----- Forwarded Message ----
From: Sutikno <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, October 31, 2008 9:49:44 AM
Subject: [pengusaha-muslim] Re: Fw: " Belajar Dari Sumirah "




--- Pada Kam, 30/10/08, Inawan Pamungkas <[EMAIL PROTECTED]> menulis:

Dari: Inawan Pamungkas <[EMAIL PROTECTED]>
Topik: Re: [pengusaha-muslim] Re: Fw: " Belajar Dari Sumirah "
Kepada: [EMAIL PROTECTED]
Tanggal: Kamis, 30 Oktober, 2008, 3:44 PM


Pak,
alamat Bu Sumirah kan ada di badan artikel :)
Mungkin Bapak bacanya kurang teliti
 
wassalam,


--- On Thu, 10/30/08, meguro2001office <meguro2001office@ yahoo.com> wrote:

From: meguro2001office <meguro2001office@ yahoo.com>
Subject: [pengusaha-muslim] Re: Fw: " Belajar Dari Sumirah "
To: pengusaha-muslim@ yahoogroups. com
Date: Thursday, October 30, 2008, 6:43 PM


--- In pengusaha-muslim@ yahoogroups. com, "R.Benjamin Lukman" 
<[EMAIL PROTECTED] .> wrote:
>
> Asallamu'alaikum Wr Wb,
> 
> Saudara-saudarku barangkali ada manfaat dan hikmah dari bacaan ini
> untuk kita semua,Amien.
> 
> Fw:
> 
> Menjadi tukang pijat belumlah cukup. Sumirah nyambi jadi tukang sol
> sepatu, penjahit, dan pekerja pabrik. Sebagian hasil keringatnya itu
> ia gunakan untuk membangun madrasah, masjid, musala, dan mengurus 
anak
> yatim.
> 
> Ternyata, beramal tidak harus menunggu kaya.
> Penolakan halus langsung diucapkan Sumirah, pimpinan Panti Asuhan
> Yatim Piatu Amanah, Rungkut, Surabaya saat akan diwawancarai Surya
> untuk tulisan ini.
> 
> "Saya ini apalah mbak, kok pakai diwawancarai. Masih banyak yang 
lebih
> bagus, lebih pintar dan lebih hebat", elaknya saat ditemui di Panti
> Asuhan Amanah sekaligus rumahnya di Jalan Pandugo Gg II Nomor 30 B,
> Rungkut, Senin (15/9) lalu.
> 
> Secara materi, Sumirah memang belum bisa dibandingkan dengan 
pengusaha
> sukses. Namun kekayaan hati Sumirah mungkin hanya dimiliki 
segelintir
> orang di abad ini.
> 
> Perempuan kelahiran 3 April 1965 ini tak cukup mengelola panti 
asuhan.
> Ia mendirikan madrasah, masjid, dan musala di kampungnya, Pacitan.
> Mungkin juga sulit dipercaya, Sumirah menghidupi anak-anak yatim
> dengan menjadi tukang pijat panggilan.
> 
> Rasa empati Sumirah sudah terpupuk sejak kecil. Ia terbiasa bergaul
> dengan anak-anak yatim asuhan almarhum Atmorejo, ayahnya. Saat itu 
ada
> 100 anak yatim dan anak-anak lain yang berlatih ilmu kanuragan
> (kebatinan) di rumah. Mereka semua? tinggal di rumah,&#12539; kata 
ibu lima
> anak ini.
> 
> Secara materi Sumirah kecil tercukupi, namun didikan ayahnya tidak
> membuatnya manja. Bahkan, sejak kelas II SD dia sudah menjadi tukang
> pijat alternatif, warisan keahlian turun temurun. Duitnya 'ditabung'
> di musala di Desa Kembang, Kecamatan Pacitan.
> 
> Saat itu saya masih ingat nasihat ayah.
> "Kalau kamu punya rezeki, 50 persen untuk kamu dan 50 persen lagi
> untuk musala. Pasti rezeki itu akan barokah", kenangnya.
> Pesan almarhum ayahnya terus diingat Sumirah. Setiap rupiah
> dihasilkan, selalu disisihkan untuk musala. Begitu pula ketika 
orderan
> memijat merambah hingga Madiun, bahkan Semarang .
> 
> Saat SMP, Sumirah dan kakaknya hijrah ke Jakarta . Di kota 
megapolitan
> ini Sumirah tidak tertarik mencicip pekerjaan lain. Ndilalah,
> kemampuan memijatnya tersohor hingga ke Jawa Barat. Pada 1986, 
Sumirah
> dan suami mencari peruntungan di Surabaya . Di kota ini, selain 
tetap
> memijat, ia bekerja di pabrik PT Horison Sintex (sekarang Lotus). Ia
> hanya masuk pabrik hari Selasa, Rabu, dan Kamis.
> 
> Namun dua profesi itu belum cukup. Merasa waktunya masih senggang,
> Sumirah mencari pekerjaan sampingan. Ia menjadi tukang sol sepatu,
> menjahit baju, dan tukang keriting rambut.
> 
> "Karena pekerjaan banyak, rata-rata saya hanya tidur dua jam sehari.
> Mijat saja sehari hingga 20 kali", akunya sambil tersenyum.
> 
> Kerja keras itu impas dengan hasilnya. Sehari, tidak kurang ia
> mengantongi Rp 2 juta. Namun limpahan uang itu tidak membuatnya 
mabuk.
> Uang itu dialirkan untuk membangun madrasah, musala-musala, dan 
masjid
> di desanya. Sumirah enggan menyebut nama-nama musala itu. nanti saya
> ndak di-ridhoi kalau pamer,&#12539; tukasnya.
> 
> Suatu ketika, Sumirah pulang kampung. Jalan di desanya tidak bisa
> dilewati karena rusak berat. Prihatin, ia dan suaminya mem-paving
> seluruh jalan itu. Walhasil, rencana naik haji seketika batal karena
> simpanan Rp 60 juta habis untuk ongkos paving.
> 
> "Saya tidak pernah menyimpan uang di bank. Bukan apa-apa, tapi 
karena
> tanda tangan saya tidak pernah sama. Itu tentu tidak boleh kan ?,"
> katanya.
> 
> Hidup Sumirah teruji saat dia melihat banyak anak telantar di 
sekitar
> kampungnya. Dia nekat menampung 54 anak yatim itu di rumahnya yang
> berukuran? 2,5 meter x 13 meter. Sebagian dari mereka saya kos-kan 
di
> depan rumah. Saya sewa tiga kamar,&#12539; katanya.
> 
> Masalah datang ketika anak asuhnya ndableg dengan menghabiskan air 
dan
> sabun milik ibu kos. Sekitar pukul 21.00 WIB, anak-anak itu diusir.
> "Mereka saya tampung di rumah saya. Jadi, mereka tidur sambil 
duduk",
> kata Sumirah.
> 
> Esoknya, Sumirah mencari kontrakan untuk mereka. Tawaran kontrakan 
Rp
> 4 juta ditolak karena Sumirah tak punya duit. Di tengah kesulitan, 
ia
> berdoa. Mendadak ada semacam dorongan untuk menghubungi Pak Triyono,
> dermawan dari Barata Jaya. Sumirah kaget, Pak Triyono memberinya 
zakat
> maal (zakat kekayaan) sejumlah Rp 4 juta.
> 
> "Agar tidak mengganggu penduduk kampung, pagi-pagi sekali kami
> pindahan", katanya.
> 
> Panti Asuhan Amanah, kini menampung 60 anak yatim, dibangun Sumirah
> tahun 1996. Mereka kanak-kanak hingga remaja. Belum lama ini Sumirah
> mengasuh balita yang ditinggal mati bapaknya. Amelia, balita itu,
> sekarang berumur sembilan bulan.
> 
> "Oh ya, Saya sudah menikahkan 13 anak sini, 16 Oktober 2008 nanti 
saya
> mantu lagi", ujarnya dengan mata berbinar.
> 
> Untuk mencukupi hidup anak asuhnya, Sumirah tidak mengandalkan 
bantuan
> donatur yang sebagian adalah pelanggan pijatnya. Selepas subuh, anak
> yatim itu berdagang kelapa kupas, sayuran, dan bumbu. Sumirah dan
> suami juga membuka toko kelontong.
> 
> Mengakhiri kisahnya, Sumirah sempat bilang,
> "Pergunakanlah mata hati. Banyak orang pintar yang belum tentu 
mengerti".
> 
> 
> Sumber: Surya Online
>
subhannallah, setelah membaca cerita sumirah, saya merasa kecil 
sekali, bisa kah saya mendapatkan alamat sumirah? saya ingin banyak 
belajar dari beliau. wassallam

 
     
________________________________
 Dapatkan alamat Email baru Anda!  
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke