Krisis Ekonomi & Etika Moral Keagamaan
 
Runtuhnya kekuasaan Uni Soviet sebagai salah satu kekuatan dunia sebelum tanun 
1990-an, telah menjadikan Amerika Serikat sebagai negara adikuasa tunggal dan 
menandai kemenangan kapitalisme gaya Amerika atas sosialisme.  Kemudian. 
seiring proses globalisasi, maka terjadilah penyebaran kapitalisme gaya Amerika 
ke seluruh dunia. Semua pihak, pada awal era ekonomi baru seolah memperoleh 
manfaat dari tatanan Economia Americana. Tatanan ini mendorong peningkatan 
aliran dana yang belum pernah terjadi sebelumnya, dari negara maju ke dunia 
berkembang, yakni enam kali lipat dalam enam tahun, peningkatan perdagangan 
yang mencapai 90% lebih dalam satu dekade, dan angka pertumbuhan ekonomi yang 
luar biasa. 
 
Namun memasuki abad 21, kapitalisme gaya Amerika mulai dirasakan menimbulkan 
permasalahan ekonomi dunia, terutama hal-hal yang menyangkut kesejahteraan umat 
manusia. Salah satu penyebab permasalahan krisis keuangan yang melanda Amerika 
adalah berkaitan dengan industri “subprime mortgage” (KPR Subprima). Diawali 
pada akhir tahun 2006, industri KPR subprima di Amerika memasuki suatu masa 
yang disebut "masa kehancuran KPR subprima". Tingginya angka penyitaan jaminan 
KPR subprima telah menyebabkan perusahaan-perusahaan pemberi pinjaman KPR 
subprima mengalami kepailitan. Kehancuran dari perusahaan-perusahaan KPR 
subprima mengakibatkan harga pasar saham berbasis real estate investment trust 
jatuh dan membawa pengaruh meluas terhadap bursa saham Amerika serta ekonomi 
secara keseluruhan.
 
Beberapa hari belakangan, permasalahan krisis keuangan yang melanda Amerika 
telah memakan korban hampir di seluruh belahan dunia.. Bursa saham di hampir 
seluruh bagian dunia goncang. Sebagian orang menyatakan hal tersebut baru 
merupakan gerimis di awal badai. Belum dapat dibayangkan bagaimana jika badai 
tersebut benar-benar telah datang. Apakah hanya badai pasang-surut biasa atau 
tsunami yang luar biasa.
 
Permasalahan krisis yang melanda ekonomi dunia saat ini, bukan hanya 
diakibatkan sistem kapitalisme yang diragukan kemampuannya dalam mewujudkan 
kesejahteraan dunia, tetapi juga diakibatkan oleh  berubahnya etika moral para 
pelaku dunia keuangan. Kerusakan yang timbul karena berubahnya etika moral 
mereka, bukan hanya mengenai lingkungan mereka saja, tetapi mempunyai dampak 
yang besar pada transformasi lembaga keuangan terhadap fungsi perekonomian 
secara umum. 
 
Untuk menjalankan bursa saham yang dapat berfungsi dengan baik, dibutuhkan 
informasi akurat mengenai nilai suatu perusahaan agar investor bisa membayar 
harga yang tepat pada saham yang akan dimilikinya. Akan tetapi, karena 
perubahan etika moral, para pelaku dunia keuangan, berani, mengaburkan 
persoalan-persoalan inheren perusahaan yang mereka bawa ke pasar atau yang 
mereka bantu penjualan sahamnya demi menambah modal  perusahaan. Dengan 
demikian, mereka telah ikut menurunkan kualitas informasi. Dalam banyak kasus, 
mereka mengetahui kondisi riil perusahaan yang mereka tangani, tetapi publik 
tidak mengetahuinya. Hal itu, menyebabkan keyakinan publik terhadap pasar 
menjadi turun, dan saat informasi yang benar terkuak, harga-harga saham menjadi 
terhempas tajam.
 
Demikian pula dalam sosioekonomi dan politik, etika moral berlandaskan agama  
dijauhkan. Akibatnya masyarakat lepas dari mekanisme filter yang secara sosial 
disepakati. Kepentingan diri sendiri, harga, dan keuntungan menggantikan posisi 
etika moral sebagai kriteria utama bagi alokasi dan distribusi sumber-sumber 
daya untuk menstabilkan permintaan dan penawaran agregat. Meskipun nurani 
fitrah individu yang tertanam dalam lubuk kesadarannya masih tersisa sebagai 
mekanisme filter pada tingkat individual, tetapi hal itu tidak memadai untuk 
menjalankan fungsinya sebagai mekanisme filter yang diperlukan untuk 
menciptakan suatu keharmonisan antara kepentingan diri individu dan kepentingan 
masyarakat.
 
Akibat penolakan penggunaan mekanisme filter yang disediakan oleh penilaian 
berbasis moral, dan makin melemahnya perasaan sosial yang diserukan agama, 
menyebabkan perwujudan cita-cita kesejahteraan masyarakat sebagai manusia yang 
saling bersaudara dan sama-sama diciptakan oleh satu Tuhan hanyalah sebuah 
impian. Peningkatan moral dan solidaritas sosial tidak mungkin dapat dilakukan 
tanpa adanya kesakralan moral yang diberikan oleh agama. Para ahli mengakui, 
bahwa agama-agama cenderung memperkuat rasa kewajiban sosial dalam diri 
pemeluknya daripada menghancurkannya. Tidak ada contoh signifikan dalam sejarah 
yang menemukan, bahwa suatu masyarakat yang berhasil memelihara kehidupan 
moral, tanpa bantuan agama.  
 
Ajaran ekonomi yang dilandaskan nilai agama akan menjadikan tujuan 
kesejahteraan kehidupan yang meningkatkan jiwa dan ruhani manusia menuju kepada 
Tuhannya. Menurut Yusuf Qardhawi (1994), sesungguhnya manusia jika kebutuhan 
hidup pribadi dan keluarganya telah terpenuhi serta merta merasa aman terhadap 
diri dan rezekinya, maka mereka akan hidup dengan penuh ketenangan, beribadah 
dengan khusyu’ kepada Tuhannya yang telah memberi mereka makan, sehingga 
terbebas dari kelaparan dan memberi keamanan kepada mereka dari rasa takut. 
Dibutuhkan sebuah kesadaran, bahwa manusia diciptakan bukan untuk keperluan 
ekonomi, tetapi sebaliknya masalah ekonomi yang diciptakan untuk kepentingan 
manusia.
 
Islam, sebagai ajaran universal, sesungguhnya ingin mendirikan suatu pasar yang 
manusiawi, di mana orang yang besar mengasihi orang kecil, orang yang kuat 
membimbing yang lemah, orang yang bodoh belajar dari yang pintar, dan 
orang-orang bebas menegur orang yang nakal dan zalim sebagaimana nilai-nilai 
utama yang diberikan Allah kepada umat manusia berdasarkan Al Qur’an Surah 
al-Anbiyaa ayat 107. Berbeda dengan pasar yang islami, menurut Qardhawi (1994), 
pasar yang berada di bawah naungan peradaban materialisme mencerminkan sebuah 
miniatur hutan rimba, di mana orang yang kuat memangsa yang lemah, orang yang 
besar menginjak-injak yang kecil. Orang yang bisa bertahan dan menang hanyalah 
orang yang paling kuat dan kejam, bukan orang yang paling baik dan ideal. 
Dengan demikian sulit membayangkan bahwa kesejahteraan akan dapat diperoleh 
dari sistem pasar dalam peradaban materialisme. 
 
Kesejahteraan masyarakat akan dicapai jika suatu sistem pasar yang sehat dapat 
tercipta. Pasar yang sehat akan menciptakan suatu sistem ekonomi yang mampu 
memberikan pendapatan modal yang adil dan cukup, pekerjaan bagi semua orang 
dengan gaji yang memadai untuk hidup layak, dan alokasi optimal secara sosial 
dari sumber-sumber produktif masyarakat. Tantangan yang dihadapi untuk mencapai 
kondisi di atas adalah menciptakan suatu peraturan kerangka kerja yang sejauh 
mungkin dapat menciptakan sistem pasar yang sehat. Menurut Korten, kapitalisme 
telah merusak teori pasar sampai tidak dikenal lagi, demi untuk mengabsahkan 
sebuah ideologi yang mengabdi kepada kepentingan sebuah kelas yang sempit. Kaki 
tangan kapitalisme dengan kedok pasar dengan bersemangat seolah-olah mengajukan 
kebijakan-kebijakan publik yang nantinya justru akan menciptakan kondisi yang 
amat bertolak belakang dengan hal-hal yang diperlukan untuk dapat berfungsi 
secara sosial.  
 
Kaum kapitalisme telah berhasil menciptakan kapitalisme uang yang membuat 
pemilik modal menjadi terpisah dari penggunaannya untuk produksi. Hal itu 
terjadi akibat beralihnya kekuasaan dari kalangan pengusaha, investor dan kaum 
industrialis yang benar-benar terlibat dalam aktivitas produktif, kepada 
pemilik uang dan rentenir yang hanya hidup dari pendapatan yang diperoleh dari 
asset pemilikan keuangan dan asset-asset lainnya. Pemilik modal dan pasar uang 
menjadi semakin jauh dari concern sosial dan terpisah dari perdagangan praktis. 
Mereka mengharapkan hasil-hasil yang diperoleh dari tabungan yang semakin 
menumpuk, namun menyimpang dari realitas ekonomi yang mendasarinya. Mekanisme 
yang digunakan kapitalisme uang global untuk membuat uang dengan uang, tanpa 
keharusan ikut terlibat dalam aktivitas yang produktif, telah memberikan 
kesempatan bagi orang yang memiliki uang untuk meningkatkan tuntutan mereka 
terhadap kumpulan kekayaan masyarakat yang
 sesungguhnya tanpa memberi kontribusi kepada produksinya. Menurut Korten, 
ketidakmampuan kapitalisme uang untuk membedakan antar investasi yang produktif 
dan yang ekstraktif tampaknya merupakan salah satu sifat yang menjadi ciri 
khasnya.
 
Perwujudan kapitalisme uang telah menimbulkan ”kegairahan irasional” 
sebagaimana yang disampaikan oleh Alan Greenspan (Mantan Gubernur Bank Sentral 
Amerika) dalam bukunya. Joseph E. Stiglitz (2003) menyatakan ”kegairahan 
irasional” akan berdampak besar terhadap terjadinya pengelembungan ekonomi. 
Gelembung perekonomian senantiasa berbahaya, karena apabila meletus akan 
menimbulkan kerusakan sesudahnya. Biaya yang ditimbulkan oleh gelembung 
perekonomian mempunyai cakupan yang sangat besar, bukan hanya dikeluarkan pada 
selama masa gelembung terjadi, tetapi lebih banyak lagi yang harus dikeluarkan 
untuk menanggung akibat yang ditimbulkan pada saat gelembung tersebut meletus.
 
Sistem ekonomi yang tidak disertai etika moral keagamaan telah menyebabkan 
krisis yang tiada habisnya. Oleh karena itu, untuk mewujudkan suatu kondisi 
ideal, dimensi moral harus dikembalikan dalam sebuah sistem ekonomi yang 
berlaku, meskipun hal itu saja tidak cukup. Kurangnya ceramah ruhani bukan 
penyebab utama kerusakan moral, ketiadaan keadilan dan kesejahteraan umum di 
dunia saat ini (Chapra, 2001). Kutbah dan ceramah ruhani telah cukup banyak 
dilakukan, namun diperlukan pula penciptaan suatu lingkungan yang sesuai dan 
strategi untuk mewujudkannya. Lingkungan yang ideal akan dapat dicapai apabila 
setiap orang baik sebagai anggota masyarakat atau dunia usaha, maupun sebagai 
bagian dari organisasi pemerintahan rela mengorbankan kepentingan pribadi demi 
memenuhi kemaslahatan sosial di lingkungan keluarga, dalam dunia usaha, hidup 
bermasyarakat, atau di dalam bidang pemerintahan. Selama maksimalisasi kekayaan 
dan konsumsi adalah satu-satunya tujuan, maka
 pengorbanan itu menjadi kehilangan arti.
 
Penulis: MERZA GAMAL (Pengkaji Sosial Ekonomi Islami)
========================================================
Mohon partisipasi Bapak/Ibu untuk mengisi Polling Pemanfaatan Bank Syariah 
Silahkan klik 
http://asia.groups.yahoo.com/group/ekonomi-islami/surveys?id=2366675 
Semoga partispasi Bapak/Ibu bermanfaat dalam kajian sosial ekonomi islami di 
Indonesia


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

===
Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta
Informasi lengkap di:
http://www.media-islam.or.id
http://www.syiarislam.wordpress.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke