Bismillahirrahmaanirrahim
Tetaplah
pada Relung Hatimu..
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Pernahkah kita memandang ruangan yang amburadul, tidak
tersusun rapi? Tentu pernah!.
Bagaimana perasaan kita disaat memandang ruangan berantakan,
mirip kapal pecah tersebut? Tentu tidak enak bukan?
Dan pernahkah, kita melihat ruangan yang tertata dengan
rapi? Tentu pernah. Bagaimana perasaan melihat ruangan bersih, rapi tersebut?
Tentu Enak dipandang mata bukan?
Coba mari kita bayangkan, andaikan diri kita seperti ruangan
kapal pecah itu, dan bayangkan juga, bagaimana hati kita seperti ruangan indah
yang tersusun rapi serta bersih itu.
Rasulullah Shallallahualaihiwasallam bersabda : Ketahuilah
oleh kamu, bahwa didalam tubuh ada sekerat daging, apabila baik daging itu,
maka baiklah seluruh tubuhnya, apabila jelek, maka jeleklah seluruh tubuhnya,
itulah dianya Hati(H.R Bukhari Muslim)
Hati, bagaikan nakhoda tubuh manusia, yang menggerakkan
segala aktifitas kita. Apabila hati didalam baik, bersih, maka insyaAllah yang
keluarpun akan baik dan bersih
Sabda Rasulullah lagi, Perumpamaan hati itu seperti sehelai
bulu ditanah lapang, dan mudah dibolek-balikkan angin(H.R Ahmad, Ibnu Abi
Aashim)
Hauqolah sebagai Obat penyakit hati
Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam bersabda: Barang
siapa yang mengucapkan laahaulaa walaaquwwata illaabillaahialiyyiladziim, maka
ucapannya ini menjadi obat(bila diucapkan faham makna dan diresapi secara dalam
dan ikhlash) bagi 99 penyakit, dan penyakit yang paling ringan adalah ambisius.
Ustadz, Syamsul Rijal, memberikan penjelasan dalam hadits
ini sebagai berikut:
Sebagaimana kita ketahui, penyakit ambisius, adalah salah
satu jenis penyakit hati. Oleh karena itu 99 penyakit hati, termasuk yang
paling ringan ini, insyaAllah bisa disembuhkan dengan kalimat ini.
Hal ini sangat rasional sekali, mengingat manusia yang masih
belum dapat mengendalikan hati, dari godaan syetan, yang hanya bisa mengatasi
godaan tersebut hanyalah Dzikrullah Taala.
Perlu diketahui, bahwa penyakit ambisius itu, tidak datang
begitu saja. Tetapi akan banyak sekali factor pendorongnya, yang dapat juga
digolongkan sebagai penyakit hati. Jadi, ambisius itu bisa diakibatkan oleh:
Iri
kepada keberhasilan orang lainKeinginan
menjadi yang TerbaikRakus
untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknyaIngin
memiliki status social yang tinggi, agar terpandang dimasyarakat.
Raja(berharap), tidaklah sama dengan ambisius. Manusia
disuruh untuk selalu berharap pada Allah Taala, serta harus takut kepadaNya.
Ada
segelincir manusia, yang mungkin berfikiran tidak netral, ingin memasukkan
anaknya disekolah agama. Dia berharap agar anaknya menjadi anak yang shalih/ah,
sebagai dai/daiah. Namun, rasa Khauf, atau takut yang berlebihan, tidak pada
tempatnya, setelah melihat betapa banyaknya orang yang sekolah agama,
berjilbab, namun dia melihat kelakuan mereka, tidak lebih baik dari yang sekolah
umum.
Sebenarnya ini adalah pandangan yang salah. Sudah menjadi
kewajiban orang tua, mendidik dan memahami agama pada anaknya. Kalau kita mau
jujur, sedangkan yang sudah dididik/diajar/sekolah agama saja, kelakuannya
begitu, menghadapi masalah tak sabar, pikiran kacau balau, apatah lagi kalau
mereka tak terdidik dengan didikan agama.
Raja, dan Khauf tadi, menyelimuti hati sang ortu, bahkan
bisa-bisa bersikap apatis, terhadap keluaran pesantren, keluaran sekolah agama.
Sebenarnya hatinyalah yang perlu ditata rapi. Kenapa sampai ia berfikiran
negative, berburuk sangka, dan menggeneralisir semuanya, menilai tidak normal,
alias tidak netral begitu? Ini karena hati tadi,..hatinya tak tersusun rapi dan
bersih. Seharusnya, kita bisa berfikiran lebih netral dan objektif, serta
normal, bagaimana kalau analogi kita putar balikkan, sedangkan yang sudah
belajar agama saja, begitu, apatah lagi yang tidak tahu agama?
Sikap anti pada keputusan MUI, mengatakan MUI begini dan
begitu, coba kita putar balikkan pertanyaan itu kediri mereka yang anti
terhadap MUI, sedangkan sudah yang mengeluarkan UU secara islam dan Syariah
saja, sudah MUI yang berkompotent, apatah lagi bagi mereka yang bukan MUI?
Bagi mereka yang anti terhadap ustadz/ah/dai/daiah, ulama,
ulamawati, MUI, dan sejenis keluaran agama lainnya, maka ini juga termasuk
pendapat yang penataan tata hatinya masih belum rapi, jadi perlu ditata ulang,
sebagaimana computer, yang sudah sering hang, perlu diinstall ulang kembali.
Nah, bagaimana menginstall dan menata hati agar rapi dan
bersih?
.
Justru, kembalinya
adalah kepada ajaran Agama Islam tadi, patokannya haruslah patokan Allah taala
dan rasulNya. Itu bila ingin dia selamat dunia dan akhirat, sebagaimana sabda
Rasulullah Aku tinggalkan kamu dua hal, apabila kamu berpegang teguh pada
kedua hal tersebut, kamu tidak akan sesat selamanya, apakah dua hal itu, yakni
berpegang teguh pada AlQuran dan Assunnah.
Sabdanya lagi:Wajib atas kamu berpegang pada sunnahku, dan
sunnah khulafaurraashidiin. Mari sama-sama kita mencoba segala sesuatu,
patokannya adalah hukum menurut agama, tidak dengan akal, hati dan perasaan.
Sak wasangka kita semata.
Wassalamualaikum. Rahima. Cairo, 27 Oktober 2008
Silahkan kunjungi :
Http://www.rahmatmesir.blogspot.com
www.rahmancairo.blogspot.com
www.abdurrahim.blogspot.com
www.rahimarahim.multiply.com
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
===
Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta
Informasi lengkap di:
http://www.media-islam.or.id
http://www.syiarislam.wordpress.comYahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/