----- Original Message ----- 
From: "Adi Wisaksono"
Sent: Wednesday, September 03, 2008 12:07 PM
Subject: Puasa dan lemparan batu


>
>
>
> Selamat berpuasa, sebuah pengingat di antara bulan-bulan yang lindap.
> Lintasan waktu yang biasanya dilewati begitu cepat, saatnya untuk
> beristirahat, mengendurkan kecepatan melihat sekitar. Bersama merasakan
> lapar, menahan nafsu semoga tak gentar.
>
> Di antara tuts keyboard dan gelap terang monitor. Pasti ada kata atau
> huruf yang lepas dari sensor. Menimbulkan syak wasangka, duka lara, salah
> paham dan mungkin dendam. Akhirnya memohon maaf yang bisa dilakukan,
> semoga lapang hati belumlah pergi.
>
> Sukses untuk semua!
>
> ___
>
> Hanya sebuah kisah, sumonggo
>
> Ada seorang pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja membeli mobil mewah,
> sebuah Jaguar yang mengkilap. Siang ini, sang pengusaha sedang menikmati
> perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh, dipacunya
> kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar dengan penuh rasa
> bangga.
>
> Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang bermain, namun ia tak
> terlalu memperhatikan mereka.
>
> Tiba-tiba, dia melihat seseorang anak kecil yang melintas dari arah
> mobil-mobil yang di parkir di jalan. Dan, "buk!" Aa..h, ternyata, ada
> sebuah batu seukuran kepalan tangan menimpa Jaguar kesayangannya. Sisi
> pintu mobil itupun koyak, tergores batu yang dilontarkan seseorang.
>
> "Cittt...." ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram, dimundurkannya
> mobil itu menuju tempat asal batu keparat yang membuat mobil baru itu
> tergores. Tentu bukan masalah besar bila saja goresan itu menimpa mobil
> truk pengangkut barang yang biasa digunakan untuk mengangkut barang
> pesanan koleganya. Tapi ini jaguar! Jaguar!
>
> Amarahnya memuncak. Dia pun keluar mobil dengan tergesa-gesa. Ditariknya
> anak yang dia tahu telah melempar batu ke mobilnya, dan ditunjukkannya
> kepada goresan yang ditimbulkannya.
>
> "Apa yang telah kau lakukan? Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku.
> Lihat goresan itu!" Teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu.
>
> "Kamu tentu paham, mobil baru jaguarku ini akan butuh banyak ongkos di
> bengkel untuk memperbaikinya," ujarnya lagi dengan kesal dan geram, tampak
> ingin memukul anak itu.
>
> Si anak tampak menggigil ketakutan dan pucat, dan berusaha meminta maaf.
>
> "Maaf, Pak. Saya benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus
> melakukan apa". Air mukanya tampak ngeri, dan tangannya memohon ampun.
>
> "Maaf, Pak, saya melemparkan batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau
> berhenti".
>
> Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi
> menunjuk ke suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi.
>
> "Itu disana ada kakakku yang lumpuh. Dia tergelincir, dan terjatuh dari
> kursi roda. Saya tak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat, tapi tak
> seorang pun yang mau menolongku. Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang
> dia sedang kesakitan". Kini, anak kecil itu mulai terisak. Dipandanginya
> pengusaha tadi. Matanya berharap pada wajah yang mulai tercenung itu.
>
> "Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi roda? Tolonglah, kakakku
> terluka, tapi saya tak sanggup mengangkatnya."
>
> Tak mampu berkata-kata lagi, pengusaha muda itu terdiam. Amarahnya mulai
> sedikit reda setelah dia melihat seorang lelaki yang tergeletak yang
> sedang mengerang kesakitan. Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu
> menelan ludah.
>
> Segera dia berjalan menuju lelaki tersebut, diangkatnya si cacat itu
> menuju kursi rodanya. Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya,
> untuk mengusap luka di lutut yang memar dan tergores, seperti sisi pintu
> Jaguar kesayangannya.
>
> "Terima kasih, dan semoga Tuhan akan membalas perbuatan Bapak."
>
> Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan pengusaha yang masih nanar
> menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang
> mendorong kursi roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah mereka.
>
> Berbalik arah, pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju Jaguar
> miliknya. Ditelusurinya pintu Jaguar barunya yang telah tergores itu oleh
> lemparan batu tersebut, sambil merenungkan kejadian yang baru saja
> dilewatinya.
>
> Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele, tapi pengalaman
> tadi menghentakkan perasaannya. Akhirnya ia memilih untuk tak menghapus
> goresan itu, agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini. Ia menginginkan
> agar pesan itu tetap nyata terlihat: janganlah melaju terlalu cepat,
> karena, seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu.
>
> Sama halnya dengan kendaraan, hidup kita akan selalu berputar, dan dipacu
> untuk tetap berjalan. Di setiap sisinya, hidup itu juga akan melintasi
> berbagai macam hal dan kenyataan. Namun, adakah kita memacu hidup kita
> dengan cepat, sehingga tak pernah ada masa buat kita untuk
> menyelaraskannya untuk melihat sekitar?
>
> Tuhan akan selalu berbisik dalam jiwa, dan berkata lewat kalbu kita.
>
> Sering kita tak punya waktu untuk mendengar, menyimak, dan menyadari
> setiap ujaran-Nya. Tak jarang pula kita terlalu sibuk dengan bermacam
> urusan, memacu hidup dengan penuh nafsu, hingga terlupa pada banyak hal
> yang melintas.
>
> Suatu ketika, akan ada yang "melemparkan batu" buat kita agar kita mau dan
> bisa berhenti sejenak.
>
> Semuanya terserah pada kita. Mendengar bisikan-bisikan dan kata-kata-Nya,
> atau menunggu ada yang melemparkan batu-batu itu buat kita.
>
> Sumber : http://layar.suaramerdeka.com/index.php?id=320
> 

Kirim email ke