” Jika salah seorang di antara kalian,  kaum Yahudi atau musyrikin,  mencoba 
untuk mengumpatku melalui ucapannya demikianlah kami akan tangani dia.  Tidak 
ada di antara kami dengan kalian selain pedang… !.   Tidak akan ada dialog,  
tidak ada pengampunan,  tidak ada jembatan,  tidak akan ada upaya rekonsiliasi. 
  Hanya ada pedang di antara saya dengan kalian… ! ”.

  ( Sabda Rasulullah SAW kepada kaum Yahudi dan Musyrikin saat menangani kasus 
pembunuhan  Ka’ab bin Al-Asyraf yang dilakukan oleh  Muhamad bin Maslamah 
radhiyallahu 'anhu.  Ka’ab bin Al-Asyraf dibunuh karena telah menulis puisi 
yang menghujat  Nabi Shollallahu ’Alaih Wa Sallam ).

  *

  Dalam bukunya berjudul  ” Pedang Terhunus Bagi Penghujat Rasul ”  (AsSarim al 
Maslul ’ala Shatim arRasul), Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan sebuah 
pelajaran penting dari Siroh Nabi shollallahu ’alaih wa sallam.

  Dalam tulisan tersebut dijelaskan bahwa seorang pemuka Yahudi ahli syair 
warga Madinah bernama  Ka’ab bin Al-Asyraf  dibunuh oleh seorang  sahabat Nabi 
shollallahu ’alaih wa sallam bernama  Muhamad bin Maslamah radhiyallahu 'anhu. 
Ia dibunuh karena telah menulis puisi yang menghujat  Nabi shollallahu ’alaih 
wa sallam.

  Ceritanya, setelah berita kekalahan kaum musyrikin Quraisy menghadapi pasukan 
Islam di dalam perang Badar sampai ke Madinah, maka  Ka’ab  berkata : ”Jika 
berita ini benar, maka berada di bawah tanah lebih baik bagi kami daripada di 
atasnya”. Artinya, ia merasa dirinya lebih baik mati daripada hidup setelah 
kekalahan kaum kuffar Quraisy.

  Lalu  Ka’ab bin Al-Asyraf  membuat syair-syair berisi ratapan atas kekalahan 
kaum musyrikin tersebut. Di dalamnya juga memuat hujatan terhadap  Nabi 
shollallahu ’alaih wa sallam  dan  kaum muslimin.

  Lalu pergilah ia ke Mekkah untuk menampilkan puisinya dan turut berduka cita 
bersama kaum musyrikin Mekkah. Bahkan kaum muslimat juga ia lecehkan di dalam 
syairnya.

  Maka Nabi shollallahu ’alaih wa sallam kemudian bersabda :

  من لي بكعب بن الأشرف فإنه قد أذى الله و رسوله

  ” Siapakah yang mau menangani Ka’ab bin Al-Asyraf karena ia sungguh telah 
mengganggu Allah dan RasulNya ? ”.

  Muhammad bin Al-Maslamah radhiyallahu 'anhu, salah satu dari orang-orang 
Ansar dari suku Aus berkata : ”Saya akan melakukannya Wahai Rasulullah… !.  
Apakah Anda ingin saya untuk membunuh dia ?”.

  Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjawab : ” Ya !”.

  Muhammad bin Al-Maslamah radhiyallahu 'anhu telah memberikan suatu janji; ia 
telah berjanji dengan lisannya bahwa ia akan membunuh  Ka’ab bin Al-Asyraf  !.

  Ia pulang ke rumah dan mulai berpikir tentang tugas tersebut dan mulai 
menyadari bahwa untuk mewujudkannya ternyata tidaklah ringan. Ka’ab tinggal di 
sebuah benteng di kawasan Yahudi dikelilingi para pendukungnya sehingga sangat, 
sangat sulit untuk membunuhnya... !.

  Dia mulai menjadi prihatin memikirkannya. Suatu keprihatinan yang 
melalaikannya dari makan dan minum kecuali sekedar untuk bertahan hidup. Selama 
tiga hari ia praktis tidak makan dan minum... !.

  Berita ini sampai ke  Nabi shollallahu ’alaih wa sallam. Lalu ia panggil  
Muhammad bin Maslamah radhiyallahu 'anhu dan bertanya : ”Ada apa denganmu, 
Muhammad bin Al-Maslamah? Benarkah kamu berhenti makan dan minum ?”.

  Ia menjawab : ”Benar, ya Rasulullah”.

  ”Mengapa ?”, tanya Nabi shollallahu ’alaih wa sallam.

  Ia menjawab : ”Aku telah berjanji sesuatu yang aku sendiri pertanyakan. 
Akankah aku sukses melakukannya dan memenuhinya ?”.

  Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam kemudian bersabda :

  انما عليك الجهد

  “ Yang dituntut darimu hanyalah kesungguhan, sisanya serahkanlah kepada Allah 
Yang Maha Kuasa ”.

  Subhanallah... !. Lihatlah semangat dan kesungguhan para sahabat.

  Tidak bisa makan atau minum bila menghadapi keadaan seperti itu. Baginya hal 
ini merupakan perkara sangat serius. Ia telah berjanji dan khawatir tidak dapat 
memenuhi janjinya. Ia tidak sanggup meneruskan hidupnya seperti biasanya 
sebelum  Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam  mengatakan agar ia memenuhi 
bagiannya dan menyerahkan sisanya kepada Allah. Barulah ia merasa terhibur dan 
bisa makan dan minum kembali...!.

  Akhirnya datanglah  Muhammad Al-Maslamah radhiyallahu 'anhu  kepada  
Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam  dengan suatu rencana, namun ia minta 
izin terlebih dahulu : ” Wahai Rasulullah, untuk menjalankan rencana ini 
izinkanlah saya berbicara terhadap anda !”.
  (Bagian dari rencananya ia akan berbicara negatif tentang Nabi shollallahu 
’alaih wa sallam di hadapan Ka’ab)

  Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda : ”Katakanlah apa yang anda 
ingin !”.

  Muhammad bin AlMaslamah radhiyallahu 'anhu  dan sekelompok kecil dari 
orang-orang Ansar dari suku Aus, pergi menjumpai  Ka’ab bin Al-Asyraf  guna 
mengatur perangkap baginya. Mereka berkata kepada  Ka’ab : ”Lelaki ini 
-maksudnya Nabi shollallahu ’alaih wa sallam- merupakan ujian Allah bagi kita 
semua. Ia masalah. Ia musibah. Dan bangsa Arab telah memerangi kita dan 
memusuhi kita karena dia”.

  Ka’ab  menjawab : ”Sudah kukatakan pada kalian sebelumnya. Kalian akan lihat 
keadaan bakal menjadi lebih buruk”.

  AlMaslamah radhiyallahu 'anhu  berkata : ”Ka’ab, semenjak kehadiran lelaki 
ini keadaan keuangan kami telah memburuk. Kami ingin pinjam uang darimu dan 
menitipkan jaminan”.

  Ka’ab  menjawab : ”Serahkan anak-anak kalian padaku”.

  Mereka berkata : ”Kami tinggalkan anak-anak kami kepadamu sebagai jaminan 
untuk pinjaman yang tidak seberapa, maka itu akan menjadi aib bagi mereka 
seumur hidup”.

  Ka’ab  melanjutkan : ”Bila demikian, serahkanlah wanita kalian.”

  Mereka berkata : ”Bagaimana kami serahkan kaum wanita kami kepada Anda 
sedangkan Anda lelaki paling tampan ?. Sudahlah, kami akan menjaminkan kepada 
Anda persenjataan kami”.

  Ka’ab  berujar : ”Baiklah, setuju”.

  Muhammad bin AlMaslamah radhiyallahu 'anhu  menjebaknya agar pada kunjungan 
berikutnya  Ka’ab  tidak akan curiga bila mereka datang membawa senjata. Maka 
mereka buat perjanjian untuk pertemuan berikutnya di malam hari karena lebih 
kondusif.

  Maka pada malam yang disepakati  Ka’ab  datang menemui  AlMaslamah 
radhiyallahu 'anhu.

  Muhammad bin AlMaslamah radhiyallahu 'anhu  bilang kepada kawan-kawannya : 
”Jika kalian melihat aku memegang kepalanya itulah pertanda saatnya kalian 
menyerang dia dengan pedang-pedang kalian”.

  Ketika  Ka’ab  berjumpa dengan  AlMaslamah radhiyallahu 'anhu  ia diajak 
untuk berjalan-jalan ke tempat nostalgia mereka dahulu. Yaitu tempat mereka 
dahulu biasa menghabiskan waktu ketika  AlMaslamah radhiyallahu 'anhu  masih 
jahiliyah, yaitu di Sya’ab al A’juz. Suatu tempat di pinggir kota menjauhi 
benteng Yahudi.

  Saat tiba di tempat tujuan,  AlMaslamah  berkata kepada  Ka’ab : ”Harum nian 
aroma yang muncul dari rambutmu. Boleh aku menciumnya dari dekat ?”. (Ka’ab 
rupanya menggunakan parfum beraroma sejenis kesturi sebagai minyak rambutnya).

  Ka’ab berkata : ”Silakan”.

  Ia pegang kepalanya dengan kuat dan berdatanganlah kawan-kawannya menyerang 
Ka’ab dengan pedang mereka.

  Tapi serangan tersebut tidak cukup mematikannya. Ka’ab-pun  menjerit memohon 
pertolongan. Benteng Yahudi mulai menyala pertanda warganya terbangun.

  Dengan sigap  Al-Maslamah radhiyallahu 'anhu  mengeluarkan belati dan menusuk 
dalam-dalam perut  Ka’ab  hingga belatinya mencapai tulang pinggangnya... !.

  Demikianlah  Muhammad bin AlMaslamah radhiyallahu 'anhu  beserta beberapa 
pemuda  Aus  menangani orang yang menghujat  Rasulullah shollallahu ’alaih wa 
sallam... !.

  Kemudian keesokan harinya, datanglah kaum Yahudi bersama beberapa kaum 
musyrik menemui  Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam.

  Mereka berkata : ”Salah seorang yang  terhormat dari kalangan kami telah 
dibunuh semalam !. Dan ia dibunuh secara licik. Bukan bertarung satu lawan 
satu. Ia dibunuh secara diam-diam dan tiba-tiba... !”.
  Mereka selanjutnya berkata : ”Ia telah dibunuh tanpa sebab tindak kriminal 
apapun yang telah dilakukannya... !”.

  Mereka mempertanyakan mengapa  Ka’ab ibn Al-Asyraf  dibunuh padahal terdapat 
perjanjian damai yang telah disepakati antara Rasulullah dengan kaum Yahudi di 
Madinah.
  Mengapa ?. Bagaimana Ini Bisa Terjadi ?.

  Apa jawab Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam ?.

  Beliau bersabda :
  انه لو قر كما قر غيره ممن هو على مثل رأيه مغتيل و لكنه نال منا
  الأذى و هجانا بشعر و لم يفعل هذا احد منكم الا كان السيف

  “Jika dia berlaku tenang, seperti orang lain yang pendapatnya sama dengan 
pendapatnya, tentu dia tidak akan dibunuh !. Tetapi dia telah mengganggu kami 
dan menghujat  kami dengan puisinya, dan tidak ada seorangpun di antara kalian 
yang melakukan hal semacam itu kecuali kami akan tangani dengan pedang !”.

  Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam  mengatakan bahwa banyak orang yang 
keyakinan di dalam hatinya mirip dengan  Ka’ab bin Al-Asyraf,  ia bukan dibunuh 
karena itu !.

  Ia bukan dibunuh karena ia tidak percaya, ia tidak dibunuh karena ia membenci 
Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam, ia tidak dibunuh karena membenci kaum 
muslimin. Tidak... !.

  Banyak orang lain yang mempunyai penyakit hati seperti itu namun tidak 
dibunuh, mereka dibiarkan hidup.

  “ Jika dia berlaku tenang, seperti orang lain yang pendapatnya sama dengan 
pendapatnya, tentu dia tidak akan dibunuh !. Tetapi ia telah berbicara 
menentangku dan mengumpatku ”,  demikian  Rasulullah shollallahu ’alaih wa 
sallam.

  Lalu Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam  menegaskan sejelas mungkin 
kepada kaum Yahudi :
  ”Jika salah seorang di antara kalian, kaum Yahudi atau musyrikin, mencoba 
untuk mengumpatku melalui ucapannya demikianlah kami akan tangani dia. Tidak 
ada di antara kami dengan kalian selain pedang… !.  Tidak akan ada dialog, 
tidak ada pengampunan, tidak ada jembatan, tidak akan ada upaya rekonsiliasi.  
Hanya ada pedang di antara saya dengan kalian… !”.

  Dan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam  menegaskan hal ini sejelas-jelasnya. 
Kemudian  Nabi shollallahu ’alaih wa sallam  mengajak kaum Yahudi dan musyrikin 
menanda-tangani dokumen kesepakatan yang memuat perjanjian bahwa mereka tidak 
akan berbicara menentang beliau.

  Ibnu Taimiyah berkata : ”Ini merupakan bukti bahwa mengganggu Allah dan 
RasulNya merupakan alasan untuk mendorong kaum muslimin membunuh siapa saja 
yang melakukan gangguan tersebut meskipun mereka punya perjanjian dengan kaum 
muslimin”.

  Sebagian orang berusaha memelintir pelajaran dari cerita  Siroh Nabi 
shollallahu ’alaih wa sallam  ini dengan berpendapat bahwa  Ka’ab ibn Al-Asyraf 
 dibunuh karena ia menganjurkan kaum musyrik Mekkah untuk memerangi  Muhammad 
shollallahu ’alaih wa sallam, bukan karena kata-katanya.

  Ibnu Taimiyah menegaskan : ”Tidak !. Ia dibunuh karena syairnya yang 
ditulisnya dan dibacakannya bahkan sebelum ia pergi ke Mekkah”.

  Jadi tidak ada kaitannya karena ia pergi ke Mekkah dan menganjurkan mereka 
memerangi kaum muslimin. Ka’ab bin Al-Asyraf telah dibunuh semata-mata karena 
puisinya... !.

  Ibnu Taimiyah melanjutkan: ”Semua yang dilakukan  Al-Asyraf  ialah mengganggu 
dengan lidah. Meratapi terbunuhnya kaum kuffar, dukungannya kepada mereka untuk 
berperang, kutukan dan umpatannya dan ucapannya merendahkan agama Islam dan 
mengutamakan agama kaum kafir, semua ini ialah ucapan dengan lidahnya. Inilah 
hujjah-bukti terhadap siapapun yang berselisih pendapat tentang isyu-isyu 
seperti ini.  Jelaslah tidak ada perlindungan dengan cara apapun bagi darah 
manusia yang mengganggu  Allah dan RasulNya  melalui puisi dan umpatan”.

  Wallahu a’lam bish-showwaab.

  (Dikutip dari sebagian ceramah berjudul "The Dust Will Never Settle Down" , 
Syaikh Anwar Al-Awlaki)


  Nasib Penghujat Islam Dalam Catatan Siroh Nabawiyah.
  Ihsan Tandjung.
  25 November 2008.
  
http://www.eramuslim.com/suara-langit/undangan-surga/nasib-penghujat-islam-dalam-catatan-siroh-nabawiyah.htm

  *****




Kirim email ke