Sepuluh tahun yang telah silam, tepatnya menjelang akhir era 1990-an yang telah 
lalu, ekonomi negara kita -Indonesia- terhempas oleh ‘gelombang tsunami’ berupa 
krisis nilai tukar rupiah dan moneter.
  Menyusuli kemudian adalah ‘badai prahara’ dunia perpolitikan nasional berupa 
tuntutan politik berupa reformasi atas tata laksana kenegaraan.
  Hasilnya, sebagian besar asset strategis dan produktif nasional kita telah 
di-Privat-isasi serta di-Asing-isasi secara masif tanpa kecuali.

  Hari ini, tepatnya menjelang akhir era 2000-an, ekonomi negara kita 
-Indonesia- kembali digoyang oleh ancaman ‘gempa’ yang berpotensi menimbulkan 
‘gelombang tsunami’ susulan berupa krisis bursa keuangan dan saham.
  Kebetulan, kurang dari setahun lagi akan diselengarakan ‘hajatan besar’ dunia 
perpolitikan nasional berupa pemilu dan pilpres.
  Akankah hasilnya juga akan sama ?, yaitu pentuntasan program Privat-isasi 
serta Asing-isasi atas asset strategis dan produktif nasional kita yang masih 
tersisa ?.

  Konon kata rumornya, jika kuda troya pada saat sepuluh tahun yang silam 
adalah IMF dan BPPN, maka hari ini kuda troyanya adalah Hostile Takeover berupa 
akuisisi paksa dari pihak kreditor atas agunan saham yang tak lagi sepadan 
dengan nilaio utangnya.

  Semua terpulang kepada para pejabat politik dan pemegang otoritas serta 
pejabat birokrasi, akan dibawa kemanakah hidup 250-an juta rakyat Indonesia ini 
?.

  Apakah sudah merupakan garis suratan takdir bagi negeri ini kembali ke era 
seperti zaman VOC/Kompeni pada zaman kolonial dulu yang menguasai segala hajat 
hidup bangsa ini ?.

  Wallahu’alambishshawab.

  ***


  Guncangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai mereda. Indeks Harga Saham 
Gabungan (IHSG) pun mulai terus menguat. Penutupan BEI selama tiga hari yang 
dilakukan pemerintah agaknya mampu menahan keterpurukan bursa lebih dalam.

Namun, imbas krisis keuangan di Amerika Serikat (AS) masih terasa, bahkan masih 
pula menyisakan ancaman. Sebagian besar investor saham BEI adalah investor 
asing, yang saat terjadi krisis, juga membutuhkan dana segar dan ramai-ramai 
menjual. Harga saham-saham pun terkoreksi cukup tajam.

  Saat inilah ancaman hostile takeover muncul, terutama bagi perusahaan yang 
mengagunkan sahamnya atas utang. Terkoreksi tajamnya harga saham mengakibatkan 
nilai agunan tak lagi sepadan utangnya. Maka, pihak kreditor bisa saja 
melakukan akuisisi paksa.

Hostile takeover adalah suatu tindakan akuisisi yang dilakukan secara paksa. 
Biasanya dilakukan dengan membuka penawaran atas saham perusahaan yang ingin 
dikuasai di pasar modal dengan harga di atas harga pasar.

  Dalam kondisi sekarang ini, di Indonesia, hostile takeover bisa terjadi pada 
perusahaan komoditas, terutama batubara dan minyak sawit mentah (CPO), 
mengingat valuasi harga saat ini yang sudah sangat murah.

Ancaman itulah yang perlu diwaspadai. Apalagi sejumlah perusahaan asing sudah 
mengambil ancang-ancang untuk melakukan hostile takeover perusahaan batu bara.

  Jika ini benar terjadi, bukan mustahil negara bakal mengalami kerugian besar. 
Sejak melambungnya harga minyak bumi, pemanfaatan energi khususnya untuk 
pembangkit listrik, beralih ke batubara. Tak hanya di Indonesia tapi juga di 
dunia.

Dengan kondisi seperti itu, hampir bisa dipastikan, kebutuhan batu bara bakal 
meningkat pesat dalam beberapa puluh tahun ke depan. Batu bara memainkan peran 
yang penting dalam membangkitkan tenaga listrik dan peran tersebut terus 
berlangsung. World Coal Institute menyebutkan saat ini konsumsi batu bara 
sebagai bahan bakar pembangkit listrik dunia sekitar 39 persen. Porsi 
diperkirakan tetap di level yang sama selama 30 tahun ke depan.

Sedangkan pasar batu bara yang terbesar adalah Asia, yang saat ini mengonsumsi 
54 persen dari konsumsi batu bara dunia. Sementara banyak negara yang tidak 
memiliki sumber daya energi alami yang cukup untuk memenuhi kebutuhan energi 
dan karenanya, mereka harus mengimpor. Bukan hanya kekurangan pasokan batu bara 
setempat yang membuat negara-negara mengimpor batu bara, tapi demi untuk 
memperoleh batu bara dengan jenis tertentu. Contohnya penghasil batu bara 
terbesar seperti Cina, AS, dan India, juga mengimpor batu bara karena alasan 
mutu dan logistik.

Kondisi tersebut jelas menjadikan batu bara bisnis menjanjikan sampai beberapa 
puluh tahun ke depan. Indonesia, yang saat ini masih tercatat sebagai salah 
satu produsen batu bara terbesar dunia, mestinya mampu menikmati 'manisnya' 
bisnis emas hitam itu lantaran harga yang terus meninggi. Produksi dan ekspor 
batu bara Indonesia pun cenderung meningkat.

Indonesia telah menjadi eksportir batu bara nomor dua terbesar di dunia setelah 
Australia sejak 2006 lalu, dengan volume ekspor 184 juta ton dan devisa yang 
diperoleh sebesar 3,4 miliar dolar AS. Padahal, sebelumnya Indonesia masih 
menduduki peringkat keempat setelah Australia, Cina, dan Afrika Selatan. 
Bahkan, tahun 2006 lalu ekspor batu bara sudah mencapai 184 juta ton senilai 
6,08 miliar dolar AS dan 2007 sekitar 130 juta ton lebih senilai 5,05 miliar 
dolar AS.

Cadangan terbukti batu bara Indonesia juga tercatat masih cukup besar. Sampai 
akhir tahun lalu, Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral 
(ESDM) mengungkap cadangan batu bara terbukti Indonesia mencapai 5,3 miliar 
ton. Sebanyak 83 persen cadangan batu bara terbukti itu berada di Kalimantan, 
sedangkan sisanya 905 juta ton berada di wilayah Sumatra.

Jika tingkat produksi batu bara nasional mencapai 200 juta ton per tahun, maka 
cadangan batu bara terbukti akan habis dalam 26,5 tahun. Namun, jika dihitung 
berdasarkan cadangan terkira yang mencapai 13,411 miliar ton, maka batu bara 
akan habis dalam 67 tahun. Sedangkan, jika dihitung berdasarkan sumber daya 
batu bara Indonesia yang mencapai 90,452 miliar ton, maka batubara akan habis 
452 tahun!

Selain untuk ekspor, cadangan sebanyak itu tentunya sangat bermanfaat bagi 
kebutuhan dalam negeri. Apalagi Indonesia sedang memacu penggunaan batu bara 
sebagai sumber utama energi listrik, menggantikan peran BBM yang semakin mahal. 
Cadangan batu bara sebanyak itu pastinya akan bermanfaat terkait pembangkit 
listrik bertenaga batu bara sebesar 10 ribu dalam tiga tahun mendatang, Hal ini 
akan membuat melesatnya kebutuhan batu bara dalam negeri.

Sumber daya alam, yang seharusnya dimanfaatkan sebesar-besarnya kesejahteraan 
rakyat negara ini, justru bakal sulit dinikmati jika hostile takeover dibiarkan 
terjadi. Sekarang saja, sejumlah perusahaan batu bara sudah dimiliki asing. 
Salah satunya adalah PT Bayan Resources Tbk yang 37,5 persen dimiliki Dato Low 
Tuck Kwong dari Malaysia dan 10 persen oleh Enel Investment Holding BV. Juga PT 
Indo Tambangraya Megah Tbk yang 77,6 persen dimiliki PT Centralink Wisesa 
International yang merupakan kepanjangan tangan Banpu Plc dari Thailand.

Sementara PT Bumi Rescources Tbk, anak usaha Grup Bakrie, juga terancam jatuh 
ke tangan asing. Saat ini PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) selaku holding Grup 
Bakrie hanya menguasai 16,92 persen ditambah 7,4 persen digadaikan di The Bank 
of New York. Long Haul Holdings Ltd menguasai 18,9 persen.

Sebagian sahamnya dalam proses penjualan oleh BNBR dalam proses rasionalisasi 
portofolio terkait gadai 28,5 persen saham Bumi yang memerlukan penambahan 
kolateral karena harga sahamnya jatuh. Gadai saham ini untuk mendapatkan 
pijaman dari beberapa lembaga keuangan asing seperti ICICI dan JP Morgan 
masing-masing 150 juta dolar AS dan Odickson Finance 1,1 miliar dolar AS untuk 
refinancing utang right issue April lalu.

Beberapa pihak disebut-sebut telah menawar saham Bumi seperti Grup Djarum, 
Texas Pacific Group dari Amerika, dan Tata Group dari India. Tata Group 
sebelumnya sudah menguasai 30 persen saham di PT Kaltim Prima Coal (KPC), 
tambang batu bara terbesar di Indonesia milik Bumi. Bumi saat ini memproduksi 
lebih dari 60 juta ton batu bara kualitas tinggi dan menguasai 10 persen pasar 
ekspor dunia.

Dalam proses rasionalisasi portofolio sejumlah perusahaan Grup Bakrie lainnya, 
ada klausul bahwa BNBR bisa membeli kembali saham perusahaan itu. Seperti untuk 
PT Bakrieland Development Tbk yang dilepas 30 persen sahamnya ke Avenue 
Capital, hedge fund dari AS. Namun, untuk penjualan Bumi Resources belum ada 
kejelasan apakah ada klausul buy back.

Ancaman hostile takeover jelas tak bisa dipandang sebelah mata. Atau, kita 
hanya akan menyisakan sisa-sisa keterpurukan masa kini untuk generasi masa 
depan.


  Ancaman Bernama Hostile Takeover.
  Republika, 21 Oktober 2008.
  http://www.republika.co.id/launcher/view/mid/22/kat/14/news_id/8973

  ***


  Ada persepsi yang kuat di kalangan pemerintahan bahwa krisis finansial global 
tidak akan terlalu berpengaruh terhadap perekonomian nasional.

  Alasannya adalah fundamental ekonomi kita kuat dan sektor perbankan tidaklah 
serentan 10 tahun yang lalu. Selain itu, episentrum krisis berada jauh dari 
kita.

Saya agak kurang paham mengenai landasan teoretis argumen tersebut. Pengalaman 
menunjukkan bahwa kita sering gagal untuk mendefinisikan fundamental ekonomi 
yang relevan untuk menangkis krisis.

  Krisis finansial global tak bisa ditangkis dengan pertumbuhan ekonomi, suku 
bunga, ataupun inflasi. Negara-negara yang memiliki kinerja ekonomi yang baik, 
seperti Korea dan Cina juga mengalami imbas yang lebih parah dibandingkan kita.

Selain itu, kerentanan juga bisa timbul oleh kenyataan bahwa sektor perbankan, 
asuransi, dan pasar modal didominasi oleh pelaku asing. Mereka sekarang sedang 
mengalami kesulitan di negaranya masing-masing dan tidak ada jaminan bahwa 
masalah mereka sebagian dialihkan ke Indonesia. Caranya, yaitu dengan menyedot 
likuiditas dari Indonesia untuk menutupi cash flow perusahaan induk.

Yang menjadi perhatian kita sekarang ini seharusnya tidak hanya sebatas 
kebijakan di sektor keuangan. Sektor riil juga harus kita amankan karena dampak 
negatifnya sudah mulai terasa. Antisipasi dampak di sektor riil menjadi sangat 
penting karena sebagian besar negara maju telah betul-betul merasakannya dengan 
cukup jelas.

Dampak terhadap sektor riil domestik dapat diidentifikasi melalui dua saluran. 
Saluran yang pertama adalah kenyataan bahwa sektor riil domestik terhubung 
secara langsung dengan sektor riil internasional. Kedua, sektor riil domestik 
juga terhubung dengan sektor finansial domestik dan internasional. Kita lihat 
satu per satu.

Sektor riil domestik dan internasional terhubung secara langsung melalui 
aktivitas ekspor dan impor. Karena sebagian besar negara maju mulai mengalami 
resesi, otomatis permintaan ekspor komoditas Indonesia akan berkurang. 
Negara-negara OECD memiliki pangsa sekitar 60 persen terhadap GDP dunia.

  Adalah sulit untuk membayangkan bahwa resesi yang mereka alami tidak akan 
mengganggu kita. Memang bisa dicari alternatif pasar. Tetapi, jelas tidak ada 
pasar yang mampu menggantikan peran mereka. Mereka terlalu besar untuk 
digantikan.

  Bahkan, semua negara tentunya akan melakukan hal yang sama, yaitu semaksimal 
mungkin mengalihkan ekspor ke negara mana pun yang mungkin. Karena itu, kita 
mungkin akan menghadapi persaingan yang lebih keras di pasar ekspor 
nontradisional. Bahkan, pasar domestik akan dibanjiri oleh produk-produk impor 
dari Cina dan Vietnam.

Masalahnya adalah kita telah memberlakukan pasar bebas dengan Cina sehingga 
tidak lagi bisa dengan mudah memberikan proteksi terhadap produk nasional.

  Inilah buah dari liberalisasi yang ugal-ugalan. Dalam kenyataannya, 
perusahaan eksportir kita telah merasakan sebagian dampak negatif krisis sejak 
beberapa bulan yang lalu. Sebagian besar order ekspor telah mengalami 
pengurangan. Beberapa produsen tekstil belum menerima order untuk delivery 
tahun depan. Pembatalan order juga semakin sering terjadi.

Dampak negatif berikutnya bisa diidentifikasi melalui saluran finansial dan 
tampaknya justru akan membawa implikasi yang jauh lebih serius.

  Memang, mereka yang hanya percaya terhadap teori real business cycle tentunya 
tidak akan menganggap saluran ini begitu penting. Mereka hanya percaya pada 
doktrin Modigliani, yakni finance is a veil yang berarti bahwa yang paling 
penting adalah sektor riil dan kejadian apa pun di sektor finansial tidak akan 
memiliki implikasi apa-apa terhadap sektor riil.

  Sebaliknya, aliran New-Keynesian justru percaya bahwa krisis di sektor riil 
bisa dipicu oleh situasi yang buruk di sektor finansial. Perkembangan yang 
terjadi belakangan ini menunjukkan bahwa hipotesis New-Keynesian lebih 
mendekati kenyataan dan diindikasikan dengan hal-hal berikut ini.

Pertama, sebagaimana telah terjadi terhadap Grup Bakrie dan beberapa grup 
bisnis lainnya, ternyata anjloknya harga saham telah ikut menurunkan akses 
mereka terhadap kredit dan pasar modal. Ketika harga saham turun, net worth 
mereka otomatis juga turun sehingga credit-worthiness perusahaan-perusahaan 
mereka juga melemah. Pada gilirannya, mereka akan mengalami kesulitan untuk 
melakukan roll over dan refinancing untuk kredit yang telah jatuh tempo. 
Beberapa kreditor bahkan memutuskan untuk tidak melanjutkan pembiayaan berbagai 
proyek yang sudah berlangsung selama setahun terakhir ini. Kita akan 
menyaksikan banyak proyek yang tidak diselesaikan di tengah jalan karena 
kesulitan pembiayaan.

Kedua, volatilitas di pasar keuangan juga akan meningkatkan persepsi risiko. 
Akibatnya, perusahaan mejadi lebih sulit untuk mencari dana atau kalaupun ada 
dana harganya lebih mahal. Bahkan, JP Morgan Chase merekomendasikan bahwa 
obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah Indonesia sebaiknya dihindari. 
Penilaian ini jelas membuktikan bahwa pemerintah sekalipun akan mengalami 
kesulitan dalam pembiayaan defisit. Dunia usaha tentunya akan menghadapi 
kesulitan yang jauh lebih parah.

Ketiga, kesulitan likuiditas perbankan dalam beberapa minggu terakhir ini mulai 
terasa oleh sektor riil. Kredit menjadi lebih sulit untuk diperoleh. Dunia 
usaha mulai mengeluhkan bahwa kredit yang telah disetujui oleh bank, tiba-tiba 
dibatalkan secara sepihak. Hal itu kini lebih sering terjadi, terutama terhadap 
UKM yang memang bukan prime customer bagi perbankan. Dengan lebih seretnya 
kredit, ekspansi dunia usaha pada tahun 2009 mungkin akan terhambat. 
Pertumbuhan investasi akan mengalami koreksi habis-habisan.

Sebagai penutup, mungkin sudah saatnya bagi kita untuk menyadari bahwa sangat 
sulit untuk menghindar dari krisis finansial global. Kita sebaiknya mulai 
mengatur strategi agar pengaruhnya terhadap sektor riil bisa diminimalisasi.


  Dampak Krisis Terhadap Sektor Riil.
  Iman Sugema.
  Republika, 20 Oktober 2008.
  http://www.republika.co.id/launcher/view/mid/22/kat/26





Kirim email ke