Bismillaahirrohmaanirrohiim.
        
        Semoga boleh urun "up load" dari milis tetangga, semoga bisa menjadi 
bahan pemikiran lain agar masing-masing kita dapat melihat dunia melalui 
perspektif dan kekuatan masing-masing. Inti pokoknya harus mencari keridhoan 
Alloh swt, apapun jalan yang di tempuh dan apapun caranya (tentu sepanjang 
sesuai syariah).
 
Hadist ini, meskipun saya belum lihat sendiri di kitab apa...he...he...kayak 
bisa baca saja, tapi telah saya perlihatkan pada sahabat yang alumni Cairo 
sebagai hadist yang benar (terima kasih mas Herdiyansyah). Karena dalam doa 
keseharian: Robbanaa aatinaa fiddun yaa khasanah wafil aakhiroti khasanah 
waqinaa adzaabannaar. Jadi, bukannya kita diajarkan minta kebahagiaan di dunia 
dan kebahagiaan di syurga serta dijauhkan dari api neraka?. wallohu a'lam 
bishowab. Mohon maaf jika ada kata yang tidak enak dibaca.
 
 
salam,
 
 
faisol
 
 
From: [EMAIL PROTECTED] di <[EMAIL PROTECTED]> Mon Jul 7, 2008 


Belajar Mengelola Dinar Dari Abdurrohman bin Auf 
Selain contoh sempurna Rosululloh saw, kita bisa belajar dari sahabat-2 Beliau 
dalam membangun kemakmuran masyarakat. Salah satunya adalah Abdurrohman bin Auf 
yang kesuksesannya dalam berbisnis dan urusan akhirat bisa dicontoh karena 
beliau termasuk satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.


Berikut disarikan prestasi-2 Abdurrrahman bin Auf: Abdurrrahman bin Auf 
termasuk sahabat yang masuk Islam masa awal (orang kedelapan yang bersahadah 
dua hari setelah Abu Bakar). Beliau termasuk salah satu dari enam orang yang 
ditunjuk oleh Umar bin Khotob untuk memilih kholifah sesudahnya. Beliau seorang 
mufti yang dipercaya oleh Rosululloh saw untuk berfatwa di Madinah padahal 
Rosululloh saw masih hidup. Beliau terlibat dalam perang Badar bersama 
Rosululloh saw dan menewaskan musuh-musuh Allah. Beliau juga terlibat dalam 
perang Uhud dan bahkan termasuk yang bertahan di sisi Rosululloh saw ketika 
tentara kaum muslimin banyak yang meninggalkan medan peperangan. Dari 
peperangan ini ada sembilan luka parah di tubuhnya dan dua puluh luka kecil 
yang diantaranya ada yang sedalam anak jari. Perang ini juga menyebabkan luka 
di kakinya sehingga Abdurahman bin Auf harus berjalan dengan pincang, dan juga 
merontokkan sebagian giginya sehingga beliau berbicara dengan
 cadel. 


Suatu saat ketika Rosullulloh saw berpidato menyemangati kaum muslimin untuk 
berinfaq di jalan Allah, Abdurrohman bin Auf menyumbang separuh hartanya yang 
senilai 2.000 Dinar atau sekitar Rp 2,4 Milyar nilai uang saat ini (saat itu 
beliau belum kaya dan hartanya baru 4.000 Dinar atau Rp 4,8 Milyar). Atas 
sedeqah ini Rosululloh saw berdo'a: “Semoga Alloh melimpahkan berkahNya padamu, 
terhadap harta yang kamu berikan. Dan Semoga Alloh memberkati harta yang kamu 
tinggalkan untuk keluarga kamu”. Do'a ini kemudian benar-benar terbukti dengan 
kesuksesan demi kesuksesan Abdurrohman bin Auf berikutnya. 


“Ketika Rosullulloh membutuhkan dana untuk perang Tabuk yang mahal dan sulit 
karena medannya jauh, ditambah situasi Madinah yang lagi dilanda musim panas. 
Abdurrohman bin Auf memeloporinya menyumbang dua ratus uqiyah emas 
sampai-sampai Umar bin Khotob berbisik kepada Rosululloh saw. Sepertinya 
Abdurrahman berdosa sama keluarganya karena tidak meninggali uang belanja 
sedikitpun untuk keluarganya”. Mendengar ini, Rosululloh saw bertanya pada 
Abdurrohman bin Auf, “Apakah kamu meninggalkan uang belanja untuk istrimu?”, 
“Ya!” Jawab Abdurrahman, “Mereka saya tinggali lebih banyak dan lebih baik dari 
yang saya sumbangkan”. “Berapa?” Tanya Rosululloh. “Sebanyak rizki, kebaikan, 
dan pahala yang dijanjikan Allah”. Jawabnya. “Setelah Rosululloh saw wafat, 
Abdurrohman bin Auf bertugas menjaga kesejahteraan dan keselamatan para istri 
Rosululloh saw (Ummahatul Mu'minin).” Abdurrohman bin Auf pernah menyumbangkan 
seluruh barang yang dibawa
 oleh kafilah perdagangannya kepada penduduk Madinah padahal seluruh kafilah 
ini membawa dagangan yang diangkut oleh 700 unta yang memenuhi jalan-jalan kota 
Madinah. Selain itu juga tercatat Abdurrohman bin Auf telah menyumbangkan 
dengan sembunyi-2 atau terang-terangan antara lain 40.000 Dirham (sekitar Rp 
1,4 Milyar), 40.000 Dinar (sekitar Rp 48 Milyar), 200 uqiyah emas, 500 ekor 
kuda, dan 1.500 ekor unta. “Beliau juga menyantuni para veteran perang badar 
yang masih hidup waktu itu dengan santunan sebesar 400 Dinar (sekitar Rp 480 
juta) per orang yang jumlahnya tidak kurang dari 100 orang. Dengan begitu 
banyak yang diinfaqkan di jalan Allah. Beliau ketika meninggal pada usia 72 
tahun masih meninggalkan harta yang terdiri dari 1.000 ekor unta, 100 ekor 
kuda, 3.000 ekor kambing dan masing-2 istri mendapatkan warisan 80.000 Dinar. 
Padahal warisan istri-istri ini masing-masing hanya 1/4 dari 1/8 (istri 
mendapat bagian seperdelapan karena ada anak, lalu
 seperdelapan ini dibagi 4 karena ada 4 istri). Artinya kekayaan yang 
ditinggalkan Abdurrohman bin Auf saat itu berjumlah 2.560.000 Dinar atau 
sebesar Rp 3.072 trilyun (kurs uang rupiah saat tulisan ini dibuat)!. 


Bagaimana Abdurrohman bin Auf bisa sangat sukses berdagang dan juga dijamin 
masuk surga?, yang bisa kita tiru dari beliau adalah: “Seluruh usahanya hanya 
ditujukan untuk mencari Ridhla Allah”. Bermodal dan berniaga barang halal dan 
menjauhkan diri dari barang haram bahkan yang sub hat sekalipun. “Keuntungan 
hasil usaha bukan untuk dinikmati sendiri melainkan ditunaikan hak Allah, sanak 
keluarga dan untuk perjuangan di Jalan Allah”. Abdurrohman bin Auf seorang 
pemimpin yang mengendalikan hartanya, bukan harta yang mengendalikannya. 


“Sedeqah telah menyuburkan harta Abdurrohman bin Auf, sampai-sampai ada 
penduduk Madinah yang berkata “Seluruh penduduk Madinah berserikat dengan 
Abdurrohman bin Auf pada hartanya. Sepertiga dipinjamkannya pada mereka, 
sepertiga untuk membayari hutang-hutang mereka, dan sepertiga sisanya 
dibagi-bagikan kepada mereka”. “Keseluruhan harta Abdurahman bin Auf adalah 
harta yang halal, sehingga Ustman bin Affan RA. yang sudah sangat kayapun 
bersedia menerima wasiat Abdurahman ketika membagikan 400 Dinar bagi setiap 
veteran perang Badar. Atas pembagian ini Ustman bin Affan berkata, “Harta 
Abdurahman bin Auf halal lagi bersih, dan memakan harta itu membawa selamat dan 
berkah”. 


Jadi, kaya tidak berarti menjadi hamba Dinar, asal kita dapat kembali ke 
tuntunan dan contoh langsung dari Rosululloh saw beserta para sahabatnya. 
Wallohu a'lam.


From: "ikhlash kautsar" <[EMAIL PROTECTED]>


Kaya raya seperti sahabat Rosululloh saw. 
Kebebasan Finansial (Financial Freedom) sedang banyak dibicarakan akhir-akhir 
ini. Inti dari kebebasan finansial adalah adanya jaminan pendapatan yang 
kontinyu (passive income) dan jaminan finansial di hari tua. Dari 
terminologinya dan dari ide ini bermula, terkesan istilah ini seperti baru 
muncul pada era belakangan ini, tapi sesungguhnya, Financial Freedom secara 
hakiki dan prakteknya bahkan sudah dilakukan para sahabat Rosululloh saw 1400 
tahun yang lalu. 


“Ah, terang saja, kan para sahabat adalah manusia yang tidak bergantung pada 
uang karena mereka adalah orang yang zuhud!” mungkin itu yang terbersit dalam 
pikiran sebagian dari kita. Tapi yang ingin saya sampaikan adalah “FAKTA” bahwa 
para sahabat telah mengalami Financial Freedom dengan definisinya seperti yang 
juga dipahami saat ini. 


Dalam sejarah tercatat, Umar bin Khotob RA ketika wafat meninggalkan ladang 
pertanian sebanyak 70.000 ladang, yang rata-rata harga ladangnya sekitar Rp.160 
juta. Itu berarti, Umar meninggalkan warisan sebanyak Rp.11,2 Triliun. Setiap 
tahun, rata-rata ladang pertanian saat itu menghasilkan Rp 40 juta, berarti 
Umar mendapatkan penghasilan Rp 2,8 Triliun setiap tahun, atau 233 Miliar 
sebulan!!!. (Sumber: Fikih Ekonomi Umar bin Al-Khattab ra, penerbit Khalifa, 
hal. 47 & 99).

--- On Mon, 11/3/08, Hasbiyanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Hasbiyanto <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [syiar-islam] Penjara bagi Kita
To: [EMAIL PROTECTED], "kesehatan islam" <[EMAIL PROTECTED]>, "sari kata OOT" 
<[EMAIL PROTECTED]>, "syiar-islam OOT" <[email protected]>
Date: Monday, November 3, 2008, 2:36 AM






Waalaikumussalam Wr Wb.

Mas Firman,
Siapa yang meriwayatkan hadits tersebut, dan apakah hadits tersebut shohih????

Wassalam,
HB

>>> lucky firmansyah <firman_lucky@ yahoo.co. id> 10/31/2008 10:38 AM >>>
Assalamualaikum Wr. Wb ?

Saudaraku, terkadang kita berfikir, mengapa Allah selalu memberikan kesulitan 
kepada kita, tetapi Dia begitu mudah memberikan kesenangan hidup kepada 
orang-orang yang kafir. Ini adalah tanda bahwa Allah Mahaadil.

Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Ad-Dunya sijnul mukmin wa 
jannatul kafirin". Artinya: "Dunia adalah penjara bagi orang - orang mukmin dan 
sebagai surga bagi orang - orang kafir."(HR.Muslim) . Maka dari itu janganlah 
sampai kita berputus asa untuk terus beriman kepada-Nya, kalau kita tidak mau 
menjadi orang yang merugi di dunia apalagi di alam sana.

Percayalah dibalik kesulitan yang kita hadapi, pasti ada kemudahan yang 
nantinya akan kita temui.

Wassalamualaikum Wr. Wb !

____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail. com.
http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ id/ 

[Non-text portions of this message have been removed]

 














      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

===
Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta
Informasi lengkap di:
http://www.media-islam.or.id
http://www.syiarislam.wordpress.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke