Debat Terorisme atau Jihad ? 

Rabu,
29 Oktober 2008, TV One menyiarkan Debat dengan tema Terorisme atau
Jihad ? Dalam acara yang ditayangkan pukul 19.30 WIB tersebut
berhadap-hadapan Ustadz Abu Jibriel selaku Wakil Amir Majelis Mujahidin
melawan Guntur Romli mewakili Jaringan Islam Liberal (JIL).

Dalam
perdebatan tersebut Ustadz Abu Jibriel berhasil menjelaskan makna jihad
yang hakiki, keutamaan, dan siapa saja yang layak menyandang gelar
syuhada (orang yang mati syahid), termasuk Amrozi, cs (Insya Allah),
karena mereka memang telah berjihad di Afghanistan, Moro, dan di Ambon.
Guntur Romli tentu saja menolak habis-habisan penjelasan Ustadz Abu
Jibriel dan mengeluarkan “hadits” andalan kaum sekuler liberal untuk
menafikan jihad, yakni keutamaan jihad melawan hawa nafsu. 

Ustadz
Abu Jibriel kemudian memberikan penjelasan bahwa hadits tersebut
kedudukannya sangat lemah bahkan termasuk dalam kategori hadits maudhu
(hadits palsu) dan menjuluki Guntur Romli sebagai ‘pendusta’ karena
menyebarkan hadits palsu tersebut. Namun Guntur Romli berkelit dan
balas menuduh Ustadz Abu Jibriel sebagai inkaru sunnah karena menolak
hadits palsu tersebut. Guntur Romli sangat yakin bahwa hadits “jihad
besar” (jihad melawan hawa nafsu) adalah benar dan layak digunakan
untuk menafikan kewajiban jihad saat ini.

Bagaimanakah kedudukan
hadits jihad melawan hawa nafsu tersebut ? Mengapa masih banyak kaum
Muslimin terkena fitnah dan syubhat hadits ini ? Berikut artikel yang
membahas hadits tersebut dinukil dari Risalah Dakwah dan Jihad Al
Muhajirun Edisi Khusus (Edisi Pertama). Semoga bermanfaat!

FITNAH TERHADAP JIHAD
Bantahan Atas Jihad Melawan Hawa Nafsu
Oleh: Abu Khubaib & Abu Zubair


Diantara kesalahan tentang pemahaman Jihad yang menyebabkan ummat
enggan untuk melaksanakannya adalah pemahaman jihad besar (jihad
melawan hawa nafsu) dan jihad yang lebih rendah. Seiring dengan
keyakinan ini, berjuang melawan hawa nafsunya sendiri dipertimbangkan
sebagai jihad yang terbesar, yang menjadikan jihad dengan berperang di
medan pertempuran merupakan jihad yang paling rendah. Pemahaman ini
didasarkan atas cerita yang disebutkan oleh Al-Khatib Al-Baghdadi dalam
bukunya, sejarah Baghdad, dari Yahya Ibnu al ‘Ala’ berkata,

“Kami
mendapatkan kabar dari Laith dari ‘Ata’, dari Abu Rabah, dari Jabir
mengatakan bahwa, “Sekembalinya Nabi saw dari perang, Beliau mengatakan
kepada kami, “Telah datang kepadamu berita yang baik, kamu datang dari
jihad yang rendah kepada jihad yang lebih besar yaitu seorang hamba
Allah yang berjuang melawan hawa nafsunya.”

 Konsepsi ini
walaupun secara fakta didasarkan atas sebuah hadits, akan tetapi hadits
ini dapat disangkal dari beberapa aspek, yang akan kami sebutkan
berikut ini.

Pertama:
 
Hadits ini tidak bisa digunakan
untuk sebuah hujjah, karena al-Baihaqi berkata berkaitan dengan ini,
“mata rantai dari periwayatannya adalah lemah (dha’if).” As-Suyuti juga
berpendapat bahwa aspek hukumnya lemah, hal ini beliau utarakan dalam
bukunya, Jami’ As-Shaghir.

Sebagian orang mungkin mengatakan
bahwa hadits dha’if bisa diterima dalam persoalan keutamaan amal.
Pendapat ini tidak bisa diterima, karena kami tidak percaya bahwa jihad
bisa digunakan untuk keutamaan amal. Jika hal itu memang benar,
bagaimana mungkin Rasulullah saw. bersabda bahwa, “Diamnya ummat ini
adalah penghianatan terhadap jihad”

Selanjutnya, siapapun yang
mengikuti Yahya Ibn al-‘Ala’, sebagai seorang perowi hadits maka akan
menemukan dalam biografinya sesuatu yang akan menyebabkannya
meninggalkan hadits tersebut.. Ibnu Hajar al-Asqalani berkata
(berpendapat) tentangnya dalam At-Taqrib, “Dia tertuduh sebagai pemalsu
hadits”. Adz-Dzahabi berkata dalam Al-Mizan, “ Abu Hatim berkata bahwa
dia bukanlah seorang perowi yang kuat, Ibnu Mu’in menggolongkannya
sebagai perawi yang lemah. Ad-Daruqutni berkata bahwa dia telah
dihapuskan (dalam daftar perawi) dan Ahmad bin Hanbal berkata “ Dia
adalah seorang pembohong dan pemalsu hadits”.




Kedua:

Hadits ini secara tegas dan jelas bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur’an. 
Allah Yang Maha Kuasa berfirman:

“Tidaklah
sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak
mempunyai 'uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan
harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad
dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat.
Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga)
dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk
dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat dari pada-Nya,
ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (QS. An-Nisaa’,4: 95-96).

Ketiga :

Hadits ini
(hadits tentang jihad melawan hawa nafsu) bertentangan dengan
hadits-hadits mutawatir yang disampaikan oleh Nabi saw., yang
menjelaskan tentang keutamaan jihad. Kami akan menyebutkan beberapa
diantaranya.

“Waktu pagi atau sore yang digunakan di jalan Allah adalah lebih baik daripada 
dunia dan seisinya.” (Bukhari dan Muslim)

“Berdiri satu jam dalam perang di jalan Allah lebih baik daripada berdiri dalam 
shalat selama 60 tahun.” (shahih al-Jami’)

Abu Hurairah ra berkata,


“ Apakah ada diantara kamu yang mampu berdiri dalam shalat tanpa
berhenti dan terus melakukannya sepanjang hidupnya?” Orang-orang
berkata, “Wahai Abu Hurairah! Siapa yang mampu melakukannya?” Beliau
berkata “Demi Allah! Satu harinya seorang mujahid di jalan Allah adalah
lebih baik daripada itu.”

Pernyataan dari orang yang mengatakan
bahwa “Berjuang melawan dirinya sendiri adalah jihad yang terbesar
karena tiap individu mendapatkan ujian siang dan malam”, dapat
disangkal dengan hadits berikut:

Dari Rasyid, dari Sa’ad r.a.,
dari seorang sahabat, seorang laki-laki bertanya, “ Ya Rasulallah!
Kenapa semua orang-orang yang beriman mendapatkan siksa kubur kecuali
orang-orang yang syahid?” Beliau saw. menjawab: “Pertarungan dari
pedang di atas kepalanya telah cukup sebagai siksaan (ujian) atasnya.”
(Shahih Jami’)





Keempat :

Kesalahpahaman dan fitnah ini termasuk dalam bentuk ketidakadilan dan salah 
dalam menempatkan status para mujahid.

Allah ta’ala telah memerintahkan kita untuk menegakkan keadilan sebagaimana 
dalam firman-Nya,

“Berlaku
adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah
kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.”
 (QS. Al Maidah, 5: 8).

Apakah adil, kita
mengatakan perang yang dilakukan oleh saudara-saudara kita di medan
perang adalah jihad yang paling rendah? Ketika dalam hitungan menit
saja tubuh-tubuh mereka meledak, berpencarlah kaki-kaki mereka,
tubuh-tubuh mereka melayang (mengambang) di air, darah berceceran
dimana-mana, sampai-sampai jenazah-jenazah mereka tidak bisa dikuburkan
(karena telah hancur).

Itu semua mereka lakukan untuk
mendapatkan keridhoan-Nya. Dimana letak kerendahan dari jihad yang
dilakukan oleh pemuda-pemuda tadi jika dibandingkan dengan aktivitas
puasa kita, yang berbuka dengan makanan lezat, lalu bagaimana mungkin
aktivitas puasa itu dinilai sebagai jihad yang paling besar? Demi
Allah! Ini adalah pemberian nilai yang tidak sesuai, jika anda
menyampaikan permasalahan ini sebelumnya pada generasi pertama (Islam)
maka mereka tidak akan pernah menyampaikan pandangan hukum berbeda.

Kelima:

Dr.Muhammad
Amin, seorang penduduk Mesir berkata dalam kitabnya, bagian dari dakwah
Islam adalah jihad dengan dirinya sendiri, adapun jihad dengan harta
tidak menunjukkan atas penegakkan seruan atas kebenaran dan
berpendirian di atas kebenaran, menyeru kepada kebenaran dan melarang
kemunkaran serta memberikan kontribusi hidup dan hartanya di jalan
Allah merupakan jihad yang kurang sempurna. Ini adalah ungkapan yang
aneh!!!

Tatkala kita ditimpa ujian yang sangat berat dimana kaki
ikut terguncang dan hati selalu was-was akan ancaman, bisakah itu
disebut jihad yang rendah? Ketika kita merasakan keadaan aman dan
nyaman di rumah, berkumpul dengan keluarga dan teman-teman, bisakah ini
disebut dengan tingkatan jihad yang tertinggi ! Keadaan ini seperti
ungkapan seseorang yang gembira dalam keadaan duduk membelakangi
perintah Rasulullah saw. dan sahabat-sahabatnya. Seperti orang yang
mendapati kesenangan dan kenyamanan dalam hidupnya padahal realitanya
mereka hanya menipu jiwa mereka sendiri yang lemah karena nilai-nilai
kebenaran amal seluruhnya mereka tentang.



Di akhir
tulisan ini, kami kutipkan beberapa kalimat yang telah dikirim oleh
seorang mujahid Abdullah bin Al-Mubarak dari tanah jihad kepada
temannya Al-Fudail bin Iyyad, orang yang menasihati para penguasa dan
membuatnya menangis, beliau tidak meminta bayaran akan tetapi murni
muncul dari keikhlasan.


يَاعَابِدَ الْحَرَمَيْنِ لَوْ أَبْصَرْتَنَا 
لَعَلِمْتَ أَنَكَ بِالعِبَادَةِ تَلْعَبُ 
مَنْ كَانَ يَخْضَبُ خَدُهُ بِدُمُوْعِهِ
 فَنُحُوْرُنَا بِدِمَائِنَا تَتَخَضَبُ

“
Wahai orang yang beribadah di Masjid Haromain, seandainya engkau
melihat kami tentu engkau tahu bahwa engkau dalam beribadah itu hanya
main-main saja, kalau orang pipinya berlinang air mata, maka, leher
kami dilumuri darah “

Pertimbangan Jihad

Sebagian orang
mungkin heran ketika mereka mendengar orang yang menggambarkan jihad
(di medan perang) adalah jihad yang terendah atau orang yang menganggap
berperang di jalan Allah merupakan aktivitas yang kecil dibandingkan
dengan perbuatan yang lain. Jika kita menelusuri kehidupan orang-orang
tersebut, melihat sejarah mereka dan mempelajari alasan-alasan mereka
atas penolakan persoalan ini, maka akan kita temukan bahwa penjelasan
atas pendirian mereka adalah sangat sederhana. Orang-orang tersebut
meremehkan jihad dan memberikan prioritas kepada studi di Universitas,
menulis di majalah-majalah dan berpidato di konferensi-konferensi untuk
mengakhiri perang dan mengakhiri aksi syahid. Dengan melihat kehidupan
mereka, maka akan ditemukan sebuah ancaman terhadap kesatuan ummat,
karena ummat ini akan digiring pada pandangan mereka.

Ummat akan
merasa bahwa dirinya lemah dan menahan diri dari aktivitas jihad
(mereka hanya menerima teori dan konsepnya saja) akan tetapi tidak
berpartisipasi dalam jihad. Tidak ada keinginan atas dirinya untuk
bersama-sama dengan orang-orang yang mendapatkan rahmat Allah (Syahid),
mereka juga menganggap tidak memiliki keuntungan untuk bergabung dengan
camp-camp mujahid. Sebuah camp yang serba sederhana, jauh dari
kemewahan dan kekurangan akan bahan pokok, yang akan menjadikan mereka
merasakan perbedaannya antara kehidupan di camp tersebut dengan
kehidupan yang dijalaninya di universitas yang penuh dengan
makanan-makanan, hiburan dan ruangan kelas yang berAC.

Bagaimana
mungkin orang-orang tersebut dapat menerima kebenaran nilai dari jihad
ketika mereka tidak berpartisipasi dalam dunia perang, tidak juga masuk
ke dalam arena kerusuhan dalam perang?

Jika seorang terjun ke
dalam sebuah pertempuran maka cukup untuk membenarkan atas semua
kesalahpahamannya. Seorang mujahid, hanya dalam hitungan beberapa jam
saja dapat melihat segala sesuatu yang menakutkan yang akan menyebabkan
rambut anak-anak pun menjadi beruban. Bom-bom yang meledak akan
membersihkan jiwa-jiwa saudara-saudara kita yang kita cintai yang ikut
andil dalam perjuangan dan jihad. Mereka akan melihat bagaimana situasi
dari orang-orang ketika roket-roket meledak di atas kulit kepala mereka
atau di bawah kaki mereka? Bagaimana situasi ketika mereka melihat
dengan mata kepala sendiri anggota tubuh seperti lengan, kaki dan usus
hancur berhamburan, anggota tubuh yang sehat menjadi cacat, hilang
ingatan atau lumpuh? Inilah alasan pokok atas penolakan orang-orang
yang meremehkan jihad.

Dalam beberapa jam atau hari seorang
mujahid melihat dengan mata kepalanya sendiri bentuk-bentuk kekerasan,
ujian dan kesengsaraan yang dialami tatkala jihad, tidakkah yang
lainnya melihat hal ini selama 10 tahun terakhir ini? Akan menjadi
sesuatu hal yang mustahil bagi seseorang untuk melaksanakan aktivitas
jihad secara fisik kecuali ia dapat berpartisipasi di dalamnya. Oleh
karena itu orang yang masih berselisih dengan mujahid dalam persoalan
jihad ini atau orang-orang menyeru manusia untuk meninggalkan perang
maka sebaiknya bergabung dengan camp jihad walaupun hanya sebagai
pembantu atau dia seharusnya berpartisipasi dalam perang walaupun hanya
sebagai orang yang masak, lalu setelah itu kita akan melihat
pendapat-pendapatnya, apakah masih dia mengatakan bahwa pena sebanding
atau sama dengan kalashnikov ?

Wallahu’alam bis showab!


      
___________________________________________________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke