AS Mulai Lirik Keuangan Syariah 

Republika,
4 November 2008

Krisis keuangan global akhirnya memaksa Amerika Serikat (AS) untuk mengkaji 
sistem keuangan alternatif lain. Padahal, pengusung dan pembeli sejati sistem 
kapitalisme ini lantang meneriakkan penolakan atas usulan reformasi keuangan 
dunia yang menghapuskan sistem kapitalisme itu. Namun, negara adi daya itu kini 
mulai membuka mata untuk mengkaji sistem keuangan syariah.

Pemerintah AS telah melakukan kunjungan resmi ke Arab Saudi, akhir Oktober 
lalu.  Menurut Deputi Sekretaris Keuangan Pemerintah AS, Robert M Kimmitt, 
kunjungan itu sengaja dilakukan untuk mengkaji efektifitas sistem perbankan 
syariah dalam memerangi krisis keuangan global yang kini terjadi. Demikian 
ungkap Kimmit dalam konferensi pers di Kedubes AS sebagaimana dilansir situs 
berita www.arabnews.com, beberapa waktu lalu. 

Dalam kunjungan resmi itu, delegasi pemerintah AS mengadakan diskusi dengan 
Menteri Keuangan Arab Saudi, Ibrahim Al-Assaf. Selain itu, mereka juga bertemu 
dengan sejumlah pejabat otoritas moneter dan investasi Arab Saudi. Mereka juga 
bertemu dengan berbagai investor dan bankir negara kaya minyak itu. Salah 
satunya adalah Pangeran Al Waleed bin Talal yang merupakan Chairman Kingdom 
Holding Company. 

Menurut Kimmit, kunjungan resmi pemerintah AS ke Arab Saudi terkait pelaksanaan 
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 di Washington 15 November mendatang. 
Pelaksanaan konferensi itu termasuk topik pembahasannya,  harus dipersiapkan 
secara hati-hati dan matang. Apalagi  konferensi tersebut hanya dilakukan 
selama satu hari. ''Saya tidak yakin perbankan syariah akan menjadi salah satu 
topik pembahasan dalam konferensi. Tapi, itu (perbankan syariah) merupakan 
subyek yang memang seringkali ada di sektor publik dan swasta,'' katanya. 

Karena itu, pemerintah AS memandang perlu mengkaji efektifitas sistem perbankan 
syariah dalam memerangi krisis keuangan global. Bahkan, saat ini, terdapat 
sejumlah pakar di departemen keuangan negara itu yang tengah mempelajari 
berbagai fitur penting perbankan syariah.

Meski demikian, Kimmit menyebutkan, AS saat ini tengah memfokuskan pada 
aktivitas berbagai negara dan bank sentral dalam menghadapi krisis keuangan 
global. Namun, ia menyebutkan, negara anggota G-20 juga termasuk negara Muslim 
seperti Indonesia, Turki, dan Arab Saudi. ''Perwakilan dari sejumlah negara ini 
bisa mempresentasikan pengalaman perbankan syariah mereka dalam menghadapi 
situasi (krisis keuangan global),'' katanya.

Kimmit berharap, KTT G-20 bisa menghasilkan platform efektif bagi berbagai 
negara anggota dalam bertukar pandangan terkait masalah perekonomian terkini. 
Mereka juga diharapkan bisa memiliki rencana untuk merelaksasi situasi keuangan 
global. KTT G-20 diusulkan oleh berbagai negara Eropa untuk membahas dan 
menentukan respon bersama menghadapi krisis keuangan global. Usulan itu telah 
diterima Presiden George W Bush.

Mengenai kunjungan ke Arab Saudi, menurut Kimmit, AS telah bermitra dengan 
negara itu lebih dari dua dekade. Namun, kunjungan kali ini cukup signifikan 
karena diadakan ketika dunia sedang didera krisis keuangan global. 

Selain itu, kunjungan itu juga dimaksudkan untuk menekankan kebijakan investasi 
terbuka AS bagi berbagai investor Timur Tengah. ''Ini merupakan peluang saya 
untuk menghadirkan perspektif AS dan mendengar dari pemimpin Arab Saudi 
mengenai situasi Arab Saudi dan Timur Tengah saat ini,'' ujar Kimmit sambil 
menyebutkan delegasi pemerintah AS juga berencana mengunjungi Uni Emirat Arab, 
Qatar, Kuwait, dan Irak.  aru
(-)

Source:
http://www.republika.co.id/koran/0/11736.html




      

Kirim email ke