Sebuah Renungan Tentang Memaknai Kemerdekaan

Memasuki bulan Agustus ini, kita mulai menyaksikan adanya sesuatu yang
berbeda di jalan-jalan, di ujung-ujung gang, dan di jalan-jalan
perkampungan. Warna merah putih menghiasi jalan-jalan dan perkampungan.
Mulai melangkah lebih jauh lagi pada bulan Agustus, kita mulai saksikan
perlombaan-perlombaan digelar di gang-gang perkampungan. Anak-anak larut
dalam kegembiraan merayakan peringatan hari kemerdekaan yang sebenarnya
belum mereka ketahui. Wajarlah, masih anak-anak. Mereka hanya berkeinginan
untuk mendapatkan hadiah dan merasa senang saat mengikuti lomba.

Tak ketinggalan dengan anak-anak mereka yang berkompetisi dalam lomba balap
karung, makan kerupuk, memasukkan ballpoint ke dalam botol, mengambil koin
dari labu, pecah air, membawa kelereng, pecah balon, dan juga memindah
belut; orang tua dan kakak-kakak mereka pun juga ikut larut dalam
perayaan-perayaan lomba. Ya, semua rakyat dari seluruh lapisan larut dalam
perlombaan-perlombaan merayakan hari kemerdekaan RI mulai dari kampung,
pedesaan, perkotaan, pabrik, pasar, kantor, dan seluruh pelosok tanah air.

Puncak dari segala puncak itu nantinya adalah pada saat peringatan
Detik-detik Proklamasi yang akan berlangsung pada tanggal 17 Agustus tepat
pada puku 10.00 WIB. Dan sebagai penutup dari perayaan proklamasi
kemerdekaan itu nantinya biasanya akan diisi dengan pawai dan karnaval hari
kemerdekaan di jalan-jalan perkotaan.

Terlihat sejenak berpikir di ujung jalan sesosok bayangan dengan perawakan
biasa memandang jauh seolah tak bertepi. Dari sudut matanya terlihat tatapan
yang menerobos memandang relung-relung kehidupan.

Bisik dalam hatinya lirih berkata,"Apa ini yang disebut kemerdekaan?"

Tak berapa lama, ia ayunkan kakinya menuju sebuah masjid. Ia duduk dan
terlihat mulai diam merenung tentang sesuatu. Saraf-saraf dalam otaknya
mulai bergerak-gerak memutar klise-klise memori sejarah dan analisa. Ia coba
mengingat kembali lembaran-lembaran sejarah bangsa dan negaranya tercinta,
Indonesia. Ia perintahkan otaknya memutar kembali file-file
pelajaran-pelajaran sejarah yang telah ia rekam dari pelajaran di sekolah
dan bacaan-bacaan yang dibacanya.

Ia ingat bagaimana dahulu para pejuang-pejuang mengangkat senjata. Memorinya
mengenang keperkasaan Teuku Umar dan Cut Nyak Dien melawan Penjajah. Ia
ingat betul bagaimana masyarakat Aceh adalah masyarakat yang paling kuat
dalam melawan penjajah. Ia juga ingat betul bagaimana masyarakat Aceh rela
memberikan derma mereka untuk membangun Indonesia melalui urunan uang
mereka.

Memori sang pria pun tiba-tiba berbalik kepada kenangan cerita sejarah Imam
Bonjol yang dikalahkan oleh pengkhianat bangsa, kenangan sejarah Pangeran
Diponegoro yang dikhianati oleh orang sebangsa sendiri. Berturut-turut ia
ingat kembali akan perjuangan Sultan Hasanudin, Sultan Agung, dan Patimura.
Selanjutnya, bayangnya melihat peranan Syarekat Dagang Islam sebagai
organisasi pergerakan pertama yang berdiri di Indonesia yang berorientasi
pada rakyat secara nasional.

"Bukan Budi Utomo yang pertama kali berdiri" katanya lirih dalam hati.

"Budi Utomo adalah organisasi lokal yang berdiri jauh sesudah berdirinya
Syarekat dagang Islam." keluhnya.

"Ia hanya berorientasi lokal dan tidak memiliki program kerakyatan. Dia
hanya kumpulan para bangsawan yang sok pahlawan mengklaim diri sebagai
organisasi pertama yang bergerak merebut kemerdekaan. Bohong besar!"
batinnya berkata lantang.

Tak berapa lama, ia terbangun dari lamunannya. Ia lihat beberapa meter dari
masjid tempat duduknya, sebuah perayaan kemerdekaan. Dengan diiringi
musik-musik, terlihat seorang wanita berjoget menyanyikan lagu dangdut, lalu
berturut-turut sepasang suami istri berkaraoke bernyanyi tembang kenangan,
dan tak ketinggalan seorang bocah berjoget mengikuti gaya joget para
penyanyi dangdut di negara ini mengiringi nyanyian. Sang bocah dengan
perasaan senang meliuk-liukkan tubuhnya dan memutar-mutar kepalanya. Gaya
jogetnya seperti gaya penyanyi yang dikritik oleh Sang Raja Dangdut hingga
menangis.

"Apa ini arti kemerdekaan?" kata sang pria.

"Mau dibawa kemana bangsa ini? Tak kudapatkan sejarah cerita adanya pesta
semacam ini di zaman perjuangan dulu. Dimana sisa-sisa cucuran keringat dan
darah serta nyanyian peluru dan dentuman meriam para pendahulu?" kata
batinnya.

"Bangsa ini belum merdeka!!! Belum merdeka!!!" bisiknya lirih.

"Bangsa ini masih dibelenggu oleh kekuasan kapitalis, dan dijajah oleh para
pengkhianat-pengkhianat bangsa yang mengklaim dirinya nasionalis atau
pejuang. Padahal kalian adalah anak keturunan para pengkhianat yang
menyerahkan nyawa para pejuang Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, dan lainnya
kepada sekutunya, sang penjajah Belanda yang menyebarkan misi suci 3G. Gold,
Glory, dan Gospel. Kalianlah yang menipu rakyat dengan jiwa sok nasionalis
yang mengahabiskan waktu kalian untuk pesta dan uang semata. Kalianlah yang
memfitnah para pejuang dengan sebutan para pemberontak, teroris, dan
gerombolan. Kalian yang berkuasa tak beda dengan para pengkhianat bangsa di
zaman Perang Paderi, yang justru membawa kehancuran bangsa ini. Bangsa ini
belum merdeka! Bangsa ini hanya merdeka jika rakyat ini telah menikmati
udara hukum sang Maha Kuasa terlaksana!!!" berontaknya di dalam hati.

Tak kuat melihat perayaan peringatan penuh kedustaan itu, sang pria tersebut
pun bangun dari duduknya. Ia ayunkan kakinya segera melangkah menjauh dari
riuh-rendah musik peringatan hari kemerdekaan itu. Di ujung lorong jalan,
tak berapa lama, ia pun hilang dalam bayangan gelap malam. (fikreatif)

[EMAIL PROTECTED]
http://amaduq01.wordpress.com


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke