Dari moderator:
Dalam Islam seorang suami harus berbakti pada ibunya sementara istri harus 
berbakti pada suaminya.

Urutannya: Ibu>Suami>Istri.

Namun kerap posisi tersebut berbalik hingga timbul keributan rumah tangga yang 
berakhir dengan perceraian. Masing2 ada tempatnya.

Kita semua harus saling menghormati dan mengayomi/melindungi orang yang jadi 
tanggung-jawab kita.

Wassalam

Suami-suami takut isteri


Tentu kita tidak asing lagi dengan tayangan di salah satu stasun
televisi swasta yang bertajuk seperti judul diatas. Apalagi kemudian
tayangan tersebut (suami-suami takut isteri – SSI) diangkat ke dalam
layar lebar dengan pemeran yang sama, tentunya akan membuat penonton
menjadi semakin penasaran.

Tayangan ini sebenarnya patut mendapat acungan jempol karena masih
mampu bertahan hingga kini dan diputar hampir setiap hari pada prime
time, artinya SSI masih mampu memikat hati penonton televisi untuk
tidak memindahkan channel televisinya. Harus diakui memang plot cerita
SSI dibuat sederhana dan terjadi pada kehidupan sehari-hari, sehingga
penonton tidak harus menyimak dengan serius sambil mengernyitkan
dahinya. Pemilihan para pemain juga terlihat pas dengan tokoh yang
diperankan, apalagi mereka termasuk dalam kategori pemain baru
sehingga mampu menyajikan sesuatu yang segar di antara dominasi pemain
sinetron yang itu-itu saja.

Pada awalnya saya juga suka menonton SSI, namun setelah beberapa waktu
buat saya pribadi SSI menjadi sedikit membosankan karena metode yang
digunakan untuk membuat penonton tertawa tidak berubah. Selalu para
suami yang mata keranjang disuruh pulang oleh para isteri dengan
caranya masing-masing. Ada yang dipukul, dicubit, dilempar sandal,
serta disuruh jalan pocong dan bebek. Terasa SSI menjadi berkurang
kreativitasnya, karena dari satu episode ke episode selanjutnya
terlihat tidak ada perubahan yang signifikan. Rasanya sama seperti
sedang melihat serial kartun anak-anak Tom and Jerry.

Selain itu, ada satu hal yang pada akhirnya membuat saya menjadi tidak
menyukai SSI yaitu kekerasan isteri kepada suami yang ditayangkan pada
waktu dimana kemungkinan dilihat oleh anak-anak sangat tinggi. Saya
kuatir apabila kekerasan itu ditayangkan kepada anak-anak, selucu
apapun dan meskipun dengan tujuan hanya untuk menghibur, akan
mengendap dalam ketidaksadaran mereka dan suatu saat nanti akan keluar
sebagai sebuah kebiasaan sekaligus menjadi sebuah kebenaran.
Pembenaran bagi perilaku anak-anak kita nantinya bahwa sah bagi isteri
untuk melakukan kekerasan terhadap suaminya.

Kekerasan, dari siapapun, kepada siapapun dan dalam bentuk apapun
sangat tidak dibenarkan baik oleh prinsip kemanusiaan apalagi menurut
dasar agama. Saya sendiri sangat menentang segala bentuk kekerasan
domestik yang dilakukan oleh para suami kepada isterinya. Begitu juga
hal yang sama akan saya lakukan apabila kondisi tersebut diposisikan
terbalik, dimana para isteri yang melakukan kekerasan kepada suaminya.

Tidak pada tempatnya seorang isteri memukul suaminya. Karena Allah
mengajarkan kepada manusia cara berumah tangga yang baik melalui
syariat shalat. Ibaratnya shalat adalah sebuah rumah tangga, dimana
imam adalah sang suami dan ma'mum adalah sang isteri dan anak-anaknya.
Maka selama imam melaksanakan shalat sesuai ajaran Nabi Muhammad serta
bacaannya benar, maka wajib bagi ma'mum untuk tunduk dan mengikuti
segala gerakan imam.

Syariat shalat sangat demokratis. Terbukti saat imam melakukan
kesalahan, ma'mum diperbolehkan memperingatkan imam dengan membaca
subhanallah (untuk anak laki-laki) atau bertepuk tangan satu kali
(untuk isteri dan anak perempuan). Apabila imam batal, atas
kesadarannya sendiri, imam diwajibkan untuk mengundurkan diri dari
posisi sebagai imam dan digantikan oleh salah satu ma'mumnya sesuai
syariat.

Metode ini menuntut pengertian yang tinggi baik dari imam (suami)
maupun ma'mum (isteri), karena apabila salah satu pihak melakukan
kesalahan maka mereka harus bersedia untuk diperingatkan. Lebih jauh
lagi, sang imam (suami) juga dituntut untuk tidak egois mempertahankan
posisinya sebagai pemimpin apabila dia memang melakukan kesalahan
vital yang menyebabkan posisinya sebagai pemimpin menjadi batal.

Saya ngeri sendiri membayangkan seandainya anak-anak perempuan kita
yang saat ini menonton SSI setelah besar nanti menganggap bahwa
memukul suami adalah sah dan benar. Bahwa kesetaraan gender diwujudkan
dalam pengambilalihan posisi imam oleh isteri meskipun sang suami yang
sedang menjadi imam tidak melakukan kesalahan apapun dan juga sedang
tidak batal. Betapa banyak pertengkaran dalam kehidupan rumah tangga
anak-anak kita nantinya akibat pemahaman salah tersebut yang berasal
dari ketidaksadaran mereka di masa kecil. Pemahaman bahwa suami
bukanlah lagi imam tetapi berubah menjadi isteri sebagai imam,
sehingga suami wajib tunduk dan patuh kepada isterinya.

Satu hal yang bisa saya lakukan saat ini hanyalah berharap. Berharap
semoga semua itu tidak terjadi. Semoga hiburan tetaplah dianggap
sebagai hiburan belaka. Semoga SSI tidak mengendap dalam alam
ketidaksadaran anak-anak kita sebagai sebuah sebuah prinsip hidup.
Semoga Allah terus berkehendak menjaga akidah kita dan anak-anak kita
nantinya sehingga tetap lurus berada pada jalan-Nya.

Ihdinashshirâth al mustaqîm, shirâth alladzîna an'amta `alaihim
ghairil maghdlûbi `alaihim waladhdhâllîn.

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah
Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai
dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Al Fatihah ayat 7 – 8).


Banyuwangi, 10 Desember 2008
Aziz Fajar Ariwibowo
see my blog : http://aziz-fajar.blogs.friendster.com/azizfajar/


Kirim email ke