu (istiqbal). Bahkan saat kedatangan

Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla yang biasanya disambut gegap
gempita, kali ini hanya disambut biasa saja. Saat datang, tidak banyak
penjagaan di lokasi acara. Malah saat Kalla memasuki wilayah, tidak
semua Paspampres diizinkan masuk. Wartawan dilarang mengambil gambar dan
foto. Pun, wartawan perempuan tidak 

Diperbolehkan keluar dari mobil. Dari sini, peserta dan tamu akan
diarahkan ke tempatnya masing-masing. Ada tenda untuk tamu khusus
(khowas), tenda jamaah luar 

negeri, tenda untuk para ustadz, juga tenda-tenda berdasarkan provinsi
asal peserta. Total tenda yang terbentang: 15 hektar! Para syaikh
ditempatkan dalam bangunan semi permanen yang  terbuat dari bilik bambu.
Apik. Tapi semua berbaur dalam suasana dakwah,  saling mengingatkan
tentang kebesaran Allah SWT dan kekalnya negeri akhirat. Suasana sunnah
terlihat.

Tidak dijumpai orang berdasi di sini. Apalagi kaum wanita. Yang lazim
ditemui adalah pria-pria berjenggot berbaju gamis lengkap dengan siwak
terselip di saku.

Meski bertempat di perkebunan kelapa, fasilitas di sini cukup lengkap.
Penyelenggara menyediakan sekitar 1500 wc semi-permanen untuk urusan
buang-membuang hajat. Untuk wudhu dan mandi, terbentang ratusan meter
parit dari terpal, dialiri air yang disedot oleh mesin pompa kelas berat
di kiri dan kanan medan ijtima.

Disediakan juga sejumlah pos pelayanan: seperti pos kesehatan, pos
transportasi, pos barang hilang, hingga pos penitipan barang berharga.
Penyelenggara juga menyediakan hidangan sebanyak 10 ribu nampan untuk 50
ribu-an orang. Satu nampan untuk lima orang. Menunya variatif, kadang
nasi kebuli, sekali waktu nasi dengan ikan bawal dan sayur terong. Multi
Bahasa Saat tiba waktu shalat, seluruh peserta diarahkan ke tenda area
shalat. Sambil menunggu iqamat dikumandangkan, para petugas keamaanan
(hirosah) shalat lebih dahulu secara terpisah, agar mereka bisa
mengawasi jalannya shalat puluhan ribu jamaah ini.

Selepas shalat, bayan (ceramah) pun digelar. Tidak perlu khawatir dengan
masalah bahasa. Penyelenggara telah menyiapkan tim penerjemah: ada
penerjemah dari bahasa Urdu atau Arab ke bahasa Indonesia, Urdu ke Arab,
Urdu ke Tagalog, hingga terjemah bahasa Thailand. "Terjemah ke bahasa
Inggris juga ada," kata Isnandar, 

seorang petugas pembawa acara. Bayan biasanya diisi oleh para syaikh
senior. Umumnya berasal dari Pakistan, Bangladesh, atau India - tempat
berdirinya gerakan jamaah  ini. Di sini peserta diingatkan akan urgensi
agama dan dakwah sebagai satu-satunya jalan menuju kebahagian dunia dan
akhirat. Para syaikh juga menyampaikan poin-poin penting sebagai bekal
dakwah. Seperti masalah iman kepada Allah dan rasul-Nya, pentingnya
mendirikan shalat berjamaah dan 

keutamaan menuntut ilmu. Para syaikh juga menjelaskan sejumlah adab dan
tata tertib dakwah kepada para peserta. Para peserta yang akan keluar
berdakwah 

(khuruj) dikelompokkan dalam satu jamaah. Tiap jamaah rata-rata berisi
10 orang yang dipimpin seorang amir jamaah. Karenanya, para syaikh juga
menjelaskan sejumlah adab tentang praktek berjamaah. Di antaranya,
setiap anggota jamaah wajib taat kepada amir selama amir tersebut taat
kepada Allah dan rasul-Nya. Sebaliknya, amir juga harus perhatian dan
tidak menzhalimi  anggota jamaahnya. Tapi tenang, tidak ada acara baiat
ataupun mandi kembang tujuh rupa dalam masalah amir ini.

Hari ketiga, puncak acara ijtima. Sebelum para jamaah  dakwah dilepas,
syaikh akan memberikan bayan (pesan) hidayah. Nasihat Pamungkas kepada
pada dai

sebagai bekal dakwah. Bayan ditutup dengan doa bersama, agar Allah SWT
sudi menurunkan hidayahnya ke seluruh manusia. Kemudian, para jamaah
dakwah

ber-mushafahah, berjabat tangan dengan para syaikh untuk melepas
keberangkatan mereka ke medan dakwah. Pada penutupan acara, para
masyayyikh, diantaranya Syeikh  Mustaqim, salah satu Syeikh Jamaah
Tabligh (JT) asal India melepas lebih dari 19 ribu juru dakwah untuk
disebar berdakwah ke seluruh Indonesia, 

negeri jiran, India-Pakistan-Bangladesh, Timur Tengah, bahkan ke
negeri-negeri Barat. Abdurrahman, salah seorang penanggung jawab Ijtima
asal Jawa Tengah

mengatakan, pelepasan dakwah ini bukan untuk memperbaiki orang lain
semata. Tapi berkorban untuk agama. "Tapi untuk ishlah (perbaiki) diri.
Berkorban untuk 

agama dengan harta dan diri sendiri," ujarnya kepada
www.hidayatullah.com. Dari hutan di Desa Cihuni, Kecamatan Pagedangan,
Kabupaten Tangerang, jamaah 

JT ini akan menyebar ke penjuru bumi. [surya/www.hidayatullah.com]

 

Jazaakumullooh khoiron katsiiroo 'ala kulli haal

Subhaanka Allohumma Wa Bihamdika Asyhadu Allaa Ilaaha Illa Anta 

Astaghfiruka Wa Atubu Ilaika



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke