Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
 
Sebulan yang lalu, saya diminta oleh panitia Ramadhan untuk mengisi ceramah di 
Mesjid  Indonesia Cairo (MIC). Saya, iakan,..namun, saya tak tahu apa judul 
yang akan diberikan kepada saya. Saya minta jadwal saya diakhir Ramadhan, 
karena saya harus mempersiapkan dulu bahannya. Panitia mengabulkannya. 
 
Nama saya tercantum pas tgl 20 Ramadhan. namun, dua minggu sebelum tgl 20 itu, 
panitia sampaikan, kalau ada salah seorang penceramah berhalangan tanggal 26 
nya. Yah..ngak papa, biar saya diundur saja. 
 
Saya santai-santai aja, belum juga mempersiapkan bahannya. Bahkan tgl 18-19 
saya pergi keluar kota sekeluarga, karena ada rihlah.
 
Malamnya sangat letih, pagi jam 11, panitia nelpon saya, bilang kalau tanggal 
20 ini, ustadaz nya berhalangan lagi. Bisa tidak Ibu yang maju gantikan nantik?
 
" Wah,.saya bilang...ngak bisalah,..saya capek, baru pulang tadi malam, dan 
rencana pagi ini dah janji sama anak saya mo pergi ke toko mainan, ia minta 
belikan remote control, karena awal Ramadhan kita janji akan belikan dia remote 
control, kalau AlQurannya tammat selama sebulan Ramadhan ini. Saya belum 
siapkan bahannya sama sekali, habis dikirain tgl 26 sih. Ceramahkan perlu juga 
persiapan?" 
 
Begitu saya sampaikan pada panitia. Duh,.Bu,.gimana yah, siapa lagi Bu,..orang 
pada pergi..?
 
Ketika itu anak saya mendengar, dan saya tanyakan pada anak saya. Gimana 
Rahmat, mama diminta ceramah malam ini, kita ngak jadi ke toko mainannya ngak 
papa?
 
"Ngak papa mama", jawab anakku. Ok. Tunggu dulu, saya tanyakan suami saya dulu 
yah?
 
Saya nelpon suami saya. :"Gimana Uda, Ima diminta ceramah malam ini?"
Jawab suami saya: "Yah,..itu terserah Ima, Ima siap ngak?". Lha,..uda tau 
sendirikan, kalau Ima belum siapkannya sama sekali.
 
 Padahal hari-hari sebelumnya suami sering tanya, gimana, sudah disiapkan bahan 
ceramahnya belum? Selalu jawabku belum,..belum kebuka pikiran untuk nulis topik 
itu Uda",..selalu itu jawabku.". 
 
Suamiku bilang. "Ima ini memang begitu orangnya, santai banget..sudah keburu2 
baru bisa serius. "Ima bingung, sebab Ima akan berceramah masalah yang justru 
Ibu-Ibu, Bapak-bapak disana jauh lebih berpengalaman dari Ima, kan malu, kita 
masih seumur jagung dalam mendidik anak, dah nasehatin orang yang anak-anaknya 
dan berhasil, mereka jauh lebih berpengalaman lagi, jadi belum kebuka pikiran 
Uda...". "Yah,..sudah,..sampaikan aja apa yang mau Ima sampaikan, ngak usah 
pandang siapa yang hadir".
 
"Akhirnya suamiku jawab lagi dalam telpon, yah,.sudah, kan masih ada waktu 
beberapa jam, siapkan aja sekarang".
 
Akhirnya, aku melirik buku :"Fiqh Tarbiyatul Abnaak"(Fiqih bagaimana cara 
mendidik anak (dalam islam tentunya)".
 
Yah,..dari situ, aku baca satu buku sekaligus dalam jangka beberapa jam saja. 
Kemudian, kucoba untuk menuangkannya dalam tulisan. Dan alhamdlulillah selesai 
juga, dan kusuruh anakku memprintkannya di toko komputer, dengan membawa flash 
saja.
 
Alhamdulillah, saya bisa menyampaikan ceramah dengan sambutan cukup seru dan 
ramai juga. Bahkan ada yang minta tanya jawab. namun, karena besok bukan hari 
libur, maka sudah menjadi aturan, hanya besoknya hari libur saja yang ada tanya 
jawabnya. Syukurlah, saya pikir, sebab, hakikatnya suara saya sudah hampir 
hilang, dikarenakan saya masih batuk, dan kecapean dari luar kota. 
Mudah-mudahan dilain waktu aja tanya jawabnya.
 
Dari hasil tulisan, tidak semua yang ada didalam tulisan ini saya sampaikan, 
dan tidak semua pula yang saya sampaikan ada dalam tulisan ini. Susah juga, 
rencana akan dihafal saja, ternyata tidak bisa, sebab, saya tidak terbiasa 
kalau ceramah itu hasil hafalan. Lucu rasanya. Seakan kita tidak sedang 
berbicara dengan audiens kita. Kalau hasil hafalan yang kita tulis itu. Maka, 
point-pointnya saja yang saya sampaikan, dan bahasa tulisan tidak sama dengan 
bahasa lisan saat berdiri diatas podium. Diatas podium, biasanya lebih 
bersemangat, sementara bahasa tulisan, jauh lebih tenang, hanya isinya hampir 
sama saja, paling kurang lebih sedikit.
 
PERAN IBU DALAM MEMBENTUK GENERASI UNGGULAN BANGSA 
OLEH Ibu Rahima Rahim .MA
 
Bismillahirrahmaanirrahim,
 
"Alhamdulillahilladziiy khalaqa Fasawwaa, Wa'a'thaa kullaasyaiin khalqahu 
Tsumma haday, wasshalaatu wassalamu, 'ala muhammdin nabiyyil Hudaay, Wa'alaa 
'aalihi washahbihi wamanihtaday"
 
Qaalallahu, Ta'ala filQuranilkariim : "Wal Yakhshalladziina lau tarakuu 
minkhalfihim dzurriyyatan dhii'aafa khaafuu 'alaihim fal yattaqullaaha 
walyaquuluu qoulan sadiidaa".
 
"Dan hendaklah takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan 
dibelakang mereka anak-anak(keturunan) yang lemah, hendaklah mereka takut akan 
kesejahteraan mereka, dan bertaqwalah kamu kepada Allah, dan hendaklah mereka 
mengucapkan perkataan yang benar".
 
Bapak-bapak, Ibu-ibu anak-anak siswa/siswi saudara saudari sekalian yang saya 
muliakan.
 
Berbicara masalah peran seorang Ibu, terhadap pembentukan generasi unggulan 
bangsa sebenarnya sangatlah pentingnya. Namun terlebih penting dan terlebih 
baik lagi, apabila kita memberikan topic ini, jauh lebih luas lagi, yakni Peran 
Orang Tua terhadap pembentukan generasi bangsa.
 
Sebab, hanya berbicara pada peran seorang Ibu serasa, kita berbicara hanya 
tentang seekor sayap burung saja, sementara burung kalau terbang tinggi 
memerlukan dua sayap sekaligus, akan pincang dan akan lumpuhlah ia tanpa kedua 
sayapnya. Begitupulalah pembentukan generasi bangsa unggulan, haruslah 
berpegang pada peran kedua orang tua, bukan Ibu saja, tidak pula Bapak saja, 
tetapi ayah dan Ibu sekaligus.
 
Bapak-bapak, ibu-ibu saudara saudari jamaah mesjid sekalian yang saya hormati,
 
Apabila saya yang diminta untuk menyampaikan masalah Peran orang tua ini, tentu 
dengan tanpa mendahului dan tanpa menghilangkan rasa hormat saya kepada para 
Ibu-ibu, bapak-bapak yang jauh lebih berpengalaman dari saya dalam mengurus dan 
membentuk generasi bangsa yang bahkan sudah banyak menghasilkan generasi 
cemerlang dan maju, baik maju sisi dunia, maupun sisi agamanya. Saya disini 
seakan sedang mengajari ikan yang sudah memang pandai berenang. Saya sedang 
memberikan ceramah pada orang yang jauh lebih berpengalaman dari saya ketimbang 
diri saya yang masih muda sekali belum, tua sekali juga belum, namun boleh 
dikatakan masih sedang mekar, belum layu lagi.
 
Namun, yang namanya amanah dan tugas yang sudah diberikan panitia kepada saya, 
untuk itu saya ucapkan terima kasih dan saya terima tugas, amanah ini dengan 
sebaik-baiknya dalam rangka saling nasehat menasehati dalam kebaikan, saling 
nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.
 
Bapak, Ibu Jamaah shalat tarawih yang saya muliakan.
 
Kenapa saya mengatakan bahwa keberhasilan pendidikan dalam membentuk generasi 
unggulan bangsa, diperlukan juga bukan selain ibu, namun Bapak juga?
 
Ini karena sudah sangat jelas, peran seorang ayahlah yang justru saya lihat 
banyak tercantum didalam AlQuranulkarim.
 
Coba mari sama-sama kita lihat. Siapakah yang banyak disebut dalam AlQuran 
dalam memberikan nasehat kepada anak-anaknya,..sang Ibukah..atau ayahkah..?
 
Jawabnya, banyak di ayah. Buktinya apa?
 
Mari kita lihat nasehat Luqman kepada anaknya(Q.S Luqman 31:13-19) : " Dan 
ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu dia memberi pengajaran 
kepada anaknya, Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya 
mempersekutukan Allah adalah ke dzaliman yang besar,
 
Wahai anakku, sesungguhnya jika suatu perbuatan seberat biji Sawi, dan berada 
dalam batu atau langit, atau dalam bumi, niscaya Allah akan 
mendatangkannya(membalasinya), sesungguhnya Allah maha halus, lagi maha 
mengetahui,
 
Hai anakku, dirikanlah shalat, suruhlah manusia mengerjakan yang baik, dan 
cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang 
menimpa kamu, sesungguhnya yang demikian itu adalah termasuk hal-hal yang 
diwajibkan oleh Allah Ta'ala.
 
Janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia, karena rasa sombong, dan 
janganlah kamu berjalan dimuka bumi ini dengan angkuh, sesungguhnya Allah tidak 
suka kepada orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri,
 
Dan sederhanalah dalam berjalan, lunakkanlah suaramu, sesungguhnya 
seburuk-buruk suara adalah suara keledai".
 
 
Bapak, Ibu sekalian, mari kita lihat lagi peran nabi ayah nabi Yusuf yakni 
Ya'qub, putera Ishaq, putera nabi Ibrahim alaihissalam , tatkala ia menasehati 
anaknya Yusuf 'alaihissalam dalam menghadapi mimpi, untuk menjaga rasa iri 
kakak-kakaknya, apa yang beliau katakan, tatkala nabi Yusuf bercerita "Wahai 
ayahku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku, sebelas bintang, matahari dan 
bulan, kulihat semuanya sujud kepadaku"?
 
Sang ayah yang bijak dan budiman berkata :"Wahai anakku, janganlah kamu 
ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar untuk 
membinasakanmu, sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagi 
manusia".(Q.S Yusuf 4-5).
 
Kita lihat lagi, bagaimana bijaksana dan tidak otoriternya nabi Ibrahim kepada 
anaknya Ismail, ketika mendapatkan perintah dari Allah Subhanahu Wata'ala untuk 
menyembelih anaknya, apa yang dilakukan nabi Ibrahim? Ia berdiskusi pada 
anaknya:"Wahai anakku, aku melihat dalam mimpiku, aku menyembelih kamu, maka 
apakah pandanganmu dalam hal ini?".(Q.S As Shaffat 102). Apa jawab anak yang 
shalih tersebut :"Wahai ayahku, lakukanlah apa yang dilakukan Allah kepadamu, 
sesungguhnya engkau akan mendapati aku dari orang-orang yang sabar".
 
Baik nabi Ibrahim ataupun nabi Ya'qub selalu mewasiatkan kepada anak-anaknya 
:"Wahai anak-anakku, sesungguhnya Allah memilih agama ini bagimu, maka 
janganlah kamu mati, kecuali kamu dalam keadaan Islam".
 
Subhanallah, betapa wasiat yang agung pembentuk generasi unggulan bangsa, 
keimanan, keislaman dan jauh dari syirik, serta selalu berakhlakul karim, tidak 
sombong, dan tidak angkuh. Semua itu adalah sebahagian dari isi nasehat seorang 
ayah kepada anaknya. Lihatlah betapa besar peran ayah pada pembentukan generasi 
unggulan bangsa, apakah kita mengingkari firman Allah ta'ala ini, tentu tidak 
bukan?
 
Lantas, kita lihat lagi, bagaimana peran Ibu yang ada didalam AlQuranulkarim.
 
Mari sama-sama kita lihat, Ibundanya siti Maryam, ketika sedang mengandung 
anaknya Maryam, apa yang dikatakannya?
 
Ingatlah, ketika istri Imran berkata  :"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku 
menadzarkan kepada Engkau anak yang berada dalam kandunganku, menjadi hamba 
yang shaleh dan berkhidmad(di Baitul Maqdis), karena itu terimalah nadzar itu 
dariku. Sesungguhnya Engkaulah yang maha mendengar lagi maha mengetahui, 
 
Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, diapun berkata :"Ya Tuhanku, 
sesungguhnya aku melahirkan seorang anak perempuan, dan Allah lebih mengetahui 
apa yang dilahirkannya itu, dan anak lelaki tidaklah sama dengan anak 
perempuan, sesungguhnya aku telah menamainya Maryam, dan aku memohon 
perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada pemeliharaan Engkau 
dari syetan yang terkutuk".
 
Subhanallah, seorang Ibu yang shalih, sebelumpun anaknya lahir, sudah meminta 
perlindungan kepada Allah akan keselamatan anaknya, bahkan keselamatan 
cucu/keturunan dari anak-anaknya tersebut.
 
Dan peran Do'a kedua orang tua, seharusnya selalu setiap selesai shalat selalu 
mendo'akan kebaikan untuk keturunannya."rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa 
dzurriyaatina qurrata 'ayun, waj'alnaa lilmuttaqiinaa imaamaa".
 
Dapat dibayangkan, bukan sekedar berdo'a menjadi orang yang shalih, tetapi Imam 
bagi orang yang shalih, Imam orang bertqwa, betapa tinggi do'a orang tua 
terhadap anak-anaknya. Dan itulah kewajiban orang tua terhadap anak, yakni 
mendo'akannya selalu.
 
Dalam sebuah hadits riwayat atturmudzi, dan Ibnu Hibba dalam kitab shahihnya 
"Tidak ada yang bisa merubah/menolak qadha(yang sudah ditentukan oleh Allah 
Ta'ala), kecuali Do'a, dan tidak ada yang bisa menambah umur, kecuali kebaikan".
Dan hal ini dikuatkan dengan firman Allah Ta'ala :Allah menghapuskan apa yang 
dia sukai, dan menetapkan juga apa yang telah tertulis di Ummil kitaab".
 
Imam Assyaukaani dalam bukunya "Tuhfatuddzaakirin halaman 20 mengatakan :"Do'a 
adalah dari ketentuan Allah Ta'ala, sesungguhnya Allah telah menetapkan sesuatu 
terhadap hambanYa, muqayyidan terhadap hambanYa, kalau ia tak berdo'a, maka 
jika dia berdo'a maka akan berubahlah qadha tersebut dengan izinNya".
 
Orang tua dilarang mendo'akan baik dengan sengaja, atau tanpa sengaja untuk 
anaknya, sebab bisa jadi do'a tersebut diucapkan pas ketika waktu-waktu yang 
mana do'a di terima oleh Allah Ta'ala, dan diaminkan oleh Malaikat.
 
 
Dalam sebuah riwayat, seorang lelaki yang sedang memegang hewan ternaknya, 
kemudian dia melaknat hewan tersebut. Lantas apa kata rasulullah, :Sipakah yang 
melaknat hewan piaraannya tadi? Lelaki itu berkata ;"Aku Ya Rasulullah, 
kemudian Rasulullah menyuruhnya turun dan jangan menemai hewan piaraan itu 
lagi, dan Rasulullahpun berpesan kepada ummat islam: Janganlah kamu berdo'a 
(kejelekan) atas diri kamu, anak-anak-anak kamu, juga terhadap harta benda 
kamu, bisa jadi saat kamu berdo'a Allah mengabulkannya"(H.R Muslim 3009). 
 
Bagi kedua orang tua, dalam mepersiapkan anak generasi unggulan bangsa, 
hendaklah bersikap taqwa, dan berkata yang benar. Sebab, Allah berfirman 
:"Sesungguhnya Allah menerima amalan dan do'a dari orang-orang yang 
bertaqwa"(Al Maidah 27)
 
Disebutkan dalam sebuah hadits, riwayat Muslim di shahihnya dari Abi Hurairah, 
:Seorang lelaki yang sedang dalam perjalanan panjang, dan berdo'a kepada Allah 
ta'ala :" Yaa..Rabbb..ya rabbb…!!, sementara makannanya dari hasil yang haram, 
minumannya haram, pakaiannya haram, dan dia diberi dari makanan gizi dari hasil 
yang haram, maka bagaimana bisa di kabulkan Do'anya?
 
Kemudian, untuk membentuk generasi unggulan bangsa, selain Do'a, maka anak 
dipersiapkan dengan Ilmu-Ilmu baik Umum dan Agama. Rasulullah bersabda :"kamu, 
lebih mengetahui urusan dunia kamu, dan kami lebih mengetahui urusan akhirat 
kamu". Dan carilah apa-apa yang diberikan Allah pada kamu akan urusan akhirat, 
tetapi jangan sampai kamu lupakan urusan dunia kamu.
 
Anak diajarkan agar terbiasa patuh dan berbakti serta berbuat baik kepada dua 
Ibu Bapanya, karena keridhaan Allah terletak pada keridhaan orang tua.(dan 
kepada kedua ibu bapa berbuat baiklah, dan janganlah kamu katakan kepada 
keduanya Ah..Cis,..dan janganlah kamu menghardik keduanya(apalagi sampai 
menjelekkannya dihadapan siapapun)
 
Anak diajarkan jangan menserikatkan kepada Allah. Tauhidullah  hanya meminta 
kepada Allah Ta'ala, jangan mensekutukannya baik syiri' Ubudiyyah, maupun 
amaliyyah dan qauliyyah(Syirik Ibadah, amalan dan perkataan).
 
Anak-anak diajarkan Berakhlak yang baik, akhlaq mulia, yang cukup panjang dalam 
pembahasan ini, tidak mungkin dibahas disini.kita tahu, bahwa Rasulullah diutus 
untuk menyempurnakan akhlaq
Demikianlah yang dapat saya berikan dalam waktu yang singkatnya, terlebih dan 
terkurang saya mohon dimaafkan. Apabila ada kesalahan, itu berasal dari saya 
dan syetan yang terkutuk, yang benar  datangnya dari Allah semata.
 
Wassalamu'alaikum. Rahima. Cairo 20 Ramadhan 2008

 
 



      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

===
Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta
Informasi lengkap di:
http://www.media-islam.or.id
http://www.syiarislam.wordpress.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke