Krisis kredit properti telah bereaksi, kubangan hutangnya semakin
melebar, para penghutangnya pun tidak mampu bayar. Akibatnya, bank dan
institusi keuangan terbesar di Amerika, bangkrut atau nyaris bangkrut.

Sejumlah institusi keuangan telah memperkirakan kerugian akibat kredit
properti tersebut, di Amerika saja mencapai 300 miliar dolar AS, dan
di negara-negara lain diperkirakan 550 miliar dolar AS. Sejumlah
negara, khususnya negara kaya, mulai menggelontorkan dana miliaran
dolar ke pasar modal untuk menopang pasar dan mem-backup likuiditas
agar bisa menggerakkan aktivitas ekonomi. Bahkan sebagian ada yang
melakukan intervensi langsung sampai pada level menasionalisasi
sebagian bank, sebagaimana yang terjadi di Inggris.

Begitulah, prinsip sistem ekonomi kapitalis terpenting—yaitu pasar
bebas dan tidak adanya intervensi negara—telah runtuh. Bahkan kampiun
Kapitalisme, yaitu Amerika Serikat, mengumumkan intervensi negara di
pasar modal atas persetujuan Kongres saat ini dengan kedua unsurnya,
yaitu Senat dan DPR (House of Representatives), dalam rencana
penyelamatan yang dibuat oleh Menteri Keuangan Amerika, Henry Poulson,
dengan suntikan 700 miliar dolar AS guna membeli hutang beracun (toxic
debt) bank-bank dan institusi keuangan yang ambruk karena kredit properti.

Berbagai langkah juga telah dilakukan secara global. Empat negara
besar Eropa—Prancis, Jerman, Inggris dan Italia—segera mengadakan
pertemuan, dan mengundang pertemuan lebih luas untuk mengkaji sistem
moneter mereka. Para menteri keuangan dan para pimpinan bank sentral
yang tergabung dalam G-7 atau G-8 ditambah Rusia mengadakan pertemuan
dalam waktu dekat di Washington.

Apakah upaya-upaya ini akan bisa menyelamatkan ekonomi kapitalis?

Sebenarnya, semua rencana penyelamatan itu hanya akan menjadi obat
bius yang meringankan rasa sakit untuk sementara waktu. Itu karena
sebab-sebab kehancurannya membutuhkan penyelesaian hingga ke akarnya,
bukan hanya menyentuh dahan-dahannya.

Akar masalahnya sebenarnya ada empat.

Pertama: disingkirkannya emas sebagai cadangan mata uang dan
dimasukkannya dolar Amerika sebagai pendamping mata uang dalam
Perjanjian Bretton Woods, setelah berakhirnya Perang Dunia II,
kemudian sebagai substitusi mata uang pada awal dekade 70-an, telah
mengakibatkan dolar Amerika mendominasi perekonomian global.
Akibatnya, goncangan ekonomi sekecil apapun yang terjadi di Amerika
pasti akan menjadi pukulan telak bagi perekonomian negara-negara lain.
Sebabnya, sebagian besar—jika tidak keseluruhannya—cadangan devisa
mereka ditopang dengan dolar yang nilai intrinsiknya tidak sebanding
dengan kertas dan tulisan yang tertera di dalamnya. Setelah mata uang
Euro memasuki arena pertarungan, baru negara-negara tersebut menyimpan
cadangan devisanya dalam bentuk mata uang non-dolar. Meski demikian,
dolar tetap memiliki prosentase terbesar dalam cadangan devisa
negara-negara tersebut secara umum.

Karena itu, selama emas tidak menjadi cadangan mata uang, krisis
ekonomi seperti ini akan terus terulang. Sekecil apapun krisis yang
menimpa dolar dengan segera akan menjalar ke perekonomian
negara-negara lain. Bahkan dampak krisis politik yang dirancang
Amerika juga akan berakibat terhadap dolar, yang berarti juga
berdampak pada dunia.

Kedua: hutang-hutang riba juga menciptakan masalah perekomian yang
besar hingga kadar hutang pokoknya menggelembung seiring dengan waktu,
sesuai dengan prosentase riba yang diberlakukan padanya. Terjadinya
krisis pengembalian pinjaman dan lambannya roda perekonomian adalah
karena ketidakmampuan sebagian besar kelas menengah dan atas untuk
mengembalikan pinjaman dan melanjutkan produksi.

Ketiga: sistem yang digunakan di bursa dan pasar modal, yaitu
jual-beli saham, obligasi dan komoditi tanpa adanya syarat
serah-terima komoditi yang bersangkutan—bahkan bisa diperjualbelikan
berkali-kali, tanpa harus mengalihkan komoditi tersebut dari tangan
pemiliknya yang asli—adalah sistem yang batil dan menimbulkan masalah,
bukan menyelesaikan masalah. Pasalnya, naik-turunnya transaksi terjadi
tanpa proses serah-terima, bahkan tanpa adanya komoditi yang
bersangkutan. Semua itu memicu terjadinya spekulasi dan goncangan di
pasar.

Keempat: ketidaktahuan akan fakta kepemilikan. Kepemilikan di mata
para pemikir Timur dan Barat ada dua: kepemilikan umum yang dikuasai
oleh negara, sebagaimana teori Sosialisme-Komunisme, dan kepemilikan
pribadi yang dikuasai oleh kelompok tertentu.

Ketidaktahuan akan fakta kepemilikan ini memang telah dan akan
menyebabkan goncangan dan masalah ekonomi. Itu karena kepemilikan
tersebut bukanlah sesuatu yang dikuasai oleh negara atau kelompok
tertentu, melainkan ada tiga macam:

Kepemilikan umum: meliputi semua sumberdaya alam, baik yang padat,
cair maupun gas; seperti minyak, besi, tembaga, emas dan gas; termasuk
semua yang tersimpan di perut bumi dan semua bentuk energi; juga
industri berat yang menjadikan energi sebagai komponen utamanya.
Negara harus mengekplorasi dan mendistribusikannya kepada rakyat, baik
dalam bentuk barang maupun jasa.

Kepemilikan negara: meliputi semua kekayaan yang diambil negara,
seperti pajak dengan segala bentuknya serta perdagangan, industri dan
pertanian yang diupayakan oleh negara, di luar kepemilikan umum.
Semuanya ini dibiayai oleh negara sesuai dengan kepentingan negara.

Kepemilikan pribadi. Kepemilikan ini bisa dikelola oleh individu
sesuai dengan hukum syariah.

Sosialisme gagal dalam bidang ekonomi karena telah menjadikan semua
kepemilikan dikuasai oleh negara. Kondisi inilah yang mengantarkan
pada kehancuran.

Kapitalisme juga gagal dan kini sampai pada kehancuran. Itu karena
Kapitalisme telah menjadikan individu, perusahaan dan institusi berhak
memiliki apa yang menjadi milik umum, seperti minyak, gas, semua
bentuk energi dan industri senjata berat sampai radar. Pada saat yang
sama, negara tetap berada di luar pasar dari semua kepemilikan
tersebut. Hasilnya adalah goncangan secara beruntun dan kehancuran
dengan cepat, dimulai dari pasar modal, lalu menjalar ke sektor lain,
dan dari institusi keuangan menjalar ke yang lain.

Begitulah, Sosialisme-Komunisme telah runtuh, dan kini Kapitalisme
sedang atau nyaris runtuh.

Sesungguhnya sistem ekonomi Islamlah satu-satunya solusi yang ampuh
dan steril dari semua krisis ekonomi. Karena sistem ekonomi Islam
benar-benar telah mencegah semua faktor yang menyebabkan krisis ekonomi.

Pertama: Sistem ekonomi Islam telah menetapkan bahwa emas dan perak
merupakan mata uang, bukan yang lain. Mengeluarkan kertas substitusi
harus ditopang dengan emas dan perak, dengan nilai yang sama dan dapat
ditukar, saat ada permintaan. Dengan begitu, uang kertas negara
manapun tidak akan bisa didominasi oleh uang negara lain. Sebaliknya,
uang tersebut mempunyai nilai intrinsik yang tetap, dan tidak berubah.

Kedua: Sistem ekonomi Islam melarang riba, baik nâsi'ah maupun fadhal,
juga menetapkan pinjaman untuk membantu orang-orang yang membutuhkan
tanpa tambahan (bunga) dari uang pokoknya. Di Baitul Mal kaum Muslim
juga terdapat bagian khusus untuk pinjaman bagi mereka yang
membutuhkan, termasuk para petani, sebagai bentuk bantuan untuk
mereka, tanpa ada unsur riba sedikit pun di dalamnya.

Ketiga: Sistem ekonomi Islam melarang penjualan komoditi sebelum
dikuasai oleh penjualnya. Karena itu, haram menjual barang yang tidak
menjadi milik seseorang. Haram memindahtangankan kertas berharga,
obligasi dan saham yang dihasilkan dari akad-akad yang batil. Islam
juga mengharamkan semua sarana penipuan dan manipulasi yang dibolehkan
oleh Kapitalisme, dengan klaim kebebasan kepemilikan.

Empat: Sistem ekonomi Islam juga melarang individu, institusi dan
perusahaan untuk memiliki apa yang menjadi kepemilikan umum, seperti
minyak, tambang, energi dan listrik yang digunakan sebagai bahan
bakar. Islam menjadikan negara sebagai penguasanya sesuai dengan
ketentuan hukum syariah.

Begitulah, sistem ekonomi Islam benar-benar telah menyelesaikan semua
kegoncangan dan krisis ekonomi yang mengakibatkan derita manusia. Ia
merupakan sistem yang difardhukan oleh Tuhan semesta alam, yang
Mahatahu atas apa yang baik untuk seluruh makhluk-Nya. Allah SWT
berfirman:

﴿أَلاَ 
يَعْلَمُ 
مَنْ خَلَقَ 
وَهُوَ 
اللَّطِيْفُ 
الْخَبِيْرُ﴾

Apakah Allah Yang Maha menciptakan itu tidak mengetahui (yang kalian
lahirkan maupun yang kalian rahasiakan), sementara Dia Mahahalus lagi
Mahatahu? (QS al-Mulk [67]: 14).

Wahai kaum Muslim:

Sesungguhnya Allah SWT telah memberi Anda sekalian kedudukan yang
agung melalui agama Islam yang agung ini. Dengannya, Anda dulu pernah
menjadi umat terbaik yang dihadirkan untuk seluruh umat manusia.
Penerapan Islam juga telah menjadikan Anda bahagia, bahkan
membahagiakan seluruh umat manusia.

Hanya saja, penerapan Islam yang agung ini tidak cukup hanya dengan
mengumpulkannya di dalam kandungan buku, melainkan dengan mendirikan
negara yang mengemban dan menerapkannya, yaitu Negara Khilafah
Rasyidah yang akan menghidupkan Anda dalam kehidupan yang indah, aman
dan menenteramkan.

Namun, Allah tidak pernah menurunkan malaikat yang akan mendirikan
negara untuk Anda, sementara Anda hanya berdiam diri. Justru upaya
mendirikannya merupakan kewajiban agung atas diri Anda. Sebab,
Rasulullah saw. telah mendirikan negara di Madinah. Langkah Baginda
ini kemudian diikuti oleh para Sahabatnya—semoga Allah benar-benar
meridhai mereka dan para tâbi'în.

Karena itu, singsingkanlah lengan baju Anda sekalian, wahai kaum
Muslim. Berjuanglah bersama Hizbut Tahrir, bantu dan dukunglah Hizbut
Tahrir. Mohonlah anugerah kepada Allah agar Anda bersama-sama dengan
Hizbut Tahrir termasuk orang-orang yang dimuliakan oleh Allah. Melalui
tangan-tangan merekalah Allah SWT akan mewujudkan janji-Nya—untuk
memberi mereka kekuasaan di muka bumi—dan kabar gembira (busyra)
Rasulullah saw. akan kembalinya Khilafah yang mengikuti metode
kenabian untuk kedua kalinya.

Andalah, wahai kaum Muslim, yang akan menjadi mercusuar dunia,
pengemban obor kebaikan di dalamnya, serta paling berhak dan layak
untuk memimpinnya. Allah SWT berfirman:

﴿وَاللهُ 
غَالِبٌ 
عَلَى 
أَمْرِهِ 
وَلَكِنَّ 
أَكْثَرَ 
النَّاسِ لاَ 
يَعْلَمُوْنَ﴾

Allah Mahakuasa atas segala urusan-Nya, namun kebanyakan manusia tidak
mengetahuinya (QS Yusuf [12]: 21). []

Kirim email ke