--- On Thu, 8/7/08, gimhok88 <[email protected]> wrote:
From: gimhok88 <[email protected]>
Subject: [mediacare] Cara Kapitalis Merampas Negara
To: [email protected]
Date: Thursday, August 7, 2008, 7:11 AM
Oleh A. Jafar M. Sidik
http://www.antara. co.id/arc/ 2008/8/6/ cara-kapitalis- merampas- negara/
Jakarta (ANTARA News) - "Siapa pun yang ingin mengetahui apa yang sesungguhnya
terjadi di dunia, mesti segera membaca buku ini."
Itulah komentar majalah Rolling Stone tentang buku "The Shock Doctrine; The
Rise of
Disaster Capitalism" karangan wartawati Kanada, Naomi Klein, yang diterbitkan
Penguin
Books, London, Inggris (2007).
Buku setebal 558 halaman yang struktur kisahnya rapi dan dinilai koran "The
Observer"
sebagai buah dari riset mahasempurna ini menyingkap muslihat kaum kapitalis
yang
secara menyeramkan menggasak aset negara, tak peduli jutaan orang mati dan
jatuh
melarat karenanya.
Para kapitalis ini mengarsiteki sekaligus mensponsori kudeta-kudeta berdarah di
seluruh
dunia, swastanisasi aset dan sistem pelayanan publik, krisis moneter, merger
dan akuisisi
perusahaan pasca krisis, liberalisasi perdagangan, invasi Irak, bahkan gerakan
demokratisasi.
Selain mewujud dalam perusahaan-perusaha an multinasional (MNCs), mereka
mengotaki
Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, Organisasi Perdagangan Dunia
(WTO),
bahkan organisasi-organisa si bantuan internasional seperti Badan Bantuan
Pembangunan
Internasional AS (USAID).
Mereka melekat pada lembaga-lembaga "think tank" terkenal seperti American
Enterprise
Institute, Heritage Foundation dan Cato Institute, sementara ruhnya bersemayam
dalam
sejumlah universitas Barat yang menjadi tempat berkuliah para teknokrat negara
berkembang yang belajar karena biaya asing.
Kaum kapitalis ini tak peduli sebuah rezim zalim atau tidak, demokratis atau
tidak, korup
atau tidak, yang penting menguntungkan mereka, persis pepatah mantan pemimpin
RRC
Deng Xiaoping, "Tak penting kucing itu putih atau hitam, yang penting bisa
menangkap
tikus."
Kaum yang disebut Naomi neoliberal ini sangat anti kepemilikan publik dan
berupaya
membuat pemerintahan di banyak negara lumpuh sehingga merekalah yang
sesungguhnya berkuasa atas negara dan sistem transaksi sosial, ekonomi dan
politik
antar-bangsa.
"Saya ingin pemerintah dikerdilkan sampai saya bisa menyeretnya ke kamar mandi
untuk
kemudian membenamkannya dalam bak mandi," kata Grover Norquist, pelobi
kepentingan
bisnis MNCs terkenal di AS sekaligus pembela fanatik neoliberal.
Untuk mengerdilkan pemerintah, mereka mempunyai modus, yaitu mengacaubalaukan
negara dengan menciptakan situasi krisis sampai kesadaran nasional negara itu
hilang,
terutama berkaitan dengan konsep dasar pengelolaan ekonominya.
Negara itu lalu dipaksa menelan resep ekonomi propasar dalam dosis tinggi nan
beruntun, tak peduli rakyatnya bakal sengsara. Hal terpenting, negara itu
menjadi amat
tergantung pada modal asing(kapitalis) sehingga setiap saat bisa dieksploitasi
oleh kaum
kapitalis itu.
Metode membuat syok nasional sehingga negara tak sadar telah dikuasai kapitalis
ini
disebut Naomi Klein sebagai "Shock Doctrine."
Naomi menganalogikan terapi syok ekonomi ini dengan doktrin militer AS
"kejutkan dan
takutkan" (shock and awe) dan metode cuci otak ala dinas intelijen AS (CIA),
"kubark
counter intelligence interrogation. "
Lewat "kubark", CIA membunuh karakter manusia dengan teknik interogasi
mengerikan
sehingga memori manusia hilang untuk kemudian diganti karakter baru
jadi-jadian,
seperti dalam kisah trilogi "Bourne" yang dibintangi aktor Hollywood, Matt
Damon.
Dalam format berbeda, para ekonom neoliberal mengaplikasikan metode
dekarakterisasi
ala CIA ini ke tingkat negara dengan membuat negara berada dalam suasana
krisis,
sehingga gampang dipaksa untuk menelan resep kebijakan ekonomi prokapitalis
yang
formula dasarnya adalah liberalisasi pasar, penghapusan subsidi, dan
swastanisasi aset
publik.
Penggagas terapi syok itu adalah ekonom Universitas Chicago, Milton Friedman,
seorang
penentang intervensi negara dalam pengelolaan ekonomi yang dulu disarankan
ekonom
besar pasca-Perang Dunia I, John Maynard Keynes.
Friedman percaya bahwa perekonomian harus diserahkan sepenuhnya pada pasar dan
ia
ingin dunia mempraktikannya tanpa kecuali.
Terinspirasi sukses Mafia Berkeley di Indonesia akhir 1960-an dan junta militer
Brazil
pimpinan Castello Branco yang mengakhiri ekonomi kerakyatannya Presiden Joao
Gullart
pada 1964, Friedman membidik Chile sebagai kelinci percobaan pertamanya.
Chile awal 1970-an diperintah Salvador Allende yang mengusung sistem ekonomi
sosialis
yang tak mengharamkan kepemilikan swasta, namun mengharuskan negara melindungi
kepentingan publik. Ekonomi sosialis Chile berbeda dari komunisme, seperti
diklaim AS,
bahkan mirip azas demokrasi ekonominya Mohammad Hatta di Indonesia.
Karena ingin menasionalisasi perusahaan asing, maka sosialisme Allende itu lalu
dipandang korporasi-korporasi multinasional asal AS sebagai ancaman. Salah satu
yang
terancam, American Telephone & Telegraph (AT&T), mendesak pemerintah AS untuk
mencungkil Allende dari kekuasaannya.
Sebelum mendongkel Allende, AS mendidik mahasiswa-mahasiswa Chile di
Universitas
Chicago di bawah asuhan Milton Friedman dengan tujuan mengimbangi popularitas
para
ekonom sosialis pimpinan Pedro Vuskovic Bravo yang menjadi arsitek kebijakan
ekonomi
Allende.
Untuk mengaburkan intervensi, pemerintah AS bersembunyi dibalik Ford
Foundation, yang
juga mensponsori para mahasiswa Indonesia berkuliah di Universitas California,
Berkeley,
pada 1956 hingga menjadi teknokrat Orde Baru.
Para mahasiswa Chile yang dibiasakan mempelajari ekonomi neoliberal ini
disiapkan
sebagai teknokrat pasca Allende.
Pada 1973, Allende akhirnya digulingkan oleh Jenderal Augusto Pinochet dukungan
CIA.
Selagi Pinochet menebarkan teror hingga rakyat Chile syok dalam ketakutan, para
ekonom
Friedmanis menyuntikkan resep propasar (prokapitalis) dalam dosis tinggi hingga
Chile
terperangkap utang dan kekuasaan asing.
Paparan Chile ini adalah awal cerita horor pasar bebas yang menjadi isi utama
buku yang
disebut Dow Jones sebagai salah satu literatur ekonomi terbaik abad 21 ini.
Horor berlangsung hingga era pemerintahan George Bush yang disebut sebagai
puncak
kebrutalan pasar bebas hingga dunia pun muak sampai-sampai Amerika Latin alergi
dengan apa pun yang berbau Friedmanis seperti IMF.
"Tuan-tuan, kami ini berdaulat. Kami ingin melunasi utang kami, tapi maaf-maaf
saja jika
kami harus membuat kesepakatan lagi dengan IMF," kata Presiden Argentina,
Nestor
Kirchner.
Sambil membopong diktator dan rezim sokongannya, kaum kapitalis mensponsori
para
ekonom didikan kampus-kampus neoliberal untuk menyiapkan karpet merah bagi
kapitalisme dengan menyusun kebijakan ekonomi reformis propasar, satu eufemisme
dari
kebijakan prokapitalis.
Afrika Selatan pasca-Nelson Mandela, Rusia di bawah Boris Yeltsin, dan Polandia
pasca-
komunis adalah beberapa contoh.
Negara-negara yang semula khidmat mendengarkan rekomendasi para ekonom reformis
bimbingan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) itu kemudian sadar
telah
dibohongi para ekonom dan birokrat bimbingan Barat yang ternyata para calo
swastanisasi negara.
Para penyusun kebijakan reformasi ekonomi tersebut memang kerap berperan
menjadi
mulut korporasi asing, bahkan konsep kebijakan swastanisasi Bolivia semasa
Presiden
Gonzalo Sanchez de Lozada disusun para analis keuangan perusahaan asing,
seperti
Solomon Brothers dan ExxonMobil.
Nelson Mandela adalah salah satu yang kecewa karena cita-cita memakmurkan warga
kulit hitam, seperti dipesankan Piagam Perdamaian tak tercapai, justru karena
orang
dekatnya, Tabo Mbeki, menyusun kebijakan pro-kapitalis sehingga mayoritas
rakyat Afsel
terpinggirkan.
Polandia juga menyesal mematuhi nasihat pialang George Soros dan ekonom Jeffrey
Sachs, seorang Friedmanis dari Universitas Harvard, sehingga aset-aset
strategis Polandia
jatuh ke tangan asing, justru ketika Partai Solidaritas memerintah negeri itu.
Demikian pula Rusia, yang kehilangan aset-aset strategisnya setelah ekonom
reformis
Yegor Gaidar, seorang Friedmanis di bawah bimbingan IMF, mempromosikan
kebijakan
propasar. Vladimir Putin kemudian mengoreksi kesalahan itu, dan mengakhiri
hubungan
mesra Rusia dengan IMF.
Buku tersebut juga menyebut krisis moneter Asia 1997 sebagai hasil desain kaum
kapitalis
karena mereka ingin menguasai aset-aset strategis di kawasan itu, mencaplok
aset-aset
perusahaan nasional Asia yang tumbuh meraksasa, dan hendak menggulingkan rezim-
rezim yang berubah kritis, seperti Soeharto di Indonesia.
Menurut Naomi, di masa tuanya, Soeharto yang pro-Barat itu bosan diperah
korporasi
asing, sehingga ia "berkhianat" dengan membagikan aset nasional kepada kroninya
yang
berakibat korporasi asing itu berang, lalu merancang pembalasan dengan
membesarkan
skala krisis moneter Asia.
Ketika Indonesia dan Asia akhirnya lunglai karena krisis moneter, IMF datang
menawarkan
obat dengan syarat liberalisasi pasar, sebuah formula klasik ala Friedman.
Semua Asia
menerima resep itu, hanya Malaysia yang menampik formula rente itu.
Hanya dalam 20 bulan, perusahaan-perusaha an multinasional asing berhasil
menguasai
perekonomian Indonesia, Thailand, Korea Selatan, Filipina dan juga Malaysia
lewat 186
merger dan akuisisi perusahaan-perusaha an besar di negara-negara ini.
"Ini adalah pengalihan aset dari domestik ke asing terbesar dalam limapuluh
tahun
terakhir," kata ekonom Robert Wade.
Tak puas di situ, para kapitalis merancang serangan ke Irak setelah Presiden
Saddam
Hussein memberi keleluasaan pada Rusia menambang minyak di Irak.
Perusahaan-perusaha an minyak seperti Shell, Halliburton, BP dan ExxonMobil
lalu
mengipasi pemerintah AS dan Inggris untuk mencaplok Irak.
Namun, saat Irak sulit digenggam karena masalah terlalu kompleks, negeri itu
disulap
menjadi lahan bisnis keamanan sehingga para pedagang senjata, konsultan
keamanan
perusahaan di wilayah krisis, tentara bayaran dan para spesialis teknologi
keamanan
mendadak bergelimang uang.
Kemudian, saat kaum kapitalis itu membutuhkan relaksasi setelah penat berburu
laba,
maka sejumlah lokasi dibidik menjadi situs wisata eksotis, diantaranya
Srilangka.
Namun, para nelayan miskin yang mendiami pantai-pantai indah Srilangka tak mau
hengkang sampai tsunami menghantam Asia bagian Selatan pada 2004.
Bertopengkan bantuan rekonstruksi pascabencana dan bergerak dalam kerudung
USAID,
para kapitalis menyandera pemerintah Srilangka, agar "menukarkan" pantai indah
Srilangka dengan bantuan tsunami. Situasi serupa berlaku di Thailand dan New
Orleans
pasca-badai Katrina.
Intinya, kaum kapitalis telah membisniskan perang, teror, anarki, situasi
krisis dan
bencana alam. Naomi Klein menyebutnya, "kapitalisme bencana". (*)
COPYRIGHT © 2008
[Non-text portions of this message have been removed]