----- Original Message ----- 
From: Gunawan GTF



HARGA BBM HARUS TURUN!

Buletin Al-Islam  Edisi  428





Sejak satu bulan terakhir ini harga minyak mentah dunia terus mengalami 
penurunan drastis. Harga minyak mentah dunia yang pada 11 Juli lalu mencapai 
level tertinggi sebesar US$ 147,27 perbarel, pada minggu-minggu ini berada pada 
kisaran US$ 60–70 perbarel. (http://www.bloomberg.com/energy). 



Di tengah berita turunnya harga minyak ini, masyarakat kembali teringat pada 
kebijakan Pemerintah pada 23 Mei lalu yang menaikkan harga BBM rata-rata 27,5%, 
dengan alasan saat itu: harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan drastis. 
Naiknya harga minyak dunia saat itu bahkan menjadi alasan utama Pemerintah 
untuk menaikkan harga BBM di dalam negeri. 



Karena itu, dengan alasan dan logika yang sama, karena harga minyak dunia terus 
menurun dalam sebulan terakhir ini, wajar jika banyak yang menuntut agar 
Pemerintah menurunkan kembali harga BBM di dalam negeri. 



Namun, yang ada barulah sekadar "angin surga" berupa harapan yang disampaikan 
oleh Presiden, bahwa Pemerintah pada saatnya akan menurunkan harga BBM. Wapres 
Yusuf Kalla menegaskan, Pemerintah baru bisa menurunkan harga BBM tahun 2009 
apabila harga minyak mentah dunia rata-rata di bawah US$ 80 perbarel (Kompas, 
1/11). Hal yang sama juga ditegaskan oleh Menteri ESDM, Purnomo Yusgiantoro.



Para pengamat percaya, harga minyak akan cenderung pada kisaran ini atau bahkan 
bisa turun. Menurut Victor Shum, analis energi pada konsultan Purvin & Gertz di 
Singapore, harga minyak akan berada pada kisaran US$ 60–70 perbarel selama 
beberapa waktu ke depan (The Associated Press, 3/11). Komisaris Pertamina 
Mai-zar Rahman, seperti yang dikutip Harian Ekonomi Neraca, juga memperkirakan, 
harga minyak mentah masih akan berada di level US$ 60-70 perbarel hingga akhir 
tahun. Bahkan Direktur Energy Security Initiative, Charles Ebinger seperti 
dikutip AFP, Sabtu (1/11/2008), kemungkinan besar harga minyak dapat terus 
turun hingga mencapai US$ 50 perbarel pada 2009.



Kecenderungan harga minyak itu dipercaya akan bertahan dalam jangka waktu yang 
cukup lama. Pasalnya, penurunan harga minyak itu dipengaruhi oleh lesunya 
perekonomian dunia akibat krisis keuangan global. Amerika yang merupakan negara 
pemakai minyak paling besar sedang mengalami krisis dan perekonomiannya sedang 
lesu. Sebagian memprediksi dampak krisis akan terasa 3-4 tahun ke depan. Akibat 
lesunya perekonomian AS itu, permintaan minyak mentah AS juga tidak akan 
mengalami kenaikan drastis, bahkan dipercaya akan stabil atau bahkan turun. Hal 
itu lebih menguatkan dugaan bahwa harga minyak mentah sampai akhir tahun atau 
bahkan hingga tahun depan belum akan mengalami kenaikan drastis. 



Dari sisi penawaran, OPEC berusaha menurunkan penawaran dengan memangkas 
produksinya sebanyak 1,5 juta barel perhari dan berlaku efektif sejak 1 
November. Namun, upaya itu diperkirakan tak banyak membantu memulihkan harga. 
Penurunan harga minyak mentah terjadi akibat kekhawatiran krisis ekonomi yang 
diperkirakan akan memukul permintaan minyak dunia. Penguatan dolar AS yang 
cukup tajam atas Euro juga memberi andil bagi kemerosotan harga minyak. 



Dengan semua itu maka desakan agar harga BBM diturunkan cukup beralasan. Lalu 
berapa besaran penurunan itu? Menurut Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah 
Suzzeta, jika kenaikan yang lalu adalah sebesar 27,5% maka penurunannya tidak 
bisa sebesar itu. Menurut Kurtubi, Direktur Center for Petroleum and Energy 
Economics Studies (CPEES), dengan kondisi perekonomian saat ini sebenarnya 
harga BBM bersubsdi seperti premium dan solar dapat diturunkan Rp1.000 
perliter. Hitung-hitungannya: Harga minyak dunia turun menjadi sekitar USD63-64 
perbarel. Lalu nilai tukar rupiah adalah Rp 10.000-11.000 per USD. Jadi, biaya 
pokok BBM adalah Rp 5.000,-. "Singkat cerita, jika dihitung, saya pikir, turun 
Rp 1.000 merupakan hal yang wajar," ujarnya (Okezone.com). 



Menurut seorang pejabat Departemen ESDM yang tidak disebut namanya, penurunan 
harga BBM diperkirakan pada kisaran 10%-18 %. Dengan kisaran itu, Premium oktan 
88 bisa dijual dengan harga Rp 4.920,- hingga Rp 5.400,- perliter dan solar Rp 
4.510 hingga Rp 4.950 perliter (Bisnis.com, 3/11).



Memang, harga BBM industri sendiri sudah diturunkan oleh pihak Pertamina. 
Berdasarkan Surat Keputusan Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina (Persero) 
No. Kpts-184/F00000/2008-S3 tanggal 30 Oktober 2008 tentang Harga Jual 
Keekonomian BBM Pertamina disebutkan harga premium turun 18%. Dengan harga baru 
itu, sejak 1 November BBM non-subsidi jenis premium oktan 88 dijual oleh 
Pertamina dengan harga terendah Rp 5.925,- perliter (Bisnis.com). 



Menurunkan harga BBM untuk industri (non-subsidi) memang penting. Namun, lebih 
penting lagi tentu adalah menurunkan harga BBM untuk 200 jutaan rakyat 
Indonesia. Apalagi jika kita melongok negara tetangga kita Malaysia, 
pemerintahnya juga menaikkan harga BBM pada 5 Juni 2008, sekitar dua pekan 
setelah Pemerintah Indonesia. Namun, pemerintah Malaysia juga telah menurunkan 
kembali harga BBM-nya sebanyak empat kali: pada 22 Agustus 2008; 24 September 
2008, satu minggu sebelum Hari Raya Idul Fitri; 15 Oktober 2008; dan 1 November 
lalu. Harga Premium oktan 97 diturunkan dari 2,30 menjadi 2,15 ringgit 
perliter, Premium oktan 92 turun dari 2,20 menjadi 2,05 ringgit perliter. 



Meski tidak bisa disamakan persis, jika pemerintah Malaysia mampu menurunkan 
harga BBM, mengapa Pemerintah Indonesia tidak bisa? 





Harga BBM Turun, Rakyat Lega





Berdasarkan survei BI Semarang, porsi pengeluaran untuk BBM 10–40% total 
pengeluaran rumah tangga, atau ambil rata-ratanya 20%. Karena itu, turunnya 
harga BBM tentu akan mengurangi pengeluaran. Penghematan itu akan bisa 
dialokasikan untuk belanja atau kebutuhan lainnya. Artinya, ekonomi riil akan 
bergerak lebih giat. 



Banyak penelitian mengungkap bahwa kenaikan harga BBM lalu berdampak pada 
bertambahnya jumlah orang miskin. Dengan turunnya harga BBM, pada akhirnya 
jumlah orang miskin setidaknya bisa direm atau bahkan mungkin berkurang.



Di samping itu, turunnya harga BBM juga sejatinya bisa menurunkan ongkos 
transportasi, meski hal ini harus disertai dengan kebijakan lainnya di bidang 
transportasi dan kendaraan umum. Dengan turunnya ongkos transportasi, biaya 
produksi barang dan jasa juga akan bisa turun. Dengan begitu, harga-harga 
barang dan kebutuhan logikanya juga akan mengalami penurunan. Seperti yang 
terjadi di Malaysia, dengan peran aktif pemerintahnya, berbagai jaringan 
supermarket dan pedagang menurunkan harga ribuan item barang. Semua itu akan 
berdampak positif bagi kehidupan rakyat. Sektor riil yang langsung bersentuhan 
dengan kehidupan rakyat pun akan bergerak lebih cepat. 



Di samping itu, dengan melemahnya nilai rupiah saat ini, dikhawatirkan angka 
inflasi naik. Angka inflasi yang tinggi tentu saja kurang bagus bagi 
perekonomian dan kehidupan masyarakat. Turunnya harga BBM akan bisa mengurangi 
atau bahkan meredam naiknya inflasi. Dengan demikian, secara keseluruhan, harga 
BBM turun akan berdampak baik bagi perekonomian dan kehidupan rakyat.





Harga BBM Harus Turun!





Di negeri yang mengadopsi sistem ekonomi kapitalis ini, barang tambang, 
termasuk minyak, bisa dimiliki oleh individu/swasta. Kalaupun dikatakan bahwa 
kekayaan alam, termasuk minyak, dikuasai oleh negara, saat ini negara bertindak 
seperti pemilik, yang lalu memberikan kuasa pengelolaan minyak kepada swasta. 
Rakyat pada faktanya selalu diposisikan sebagai konsumen. Hubungan pemerintah 
dengan rakyat pada akhirnya mirip hubungan dagang. Karena itu, wajar jika 
Pemerintah (sebagai 'pedagang minyak') seolah begitu sulit menurunkan harga BBM 
untuk rakyat (sebagai konsumen minyak), namun begitu mudah saat menaikkannya.



Padahal dalam sistem ekonomi Islam, kekayaan alam, termasuk minyak dan gas, 
telah ditetapkan oleh Allah sebagai milik umum (rakyat secara bersama-sama). 
Rasulullah saw. bersabda:





«الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلاَثٍ فِي الْكَلإَِ وَالْمَاءِ وَالنَّارِ»



Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara: padang rumput, air dan api (HR Abu 
Dawud dan Ahmad).





Sebagai pemilik kekayaan alam, termasuk minyak, rakyat tentu saja berhak 
menikmati minyak dengan harga semurah-murahnya. Tidak seharusnya harga BBM 
dinaikturunkan mengikuti harga pasar internasional. Sebab, rakyatlah pemilik 
sejati barang tambang, termasuk minyak. Negara hanya bertindak mewakili rakyat 
dalam mengelola minyak dan gas, sementara hasil pengelolaan itu seluruhnya 
dikembalikan kepada rakyat, baik secara langsung (dalam bentuk minyak dan gas 
gratis atau dengan harga murah untuk rakyat) maupun tidak langsung (dalam 
bentuk pelayanan yang bermutu dan bisa dinikmati oleh semua). 



Di samping itu, dalam Islam pemerintah berkewajiban memelihara kepentingan dan 
kemaslahatan rakyat. Rasulullah saw. bersabda:



«فَاْلإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ» 



Penguasa adalah pengatur dan pemelihara urusan rakyat dan ia akan dimintai 
pertanggungjawaban atas nasib rakyat yang diurusnya (HR al-Bukhari).





Jadi, pemerintah bertanggung jawab menjadikan kehidupan rakyat menjadi mudah, 
ringan dan sejahtera. Sebaliknya, pemerintah tidak boleh membiarkan rakyat 
dihimpit dengan biaya hidup yang tinggi, hidup susah dan tak sejahtera. Jadi, 
apakah harga BBM harus turun? Semestinya begitu. 





Wahai Kaum Muslim:





Sulitnya harga BBM turun adalah berpangkal pada sistem kapitalis yang 
diterapkan di negeri ini. Sistem kapitalis pulalah yang menjadikan kehidupan 
terasa sempit menyesakkan seperti yang dirasakan oleh kebanyakan rakyat saat 
ini. 



Karena itu, sudah saatnya sistem kapitalis itu kita campakkan. Sudah tiba 
waktunya kita menerapkan Islam dan syariahnya. Tentu saja penerapan Islam dan 
syariahnya itu hanya bisa diwujudkan secara total dalam bingkai Khilafah 
Islamiyah. 



Lebih dari itu, di tengah terkuaknya kerapuhan dan kebobrokan sistem kapitalis 
saat ini akibat krisis, masihkah kita percaya pada sistem yang rusak ini? Masih 
belum yakinkah kita akan keampuhan sistem Islam—yang notabene bersumber dari 
Allah, Zat Yang Mahatahu—dalam mensejahterakan umat manusia? Mengapa terhadap 
sistem kapitalis buatan manusia yang terbukti bobrok kita begitu percaya, 
bahkan dalam jangka waktu yang lama, sementara terhadap sistem Islam buatan 
Allah SWT yang pasti baik kita seolah begitu sulit percaya? 





zNõ3ßssùr&] Ïp¨ŠÎ=Îg»yfø9$# tbqäóö7tƒ 4 ô`tBur ß`|¡ômr& z`ÏB «!$# $VJõ3ãm 
5Qöqs)Ïj9 tbqãZÏ%qムÇÎÉÈ [



Apakah sistem hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? Siapakah yang lebih baik 
sistem hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS al-Maidah [5]: 
50). []





Komentar alislam:



Yusuf Qardhawi Serukan Persatuan Umat Islam dan Waspadai Kristenisasi 
(Hidayatullah.com, 4/11/2008).



Ingat! Persatuan umat Islam hanya mungkin terwujud dalam Khilafah Islamiyah.







[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke