Bercita-cita Mendapatkan Anugerah
Syahid<http://abahzacky.wordpress.com/2008/11/22/bercita-cita-mendapatkan-anugerah-syahid/>Posted
by Abah Zacky as-Samarani

Dari Abu Tsabit, ada yang menyebutnya Abu Sa'id, ada yang menyebutnya Abu
al-walid, Sahl bin Hunaif, dia seorang dari badar ra, bahwa nabi saw
bersabda; Barangsiapa yang memohon kesyahidan kepada Allah dengan
sejujurnya, maka Allah akan menyampaikannya ke derajat kesyahidan meskipun
meninggal di atas kasur (HR Muslim)


Hadis ini menyebutkan dua derajat yang sangat mulia di sisi Allah, yatu
kesyahidan (syuhada') dan kejujuran (shidq), sebagaimana disebukan di dalam
firman Allah

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan
bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu:
Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang
saleh. Dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya. (an-Nisa':69)

Syahid itu ada tiga macam;


1- Syahid akhirat saja;

terkena musibah sehingga rasulullah menyebutnya syahid, seprti orang yang
mati terbakar, mati tenggelam, mati terkena penyakit perut

Kesyahidan itu ada tujuh macam, selain yang terbunuh di jalan allah, 1)
orang yang mati karena terkena penyakit tha'un (wabah menular) maka ia
syahid, 2) orang yang mati karena tenggelam maka ia syahid, 3) orang yang
mati karena bengkak di dalam perut maka ia syahid. 4) orang yang sakit perut
maka ia syahid, 5) orang yang terbakar maka ia syahid, 6) dan yang mati
karena tertimpa reruntuhan maka ia syahid, dan 7) seorang wanita yang mati
karena melahirkan maka ia syahid (HR Abu Dawud an-Nasa'I dan Ahmad)

Demikian juga orang yang mati kerena orang-orang yang membela harga diri dan
membela hartanya sebagaimana diterangkan di dalam hadis rasulullah saw

Dari Abu hurairah,ia berkata. Ada seorang lelaki yang mendatangi rasulullah
saw lalu bertanya, Wahai Rasulullah, apa pendapatmu kalau ada seseorang yang
akan mengambil hartaku. Beliau menjawab, "Jangan kau berikan hartamu itu" Ia
bertanya lagi, "Apa pendapatmu jika ia enyerangku?" beliau bersabda, "Serang
(perangi) dia". Ia bertanya lagi, "Apa pendapatmu jika dia membunuhku?"
Beliau menjawab, "Kamu syahid" Ia betanya lagi, "Apa pendapatmu jika aku
bisa membunuhnya" Beliau bersabda, "Dia di dalam neraka (HR Muslim)

Dari sa'id bin Zaid, ia berkata; Rasulullah saw bersabda; Barangsiapa yang
terbunuh karena membela hartanya maka ia syahid, yang terbunuh karena
membela kelurganya maka ia syahid, dan yang terbunuh karena membela agamanya
maka ia syahid, yang terbunuh karena membela darahnya (membela diri) maka ia
syahid, (HR t-Tirmidzi, an-Nasa'i, dan al-Baihaqi)


2- Dan Syahid dunia akhirat;

yaitu orang yang terbunuh di medan jihad. Inilah syahid yang tertinggi
sebagaimana dijelaskan oleh Allah

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati;
bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam
keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka,
dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di
belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap
mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan
nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak
menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (Ali Imran:169-171)

Mati syahid di dalam ayat di atas disebutkan bagi orang yang terbunuh dalam
menegakkan kalimat Allah. Berperang melawan musuh, dalam rangka membela
agama Allah, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah, ketika beliau ditanya
oleh seseorang tentang siapakah yang termasuk mati fi sabilillah,

Dari Abu Musa al-Asy'ari ra, ia berkata; Ada seorang lelaki yang dating
kepada Rasulullah saw lalu ia bertanya, ada orang yang berperang karena
ingin mencari harta rampasan (ghanimah), ada yang berperang karena ingin
dianggap pahlawan, dan ada yang berperang untuk mendapatkan kedudukan, maka
manakah yang fi sabilillah? Rasulullah bersabda; Orang yang berperang untuk
menjadikan kalimatullah tinggi maka dia berada di jalan Allah (HR
al-Bukhari)

Orang yang mati dalam memperjuangkan tingginya kalimat (agama) Allah inilah
yang akan mendapaytkan kemenangan, baik jika ia tetap hidup atau meninggal
di dalam peperangan, sebagaimana firman Allah

Katakanlah: "Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu
dari dua kebaikan. dan kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan
menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya. sebab itu tunggulah,
Sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu." (at-Taubah:52)

Dua kebaikan yang dimaksudkan di dalam ayat di atas, yaitu mendapat
kemenangan atau mati syahid. Sementara bagi kaum kafir Allah memastikan akan
datangnya adzab, baik adzab datang langsung dari Allah, seperti halnya
ketika perang ahzab, atau didatangkan oleh Allah melalui tangan pasukan kaum
muslimin, seperti yang terjadi di dalam perang badar.


3- Syahid dunia saja;

 yaitu orang yang mati di medang perang dalam perjuangan membela agama
Allah, tetapi secara pribadi ia maju berperang karena tujuan dunia. Maka di
dunia dia dinilai syahid, sehingga tidak dimandikan. Tetapi di akhirat ia
akan dimasukkan ke dalam neraka….

Sesungguhnya manusia yang pertama-tama diadili pada hari kiamat adalah
seorang yang mati syahid, lalu dia didatangkan dan diperlihatkan
nikmat-nikmat yang telah dterimanya di dunia dan dia mengenalinya. Lalu
Allau berfirman "Apa yang kau lakukan terhadap nikmat-nikmat itu?" orang itu
menjawab, "Aku berberang di jalanMu sehingga aku mati syahid. Allah
berfirman, "Kau dusta, karena kau berperang agar dianggap seorang pemberani,
dan kau sudah dikenal sebagai pemberani", maka diperintahkan kepada
(malaikat) agar dia ditundukkan wajahnya hingga ia dilemparkan ke dalam
neraka (HR Muslim)

Kesyahidan adalah sebuah kemuliaan yang sangat tinggi, di bawah derajat
kenabian dan shiddiqin, dan di atas derajat shalih. Tetapi pada umumnya
orang hanya mencita-citakan agar dirinya atau anaknya menjadi orang yang
shalih. Sementara derajat syahid, sebagaimana dapat dilihat di dalam ayat di
atas, ada di atas derajat shalih. Maka hadis ini bisa difahami memberikan
dorongan agar kaum muslimin bercita-cita untuk bisa mati syahid.

Sebagai bukti cita-citanya, maka ia harus berdo'a dengan sepenuh hati agar
dimmatikan dalam keadaan syahid fi sabilillah. Di antaranya dengan
senantiasa membaca do'a

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu kematian syahid di jalanMu

Kematian syahid tidak akan tercapaia tanpa melakukan peperangan untuk
meninggikan agama Allah. Sementara itu peperangan tidak senantiasa ada. Jika
orang yang memohon itu benar-benar dalam permohonannya kepada Allah maka
Allah akan mengangkatnya ke derajat syahid, meskipun ia meninggal di atas
kasur.

Salah satu bukti kebenaran do'anya adalah berdo'a dan diikuti dengan I'dad
(melakukan persiapan jihad sebisanya

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi
dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu)
kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka
yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang
kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu
dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (al-Anfal:60)

I'dad ini bisa dilakukan dengan melatih ketranpilan menggunakan senjata,
mempelajari teknik-teknik tempur, atau kalau tidak bisa bisa dengan menjaga
kekuatan fisik dan ditunjang dengan senantiasa menguatkan hati dengan
keimanan yang shahih, serta ibadah yang shahihah, dan hal-hal lain yang
menjaga cita-citanya untuk syahid ini.

Sebagai bukti lain akan kebenaran cita-citanya, ia memperhatikan
berita-berita yang terjadi di bumi jihad. Selain itu ia juga rajin
menginfakkan hartanya di jalan Allah. Memberikan perhatian kepada keluarga
yang ditinggal berjihad. Dan jika tiba gilirannya untuk berangkat, maka ia
pun berangkat berjihad.

Jihad sendiri ada dua macam, jihad ofensif dan jihad defensif. Jihad ofensif
dilakukan bersama dengan khalifah, atau amirul mukminin, dan selama tidak
dimobilisasi oleh amir maka hukumnya hádala fardlu kifayah. Sementara jihad
defensif, ádalah jihad untuk mempertahankan sebuah negeri dari serangan
musuh. Jihad yang kedua ini hukunya fardlu ain bagi yang mampu.

Mempertahankan negeri kaum muslimin, jika niatnya hádala untuk menjaga
ketinggian agama Allah, maka jihadnya fisabilillah. Meninggal dalam
perjuangan seperti itu ádalah syahid dunia akhirat. Tetapi kalau jihadnya
hanya untuk mempertahankan atau merebut kemerdekaan bangsa, dengan landasan
kebangsaan, maka ia hanya mendapatkan syahid dunia saja.

Karena itulah, dalam i'dad (mempersiapkan jihad) ini perlu ditunjang dengan
persiapan ilmu sehingga dapat melakukan sebuah amal yang benar sesuai dengan
tuntunan syari'at. Tanpa ditunjang dengan ilmu, bisa jadi, belum kesampaian
terjadinya jihad keinginannya untguk syahid tidak sidiq lagi, hilang
terhembus oleh tiupan syetan. Atau kalau benar-benar terjadi jihad
keinginannya untuk mati syahid berbelok hanya untuk membebaskan negeri dari
musuh, atas dasar nasionalisme saja.

Setiap manusia benar-benar telah ditakdirkan oleh Allah usianya. Maju ke
medan jihad bukan berarti menyetorkan nyawa. Sebaliknya lari dari medan
jihad juga bukan berarti bisa lepas dari takdir kematian. Banyak bukti orang
yang berkali-kali terjun di Medan jihad toh tidak terbunuh juga. Khalid bin
Salid, sebagai contoh, seorang pahlawan dalam segala Medan, ingá Rasulullah
menjulukinya dengan pedang Allah (saifullah), tetapi meninggalnya juga di
atas kasur.

Jika cita-cita untuk mati syahid itu benar adanya, kebenaran cita-cita itu
terbukti dengan berbagai upayanya, dan tetap membara hingga akhir hayatnya,
meskipun meninggal di atas kasur ia akan mendapatkan pahala seperti orang
yang mati di Medan jihad.


[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

===
Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta
Informasi lengkap di:
http://www.media-islam.or.id
http://www.syiarislam.wordpress.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke