Sebagaimana banyak dilansir oleh berbagai pihak, kondisi krisis keuangan global 
yang sedang terjadi saat ini, salah satu faktor terbesar, diakibatkan oleh 
menurunnya moral dan etika stakeholders di dunia keuangan. Menurunnya moral dan 
godaan materialisme membuat banyak pelaku dunia keuangan melakukan kolusi, 
manipulasi dan korupsi. Sebelum era ekonomi baru, istilah koruptor (pelaku 
korupsi) hanya di kenal untuk kalangan birokrat pemerintah. Menurut Robert 
Gilpin & Jean Millis Gilpin (2000), di mana kekuatan berada, ia dapat 
disalahgunakan. Pada era ekonomi baru korporasi-korporasi global telah 
merupakan konsentrasi kekuatan ekonomi yang luar biasa. Sebagaimana sebuah 
institusi besar dan berkekuatan, korporasi global dapat bersikap dengan 
cara-cara yang korup, arogan, dan secara sosial tidak bertanggungjawab.
 
Menurut Joseph E. Stiglitz (2003), seharusnya seorang CEO (Chief  Executive 
Officer) dan eksekutif korporasi lainnya melakukan tindakan terbaik demi 
kepentingan korporasi, pemegang saham, dan para pekerjanya. Akan tetapi akibat 
insentif yang berbeda dari era sebelumnya, membuat CEO bertindak mewakili 
kepentingan pribadi dan seringkali tidak melakukan tugasnya sebagai wakil dari 
pihak yang diwakilinya dengan baik. Ironinya, perubahan struktur gaji yang 
menjadi akar sebagian besar permasalahan ini dibela sebagai perbaikan insentif. 
Di samping itu terdapat pula praktek ganjil korporasi dalam memberikan stock 
option (hak opsi saham) kepada para eksekutif perusahaan. Para eksekutif 
perusahaan mempunyai hak membeli saham perusahaan sendiri di bawah harga pasar, 
bahkan seolah-olah tidak ada nilai yang berpindahtangan.
 
Berdasarkan catatan Stiglitz, pada tahun 2001 hak opsi mencapai sekitar 80 
persen kompensasi manajer korporasi Amerika yang mempunyai dampak yang tidak 
ringan pada neraca keuangan. Bila sebuah korporasi diminta mengakui nilai opsi 
saham yang dikeluarkannya pada tahun tersebut, maka laba perusahaan bisa 
berkurang sepertiganya. Dengan demikian, kontroversi opsi saham, sebenarnya 
adalah soal kejujuran dalam membeberkan informasi. Melalui logika tersembunyi 
dan berbahaya, opsi saham berperan penting dalam menyebarkan bentuk-bentuk lain 
penyelewengan keuangan. Para eksekutif yang nakal, makin lama menunjukkan 
energi dan kreativitasnya bukan untuk menghasilkan produk-produk dan layanan 
baru, tetapi malah membuat cara-cara baru untuk memaksimalkan pendapatan 
eksekutif yang dibebankan kepada para investor yang lengah.
 
Pada saat hak opsi saham diberikan kepada para eksekutif korporasi, sebuah 
perusahaan dengan sendirinya menerbitkan saham baru. Hal itu berarti telah 
menipiskan nilai saham yang sudah ada. Misalkan sejuta lembar saham beredar, 
masing-masing bernilai Rp 10 ribu. Artinya, nilai perusahaan atau kapitalisasi 
pasarnya Rp 10 milyar. Jika eksekutif korporasi menerima tambahan sejuta saham 
gratis, maka pemegang saham yang lama harus berbagi nilai perusahaan beserta 
labanya di kemudian hari dengan pemegang saham yang baru (dalam hal ini para 
eksekutif korporasi). Oleh sebab itu, harga masing-masing saham akan turun 
menjadi Rp 5 ribu. Dengan demikian, sebenarnya para pemegang saham membayar 
para eksekutif sebesar Rp 5 milyar melalui pengurangan nilai saham mereka, 
meskipun tidak langsung dari kantong mereka sendiri.
 
Kondisi yang tidak jauh berbeda juga dapat terjadi, pada saat pemberian hak 
opsi saham, para eksekutif korporasi harus membayar sebagian harga sahamnya. 
Misalkan pada contoh di atas, para eksekutif membayar dengan harga diskon 
sebesar Rp 5 ribu. Setelah penambahan saham tersebut, perusahaan mempunyai 
nilai kapital sebesar Rp 15 milyar, atau bertambah Rp 5 milyar dari sebelumnya. 
Nilai kapital perusahaan akan dibagi untuk 2 juta lembar saham. Harga 
masing-masing saham kini menjadi Rp 7,5 ribu. Dengan demikian, para pemegang 
saham rugi sebesar Rp 5 milyar, persis jumlah yang diperoleh para eksekutif 
korporasi sebanyak sejuta saham dengan nilai Rp 10 ribu yang dibeli hanya 
dengan Rp 5 ribu.
 
Pemberian hak opsi saham kepada para eksekutif korporasi tersebut menimbulkan 
implikasi pajak dan biaya yang lebih tinggi kepada perusahaan. Ketika seorang 
menerima gaji dan insentif atau bonus dari perusahaan, maka jumlah yang 
diterima akan dikenakan pajak. Sebaliknya, apabila seorang eksekutif korporasi 
menerima insentif berupa hak opsi saham, maka tidak ada pajak yang dikenakan 
kepadanya. Meskipun, ketika si eksekutif menguangkan hak opsinya, ia akan 
membayar pajak capital gains atas kelebihan harga jual terhadap harga beli, 
tetapi manfaat yang telah dinikmatinya dari penyimpangan informasi kepada 
pemegang saham telah lebih dari cukup.
 
Sebagian ekonom independen, menurut Stiglitz, menyatakan bahwa hak opsi saham 
ini sebagai tindak pencurian usaha. Eksekutif korporasi telah mencuri uang dari 
para pemegang saham yang lengah. Namun karena harga saham, dirasakan naik, maka 
hanya sedikit pemegang saham yang menyadari hal tersebut. Mereka merasakan 
bagaikan pemenang, karena tidak sadar bahwa harga saham yang diperdagangkan Rp 
10 ribu harusnya Rp 15 ribu, yang Rp 15 ribu seharusnya Rp 20 ribu. Akibat 
subtilitas pencurian inilah yang memungkinkan banyak eksekutif perusahaan lolos 
darinya.
 
Meskipun opsi saham secara aktual telah banyak dipraktekan oleh 
korporasi-korporasi, namun menurut pengamatan ekonom independen, tidak banyak 
memberikan insentif untuk melakukan sesuatu yang akan mempertinggi nilai 
perusahaan dalam jangka panjang. Pemberian opsi saham, berarti, bahwa insentif 
yang akan diterima oleh eksekutif korporasi bergantung kepada harga saham 
jangka pendek. Oleh karena itu, lebih mudah bagi seorang CEO untuk meningkatkan 
“tampilan” laba daripada laba yang sebenarnya.
 
Era ekonomi baru yang menimbulkan gejala konsumtivisme, membuat banyak para 
eksekutif korporasi yang telah berpenghasilan besar ikut pula tidak puas 
apabila peningkatan hidupnya berjalan tidak beriringan dengan kemajuan 
perusahaan. Untuk itu, mereka mencari cara-cara lain untuk menggenjot 
penghasilan. Salah satu cara adalah melalui transaksi palsu yang memungkinkan 
mereka membukukan pendapatan, sekalipun tidak benar-benar ada. Cara lain adalah 
dengan menghapuskan pengeluaran dari pembukuan atau dengan menggunakan write 
off berulang-ulang agar dari luar terlihat adanya laba normal yang mantap. 
Hal-hal tersebut dilakukan dengan tujuan menampilkan kesuksesan yang memukau, 
dan segera menguangkannya sebelum umum tahu akan perbuatan mereka. Dengan 
demikian, satu bentuk penipuan yang dilakukan oleh eksekutif korporasi dapat 
melahirkan begitu banyak penipuan lainnya. Sehingga yang menanggung akibat 
kerugian yang mereka timbulkan bukan hanya investor, tetapi juga
 para pembayar pajak lain yang “lugu”.
 
Sebuah peristiwa monumental, kerakusan para eksekutif korporasi yang mempunyai 
kekuatan ekonomi yang luar biasa dan telah menjadi contoh sebuah lambang laju 
kecepatan pertumbuhan sekaligus kerobohan sebuah korporasi global dalam waktu 
singkat, serta sisi gelap kapitalisme kroni dan penyalahgunaan kekuatan 
korporasi global di mancanegara terjadi dengan terkuaknya skandal Enron (sebuah 
perusahaan energi) dan disusul dengan skandal serupa di WorldCom (perusahaan 
teknologi informasi) pada awal millennium baru. Kasus-kasus serupa juga terjadi 
di berbagai negara pada akhir dekade 1990-an. Namun lebih banyak melibatkan 
para pemilik yang kemudian melarikan dana mereka keluar dari negara asal 
perusahaan mereka.
 
Modus kecurangan yang dilakukan oleh Enron, menurut pengamatan Stglitz, ada dua 
jenis, yaitu:

Melakukan trik akuntansi dengan mencatat produksi yang akan dikirim tahun depan 
sebagai pendapatan hari ini, dan tidak membukukan biaya yang ditanggung atas 
produksi tersebut. Akibatnya pendapatan mengelembung, dan untuk 
mempertahankannya maka penjualan tahun depan harus selalu lebih tinggi dari 
produksi tahun ini. Skema seperti itu pasti akan ada ujungnya, terutama jika 
pertumbuhan terhenti;
Menciptakan perusahaan fiktif, lalu menjual produksi kepadanya. Kemudian, Enron 
membuat komitmen membeli kembali apa yang telah dijualnya kepada perusahaan 
fiktif tersebut. Komitmen untuk membeli kembali itu tidak dicatat sebagai 
hutang.
 
Sedangkan modus kecurangan yang terjadi pada WorldCom, disinyalir oleh Stiglitz 
akibat dari:

Menggolongkan pengeluaran biasa menjadi investasi dalam pembukuan mereka, 
sehingga pengeluaran tidak harus dikurangi dari pendapatan, dan keuntungan pun 
menjadi tampak jauh lebih besar;
Membukukan tagihan yang tidak diakui oleh kliennya sebagai pendapatan, dan 
membuat jalinan rumit transaksi-transaksi tidak terpuji antara perusahaan 
dengan para eksekutifnya.
 
Gelembung-gelembung asset dan laba yang diciptakan secara tidak 
bertanggungjawab oleh eksekutif-eksekutif korporasi, seperti kasus Enron dan 
WorldCom di atas, membuat pasar yang minim informasi dalam mempertimbangkan apa 
yang terjadi, akan memompa harga saham semakin tinggi lagi. Akibat insentif 
yang akan diterima oleh para eksekutif korporasi tergantung kepada hak opsi 
saham, maka mereka lantas menjual saham yang telah diangkat nilainya untuk 
memperoleh laba besar dari penjualannya (capital gain).
 
Dengan demikian, akibat eksekutif korporasi memperkaya diri sendiri, pihak lain 
tidak ikut diuntungkan. Pendapatan yang diperoleh para eksekutif korporasi, 
justru membebani pemegang saham (publik) yang kepentingannya seharusnya mereka 
layani. Akhirnya, para eksekutif ini telah membawa risiko yang besarnya tidak 
terbayang oleh para pemegang saham yang telah menggadaikan kekayaannya untuk 
investasi pada korporasi yang semula diharapkan akan semakin memperbesar 
kekayaan mereka. Tinggallah mereka gigit jari bahkan bunuh diri setelah 
gelembung yang diharapkan membesar malah meletus menjadi krisis keuangan global 
yang dirasakan saat ini…………..
 
Penulis: MERZA GAMAL (Pengkaji Sosial Ekonomi Islami)
 ========================================================
Mohon partisipasi Bapak/Ibu untuk mengisi Polling Pemanfaatan Bank Syariah 
Silahkan klik 
http://asia.groups.yahoo.com/group/ekonomi-islami/surveys?id=2366675 
Semoga partispasi Bapak/Ibu bermanfaat dalam kajian sosial ekonomi islami di 
Indonesia

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

===
Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta
Informasi lengkap di:
http://www.media-islam.or.id
http://www.syiarislam.wordpress.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke