*Praha* - Ayat Ayat Cinta, film terakhir yang diputar dalam Festival Film
Indonesia (FFI) 2008 di Praha, mengharukan para penonton yang hadir malam
itu (19/10/2008).


Selama film berlangsung, tidak ada satupun penonton yang beranjak dari
duduknya. Mereka benar benar  terpukau oleh cerita dalam film yang langsung
diterjemahkan dalam Bahasa Ceko.


Seusai film, banyak penonton yang berurai air mata. Beberapa penonton
memberikan komentar bahwa film tersebut sangat bagus. Marek, seorang
pengamat film dan wartawan radio Regina Czech, sangat terkesan dan
mengatakan bahwa film tersebut bermakna sangat dalam.


"Kisah tersebut tidak mungkin terjadi dalam komunitas Ceko," ujar Marek.


Sedangkan Moulina, mahasiswi Universitas Teknik Ceko, mengatakan bahwa dia
sangat terharu melihat perjuangan Aisha. Dari film itu dia belajar mengenai
konsep perkawinan dalam Islam. Sementara seorang penonton bernama Honza
mengatakan dirinya dapat mempelajari arti *soulmate* setelah melihat film
tersebut.


(detikcom – Hujan Tangis Ayat – ayat Cinta di Praha
http://www.detiknews.com/read/2008/10/21/210001/1023733/10/hujan-tangis-ayat-ayat-cinta-di-praha
)





Apakah yang melatar belakangi penulisan AAC bagi kang Abik?

Menurut penutuan beliau, novel AAC lahir, setelah beliau mengalami
kecelakaan fatal pada kaki beliau (patah tulang), sehingga sangat tipis
antara kematian dan kehidupan. Disanalah beliau menyadari, belum ada berbuat
apa-apa sama sekali untuk dakwah, menolong agama Allah, untuk Islam.
Akhirnya dengan segala tenaga , pikiran yang masih tersisa, beliau memulai
penulisan tersebut. Dan beliau tidak menyangka sama sekali, kalau novel ini
akan menjadi "The best seller". "Wallahi (Demi Allah)", tutur beliau, bukan
uang yang dicari beliau saat akan menulis novel AAC tersebut, semata-mata
menyadari hidupnya yang sangat tipis dengan kematian, tak sedikitpun ia
merasa telah memperjuangkan agama Allah ini, diakhir sisa-sisa hidupnya.

(Dikisahkan ulang oleh Rahima)



Aku mulai sadar bahwa tidak mudah membuat film agama. Itulah kenapa ibuku
dulu berpesan kalau kamu sudah bisa membuat film, buatlah film tentang
agamamu: Islam...

(Hanung Bramantiyo)



Orang yang pernah baca novel karya Habiburrahman ini, lalu nonton filmnya,
akan berkomentar bahwa film itu tidak Islami. Lho kok tidak Islami?

Wah, jangan tanya saya, tapi tanya saja kepada yang bilang ungkapan itu. Dan
yang bilang begitu bukan siapa-siapa, tapi sutradaranya sendiri, si Hanung.
Jadi sejak awal si sutradara sudah mengaku bahwa filmnya ini tidak Islami.

Jadi itu saja sudah cukup untuk dijadikan sebuah penilaian, tanpa harus
diskusi panjang-panjang. Lha wong yang bikin film itu saja sudah bilang
bahwa filmnya tidak Islami. Masak kita mau paksa bilang bahwa itu adalah
film Islami?

(Ustadz Ahmad Sarwat Lc)



"Saya sampai berkali-kali menyeka air mata saya. Pesannya sampai," ungkap
SBY usai menonton film itu di Plaza EX, Jl Thamrin, Jakarta, Jumat
(28/3/2008) malam.



(detikcom - Air Mata SBY Menitik Saat Menonton Ayat Ayat CintaJakarta - Film
'Ayat Ayat Cinta' telah membuat Wapres Jusuf Kalla terpesona. Bagaimana
dengan Presiden SBY? Dia malah menitikkan air mata. ...

www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/03/tgl/28/time/232129/idnews/915143/idkanal/10
)



"Filmnya menarik. Semua tahu settingnya di Indonesia-Mesir. Kita semua
sepndapat. Istri saya sampai mencubit saya, kenapa seperti itu," tutur Kalla
usai menonton Ayat-ayat Cinta di Plaza Senayan, Jakarta, Sabtu (22/3/2008).



Namun, cubitan itu tidak berlangsung lama. Kalla tertolong dengan alur
cerita dari film arahan Sutradara hanung Bramantyo itu.



"Tapi ada alur cerita haru yang membuat istri tidak marah. Yang penting ada
rasionalitas," terangnya.



Saking menikmati film itu, lanjut Kalla, dirinya sampai enggan meninggalkan
bangkunya. "Hampir dua jam tidak ada keinginan untuk meninggalkan bioskop.
Mau ke kamar kecil saja ditahan sampai film selesai," tutur Kalla yang
mengenakan batik cokelat itu.

(
www.detiknews.com/index.php/detik.comment/tahun/2008/bulan/03/tgl/22/time/220222/idnews/911662/idkanal/10
)






Ada Ketua MPR Hidayat Nurwahid. Ada Wakil Ketua MPR AM Fatwa. Ada anggota
DPR dari FPKS Fahri Hamzah bersama sejumlah anggota legislatif dari PKS
lainnya.

Ada juga Ketua Umum Partai Matahari Bangsa (PMB) Imam Addaruquthni dan
Sekjennya Ahmad Rofiq. Ada Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Izzul Muslimim
beserta jajarannya. Wanita-wanita berjilbab juga tampak memenuhi ruangan.
Suasana tampak meriah, apalagi bintang-bintang Ayat-ayat Cinta, seperti
Rianti Cartwight, Zaskya Mecca, dan Carissa Putri, juga hadir…

(detikcom - Ketika Politisi Islam Bertemu 'Ayat-ayat Cinta'Sutradara dan
Artis Ayat-Ayat Cinta Temui Hidayat Nurwahid · Laporan dari Bratislava Pekan
Film Indonesia Mendapat Sambutan Hangat di Slovakia ...

www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/03/tgl/11/time/000140/idnews/906279/idkanal/10
)



Ayat-ayat cinta pake ilustrasi musik spiritual yahudi. coba cek di film
karya sutradara yahudi steven spielberg : Schindler List...

(Rizky Dermawan)



Ayat-ayat Cinta itu novel Hollywood, novel yang akan membuat senang
pembacanya. Cara membuat senang itu dengan memakai resep cerita pop,
misalnya berita happy ending, katakan yang orang ingin dengar, jangan
katakan yang tidak ingin didengar...

(Ayu Utami)



Assalamu 'alaikum wr. wb.



Itulah cuplikan komentar, ulasan dan opini yang barangkali sudah pernah kita
baca berulang – ulang dari berbagai media. Ya, terlepas dari polemik yang
muncul, tidak bisa kita pungkiri bahwa Novel dan Film AAC ini sukses menyita
perhatian umat muslim.



Hal pertama yang ingin saya soroti adalah "Cinta" itu sendiri. Cinta yang
akhirnya berujung pada pernikahan tokoh utamanya. Fahri menikah dengan
Aisyah dan kemudian dengan Maria. Kalau sudah bicara tentang "Cinta",
umumnya kita akan bicara tentang; "Menerima diri pasangan kita" , "Memahami
pasangan kita", "Kesediaan untuk berkorban", "Tanggungjawab terhadap
komitmen", "Tempat saling bermanja", "Dia penting dalam hidupku", "Cinta
karena Allah", dst.



Kalau kita membaca buku – buku karangan Kahlil Gibran, yang akan kita
dapatkan adalah pengetahuan tentang cinta serta liku – liku yang panjang dan
tidak habis – habisnya. Lalu cinta itu apa? Cinta itu bukan liku – liku,
cinta itu bukan fragmen kehidupan, cinta itu bukan gula – gula. Cinta itu,…
kita tidak bisa menjelaskan dan mendefinisikannya. Masuklah ke dalamnya anda
akan menjadi cinta itu sendiri. Cinta itu akan bercerita dengan bahasa tanpa
huruf, tanpa suara, bahkan dengan bunga atau apa saja. Yang penting orang
tahu itu adalah bahasa cinta yang bisa dimengerti oleh semua mahluk.



Mencintai lawan jenis adalah sesuatu yang fitrah….sesuatu yang alami…dan *hidup
sebagai muslim*, juga adalah sesuatu yang fitrah…Allah berfirman : Dan
(ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya
berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau
Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di
hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah
orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",  (QS. Al A-raaf :
172)



Lalu bagaimanakah ajaran Islam tentang mewujudkan cinta?



Hendaknya seseorang memilih isteri shalihah dengan syarat-syarat sebagai
berikut:


*"Wanita itu dinikahi karena empat hal: hartanya, keturunannya,
kecantikannya dan agamanya. Maka hendaknya engkau utamakan wanita yang
memiliki agama, (jika tidak) niscaya kedua tanganmu akan berdebu (miskin,
merana)".*

Hadits riwayat Al-Bukhari, lihat *Fathul Bari*, 9/132.




*"Dunia semuanya adalah kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah
wanita shalihah''.
*  Hadits riwayat Muslim (1468), cet. Abdul Baqi; dan riwayat An-Nasa'i
dari Ibnu Amr, *Shahihul Jami'*, hadits no.3407



*"Hendaklah salah seorang dari kamu memiliki hati yang bersyukur, lisan yang
selalu dzikir dan isteri beriman yang menolongnya dalam persoalan akhirat".*

Hadits riwayat Ahmad (5/282), At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Tsauban,
*Shahihul
Jami'*, hadits no. 5231


Dalam riwayat lain disebutkan :


*"Dan isteri shalihah yang menolongmu atas persoalan dunia dan agamamu
adalah sebaik-baik (harta) yang disimpan manusia".*

Hadits riwayat Al-Baihaqi dalam *Asy-Syu'ab*  dari Abu Umamah. Lihat *Shahihul
Jami'*, hadits no. 4285


Seorang muslim atau seorang sekuler pun akan sependapat kalau soal cinta!
Bahwa cinta tidak mengenal batas negara atau bahkan…..asal bangsa.
Sebagaimana Islam, Islam pun tidak juga melarang menikah dengan bangsa
tertentu.



Orang bilang cinta itu berawal dari ketertarikan. Bisa tertarik oleh
fisiknya, tertarik oleh sifat – sifatnya, atau tertarik atas *Din*-nya. Mana
yang lebih baik, tergantung keimanan dan kemudian kejujuran masing – masing
untuk menjawabnya.



Kembali ke AAC;  kita sudah melihat apresiasi maupun komentar dari berbagai
tokoh sebagaimana dicuplik di atas. Sepengetahuan saya nih…..tidak ada satu
pun yang berkomentar seperti ini :

"Ini novel, film sampah....Mengajarkan keburukan…tidak baik ditonton BANGSA
Indonesia…Masa tokoh utamanya kawin sama wanita Jerman campur Palestina –
Turki dan wanita Mesir….Fahri benar – benar tidak NASIONALIS…Sesat…

Jangan dibaca / ditonton…Melecehkan BANGSA Indonesia….



Entah kalau ternyata ada yang berkomentar seperti di atas. Namun, semoga
saja tidak ada. Karena sudah menyinggung tentang nasionalisme, mari kita
lanjutkan pembahasan kita….



*Fantasi akan Nasionalisme*


Sebenarnya identitas kebangsaan itu tidak punya nilai sama-sekali. Tidak ada
manusia yang mulia semata-mata karena kebangsaannya. Tidak ada juga manusia
yang hina semata-mata karena kebangsaanya. Tidak ada manusia yang harus
diperangi karena kebangsaannya. Tidak ada juga manusia yang harus dibela
semata-mata karena kebangsaannya. Sebab, kebangsaan sama sekali bukan
prestasi manusia. Dengan demikian, selain tidak rasional dan tidak
manusiawi, ide kebangsaan juga bersifat "deterministik / jabariy". Sebab,
kita tidak diberi pilihan untuk lahir sebagai bagian dari suatu bangsa.



*Faham Yang Manipulatif*


Lahir dalam sebuah bangsa tidak secara otomatis menuntut kita untuk memberi
dedikasi dan loyalitas tertinggi kepada apa yang disebut bangsa. Sekali
lagi, apa yang disebut bangsa itu tidak pernah menuntut kita untuk melakukan
sesuatu pun. Keharusan untuk memberikan loyalitas kepada bangsa sebenarnya
merupakan gagasan yang dibuat-buat oleh orang-orang yang berpikiran sempit.
Ia adalah ide semu yang tidak punya realitas. Mereka telah melakukan
manupulasi. Mereka mengeksploitasi kebangsaan manusia untuk kepentingan
politis. Lihatlah Amerika. Perististiwa 11 September telah mereka
eksploitasi untuk memompa sentimen kebangsaan, sehingga tentara-tentara
muslim Amerika rela dikirim ke Afghanistan untuk memerangi saudara se-*
aqidah* mereka. Mereka mendatangi saudaranya untuk dibunuh. Itu mereka
lakukan demi Amerika. Padahal, apa yang mereka sebut sebagai bangsa Amerika
itu tidak akan pernah memberi mereka surga.



Nasionalisme merupakan suatu ikatan untuk mempersatukan sekelompok manusia
berdasarkan kesamaan identitas sebagai sebuah "bangsa". Pengertian "bangsa"
ini, pada praktiknya sangat luas dan kadang malah bersifat imajiner.
Kesamaan "bangsa" kadang bisa berarti kesamaan ras, budaya, bahasa, sejarah,
dan sebagainya.



Dalam wacana ilmu politik mutakhir, pengertian "bangsa" lebih bersifat
imajinatif (Benedict Anderson, 1999). Penduduk pesisir timur Sumatera (yang
ber"bangsa" Indonesia) sebenarnya bukan hanya dekat secara fisik dengan
penduduk di Semenanjung Malaysia sebelah barat (yang ber"bangsa" Malaysia),
yang hanya dipisahkan oleh Selat Malaka. Mereka pun satu suku, sehingga
mereka bisa saling memahami ucapan dan adat masing-masing. Tetapi, mereka
"mengimajinasi" sebagai bangsa yang berbeda, dan saling menganggap sebagai
bangsa asing. Sebaliknya penduduk Sumatera, yang sama sekali tidak memiliki
kesamaan bahasa ibu dan kesukuan dengan orang Ambon, ternyata telah
"mengimajinasi" sebagai satu "bangsa" dengan orang Ambon. Di sinilah letak
absurdnya nasionalisme. Yang "sama" bisa menjadi "bangsa" yang berbeda,
sementara yang "tidak sama" bisa menjadi satu "bangsa".


Karena itulah, nasionalisme sesungguhnya adalah ide absurd, tidak mengandung
suatu hakikat pengertian yang pasti. Nasionalisme adalah ide yang kosong
dari makna-makna yang konkret. Nasionalisme lebih mengandalkan sentimen atau
emosi yang semu, yang dibangkitkan sewaktu-waktu sesuai dengan hawa nafsu
dan kepentingan sempit penguasa. Nasionalisme tidak bertolak dari ide yang
lahir melalui proses berpikir yang benar dan sadar.



*Masuknya Nasionalisme di Dunia Islam *


Umat Islam tak pernah mengenal paham nasionalisme dalam sejarahnya yang
panjang selama 10 abad, hingga adanya upaya imperialis untuk memecah-belah
negara Khilafah pada abad ke-17 M. Mereka melancarkan serangan pemikiran
melalui para misionaris dan merekayasa partai-partai politik rahasia untuk
menyebarluaskan paham nasionalisme dan patriotisme. Banyak kelompok
misionaris –sebagian besarnya dari Inggris, Perancis, dan Amerika--
didirikan sepanjang abad ke-17, 18, dan 19 M untuk menjalankan misi
tersebut. Namun hingga saat itu upaya mereka belum berhasil.


Barulah pada tahun 1857, penjajah mulai memetik kesuksesan tatkala berdiri
Masyarakat Ilmiah Syiria (Syrian Scientific Society) yang menyerukan
nasionalisme Arab. Sebuah sekolah misionaris terkemuka --dengan nama
Al-Madrasah Al-Wataniyah-- didirikan di Syiria oleh Butros Al-Bustani,
seorang Kristen Arab (Maronit). Nama sekolah ini menyimbolkan esensi misi
Al-Bustani, yakni paham patriotisme (cinta tanah air, hubb al-wathan).
Langkah serupa terjadi di Mesir, ketika Rifa'ah Badawi Rafi' At Tahtawi (w.
1873 M) mempropagandakan patriotisme dan sekularisme. Setelah itu,
berdirilah beberapa partai politik yang berbasis paham nasionalisme,
misalnya partai Turki Muda (Turkiya Al Fata) di Istanbul. Partai ini
didirikan untuk mengarahkan gerak para nasionalis Turki. Kaum misionaris
kemudian memiliki kekuatan riil di belakang partai-partai politik ini dan
menjadikannya sebagai sarana untuk menghancurkan Khilafah (Syaikh Afif
Az-Zain, 1993).



Secara syar'i, umat Islam diharamkan mengadopsi nasionalisme karena
nasionalisme bertentangan dengan prinsip kesatuan umat yang diwajibkan oleh
Islam. Kesatuan umat Islam wajib didasarkan pada ikatan aqidah, bukan ikatan
kebangsaan, seperti nasionalisme. Allah SWT berfirman :


"Sesungguhnya orang-orang beriman adalah bersaudara." (QS Al Hujurat : 10)


Ayat di atas menunjukan bahwa Umat Islam adalah bersaudara (ibarat satu
tubuh), yang diikat oleh kesamaan aqidah Islamiyah (iman), bukan oleh
kesamaan bangsa. Rasulullah SAW bahkan mengharamkan ikatan 'ashabiyah
(fanatisme golongan), yaitu setiap ikatan pemersatu yang bertentangan dengan
Islam, termasuk nasionalisme :


"Tidak tergolong umatku orang yang menyerukan *ashabiyah* (fanatisme
golongan, seperti nasionalisme). (HR. Abu Dawud)


Jelaslah, ikatan yang layak di antara umat Islam hanyalah ikatan keimanan.
Bukan ikatan kebangsaan. Sebagai perwujudannya dalam realitas, Islam
mewajibkan umatnya untuk hidup di bawah satu kepemimpinan (Khilafah
Islamiyah). Mudharat bagi mereka tercerai-berai di bawah pimpinan yang lebih
dari satu.



Kalau dalam AAC *ending-*nya berujung pada pernikahan tokoh utamanya. Fahri
menikah dengan Aisyah dan kemudian dengan Maria. Maka selayaknya dalam
"berbangsa" kita sesuaikan dengan ajaran yang sesuai fitrah…Dinul Islam.
Dengan menjadikan saudara – saudari sesama muslim sebagai SATU bangsa dalam
naungan Khilafah Islamiyah…Insya Allah…



Wahai umat Islam! Jangan lagi kalian katakan "Bagiimu negri jiwa raga kami",
tapi katakanlah "*inna sholaatiy wa nusukiy wa mahyaayaa wa mamaatiy
lillaahi Rabbil 'aalamiin*"! …*ayyuhannaas.. Isyhaduu bi annaa muslimuun*!



Wallahu a' lam

Semoga bermanfaat untuk mengingatkan terutama diri saya sendiri dan juga
bagi yang lain. Apabila ada kesalahan itu datangnya dari saya sendiri dan
setan, dan apabila benar itu semua datangnya dari Allah Subhanahu wa ta'ala.



Wassalamu 'alaikum wr. wb.



Diolah dari berbagai sumber


[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

===
Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta
Informasi lengkap di:
http://www.media-islam.or.id
http://www.syiarislam.wordpress.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke