Beberapa comments di Milist saya untuk milist ini ( syiar-islam ) tercinta . ( termasuk attchmt ) . Wassalam Echost -----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Nugroho, Eko Sasmito Sent: Thursday, October 09, 2008 10:53 AM To: [EMAIL PROTECTED] Subject: FW: FW: [PengajianEmail] Masyarakat Indonesia di Mesir - Comment 3 - Importance: High
-----Original Message----- From: [ <mailto:[EMAIL PROTECTED]> mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of [EMAIL PROTECTED] Sent: Thursday, October 09, 2008 10:22 AM To: [EMAIL PROTECTED] Subject: Re: FW: [PengajianEmail] Masyarakat Indonesia di Mesir - Comment 1 - Comment dari sebelahku... Cerita Rohima ini lucu. Dalam artian: kalau dia sbg orang Indonesia yang lahir di Mesir, mbah sbg orang Indonesia menyarankan supaya dia menghabiskan sisa hidupnya di Mesir saja. Tapi kalau dia orang Indonesia yang meninggalkan Indonesia kemudian tinggal di Mesir utk suatu urusan setelah Orde Baru berkuasa, dia benar-benar tidak pernah memantau perkembangan Indonesia dari tahun ke tahun. Dia harus BERANI HIDUP di tanah tumpah darahnya. -----Original Message----- From: M. Armandi Oesman [ <mailto:armandio@> mailto:armandio@ ... ] Sent: Wednesday, October 08, 2008 8:33 PM To: Nugroho, Eko Sasmito [GCG-AP_IDN] Subject: Re: [PengajianEmail] Masyarakat Indonesia di Mesir Assalamualaikum Wr. Wb Mas Echos, Pertama tama, aku ingin ucapkan terima kasih karena sudah di include di mailing list ini. Semoga ini bisa menjadi penambah bahan pelajaranku dalam mendalami agama. Saya doakan juga agar insyaAllah pengajian email ini bisa terus berjalan lancar. Aku ingin sedikit berkomentar Mas mengenai email di bawah ini. Mungkin seharusnya bagian email yg membahas kemungkinan duit negara habis utk membayar gaji para diplomat indonesia dihapuskan saja. Karena menurut saya ini sudah mulai menjurus ke arah yg kurang positif. Kalau dikaitkan dengan email Mas Echos yg berjudul "Antara Laskar Pelangi, Jerawat, Teh Telur, Bersin dan Mawar Merah", seharusnya kita bisa lebih memfokuskan perhatian kita kepada hal positifnya daripada sebaliknya. Apakah Mbak Rahima ini juga menyadari betapa tidak mengenal lelahnya para diplomat kita di negara2 seperti Malaysia, Singapura, Hongkong dan Arab Saudi menolong para TKI yg bermasalah ? Bayangkan berapa banyak kasus yg harus mereka selesaikan di negara2 tsb. Di Malaysia saja saya yakin dari ratusan ribu TKI kita yg ada, paling tidak ada 100 kasus lebih per bulannya. Berapa banyak dari mereka yg dianiaya dan ditolong oleh para diplomat RI dan dibawa ke KBRI kita utk diberikan perlindungan, makan, rumah dll ? Apakah beliau juga pernah memikirkan berapa banyak dana dari investor2 luar yg ditanamkan di sini utk memajukan perekonomian Indonesia berkat kerjasama yg baik oleh para diplomat kita ? Ini baru sebagian kecil dari peran diplomat kita di luar negeri. Kalau saya bicara masalah gajinya, wah bisa panjang lagi ceritanya, karena menurut saya sih, wajar2 saja diplomat dibayar segitu. Tanggung jawabnya jauh lebih besar soalnya. hehe.. Salam buat teman2 di Citi ya Mas. Mohon maaf kalau ada salah kata. Sekali lagi terima kasih sudah di include di milis ini. bravo Pengajian Email. Wassalamualaikum Wr. Wb. Armand 2008/10/8 Nugroho, Eko Sasmito < eko.sasmito. [EMAIL PROTECTED] com > -----Original Message----- From: On Behalf Of Rahima Sent: Thursday, September 18, 2008 3:40 PM Subject: Masyarakat Indonesia di Mesir Bismillahirrahmaani rrahiim Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh. Puasa bersama-sama di Mesir ini, sangat mengasyikkan sekali. Dimana-mana, lantunan AlQuran kedengaran, acara televisipun banyak yang menarik. Bukan tidak ada acara televise yang menggoda. Wah,..sinetron- sinetron luar biasa bulan Ramadhan ini, dipilih yang bagus-bagus, dengan artis-artis yang luar biasa terkenalnya. Tinggal kita saja memilih acara mana yang akan kita putar. Di Mesir, acara buka di hidangan disebut Maaidaturrahmaan , selalu diadakan disepanjang tempat, dipinggir-pinggir jalan(kota). Belum pernah saya merasakan bagaimana buka bersama dengan mereka itu, tapi menurut mahasiswa/i juga masyarakat Indonesia yang sudah pernah merasakan katanya, makanannnya enak-enak dan mewah, selalu ada ayam atau daging kari. Tak ketinggalan kurma dan juice tamar Hind ( juice asam Jawa ), atau juice lainnya ciri khas Mesir terbuat dari kacang Soya Untuk kalangan masyarakat Indonesia, sebahagian masyarakat sehabis shalat magrib berbuka, kemudian shalat Isya dan Tarawih di mesjid mesir bersama-sama , rata-rata jumlah rakaat tarawihnya 8+3 witir ., dan satu Juz satu malam. Yah asyik sebenarnya sih shalat sambil mendengarkan hafalan AlQuran panjang-panjang, kalau kita mengerti artinya, apalagi bacaan orang Mesir yang ahlinya itu enak sekali, bisa berlinang-linang air mata kita dibuatnya atas lantunan Al Quran itu. Dimana sehabis shalat Isya ( ada juga yg setelah 4 rakaat shalat tarawih ) diadakan ceramah singkat hanya 5 menit, paling lama 10 menit. Isi ceramahnya hanya AlQuran hadits tok. Kalau di Indonesia biasanya banyak bicaranya ketimbang ayat-ayat dan haditsnya. Sulit sekali rasanya meniru cara berceramah orang Mesir ini, sebab di Indonesia, kalau tak ada leluconnya, sepertinya ngantuk dengerin ceramahnya ( katanya sih ). Subhanallah, di Mesir justru jarang ditemukan jamaah yang ngantuk saat Da'i berceramah, padahal kagak ada sama sekali ketawanya tuh. Apakah dikarenakan orang Mesir lebih suka mendengar kalam Allah dan rasulNya ketimbang kalam manusia, atau dikarenakan memang sudah kebiasaan Da'i Mesir berceramah just kalamullah wasunnah rasulullah ( sedikit sekali penjelasannya ) . Atau dikarenakan bagi orang Mesir, AlQuran hadits adalah bahasa Arab, sehingga mereka mengerti, jadi tak perlu lagi ada banyak penjelasan penafsiran ? Allahu'alam. Bagi sebahagian masyarakat Indonesia, terutamanya kalangan masyarakat kedutaan, biasanya shalat tarawihnya bersama-sama shalat di mesjid Indonesia Cairo. Baik Imam ataupun penceramahnya adalah dari kalangan mahasiswa Indonesia itu sendiri. Sehabis tarawihan, biasanya ada makan makanan ringan berupa bakso, siomay, mie ayam, empek2 dan lainnya, ditambah buah - buahan, kerupuk dan kadang minuman es buah, dan selalu ada teh hangatnya. Disanalah masyarakat Indonesia baik mahasiswa, home, local staff bersilaturrahmi, saling cerita dan ada juga yang tadarrusan, baik Bapak-bapak ataupun Ibu2nya. Mengasyikkan memang, keakraban jauh lebih kuat dan kental ketimbang kita berada dinegeri Indonesia itu sendiri. Dengan mahasiswa yang ada di mesjid saja, sudah bagaikan saudara sendiri. Ibu-ibu biasa saja tiduran dimesjid, kalau sudah selesai shalat. Anak-anak mulai tingkat SD-SMA, sudah bagaikan kakak beradik sendiri, sebab mereka dari pagi-sore, sejak dari TK-SMA hidup bersama terus. Suasana kekeluargaan spt itu memang seperti tiada tandingan nya saja, mirip persaudaraan zaman rasulullah dahulu kali. Soal bantu membantu itu hal yang biasa tanpa pamrih. Makanya, ketika pulang dan hidup di Indonesia, dengan masyarakat baru, terkadang mereka kesulitan, sebab banyak yang memperhitungkan dalam pengeluaran materi, sementara di Kairo ( khusus kalangan tempat domisili saya dikalangan kedutaan, saya tidak tahu kalangan mahasiswa didaerah lain ), tidak seperti itu. Ikhlas-ikhlas saja. Pinjam meminjam uang itu biasa, meski dalam jumlah besar, 1000 dollar 2000 dollar bahkan lebih, tetap dibayar, sehingga kepercayaan itu tetap terjaga. Saya sering meminjamkan uang sama tetangga, teman di Indonesia, sulit sekali kembalinya, ini membuat saya kurang percaya lagi. Padahal uangnya ada, bukan tidak ada, dicari-cari kebutuhan lain. Saya heran, apa tidak takut tuh hitungan diakhirat kelak, bukankah hutang bisa menggantung amalan diakhirat kelak ( sebelum terbayar ? ) Kenapa masyarakat kita jarang menyadari hal yang satu ini, padahal ini luar biasa penting diketahui, karena kita menggantungkan nasib kita kelak diakhirat. Orang sudah berbuat baik, tapi kepercayaan tidak dijaga, mengapa tidak sedikitpun ada rasa takut pada Illahi. Apakah begitu kurangnya pengajaran agama pada masyarakat kita ? Buat saya, jangankan jumlah besar, walau uang hanya 50 piesnter ( tak sampai 1000 rupiah ), karena tukang jualan ngak ada kembalian, saya sampai jantungan kalau tak terbayarkan, saya selalu bayar secepatnya, takut lupa. Orang-orang Mesir salut sama masyarakat Indonesia yang ada di Mesir dalam hal ini. Sekecil apapun hutang dikedai, pasti dibayar, makanya mereka sangat percaya kalau kita hutang dulu, bila tak ada uang kecil pembayar belanjaan. Anak-anak saya semuanya terbiasa, tanpa saya ajarkan, mereka selalu ingat sendiri kalau ada hutang dikedai, siang hutang, malam langsung dibayar, karena tukang jualan sering tak ada kembalian saja. Dan di Sekolah Indonesia Cairo sendiri, anak-anak dibiasakan jajan tanpa ada penjual di koperasi tsb. Ambil jajanan, letakkan uangnya di kotak uang, tanpa ada pengawasan sama sekali. Uang bukan kurang, malah sering berlebih bila diperiksa. Mungkin sekalian sedeqah kali. Yah..begitulah suasana kondisi masyarakat Indonesia yang ada di Mesir ini. Anak-anak sudah mengenal korupsi itu jelek, sehingga mereka sangat menjauhinya. Kalau saja ada yang mengambil barang yang bukan haknya, dibilangnya wah..itu orang korupsi. Tak heran, sangat jarang kita kehilangan barang barang ....uang.... Hp.... di Mesir ini. Padahal HP tergeletak dimesjid entah dimana-mana letaknya, begitupun tas, ratusan dollar uang ada didalamnya, ngak hilang, kecuali kalau ada orang Mesir masuk, pernah sekali kehilangan ( s ejak itu tak dibolehkan lagi orang Mesir masuk, pintu selalu dijaga ) . Eh...tidak sampai setahun saya di Indonesia, bisa-bisanya HP dalam tas yang terkunci hilang, sampai dua kali lagi. Wah.gawat banget saya pikir. Anak-anak saya sampai bilang : " Mama, kenapa di Indonesia tidak aman yah,..kenapa banyak kejadian, gempa tiap sebentar, banjir, penculikan anak, macam-macam lah yang mereka saksikan sendiri. Akhirnya mereka nggak betah hidup di Indonesia ( selalu dalam dalam keadaan ketakutan ). Yah..begitulah realita,..padahal aku ingin sekali pulang selamanya hidup di Indonesia itu, alamnya cocok untuk kondisi tubuhku yang sudah menua ini. Cuaca stabil, alamnya indah, namun kuakui sering tidak aman ( juga sering mati lampulah ....mati airlah..serba sering mendapat kesulitan ). Padahal negara kita sangat kaya. Sumber Tenaga listrik ( sungai begitu banyaknya ), di Mesir cuman satu2nya sungai yang diharapkan, yakni sungai Nil, tetapi jarang kekurangan air, jarang mati lampu, bahkan alat electronic apa saja boleh hidup di saat yang bersamaan .....spt televise, Ac, masak air, nasi, menggosok, dllnya, tetapi sikring gak turun. Kukira uang banyak di habiskan oleh pemerintah, terutama untuk menggaji para diplomat yang ada diseluruh dunia ini, berapa dollar harus Negara membayar untuk itu ? Rumah, telpon, kesehatan, uang refresentatif ( mengundang orang makan ) dan sekolah anak, entah lagi yang lain, saya tak tahu, yang dibayarkan oleh Negara. Coba saja dikalikan setiap Negara yang ada diplomat Indonesia nya didunia ini, berjumlah 20 orang saja....dikalikan dengan gaji minimal 3000 dollar ( gaji bersih, diluar lainnya, pembayaran kesehatan, telpon, rumah, dllnya itu, yang kadang cukup besar ), dikalikan puluhan negara, berapalah habis uang Negara untuk itu saja ? Aku sering berfikir, mungkin saja uang Negara habis ke sini, atau juga korupsi besar-besaran. Allahu'alam. Orang Sumatera Barat bilang,.. Entahlah Yuang ( buyuang ).... entahlah Piak ( upik ) ..... Wassalamu'alaikum. Cairo, 18 Ramadhan 2008, Rahima. Messages in this topic ( 1 ) Reply (via web post) | Start a new topic Messages | Files | Photos | Links | Database | Polls | Members | Calendar Pengajian Email : Agama sebagai pengalaman menjadi katagori yg lebih penting daripada agama sebagai rumusan atau pemahaman, pemahaman tanpa amalan hanya akan menjadi filsafat kosong, sebab ujung dari suatu keyakinan adalah tindakan . Tidak bertindak berarti tidak yakin . Group Email Addresses : Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe: [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED] List owner: [EMAIL PROTECTED] [Non-text portions of this message have been removed]

