http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=8435:suara-suara-qisraelq-di-indonesia-1&catid=94:ragam&Itemid=88
sumber: www.hidayatullah.com
Suara-Suara "Israel" di Indonesia [1]
Pembantaian Israel terhadap warga Jalur Gaza membuat pemikiran banyak orang
berpendapat. Ada pula "suara Israel" di Indonesia
Hidayatullah.comJika
umumnya kaum Muslim bahkan seluruh agama--di seluruh dunia mengecam
tindakan pembantaian kemanusiaan Zionis-Israel. Hanya saja menariknya,
tak sedikit orang (bahkan kaum Muslim sendiri) yang perpendapat seolah
"mewakili" Israel. Redaksi www.hidayatullah.com
mengumpulkan beberapa pernyataan tertulis dan pendapat beberapa tokoh
yang dikumpulkan dari berbabai sumber. InsyaAllah tidak ditambah atau
di kurangi sedikitpun: Di bawah ini beberap kalangan yang pendapatnya
seolah-olah "mewakili" Israel;
Ulil Abshar Abdalah: (pegiat Jaringan Islam Liberal) "Sejumlah Pertanyaan
Sederhana" (Diambil dari posting milis Islamliberal)
"Salam, Ini pertanyaan sederhana dan mohon jangan diartikan sebagai
pembenaran atas agresi Israel terhadap Gaza. Saya tetaplah anti agresi itu, dan
simpati saya selalu berpihak pada bangsa Palestina. Tetapi ada manfaatnya jika
kita menempatkan sesuatu dalam perspektif historis yang lebih luas sehingga
kita lebih "dewasa". Pertanyaan-pertanyaan berikut ini mengganggu saya sejak
lama. Saya tak berpretensi bisa menjawabnya dengan tuntas dan tepat. Menurut
saya protes umat Islam terhadap negara Israel
bukan sekedar karena negara itu mencaplok wilayah Palestina. Menurut
saya, naïf sekali jika kita membaca konflik Palestina-Israel ini
sekedar sebagai masalah nasionalisme, pencaplokan wilayah secara tak
sah, dsb. Kalau
umat Islam keberatan suatu negara mencaplok wilayah negara lain, kenapa
dulu waktu Irak melakukan agresi terhadap Kuwait, simpati umat Islam
justru lebih banyak berpihak pada Saddam Husain? Jika umat Islam
keberatan pada urusan pencaplokan wilayah, kenapa dulu umat Islam di
Indonesia tidak keberatan negara Indonesia meng-invasi Timor Timur? Kenapa
umat Islam tidak protes sedikitpan pada perlakuan China atas Tibet belakangan
ini? Tetapi
pertanyaan mendasar yang jauh lebih penting buat saya adalah fakta
berikut ini. Sejarah Islam sejak awal, kalau kita mau jujur, adalah
sejarah ekspansi wilayah dengan cara pencaplokan. Islam lahir di Hijaz
lalu melakukan ekspansi dan pencaplokan wilayah keluar sehingga
mencakup wilayah yang sangat luas sekali. Dalam sejarah dunia tidak ada
agama yang berkembang dengan cara seperti ini kecuali Islam dan Kristen.
Ekspansi
dan pencaplokan wilayah memang banyak terjadi dalam sejarah masa lalu.
Tetapi ekspansi dan penaklukan wilayah yang dilakukan atas nama agama
dan berlangsung secara kontinyu dalam waktu yang sangat lama hanya
terjadi pada kasus Islam dan Kristen, dua agama yang sejak awal
memiliki watak imperial, misionaris, dan ekspansif. Kalau
kita sebagai umat Islam mau jujur, kita harus mengakui bahwa seluruh
wilayah yang sekarang dihuni oleh umat Islam, terutama di kawasan Arab,
sekitar Laut Tengah, daerah Balkan, dan anak benua India-Pakistan
adalah wilayah taklukan Islam. Dengan kata lain, wilayah yang dulu
diperoleh karena proses pencaplokan melalui aksi militer. Memang ada
dakwah damai melalui para ulama, kaum sufi, pedagang dan sebagainya.
Tetapi misi dakwah berlangsung tidak secara independen. Ada aksi militer yang
mendahului atau mengikutinya. Sementara
itu, agama Yahudi adalah agama yang kontras sama sekali dengan Islam,
meskipun dari aspek orientasi ketaatan pada hukum ada kesamaan antara
keduanya. Jika Islam adalah agama misionaris, imperial dan ekspansif,
agama Yahudi kebalikan dari itu semua. Agama Yahudi tidak pernah
berambisi untuk mendakwahkan agama itu di luar bangsa Yahudi sendiri
dan ingin "menyelamatkan domba-domba sesat" seperti dalam Kristen. Bangsa
dan agama Yahudi juga tidak pernah berambisi melakukan ekspansi
wilayah. Ide keyahudian terikat pada wilayah kecil sebagai fondasi
agama itu, yaitu Yerusalem dan kawasan di sekitarnya yang sama sekali
tidak siginifikan dibandingkan dengan luasnya wilayah yang pernah
dicaplok oleh umat Islam di zaman lampau. Ini
yang menjelaskan kenapa bangsa dan umat Yahudi hanya berjumlah tak
lebih dari 15 juta hingga saat ini. Bandingkan dengan jumlah umat Islam
yang mencapai sekitar 1,2 milyar di seluruh bumi. I (Catatan: ini belum
ditambah bangsa jin yang konon menurut umat Islam juga ada yang
beragama Islam). Watak Islam sebagai agama yang misionaris, imperial
dan ekspansif tercermin dalam luasnya wilayah yang dihuni umat Islam
saat ini, serta keragaman etnik dan bangsa yang memeluk agama itu. Ini
juga terjadi pada agama Kristen. Buku-buku
sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah Islam sudah tentu tidak mau
mengakui fakta seperti ini. Sejarah ekspansi dan penaklukan Islam
disebut sebagai "futuhat" atau pembukaan. Ini jelas semacam
eufemisme. Seolah-olah wilayah yang dihuni oleh bangsa bangsa
non-Islam sebelum Islam datang itu adalah wilayah gelap. Ekspansi Islam
dibaca sebagai pembukaan wilayah itu terhadap "sinar" kebenaran Islam.
Cara membaca sejarah semacam ini persis dengan justifikasi imperialisme
Eropa barat di masa lampau sebagai proses "sivilisasi". Tak ada
bedanya sama sekali. Ini
juga tak beda dengan justifikasi agresi Amerika ke Irak saat ini
sebagai cara untuk menyebarkan demokrasi di Timur Tengah. Kita tahu,
semua agresor di manapun selalu memakai "senjata simbolik"
untuk membenarkan agresi mereka, entah melalui agama, filsafat,
tradisi, atau memori tertentu. Yang mengganggu saya adalah umat Islam saat ini
protes dengan begitu gigihnya terhadap pencaplokan Israel
atas tanah Palestina, tetapi tidak pernah sedikitpun terganggu dengan
masa lampau mereka yang penuh dengan agresi dan aksi pencaplokan pula.
Apa yang diambil Israel
saat ini dari tanah Palestina tak ada apa-apanya dibanding dengan
luasnya wilayah yang ditaklukkan oleh umat Islam di masa lampau. Sama
dengan Presiden Bush yang beberapa waktu lalu protes terhadap kebijakan
pemerintah China di Tibet, tanpa sadar bahwa apa yang dilakukan oleh
China di Tibet juga diakukan oleh Amerika di Irak saat ini. Apakah
Presiden Bush tidak malu dengan "double-speak" seperti itu? Pertanyaan
ini sengaja saya angkat supaya kita bisa menempatkan konflik
Palestina-Israel saat ini dengan lebih seimbang. Saya hingga sekarang
masih percaya bahwa masalah Israel
di mata umat Islam bukan sekedar masalah geografi dan perluasan
wilayah. Masalah sebenarnya ada di luar itu, yakni konstruksi
keyahudian di benak umat Islam sendiri yang dibentuk melalui ajaran
agama dan tafsirnya yang sudah berkembang sejak berabad-abad. Menurut
saya, "sedimentasi simbolik" semacam itu (kalau boleh memakai istilah
yang mungkin agak kurang jelas artinya ini) ikut memperumit
penyelesaian masalah Israel hingga sekarang. Hal serupa juga terjadi pada pihak
bangsa Yahudi sendiri. Anda
bisa membayangkan bagaimana psikologi sebuah bangsa yang jumlahnya tak
lebih dari 15 juta orang berhadapan dengan sebuah umat yang jumlahnya
tak kurang dari 1,2 milyar, sementara umat yang "gigantik" itu dibentuk
oleh sebuah ajaran yang kalau tidak benci minimal kurang bersahabat
dengan bangsa dan agama Yahudi. Tulisan
ini sengaja saya kemukakan sebagai otokritik pada umat Islam. Dengan
mengatakan ini semua, saya tak menolak bahwa komplikasi masalah
Palestina-Israel ini juga ada dan disebabkan oleh pihak-pihak lain,
antara lain dukungan Amerika yang nyaris tidak kritis pada Israel. Di mata
pemerintah Amerika, Israel seperti "can do no wrong".
Para Zionis, termasuk Kristen-Zionis, di Amerika juga ikut terlibat
dalam memperumit masalah Palestina ini. Ketidakberdayaan PBB dalam
mengatasi sikap pemerintah Israel yang selama ini selalu melanggar sejumlah
resolusi lembaga itu berkenaan dengan masalah Palestina, juga masalah
tersendiri. Masalah-masalah
"eksternal" itu sudah sering dikemukakan oleh para analis, termasuk
juga oleh umat Islam sendiri. Tetapi yang mempersoalkan "masalah
internal" dalam umat Islam sendiri nyaris jarang sekali. Memang paling
enak jika kita melempar masalah keluar ketimbang mengorek kelemahan
dalam diri kita sendiri. [Ulil Abshar Abdalla] Selain sikap tertulisnya
disampaikan di milis Islamliberal, ada pula postingan lain yang bersumber dari
pemikiran lain Ulil Abshar dari Facebook nya yang telah dimuat di milis AJI dan
Jurnalisme, tertanggal 7 Januari 2009, jam 12:01 AM. Karena sangat panjang,
redaksi hanya menyingkat hal-hal penting dalam tulisan yang berjudul; "Tentang
bangsa Yahudi dan konflik Palestina-Israel". Untuk mengatasi masalah konflik
Palestina, kata Ulil Abshar dalam tulisan ini, salah satu yang bisa dilakukan
adalah melakukan reinterpretasi terhadap Al-Quran dan Hadist. "Saya
kadang-kadang berpikir, jangan-jangan konflik Palestina-Israel tidak akan
selesai "ila yaum al-qiyamah",
sampai hari kiamat. Satu-satunya harapan adalah jika kedua belah pihak
lelah dan bosan perang, lalu dengan "sadar" meletakkan senjata dan
saling jabat tangan. Tetapi titik-lelah itu belum kelihatan hingga
sekarang. Kita harus siap untuk melihat jatuhnya korban terus-menerus
di waktu-waktu mendatang. Sudah berkali-kali usaha untuk mendamaikan
kedua belah pihak dilakukan oleh komunitas internasional, tetapi gagal
terus."
. "Tetapi,
kebencian pada Yahudi sebagai sebuah agama tetap bertahan secara
endemik dalam Islam. Bangsa Yahudi digambarkan sangat negatif dalam
beberapa ayat di Quran, dan kemudian disokong pula dengan sejumlah
hadis. Contoh kecil saja: sebuah hadis terkenal menyebutkan bahwa pada
akhir zaman nanti Nabi Isa (atau Yesus) akan turun kembali ke bumi
(persis dengan keyakinan dalam Kristen). Menurut hadis itu, tugas Nabi
Isa pada saat itu, antara lain, adalah untuk menghancurkan salib dan
membunuhi orang-orang Yahudi." "Baik
agama Kristen atau Islam mengandung unsur-unsur ajaran yang bisa
membiakkan kebencian pada bangsa Yahudi. Ini bukan kebencian biasa,
tetapi kebencian yang dijustifikasi oleh firman dan ajaran Tuhan
sehingga pengaruhnya sangat mendalami. Tak heran sekali jika kebencian
pada agama dan bangsa Yahudi bertahan selama berabad-abad. Kalau kita
baca sejarah, tidak ada bangsa yang mengalami korban sebagai sasaran
kebencian selama dan seserius seperti dialami oleh bangsa Yahudi. Yang
mengherankan, jumlah mereka sangat kecil sekali, tetapi kebencian pada
mereka sungguh tak sebanding dengan jumlah itu. Atau justru karena
mereka kecil lah dengan mudah menjadi "kambing hitam" di mana-mana.
Persis seperti dialami oleh kaum minoritas di manapun yang cenderung
dijadikan sasaran demonisasi dan pengambing-hitaman."
. "Poin
yang ingin saya sampaikan adalah bahwa bangsa Yahudi yang kecil
jumlahnya itu menjadi sasaran kebencian dari banyak pihak. Anda bisa
bayangkan, bagaimana perasaan sebuah bangsa kecil yang dibenci oleh dua
agama besar selama berabad-abad, yaitu Kristen dan Islam. Sekarang ini,
jumlah pengikut kedua agama itu boleh jadi lebih dari 2,5 milyar. Dari
jumlah sebanyak itu, ada persentasi yang cukup besar,
sekurang-kurangnya dari sebagian kalangan Islam, yang sangat membenci,
atau minimal kurang bersahabat, dengan bangsa Yahudi. Tentu keadaan
semacam ini menciptakan rasa yang sangat tidak aman bagi orang-orang
Yahudi. Bagaimana
mungkin orang Yahudi yang hanya berjumlah tak lebih dari 15 juta itu
bisa merasa aman di tengah-tengah bangsa-bangsa yang membenci dan
mempunyai stereo-type negatif mengenai mereka? Jangan lupa,
kebencian ini sudah berlangsung berabad-abad, dan karena itu sudah
merasuk ke dalam psyche bangsa-bangsa yang membenci orang-orang Yahudi
itu. Ini yang menjelaskan kenapa bangsa Yahudi, terutama di Israel, mempunyai
instink
yang sangat kuat untuk membangun pertahanan diri, kadang-kadang instink
itu bekerja secara berlebihan, meskipun hal itu bisa kita pahami. Sebab
bangsa Yahudi mempunyai memori yang sangat buruk mengenai masa lalu
mereka. Jika mereka kehilangan negara Israel
yang sudah berhasil mereka dirikan dengan susah payah itu, mereka
khawatir akan kembali kepada "zaman kegelapan" yang berlangsung sejak
berabad-abad sebelumnya."
. "Tetapi
justru di sini letak kelemahan bangsa Yahudi di Israel dan di manapun
saat ini. Karena terlalu dihantui oleh masa lampau yang pahit, reaksi
mereka terhadap ancaman saat ini terlalu berlebihan. Yang menjadi
korban adalah bangsa Palestina. Sebagai sebuah negara, Israel, negara Yahudi
itu, saat ini sudah cukup kuat dan sangat makmur. Memang kita bisa paham kenapa
Israel
selalu merasa tidak was-was dan tidak aman selama ini, sebab ia
dikepung oleh tetangga-tetangga yang sangat membenci keberadaannya."
.
"Menurut
saya, harus ada reinterpretasi ulang atas sejumlah ayat dan hadis yang
membenci bangsa Yahudi dan selama ini diajarkan di lembaga-lembaga
Islam. Jika tidak, maka selamanya akan terjadi kebencian dan permusuhan
antara umat Islam dan bangsa Yahudi. Saya tak percaya bahwa umat Islam
akan berhenti membenci bangsa Yahudi seandainya pun yang terakhir itu,
misalnya, dengan sukarela membubarkan negara Israel lalu pergi dari
tanah Palestina. Menurut saya, masalahnya lebih serius dari sekedar
masalah "tanah". Yang bermasalah adalah doktrin dalam agama itu
sendiri. Apa
yang saya tulis ini jelas tak populer di kalangan Islam saat ini. Boleh
jadi, tulisan ini dianggap sebagai bagian dari konspirasi Yahudi pula.
Silahkan saja. Dengan terus terang saya katakan, saya bukan "fan" atau
pendukung ringan, apalagi berat, negara Israel. Saya benci dan jengkel pada
tindakan dan kebijakan pemerintah Israel selama ini terhadap bangsa Palestina.
Tetapi kita juga harus jujur melakukan otokritik pada diri kita sendiri. Ada
sikap-sikap yang salah dan tak tepat juga di kalangan umat Islam
terhadap bangsa Yahudi yang jumlahnya sangat kecil itu. Sikap-sikap
yang berdasarkan pada doktrin agama itu harus dikritik jika umat Islam
memang benar-benar ingin menegakkan perdamaian di bumi Palestina."
Pendeta Hans Jefferson: "Secara batin, umat Kristen di seluruh dunia pasti
berdoa buat Israel." Ujarnya dalam petikan wawancaranya dengan Radio Nederland
Wereldomroep (RNW)
Pendapat dan suara-suara "Israel" di Indonesia akan dilanjutkan besok. [cha,
bersambung/www.hidayatullah.com]
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
===
Paket Umrah Mulai US$ 1.490
Informasi lengkap di:
http://www.media-islam.or.id
http://www.syiarislam.wordpress.comYahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[email protected]
mailto:[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/