Personal Financial Advisor, PruVision Agency
Telp. 021 - 71006200, 08181 - 53604
e-mail: [EMAIL PROTECTED]
http://yusrilfreefa.blogspot.com



----- Pesan Diteruskan ----
Dari: RH Bayu Suharso <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [EMAIL PROTECTED]
Terkirim: Rabu, 27 Agustus, 2008 16:45:44
Topik: Re: [bumi-serpong] Fw: [sfc-jkt] Penipuan OMNI Iternational Hospital 
Alam Sutera Tangerang


mestinya dituntut saja secara hukum.
saya juga kapok berobat ke Omni, waktu itu utk dokter gigi.
solusinya tidak tepat dan mahal, ngabisin jatah asuransi.

salam,

bayu

2008/8/27 grace palayukan <[EMAIL PROTECTED] com>

>   Milister, ini sharing dari milis tetangga.
> Mungkin kejadian ini tidak menimpa kita dan mungkin pula informasi ini
> perlu lebih dicermati kebenarannya, tapi demi kesehatan kita mungkin baik
> juga menjadi bahan pembelajaran kalau kita berobat ke rumah sakit
> ........intinya sebagai pasien kita harus tetap kritis ........
>
> salam,
> Grace.
>
> Fyi,
>
>
> Subject:
> Penipuan OMNI Iternational Hospital Alam Sutera Tangerang
>
> Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya,
> terutama
> anak-anak, lansia dan bayi.
>
> Bila anda berobat, berhati-hatilah dengan kemewahan RS dan title
> International
> karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji
> coba
> pasien, penjualan obat dan suntikan.
>
> Saya tidak mengatakan semua RS International seperti ini tapi saya
> mengalami
> kejadian ini di RS Omni International.
>
> Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB, saya dengan kondisi panas
> tinggi
> dan pusing kepala, datang ke RS. OMNI Intl dengan percaya bahwa RS tersebut
> berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran
> dan
> manajemen yang bagus.
>
> Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39
> derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah
> thrombosit
> saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000, saya diinformasikan
> dan
> ditangani oleh dr. Indah ( umum ) dan
> dinyatakan saya wajib rawat inap. Dr. Indah melakukan pemeriksaan lab ulang
> dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu
> thrombosit 27.000. Dr. Indah menanyakan dokter specialist mana yang akan
> saya
> gunakan tapi saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta
> dengan
> RS ini. Lalu referensi dr. Indah adalah dr. Henky. Dr. Henky memeriksa
> kondisi
> saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah
> positif
> demam berdarah.
>
> Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau ijin
> pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi,
> dr.Henky visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam
> bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?), saya kaget
> tapi
> dr. Henky terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan
> berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa ijin pasien atau
> keluarga pasien. Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan
> tetap
> masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya
> sangat
> kuatir karena dirumah saya memiliki 2 anak yang masih batita jadi saya
> lebih
> memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh
> dan
> saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.
>
> Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap
> suntik
> tidak ada keterangan apapun dari suster perawat, dan setiap saya meminta
> keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, lebih terkesan suster
> hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu box
> lemari
> pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.
>
> Tangan kiri saya mulai membengkak, saya minta dihentikan infus dan suntikan
> dan
> minta ketemu dengan dr. Henky namun dokter tidak datang sampai saya
> dipindahkan
> ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat
> dan
> datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa, setelah dicek
> dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr. Henky saja.
>
> Esoknya dr. Henky datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk
> memberikan obat berupa suntikan lagi, saya tanyakan ke dokter tersebut saya
> sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan
> berarti
> bukan kena demam berdarah tapi dr. Henky tetap menjelaskan bahwa demam
> berdarah
> tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali
> diberikan suntikan yang sakit sekali.
>
> Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak
> napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya
> berkata menunggu dr. Henky saja. Jadi malam itu saya masih dalam kondisi
> infus
> padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri
> saya.
>
> Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan
> suntikan dan obat-obatan.
>
> Esoknya saya dan keluarga menuntut dr. Henky untuk ketemu dengan kami namun
> janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak
> saya
> menuntut penjelasan dr. Henky mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal
> yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam
> riwayat
> hidup saya belum pernah terjadi.
>
> Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri
> saya.
>
> Dr, Henky tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan, dokter tersebut
> malah
> mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali
> dan
> menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya
> dan
> meminta dr. Henky bert anggung jawab
> mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat
> jalan
> saja. Dr. Henky menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan
> yang memuaskan.
>
> Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai
> membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat namun saya tetap tidak mau
> dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi saya membutuhkan
> data
> medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data
> medis
> yang fiktif.
>
> Dalam catatan medis, diberikan keterangan bahwa BAB saya lancar padahal itu
> kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow upnya
> samasekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang
> 181.000 bukan 27.000.
>
> Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat
> dikagetkan
> bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah
> 181.000,
> kepala lab saat itu adalah dr. Mimi dan setelah saya complaint dan
> marah-marah,
> dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di
> Manajemen Omni maka saya desak untuk bert emu
> langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.
>
> Saya mengajukan complaint tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Ogi
> (customer service coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda
> terima
> tersebut hanya ditulis saran bukan complaint, saya benar-benar dipermainkan
> oleh Manajemen Omni dengan staff Ogi yang tidak ada service nya sama sekali
> ke
> customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima
> pengajuan complaint tertulis.
>
> Dalam kondisi sakit, saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen, atas nama
> Ogi
> (customer service coordinator) dan dr. Grace (customer service manager) dan
> diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan
> saya.
>
> Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan
> dari
> lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000 makanya
> saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000
> saya
> masih bisa rawat jalan.
>
> Tanggapan dr. Grace yang katanya adalah penanggung jawab masalah complaint
> saya
> ini tidak profesional samasekali. Tidak menanggapi complaint dengan baik,
> dia
> mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr. Mimi
> informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen dan dr.
> Henky namun tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas
> (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat
> tersebut jam 4 sore.
>
> Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya
> dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular, menurut
> analisa
> ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah
> karena
> sudah membengkak, kalau kena orang dewasa yang ke laki-laki bisa terjadi
> impoten dan perempuan ke pankreas dan kista. Saya lemas mendengarnya dan
> benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa
> sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis
> tinggi
> sehingga mengalami sesak napas.
>
> Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang
> saya
> tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.
>
> Suami saya datang kembali ke RS Omni menagiih surat hasil lab 27.000
> tersebut namun malah
> dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu
> besok
> pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar
> orang
> rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan
> surat tersebut. Saya
> telepon dr. Grace sebagai penanggung jawab compaint dan diberikan
> keterangan
> bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya namun sampai jam 4 sore saya
> tunggu
> dan ternyata belum ada juga yang datang kerumah saya. Kembali saya telepon
> dr.
> Grace dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama
> Rukiah, ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali, dirumah saya
> tidak ada nama Rukiah, saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari
> datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. Logikanya dalam tanda
> terima tentunya ada alamat jelas surat
> tertujunya kemana kan
> ? makanya saya sebut
> Manajemen Omni PEMBOHONG BESAR semua. Hati-hati dengan permainan mereka
> yang
> mempermainkan nyawa orang.
>
> Terutama dr. Grace dan Ogi, tidak ada sopan santun dan etika mengenai
> pelayanan
> customer, tidak sesuai dengan standard International yang RS ini cantum.
>
> Saya bilang ke dr. Grace, akan datang ke Omni untuk mengambil surat
> tersebut
> dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja
> dan
> pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami, pihak manajemen
> hanya
> menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan
> mengenai
> kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan
> diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari
> sebelum masuk ke RS Omni.
>
> Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat
> tersebut? karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu
> benar
> ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap. Dan
> setelah
> beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab
> saya
> 27.000 adalah FIKTIF dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan
> tidak
> perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah
> karena
> bisa langsung tertangani dengan baik.
>
> Saya dirugikan secara kesehatan, mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan
> asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal
> mungkin tapi RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.
>
> Ogi menyarankan saya bert emiu dengan
> direktur operasional RS Omni (dr. Bina) namun saya dan suami saya terlalu
> lelah
> mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan
> dirawat di RS lain.
>
> Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang
> selaput
> atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan
> apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup
> untuk menyembuhkan.
>
> Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing,
> benar.... tapi apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang
> dpercaya
> untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan, semoga Allah
> memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan
> kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya
> suatu
> saat juga sakit dan membutuhkan medis, mudah-mudahan tidak terjadi seperti
> yang
> saya alami di RS Omni ini.
>
> Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan
> atau
> dokter atau Manajemen RS Omni, tolong sampaikan ke dr. Grace, dr. Henky,
> dr.
> Mimi dan Ogi bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi
> perusahaan Anda.
>
> Saya informasikan juga dr. Henky praktek di RSCM juga, saya tidak
> mengatakan
> RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.
>
> salam,
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> 
>

-- 
<a href="http://bayusuharso. multiply. com/r/b"><img border=0 src="
http://images. bayusuharso. multiply. com/badge/ U2FsdGVkX1. uV30CIfdnyehpc. 
DtQ6nTTPzyohjya1 Ir7W9rGlKYwpP- S.vLZzPZLVw8M9dB P0jal7sryZlIQPRi LP.ju9zb/ 
badge.gif
"></a>

[Non-text portions of this message have been removed]

    


      
___________________________________________________________________________
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke