Tulisan ini ditulis tahun 1997/1998, namun saya kira masih relevan. Dari uraian 
ini kita tahu dari sisi ekonomi Islam apa saja yang menyebabkan pasar modal di 
dunia goncang. semoga bermanfaat.
 
salam hangat.
aris
 
http://hizbut-tahrir.or.id/2008/10/08/kegoncangan-pasar-modal-di-barat-1/

Kegoncangan Pasar Modal di Barat (1)



st1\:*{behavior:url(#ieooui) }


Pada minggu terakhir Oktober 1997 lalu, harga-harga saham di pasar-pasar modal 
(bursa efek) utama telah jatuh secara drastis. Fenomena ini bermula dari 
Hongkong, lalu merembet ke Jepang, terus ke Eropa, dan akhirnya sampai ke 
Amerika. Anjloknya harga saham tersebut terjadi secara ber- turutan dari satu 
negeri ke negeri lain, mengikuti letak terbitnya matahari di masing-masing 
negeri tersebut.
Krisis tersebut disertai satu trauma di tengah masyarakat, bahwa apa yang 
terjadi merupakan ulangan dari peristiwa seru- pa pada Oktober 1987, tatkala 
indeks harga saham di New York turun 22 % dalam sehari. Atau sebagai ulangan 
dari peris- tiwa yang lebih gawat lagi, yang terjadi pada tahun 1929 ketika 
jatuhnya nilai saham di Amerika telah menimbulkan depresi ekonomi yang sangat 
parah. Buku-buku sejarah senantiasa menyebut peristiwa itu sebagai “Depresi 
Besar” (The Great Depression) yang telah menyebabkan terus berlanjutnya keme- 
laratan, kelaparan, dan kesengsaraan. Krisis ini tidak teratasi, kecuali 
setelah keluarnya keputusan Presiden Roosevelt untuk menerjunkan Amerika ke 
dalam kancah Perang Dunia II dan membangkitkan perekonomian Amerika dengan cara 
mempro- duksi kebutuhan-kebutuhan perang yang sangat besar.
Krisis yang belakangan ini melanda Eropa dan Amerika tersebut, didahului 
beberapa peristiwa yang terjadi sepanjang musim kemarau ini, yaitu jatuhnya 
nilai tukar (kurs) mata uang di negara-negara Asia Tenggara, anjloknya harga 
saham peru- sahaan-perusahaannya, serta sekaratnya bank-bank dan perusa- 
haan-perusahaannya. Krisis-krisis ini bertolak dari Thailand, lalu ke Filipina, 
Malaysia, dan Indonesia, kemudian menular bagaikan wabah ke Korea Selatan, 
Taiwan, dan negara-negara Asia Utara. Wabah menular ini pada akhir Oktober 1997 
telah melanda Hongkong, yang merupakan basis investasi Barat yang besar di 
kawasan Asia. Pada saat itulah, pasar-pasar modal di Barat sadar bahwa wabah 
yang melanda ternyata sangat berbahaya. Maka terjadilah berbagai krisis di 
pasar- pasar modal Eropa dan Amerika, terutama New York.
Dua krisis tersebut –di Asia dan di Barat– disebabkan adanya sifat-sifat khas 
yang melekat pada sistem ekonomi kapitalis itu sendiri, meskipun kedua krisis 
tersebut tidak dapat dikatakan sama persis dan tidak dapat pula dinilai dengan 
tolok ukur yang sama. 
Pasar-pasar modal di Asia Tenggara sesungguhnya sangat lemah dan rapuh. 
Orang-orang yang memperdagangkan sahamnya di sana hanya beberapa gelintir saja 
dan boleh di- katakan belum berpengalaman. Yang banyak memanfaatkan pasar-pasar 
modal itu justru para penguasanya yang korup, seperti penguasa Thailand dan 
Indonesia. Para penguasa inilah yang terus mempromosikan pasar-pasar modal 
tersebut, serta mengizinkan para investor Barat untuk berdagang saham di sana 
dan memantapkan posisinya dengan cepat di pasar-pasar modal yang ada.
Sebenarnya, Amerikalah yang telah mendorong para pe- nguasa itu –dan juga 
banyak penguasa di negara lain– untuk mengambil kebijakan tersebut. Tujuannya, 
agar penguasa terse- but membuka pasar-pasar modal mereka dengan mengikuti pola 
Barat, sehingga terbukalah kesempatan kepada para inves- tor Barat untuk 
berdagang saham di pasar modal dan mema- sukkan atau menarik modalnya ke/dari 
negeri-negeri tersebut dengan mudah kapan saja mereka suka. Amerika berdalih, 
semua ini akan dapat menggalakkan penanaman modal asing di negeri-negeri 
tersebut, di samping merupakan salah satu tuntu- tan globalisasi ekonomi masa 
kini.
Tetapi, investasi yang ada sebenarnya bukanlah inves- tasi riil dari Barat di 
negeri-negeri lain, meskipun memang disebut sebagai “investasi tak langsung”. 
Sebab, investasi yang riil adalah seperti yang pernah dilakukan Amerika pasca 
Perang Dunia II, tatkala mereka menguasasi banyak pabrik dan perusa- haan baik 
di Eropa maupun di negeri-negeri lain, lalu menge- lolanya secara langsung dan 
menggabungkannya dengan peru- sahaan-perusahaan induk mereka di Amerika. Inilah 
investasi yang langsung dan riil itu.
Sedang investasi tak langsung, ditempuh dengan cara membeli sejumlah saham 
perusahaan-perusahaan lokal yang dikelola oleh negara atau oleh pemiliknya yang 
usahanya ber- skala lokal. Sebagian dari saham perusahaan tersebut beredar di 
pasar modal lokal. Para investor lalu membeli saham-saham tersebut di pasar 
modal yang ada. Namun mereka tidak ber- tujuan untuk memiliki atau mengelola 
perusahaan, dan tidak pula bertujuan untuk ikut memperoleh laba perusahaan 
dengan menunggu dividen yang dibagikan pertahun. Tujuan mereka adalah 
memperoleh laba (capital gain) yang besar secara cepat, karena adanya lonjakan 
harga-harga saham yang telah mereka beli. 
Para investor itu merekayasa pasar modal sedemikian rupa untuk tujuan mereka 
tersebut, dengan cara mempenga- ruhi harga-harga saham di negara-negara yang 
disebut negara- negara berkembang. Pasar-pasar modal di negara-negara ber- 
kembang ini kecil saja, sehingga merekayasa harga-harga sahamnya adalah hal 
yang mudah bagi para investor asing itu. Sementara orang-orang lokal yang 
berdagang saham di pasar modal tersebut juga sedikit, yang dapat ditaklukkan 
oleh iming- iming harta benda, trik-trik pasar, serta gertakan-gertakan yang 
dilakukan oleh para investor Barat.
Ketika investor Barat datang –yang umumnya mempu- nyai dana investasi ratusan 
juta bahkan ratusan milyar US dolar, yang berasal dari modal pengusaha raksasa 
Barat atau pinjaman dari bank– lalu membeli saham lokal, maka dia tidak akan 
menunggu begitu saja naiknya harga saham sebagaimana lazimnya seorang penonton. 
Dia akan menggunakan berbagai trik yang sengaja direkayasanya untuk melariskan 
saham yang dibelinya. Misalnya dengan membocorkan berita ke media massa bahwa 
dia telah menginvestasikan modalnya yang besar pada saham tertentu, atau bahwa 
studi yang dilakukannya memprediksikan bahwa perusahaan tempat dia membeli 
saham mempunyai masa depan yang cerah, dan trik-trik lainnya yang tidak 
disadari hakikatnya oleh orang-orang Malaysia, Thailand, dan Indonesia. 
Akibatnya, penduduk di negeri-negeri itu ber-lomba-lomba membeli saham 
tersebut, sehingga harga saham pun cepat atau lambat akan melonjak. Dan 
investor Barat yang telah menginvestasikan modalnya
 itu umumnya tidak perlu menunggu terlalu lama. Harga-harga saham pun segera 
melon- jak menurut prediksi yang dibuatnya, kemudian dia menjual saham-sahamnya 
kepada penduduk negeri-negeri tersebut di pasar modal setempat, atau pasar 
modal internasional. Dia lalu mengambil modal pokoknya berikut laba yang 
diperolehnya dengan kilat, untuk kemudian mencari saham-saham perusaha- an 
lain, baik di negeri yang sama maupun di negeri lainnya. Semua ini berlangsung 
sebelum penduduk negeri-negeri ter- sebut sadar akan apa yang telah terjadi dan 
menimpa mereka.
Kadang-kadang beberapa investor Barat beraksi seakan- akan sebagai satu grup, 
sebab target dan aktivitas mereka memang serupa. Oleh karena itu, kadang-kadang 
terjadi keme- rosotan harga yang merata di pasar modal ketika para investor 
menarik modalnya dari pasar sekaligus. Akibatnya, jatuhlah nilai mata uang 
negeri setempat, dan terancamlah bank-bank lokal yang meminjamkan modalnya 
untuk diikutsertakan dalam pasar modal.

Itulah investasi tak langsung yang senantiasa dipropa- gandakan oleh Amerika 
dan dipaksakannya atas “negara- negara berkembang” setelah Uni Soviet runtuh, 
sehingga Amerika menjadi satu-satunya kekuatan yang dapat memaksa- kan 
hegemoninya dalam kancah politik dan ekonomi inter- nasional. 
Fakta investasi ini –yang ternyata menjadi lebih besar dan lebih berbahaya 
daripada investasi langsung– sesungguh- nya adalah perampasan terhadap harta 
kekayaan dan sumber perekonomian negara-negara dunia ketiga. Investasi tersebut 
juga merupakan sebab utama dari krisis moneter dan krisis ekonomi yang menjadi 
konsekuensinya, serta telah memelarat- kan penduduk negara dunia ketiga secara 
hina, baik di Amerika Latin seperti Meksiko, Brazil, Argentina, maupun di Timur 
Tengah seperti Mesir dan Yordania. Dan investasi itu pulalah yang menjadi sebab 
munculnya krisis yang telah dan sedang terjadi di pasar-pasar modal di Asia 
Tenggara, seperti Indo- nesia dan Malaysia.
Adapun pasar-pasar modal di Eropa dan Amerika, sangatlah berbeda dengan 
pasar-pasar modal di negara-negara berkembang tadi. Pasar-pasar modal di sana 
sudah sangat mengakar dan telah eksis selama dua abad atau lebih. Mereka yang 
berdagang saham pada sebagian pasar modal jumlahnya mencapai ratusan ribu 
orang, sedang pada pasar modal terbesar –yakni di London dan New York– mencapai 
jutaan orang. Modal yang diinvestasikan dalam saham-saham dan surat-surat 
berharga jumlahnya pun sangat besar. Ada yang menyebutkan bahwa jumlahnya 
melebihi nilai riil dari aset (kekayaan) yang ada di Eropa dan Amerika, seperti 
aset yang berbentuk tanah, toko, pabrik, dan berbagai komoditas perdagangan. 
Dikatakan pula bahwa aktivitas pasar modal dan surat berharga –yaitu nilai 
barang-barang yang dibeli dan dijual dari pasar modal itu– melebihi nilai riil 
seluruh barang dan jasa yang ada. Ini berarti, bahwa faktor banyaknya pedagang 
saham di pasar-pasar modal itu, cukupnya
 modal mereka, dan kerasnya kompetisi di antara mereka, telah menghalangi siapa 
pun dari mereka untuk men- dominasi pasar –atau bagian tertentu dari pasar– 
secara tunggal guna mencari keuntungan dengan cepat dari para investor lain- 
nya yang mempunyai modal besar.
Meskipun demikian, ternyata banyak juga pedagang saham di pasar-pasar modal 
tersebut yang berhasil meraup ke- untungan yang sangat besar dari pasar-pasar 
tersebut, dan menghabiskan waktunya untuk memperdagangkan saham di sana. Mereka 
telah menemukan berbagai strategi, taktik, dan transaksi yang mengikat, guna 
mempengaruhi waktu penjualan atau pembelian saham termasuk harga-harganya. 
Padahal cara- cara itu tidak berhubungan langsung dengan kegiatan perusaha- an 
yang memperjualbelikan sahamnya. Tidak berkaitan pula dengan pasar yang 
menyediakan barang dan jasa atau dengan penetapan labanya. Berbagai strategi 
pemasaran saham ini, berikut trik-triknya, dan transaksi-transaksi yang cepat 
di pasar modal, telah menjadi topik studi di kebanyakan perguruan tinggi. 
Hanya saja, semua pasar modal yang memperdagangkan saham perusahaan (perseroan 
terbatas publik) tersebut, dan pasar yang seperti itu –yakni pasar yang 
memperdagangkan surat utang (obligasi) dari kas negara dan surat utang perusa- 
haan– sesungguhnya lebih rapuh daripada sarang laba-laba. Sebab, kesediaan 
masyarakat untuk memperdagangkan saham- nya di pasar-pasar tersebut sebenarnya 
didasarkan pada suatu “kepercayaan” bahwa harga berbagai saham dan surat 
berharga itu akan terus menerus naik. Selain itu didasarkan juga pada ketamakan 
untuk mendapatkan laba yang mudah diperoleh dari kenaikan harga saham. Sikap 
tamak mereka ini –khususnya di Barat– nampaknya tidak pernah mengenal batas, 
dan akan tetap ada selama matahari masih terbit dari timur.
Oleh sebab itulah, mereka bersedia membeli surat-surat berharga karena 
mengharapkan adanya laba. “Kepercayaan” dan ketamakan ini pula yang 
dipromosikan oleh para pialang saham (broker) di pasar-pasar modal tersebut. 
Mereka melaku- kan jual beli saham atau surat berharga sebagai perantara/wakil 
dari masyarakat umum, dan mengambil komisi yang besar untuk aktivitasnya ini. 
Akan tetapi, “kepercayaan” tersebut suatu saat dapat goyah karena sebab-sebab 
yang telah diramalkan ataupun yang tidak diramalkan. Pasar menjadi goncang dan 
banyak pemilik saham yang pada waktu bersamaan ingin cepat-cepat menjual 
sahamnya dan meraup laba yang telah mereka perkirakan dari kenaikan harga 
saham. Semua pemilik saham ingin menjual secepat mungkin, sehingga akhirnya 
jatuhlah harga saham. Ini semakin memperbanyak jumlah orang yang hendak menjual 
sahamnya, sehingga akibatnya harga saham terus menerus merosot sampai ke titik 
terendah. Inilah peristiwa yang pernah terjadi pada tahun 1929, atau yang 
hampir terjadi tahun 1987, atau yang terus dikhawatirkan akan terjadi pada 
akhir tahun 1997 ini.

Seorang muslim yang sadar tentu tak perlu prihatin ter- hadap krisis-krisis 
yang menimpa Barat dan sistem kehidupan- nya yang kapitalistis itu. Namun dia 
tentu akan sangat prihatin melihat bencana yang menimpa kaum muslimin –seperti 
Indonesia dan Malaysia– yang telah mengekor Barat dan mengambil sistem 
kehidupannya serta terkecoh dengan pasar modalnya yang rapuh bak sarang 
laba-laba itu. Dia tentu priha- tin pula menyaksikan kaum muslimin telah 
membenarkan propaganda Barat, bahwa tak ada jalan lain untuk meraih ke- majuan 
ekonomi kecuali dengan mengikuti “sistem pasar ter- buka”, yakni liberalisasi 
ekonomi yang absolut –termasuk bersedia berkompetisi melawan investasi Barat 
baik yang langsung maupun tak langsung– serta terjun dalam “ekonomi global”, 
yakni bersedia membangun pabrik-pabrik milik perusahaan-perusahaan Barat di 
negeri-negeri Islam, dengan memanfaatkan jutaan tenaga kerjanya yang 
murah-meriah untuk memproduksi barang-barang
 konsumtif bagi pasar mereka.
Seorang muslim yang sadar juga akan sangat prihatin tatkala menyaksikan ide-ide 
Barat yang kapitalistis –termasuk yang berkaitan dengan pasar modal– ternyata 
dapat diterima oleh kaum muslimin, karena adanya serangan media massa yang 
sangat intensif yang terus menerus dilancarkan Amerika setelah hancurnya 
Komunisme. Serangan tersebut bertujuan menyebarkan ilusi kosong kepada dunia 
bahwa dunia tak punya alternatif lain, kecuali mengikuti ideologi Kapitalisme. 
Begitu pula terus mereka propagandakan bahwa dewasa ini adalah masa keemasan 
ideologi Kapitalisme.
Padahal, goncangan dahsyat pada pasar-pasar modal raksasa di Barat itu 
sebenarnya telah menunjukkan kerapuhan pasar modal –yang bagaikan sarang 
laba-laba itu– dan telah menampakkan cacat-cela sistem ekonomi kapitalis. 
Terbong- kar juga bahwa kemilaunya kehidupan mereka itu bukanlah kemilau emas 
yang sejati, melainkan hanyalah kemilau tipuan. Sebab, ide ekonomi kapitalis 
pada hakikatnya adalah ide yang bersandar pada kemaslahatan belaka. Ide 
tersebut terbukti telah memerosotkan manusia ke derajat yang paling nista, 
karena ide itu bertumpu pada dorongan-dorongan naluriah paling rendah pada 
manusia. Fakta berbagai masyarakat yang menerapkan ide tersebut menunjukkan, 
bahwa mereka adalah komunitas yang selalu rakus dalam hidup, tidak pernah puas 
terhadap produk- produk yang mereka hasilkan, serta tak pernah puas pula ter- 
hadap perilaku konsumtif mereka. Mereka tidak pernah meng- hiraukan nilai-nilai 
kehidupan apa pun selain nilai kehidupan yang
 materialistis. Di Barat, golongan minoritas dari kalangan pemilik modallah 
yang menguasai mayoritas masyarakat yang harus bekerja dengan susah payah dan 
hidup dalam keresahan. Banyak dari mereka ini adalah orang-orang gelandangan 
mela- rat yang tidak mampu memenuhi kebutuhan primernya.
Kendatipun demikian, kaum muslimin tidak boleh hanya menunggu datangnya 
goncangan ekonomi yang besar di pasar- pasar modal di Barat, agar mereka 
menyadari kondisi mereka yang telah terkecoh dengan ide-ide kapitalis dan pasar 
modal yang hakikatnya memang benar-benar bagaikan sarang laba- laba. Haruslah 
sekarang juga dijelaskan kepada mereka hakikat ide pasar modal, termasuk 
penjelasan mengenai kerusakannya dan penjelasan bahwa ajaran Islam yang lurus 
telah meng- haramkan dan tidak memperbolehkan keberadaannya.(bersambung)

(Sumber : Judul Asli : åÒøÇÊ ÇáÃÓæÇÞ ÇáãÇáíÉ ÃÓÈÇÈåÇ æÍßã ÇáÔÑÚ Ýì åÐå ÇáÃÓÈÇÈ 
; Dikeluarkan dan disebarluaskan oleh Hizbut Tahrir, Rajab 1418 H/Nop. 1997 M )

"Manusia yang terbaik adalah yang paling banyak membaca, paling bertakwa, 
paling sering beramar ma'ruf nahi munkar, dan paling gemar menjalin hubungan 
silaturahmi." (Muhammad SAW). 

kampusku 

Blogku



      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

===
Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta
Informasi lengkap di:
http://www.media-islam.or.id
http://www.syiarislam.wordpress.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke