Muslimah Hizbut Tahrir Serukan Tinggalkan Kapitalisme, Demokrasi

Makassar
(ANTARA News) - Konferensi Nasional (Konfernas) Muslimah Hizbut Tahrir
Indonesia yang berlangsung di Makassar, ibukota Provinsi Sulawesi
Selatan pada Selasa (16/12) telah menghasilkan "Seruan Makassar" dalam
rangka meninggalkan kapitalisme dan perangkap demokrasi.

 "Masa
depan Indonesia menjadi negara yang sejahtera, besar, kuat dan terdepan
tergantung pada kebenaran ideologi yang diterapkan dan komitmen serta
kapabilitas pemimpin dalam penerapan ideologi tersebut. Muslimah Hizbut
Tahrir Indonesia menyerukan kepada perempuan Indonesia untuk
meninggalkan kapitalisme. Kapitalisme sudah terbukti tidak menjamin
kesejahteraan tiap individu rakyat dan menyengsarakan rakyat," kata
Juru bicara Konfernas Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia, Febrianti
Abassuni di Makassar, Rabu dini hari.


Hal ini terjadi karena kapitalisme hanya menawarkan sistem ekonomi yang
tidak berkeadilan. Kapitalisme membiarkan persaingan bebas antar
individu didalam kegiatan ekonomi. Karena pada faktanya kualitas fisik,
kecepatan berfikir, dan kualitas mental tiap individu ada yang kuat dan
ada yang lemah, persaingan bebas akan menyebabkan yang kuat mampu
mensejahterakan dirinya, sementara yang lemah tidak bisa mendapatkan
kesejahteraan.


      Selain itu, kapitalisme rentan akan krisis karena sistem keuangannya yang 
ribawi, pasar saham


yang spekulatif seperti judi, dan mata uang kertas yang tidak
berdasarkan pada emas . Tiga perkara inilah yang menciptakan ekonomi
yang rapuh yang kelihatan besar namun gampang pecah (bubble economic). 


      Setiap kali  terjadi krisis, berjuta orang menjadi sengsara akibat ulah 
kaum  kapitalis.


Identik dengan penjajahan, kapitalisme memfasilitasi ketamakan kaum
kapitalis untuk terus mengembangkan kekayaannya demi adanya pertumbuhan
ekonomi. Ketamakan dalam pengembangan kekayaan ini selalu mendorong
para kapitalis untuk terus memperluas penguasaan bahan baku, tenaga
kerja dan pasar ke berbagai negara dalam bentuk penjajahan ekonomi. 


Besarnya sebuah negara kapitalis, mengharuskan adanya negara lain yang
menderita karena dihisap kekayaannya oleh negara kapitalis tersebut.


Saat ini Indonesia sedang menjadi "sapi perah" negara-negara adidaya.
Kekayaan Indonesia berlimpah tetapi rakyatnya banyak yang hidup miskin.



"Tidak selayaknya kita mempertahankan dominasi ideologi kapitalisme di
Indonesia. Bisa jadi Indonesia menjadi besar dengan kapitalisme, namun
itu berarti kita memilih sesuatu yang tidak layak pula: menjadi besar


sebagai penjajah penghisap kekayaan negara lain," katanya.


Untuk itu, Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia menyeru perempuan Indonesia
untuk meninggalkan perangkap demokrasi, yaitu menganggap kemajuan cukup
dengan demokrasi saja. Seharusnya kita menyadari bahwa demokrasi tidak
menjamin diterapkannya ideologi terbaik bagi kemajuan negara. Hanya
rakyat dengan kesadaran politik yang benar yang akan memilih penerapan
ideologi terbaik


"Demokrasi tidak menjamin terpilihnya penguasa yang berkomitmen
kapabel. Hanya rakyat yang cerdas yang akan mampu memilih pemimpin yang
berkomitmen dan kapabel," kata Febrianti.


Islam menetapkan bahwa kekayaan yang menguasai hajat hidup orang banyak
(bahan bakar, listrik, air bersih, pertambangan dalam skala yang
besar,sungai, danau, hutan, laut, jalan, pasar, pelabuhan udara,
pelabuhan laut, dan sebagainya) merupakan milik seluruh rakyat dan
dikelola oleh negara . 


        Dengan hak pengelolaan ini negara dapat menyediakan lapangan pekerjaan 
yang layak
kepada
rakyat sehingga dapat mencukupi kebutuhan pangan, sandang dan perumahan
mereka. Negara juga dapat menyediakan pendidikan yang gratis/murah dan
berkualitas, pelayanan kesehatan gratis/murah, dan jaminan keamanan
kepada tiap individu rakyat. 

 Dalam kondisi ini rakyat akan
menjadi sumberdaya yang berkualitas bagi kemajuan negaranya. Negara
juga akan mampu membiayai pengembangan ilmu dan teknologi di semua
bidang sehingga bisa jadi negara maju dan terdepan. 


"Islam menciptakan suasana kondusif bagi perkembangan usaha-usaha
ekonomi yang riil yang dimiliki individu warga negara, sehingga
perekonomian akan kuat dan maju dengan terhindarnya dari
inflasi/turunnya nilai mata uang karena sistem mata uangnya bersandar
pada emas dan perak," katanya.


Tenaga kerja dibayar sesuai kesepakatan antara pengusaha dengan
pekerja. Kesejahteraan pekerja tidak dibebankan kepada pengusaha,
tetapi merupakan tanggung jawab negara. 


Karena negara yang mengelola aset ekonomi yang merupakan kepemilikan
umum, tidak sulit bagi negara untuk memberikan jaminan pelayanan
kesehatan gratis, biaya pendidikan, subsidi transportasi dan
komunikasi, dan jaminan keamanan bagi semua warga negara,termasuk para
pekerja.(*)
http://www.antara.co.id/arc/2008/12/17/muslimah-hizbut-tahrir-serukan-tinggalkan-kapitalisme-demokrasi/



"Manusia yang terbaik adalah yang paling banyak membaca, paling bertakwa, 
paling sering beramar ma'ruf nahi munkar, dan paling gemar menjalin hubungan 
silaturahmi." (Muhammad SAW). 
  kampusku 
  Blogku



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke