Ahmadinejad: Tidak Lama Lagi Amerika dan Inggris Bakal Diseret ke Pengadilan    
    
Thursday, 15 January 2009  
Presiden
Republik Islam Iran Mahmoud Ahmadinejad menyebut apa yang terjadi di
Gaza menjadi ujian besar bagi masyarakat internasional. Ahmadinejad
hari Kamis (15/01) dalam konferensi persnya bersama wartawan dalam dan
luar negeri di Tehran mengisyaratkan perlunya dibentuk front baru dunia
dalam menghadapi tragedi kemanusiaan di Gaza. Ahmadinejad menekankan
bahwa kini Gaza menjadi ujian besar bagi seluruh umat manusia.
Seraya
mengingatkan kembali kekalahan Rezim Zionis Israel dalam Perang 33 Hari
di Lebanon Mahmoud Ahmadinejad menjelaskan, politik kekuatan-kekuatan
Barat pada tahap awal ingin menguasai Timur Tengah dan Palestina
sebagai pendahuluan dan pada tahap selanjutnya mereka akan menguasai
seluruh kawasan bahkan dunia, namun setiap kali berusaha, mereka terus
dihinggapi kekalahan.
Presiden Republik Islam Iran menyebut
sistem politik dan keamanan yang mengatur dunia saat ini sudah tidak
efektif lagi dan itu terbukti dalam krisis Gaza. Ditambahkannya, Dewan
Keamanan PBB yang didirikan dengan tujuan menjamin keamanan dunia dan
mencegahnya terulangnya perang hanya akan beraksi dan merasa ada bahaya
ketika menyaksikan kekalahan Rezim Zionis Israel.
Ahmadinejad
menilai Gaza sebagai ujian bagi slogan demokrasi, kebebasan, hak asasi
manusia dan mereka yang konsekwen akan slogan-slogan ini. Dalam krisis
Gaza terbongkar segalanya bahwa semua slogan ini dibangun atas dasar
kebohongan, kolonialisme dan untuk menjarah sumber-sumber kekayaan
negara-negara lain. Menurutnya, kesadaran bangsa-bangsa di dunia muncul
akibat krisis Gaza. Ahmadinejad menambahkan, bangsa-bangsa di dunia
telah mengetahui bahwa keamanan yang berkelanjutan, keadilan,
perdamaian dan persaudaraan hanya dapat tercipta lewat persatuan
bangsa-bangsa dan berdiri kokoh di hadapan ketamakan kekuatan-kekuatan
besar. Harapan akan kinerja lembaga-lembaga internasional seperti HAM,
Dewan Keamanan PBB kini telah berubah menjadi keputusasaan.
Ahmadinejad
memuji negra-negara yang memutuskan hubungannya dengan Rezim Zionis
Israel dan menambahkan, pemutusan hubungan dengan Zionis Israel,
khususnya negara-negara Timur Tengah; Arab dan Islam merupakan
penantian paling minim dari masyarakat terhadap negara-negara ini.
Kepada para pendukung Rezim Zionis Israel, khususnya Amerika dan
Inggris Ahmadinejad memperingatkan bahwa bangsa-bangsa akan mencatat
semua kejahatan ini. Mereka tidak akan pernah melupakan kebisuan dan
ketidakpedulian, akar dan faktor asli segala kejahatan ini.
Sembari
mengisyaratkan kesadaran bangsa-bangsa di dunia Ahmadinejad menegaskan,
tidak lama lagi para pendukung Zionis Israel seperti Amerika dan
sekutunya akan diseret ke pengadilan dan masa depan pasti bukan milik
Amerika dan Inggris. Karena seruan melawan kezaliman dan tuntutan
keadilan telah bangkit di seluruh dunia. 



________________________________
Dari: Taufik Dwidjowinarto <[email protected]>
Kepada: Milis : ekonomi nasional <[email protected]>; milis : 
eramuslim <[email protected]>; Milis : Syiar Islam 
<[email protected]>; milis : Tarekat <[email protected]>
Terkirim: Kamis, 15 Januari, 2009 23:12:08
Topik: [syiar-islam] AS & Israel : ikatan persaudaraan Judeo Christian ? .


Israel adalah Amerika Serikat kecil,  dan  Amerika Serikat itu Israel besar.  
Sekalipun kursi
kepresidenan berpindah dari Bush ke Obama pun tak akan pengaruhnya, tak akan 
ada pengurangan kadar
‘support’ persenjataan, ekonomi, dan politik dari Amerika Serikat kepada sekutu 
utamanya yaitu
Israel.  Milyaran dollar hasil dari pajak rakyat Amerika Serikat secara 
sukarela akan terus
digelontorkan ke negara zionis itu. Maka tak berlebihan jika ada yang 
mengibaratkan bahwa Amerika
Serikat dan Israel itu sesungguhnya adalah saudara kembar yang lahir dari rahim 
yang sama.

Bentuk ikatan sehidup semati antara Yahudi dengan Kristen atau Judeo Christian 
adalah basic
filosofi dari eratnya persaudaraan antara Amerika Serikat dengan Israel. Konon 
itu pula yang
membuat Bush dengan berpanjikan Crusade atau Perang Salib telah membuatnya 
sedemikian militannya
dalam menggebuk babak belur kalangan dunia Islam. 

Jadi janganlah heran jika –sejak berpuluh tahun yang lalu berlanjut sampai ke 
hari ini- Amerika
Serikat dengan sepenuh hati dan sekuat tenaga dalam mensupport Israel untuk 
melaksanakan program
genoside kalangan Muslim bangsa Palestina. 

Mengapa musti heran, jika didalam Al-Quran sudah ditegaskan ... lan tardho 
ankal yahudu walan
nashara…  kaum Yahudi dan Nasrani itu tidak akan pernah rela kepada umat Islam. 

Sudah tak heran tapi masih tak percaya ?.
Jika hati telah tertutup kerak-kerak maksiat, maka kebenaran sejelas apapun tak 
akan mampu
dilihatnya. 

Wallahu’alambishshawab.

*****

Setelah  selesai  konsultasi dengan AS, Israel terus menaikan semangat 
perangnya. Israel yang
bersandar penuh pada semua yang beraroma AS, mulai dari senjata, keuangan, 
intelijen, dan tak
ketinggalan, yang telah melakukan tugasnya dengan baik, liputan media dan 
politik. Tidak heran
jika kritik atau kecaman yang datang dari berbagai penjuru, termasuk organisasi 
kemanusiaan atau
resolusi Dewan Keamanan PBB lewat begitu saja; seperti juga opini publik yang 
kini beredar. Arus
paham Anti-Semit menjadi tameng bagi moral Israel.

Dalam perangnya di Gaza, Israel telah merumuskan sebuah tujuan kebijakan, yaitu 
 memusnahkan
sejumlah besar rakyat Palestina, dan meneror mereka yang masih hidup dan 
memaksa siapa saja untuk
membuat Hamas bertekuk-lutut. Perang ini juga mereka dimaksudkan tertutup 
rapatnya  negosiasi
pintu damai, dan segera membentuk pemerintahan Palestina di Jalur Gaza setelah 
para pemimpin Hamas
dienyahkan. Israel sudah sangat spesifik menentukan akan semua tujuannya. 

Israel yakin bahwa Washingthon di belakang mereka, dan yan paling utama George 
Bush tak akan
pernah mengecewakan mereka sebelum pensiun dari Gedung Putih.  Bersama sekutu 
setianya yang lain,
seperti Inggris, Tony Blair, Bush memberikan restunya akan perang ini.  Dalam 
hal ini, kita tak
boleh lupa bahwa semua kekacauan yang terjadi di tanah Arab, baik penyebabnya 
internal ataupun
eksternal, telah menjadi kesempatan dan keberanian terbesar bagi Israel untuk 
melaksanakan
kejahatannya itu. Israel dalam hal ini memanfaatkan tradisi bangsa Arab yang 
telah mengakar
bertahun-tahun, bahwa bangsa Arab tidak pendendam, sekalipun yang diterima oleh 
mereka adalah
sebuah kejahatan yang maha dahsyat.

Tentara Israel percaya bahwa akan sangat efektif untuk melaksanakan tujuannya 
hanya dalam waktu
satu atau dua minggu. Di pekan kedua setelah penyerangan Israel terhadap Gaza, 
Washington mulai
buru-buru untuk mengeluarkan Israel dari dilema perang yang menjadi masalah 
baru negara Zionis
itu. Menlu  AS, Condoleezza Rice terjun langsung untuk menjadi juru damai 
dengan meyakinkan
negara-negara Arab bahwa AS lah yang memprakarsai resolusi damai itu. Namun, 
hari berikutnya, Rice
menyatakan abstain. Israel menyatakan bahwa Perdana Menteri Ehud Olmert telah 
menghubungi Bush
selama pembahasan resolusi damai dan memintanya untuk menunda agenda itu, 
paling tidak, selama
seminggu. 

Sikap abstain Rice yang tak keruan dan mencla-mencle, merupakan perintah 
langsung dari Gedung
Putih, sesudah Bush menerima perintah dari Perdana Israel, Ehud Olmert. 
Sebaliknya, AS malah
semakin gencar mengirimkan senjata ke Israel.

Ini memang sama sekali tidak mengejutkan siapapun  -karena kita sudah lama 
menyaksikan AS yang
begitu aktif mensuplai senjata kepada Israel dalam berbagai kejahatan perang 
terhadap Palestina. 
Di mulai tahun 1973 ketika Washington mendirikan jembatan untuk mensuplai 
tentara Israel, kemudian
memberikan dana tak terbatas milyaran dollar yang berasal dari pajak rakyat AS, 
dan menyediakan
bom bagi Tel Aviv.  Untuk kejahatan semua itu, Tony Blair ikut berperan di 
dalamnya.

Lebih jauh, di tengah-tengah kejahatan yang sedang berlangsung di Gaza, Kongres 
baru AS
menghasilkan keputusan sebuah solidaritas untuk Israel dengan jumlah voting 
yang sangat mencolok ;
410 banding 8. 

Kita bisa menyimpulkan bahwa Kongres yang dipimpin oleh Rahm Emmanuel Kepala 
Staf Gedung Putih,
merupakan orang kepercayaan Barack Obama, sang presiden baru terpilih. 

Emmanuel pengikut Partai Konservatif Likud yang membabi-buta dan dia sudah 
tahunan menjadi tentara
dan hamba Israel. Ayahnya adalah anggota Irgun (kelompok yang menjadikan ayah 
Olmert dan Tzipi
Livni menjadi sohib). 

Bahkan dari sini kita bisa melihat bahwa Menteri Luar Negeri  AS berikutnya, 
Hillary Clinton,
begitu antusias mendukung Israel daripada Yahudi sendiri. 

Maka, sama sekali tak akan ada perubahan dalam kebijakan luar negeri AS. 
Siapapun yang percaya
akan perubahan itu sungguh amat bodoh.  Di tangan Obama, holocaut masih akan 
terus berlanjut,
mungkin di Tepi Barat dan Lebanon Selatan. 

Orang Arab yang kelak merasakan kekejaman Washington era baru. Bukan orang lain.

Penjagalan, Dari Bush Sampai Obama.
http://www.eramusli m.com/berita/ analisa/penjagal an-dari-bush- sampai-obama. 
htm

*****

Kapan perang Israel-Palestina di Gaza akan berakhir ?. Secara teoritis, perang 
adalah kegagalan
diplomasi. Perang akan berakhir jika diplomasi berhasil. Dengan kata lain, 
akhir diplomasi itu dua
kemungkinan : perang atau damai. Perang dimulai ketika diplomasi gagal. Perang 
juga berakhir saat
diplomasi berhasil.  Ih, jadi lieur sendiri neh… tapi ngerti ‘kan ya…?.  Perang 
terus
berlanjut di Palestina  (baca: Israel terus memerangi Palestina)  akibat 
kegagalan diplomasi
damai. 

Masalahnya, dalam diplomasi, kedua pihak harus berada dalam posisi seimbang, 
sama kuat. Bahkan,
jika dua negara sama kuat, kemungkinan terjadi perang sangat kecil. 
Rusia/Soviet secara teoritis
tidak akan pernah perang dengan Amerika Serikat karena keduanya sama kuat, 
setidaknya secara
militer –sama-sama punya senjata nuklir. Diplomasi keduanya “selalu” berhasil 
membuat
kesepakatan karena posisinya sama kuat.

Sedangkan dalam kasus Israel-Palestina, kekuatan keduanya tidak seimbang. 
Akibatnya, diplomasi
selalu gagal karena Israel lebih kuat posisinya  –secara militer, politik, dan 
ekonomi, utamanya
karena dukungan AS dan Eropa. Diungkapkan, “Israel adalah Amerika kecil dan 
Amerika itu Israel
besar”.

Kalaupun perundingan Israel-Palestina berhasil membuahkan kesepakatan, 
dipastikan kesepakatan itu
menguntungkan Israel dan Palestina banyak dirugikan atau mengalah.

Maka, di atas kertas alias secara teoritis, agar terjadi perdamaian di 
Palestina, jika
menghancurkan Israel belum berhasil atau jika Israel belum berhasil dihapus 
dari peta dunia, 
Palestina harus diperkuat secara militer, politik, dan ekonomi agar kekuatannya 
mengimbangi
Israel. 

Caranya ?. Negara-negara Arab  -Islam harus melakukan seperti yang dilakukan 
Amerika kepada Israel
-  memberi bantuan persenjataan, ekonomi, dan politik.

Bisa ?.  Amerika aja bisa, atas nama  “ Judeo-Christian Ethic ”,  etika 
Yahudi-Kristen yang
menjadi dasar  “ pandangan etis dan moral peradaban Barat pada umumnya ” .   
Amerika dan
negara Barat lain membantu Israel atas nama etika itu. 

Al-Quran juga sudah menegaskan,  lan tardho ankal yahudu walan nashara…, kaum 
Yahudi dan Nasrani
tidak akan pernah rela kepada umat Islam.  It means… Yahudi-Kristen itu “satu 
paket”,  dua
sisi dari satu mata uang, paling tidak secara ideologis.

“ Judeo–Christian  (sometimes written as Judaeo–Christian)  is a term used to 
describe the
body of concepts and values which are thought to be held in common by Judaism 
and Christianity,
and considered, often along with classical Greco-Roman civilization, a 
fundamental basis for
Western legal codes and moral values. In particular, the term refers to the 
common Old
Testament/Tanakh as a basis of both moral traditions, including particularly 
the Ten Commandments;
and implies a common set of values present in the modern Western World. The 
values most commonly
assigned to the Judeo–Christian tradition are liberty and equality based on 
Genesis, where all
humans are created equal, and Exodus, where the Israelites flee tyranny to 
freedom. Other authors
discuss more broadly the Jewish beliefs in progress and moral responsibility, 
as hallmarks of
American culture that come from the Judeo–Christian reading of the Bible ”.  
(Wikipedia).

Jadi, mestinya, negara-negara Arab-Islam juga membantu Palestina atas nama  “ 
Islam ethic ” , 
yakni ukhuwah Islamiyah. 

Bukankah sesama Muslim itu saudara ?.  Bagaikan satu tubuh,  kal jasadil wahid, 
 yang saling
menguatkan ?.  Jika satu bagian tubuh sakit, tangan misalnya, maka bagian tubuh 
yang lain
merasakannya ? .

Umat Islam, terbukti, sangat pro-Palestina dan siap membantu apa saja dalam 
kasus mutakhir 
–tragedi Gaza.  Yang jadi masalah adalah pemerintahannya. 

Ada semangat kontradiktif antara rakyat negara Muslim dengan pemerintahannya. 
Jika satu saja
negara Muslim, Indonesia atau Iran misalnya,  “ memutuskan pengiriman 1.000 
tentara untuk
membantu rakyat Palestina dalam menghadapi Israel ” ,  yakin, Israel bahkan 
dunia akan
terguncang ! .

Maka, rakyat negara Muslim harus benar-benar memilih pemimpin negara yang 
committed terhadap Islam
dan kaum Muslimin. 

Tapi tunggu, di antara politisi kita sekarang, caleg atau capres, ada yang 
demikian ? .

Insya Allah, optimistis dong   –  walau nurani tak bisa berbohong bahkan pada 
diri sendiri. 

Mengimbangi ‘Judeo-Christian Ethic'.
http://www.warnaisl am.com/rubrik/ jurnalistik/ 2009/1/15/ 33480/Mengimbang 
i_Judeo-Christia n_Ethic.htm

*****

Pertikaian Israel Palestina seharusnya turut melukai kita sebagai bangsa 
Indonesia. Palestina
adalah negara yang paling proaktif mendorong dan mengakui Indonesia sebagai 
negara merdeka yang
berdaulat.  Selain itu, pernyataan tegas dalam UUD 45,  " ikut melaksanakan 
ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial "  sudah cukup 
untuk menjadi alasan
kuat besarnya peran serta bangsa kita terhadap penjajahan Israel ke Palestina.  
 Apalagi mayoritas
bangsa Indonesia adalah pemeluk agama Islam.

Ummat Islam saat ini terpecah belah berkeping-kepingan bagaikan serpihan tak 
berguna.
Kepingan-kepingan itu seringkali berkumpul dan berdiskusi namun tak mampu 
melekat menjadi satu. 

Padahal seharusnya kita semua mau bersatu menjadi sebuah mozaik yang indah, 
penuh perbedaan namun
dilekat erat oleh “lem”  keimanan dan dalam sebuah figura ukhuwah Islamiyah. 
Maka ummat lain
akan melihat ummat Islam dimuka bumi ini sebagai ummat modern yang menyatukan 
perbedaan-perbedaan
itu dalam sebuah peradaban yang indah dan rahmatan lil alamin..

Persatuan itu belum terjadi, karena ummat Islam masih belum menemukan (atau 
bahkan salah memilih)
pemimpin di negeri masing-masing. 

Banyak pemimpin bangsa yang beragama Islam, namun sayangnya tidak memiliki 
wawasan keislaman yang
luas dan dalam. 

Jadi wajar kalaupun para pemimpin itu bertemu dalam konferensi-konferen si 
(yang katanya) tingkat
tinggi, tetap hanya menjadi kumpulan pemimpin negeri yang tak berdaya. Hanya 
bisa bersepakat
mengeluarkan kecaman, tuntutan, dan himbauan,  seingat saya malah hampir tak 
pernah mengeluarkan
ancaman.  Setelah itu, tak bisa berbuat apa-apa,  namanya juga kumpulan 
pemimpin negeri tak
berdaya.

Dalam kondisi yang berkeping-keping ini, maka yang dilihat adalah kepingan yang 
paling besar.
kepingan itu adalah Indonesia.  Karena itulah untuk mencegah Islam berjaya 
kembali, prioritas
utama musuh-musuh Islam adalah memecahkan kepingan besar itu menjadi 
kepingan-kepingan lebih
kecil.  Hal itu sempat hampir terjadi, ketika kebebasan beragama kaum muslimin 
yang mayoritas
dibelenggu dan menjadi “tabu” pada era orde lama dan orde baru. 

Tapi saat ini, kepingan besar itu tak jadi retak, justru semakin kokoh . Harum 
wangi Islam
terhirup sampai kepelosok negeri, kebenaran dan kebatilan yang sempat berkumpul 
dalam iklim
syubhat kini mengkristal menuju kutubnya masing-masing. Ummat Islam di negeri 
ini kembali
menggeliat menunjukkan eksistensinya. Yang jauh dari nilai-nilai Islam kini 
mendekat, yang kiri
dan kanan bergerak ketengah ke area moderat, yang ekstrim dan sesat terlihat 
dengan jelas.

Kembali hadirnya  Islam di hati kaum muslimin, bukan hanya terjadi di 
Indonesia, namun hasil kerja
dakwah itu mulai terasa dampaknya diseluruh pelosok negeri, baik di 
negeri-negeri muslim maupun 
negeri-negeri  yang mayoritas non-muslim. Hadirnya Islam itu membuat ummat 
lebih siaga dan
responsif terhadap perkembangan dunia Islam kontemporer.

Indonesia sebagai kepingan terbesar, seharusnya memiliki pengaruh yang luar 
biasa bagi
negeri-negeri muslim lainnya. Indonesia harus memiliki pemimpin yang berani 
dalam menentukan
kebijakan yang lebih kongkrit tehadap dunia Islam. 

Jika saja pemimpin bangsa kita lebih berani, kita bisa menyerukan dan mengajak 
negeri-negeri Islam
untuk mengirimkan pasukan membela palestina. Saya yakin, Israel dan Amerika 
akan kalang kabut dan
tak akan memperpanjang konflik.  PBB dan DK pun rasanya harus berpikir ulang 
jika ingin memberikan
sanksi kepada negara-negara timur tengah dan asia tenggara yang kompak.  
Orang-orang Barat sudah
hidup terlalu nyaman, jangankan berperang, hidup sedikit tidak nyaman saja 
sudah membuat mereka
pusing tujuh keliling. 

Jika negara-negara timur tengah dan asia tenggara diembargo, siapa yang 
menyediakan bahan mentah
dan minyak mentah untuk kebutuhan bahan bakar dan produksi dunia. Sebaliknya, 
kita bisa mengolah
bahan mentah itu untuk memenuhi kebutuhan hidup, walaupun dengan menggunakan 
teknologi seadanya.

Saat ini Israel dan Amerika sedang menjebak dirinya menjadi common enemy, 
inilah moment yang
paling tepat bagi negeri-negeri Islam untuk membantu saudara muslim di 
Palestina dan menyerang
Israel, kita memiliki alasan yang kuat. 

Saya yakin, negara-negara barat sangat menghindari terjadinya perang dunia. 
Israel, Amerika dan
negara barat serta Jepang memang memiliki kekuatan militer yang hebat, namun 
jumlah tentara mereka
terbatas dan tidak memiliki militan yang siap secara mental dan fisik untuk 
diterjunkan dalam
pertempuran. 

Sedangkan negeri-negeri muslim memiliki tentara dan jutaan militan yang siap 
tempur.  Sayangnya
negeri-negeri muslim terlalu kaku dan kurang lihai dalam berdemokrasi.  Bahkan 
Saudi Arabia, Uni
Emirat Arab dan lainya yang sistem negaranya tidak demokratis ikut-ikutan sok 
demokratis. 

Tidak berani membela saudaranya yang teraniaya, dibantai dan diusir dari 
negerinya. Padahal
genocide adalah sebuah tindakan yang melanggar demokrasi,  lalu para pengusung 
demokrasi tidak
demokratis dalam menangani hal ini, lalu kenapa kita harus demokratis ?.  
Wallahu a’lam....

Seandainya Pemimpin Bangsa ini Lebih Berani.
http://www.warnaisl am.com/rubrik/ hikmah/2009/ 1/15/21600/ Seandainya_ 
Pemimpin_ Bangsa_Lebih_ Berani.htm

*****

------------ --------- --------- ---

Tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah
klik
http://www.SyaikhAc hmadSyaechudin. org

------------ --------- --------- ---


Berselancar lebih cepat dan lebih cerdas dengan Firefox 3
http://downloads. yahoo.com/ id/firefox/

    


      Firefox 3: Lebih Cepat, Lebih Aman, Dapat Disesuaikan dan 
Gratis.http://downloads.yahoo.com/id/firefox

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke