Allah SWT berfirman Q.S. Ali Imran : 168-170 bahwasanya yang paling tinggi 
kedudukannya adalah
mereka yang mati syahid terbunuh di jalan Allah.

Rasulullah SAW bersabda :  " Tiada seorangpun yang telah masuk surga lalu ingin 
kembali ke dunia
untuk memperoleh sesuatu yang ada di dalamnya kecuali orang yang mati syahid 
(syuhada). Dia
berharap untuk kembali ke dunia sehingga terbunuh kembali (sebagai syahid) 
sebanyak sepuluh kali,
karena apa yang didapatkannya dari kemuliaan (bagi para syuhada) ". (H.R 
Bukhari dan Muslim)

Rasulullah SAW :  " Sesungguhnya para syuhada mendapatkan enam kemuliaan di 
sisi Allah : Allah
akan mengampuninya pada waktu darahnya keluar pertama kali dari tubuhnya, 
diperlihatkan untuknya
tempat duduknya di surga, diberi hiasan dengan perhiasan iman, dinikahkan 
dengan tujupuluh dua
orang bidadari dari surga, diselamatkan dari siksa kubur, mendapatkan keamanan 
dari ketakutan yang
sangat besar (kegoncangan di padang mahsyar), dipakaikan baginya mahkota 
kerendahan hati yang
sebutir mutiaranya lebih baik dari dunia seisinya, dan diperbolehkan baginya 
untuk memberikan
syafaat bagi tujuhpuluh orang kerabatnya ".  (HR. Tirmidzi)


Pernahkah terlintas niat atau keinginan dalam benak kita untuk bisa berperang, 
berjihad dalam arti
mengangkat senjata dalam rangka mempertahankan akidah, memelihara agama yang 
mulia ini serta
meninggikan kalimat Allah SWT, meninggikan kalimat tauhid, tidak ada ilah 
selain Allah SWT ?.
Pernahkah kita melantunkan kalimat Al-mautu fi sabilillah asma amanina, syahid 
di jalan-Nya adalah
cita-cita kami tertinggi?.  

Allah SWT berfirman : “ Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang 
menepati apa yang
telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan 
di antara mereka ada
(pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya) ”. (QS. Al 
Ahzab : 23)

Rasulullah SAW bersabda  : "Barang siapa yang berdoa kepada Allah dengan benar 
untuk mendapatkan
mati syahid, maka Allah akan menyampaikannya kedudukan para syuhada walau pun 
dia mati di atas
tempat tidur". (H.R. Muslim)

Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda :  ”Barangsiapa yang 
mempersiapkan dirinya
untuk berperang di jalan Allah maka sesungguhnya dia telah berperang”. (HR 
Bukhori Muslim)


Ataukah jiwa kita ini lebih takut akan kematian dan lebih suka kepada dunia 
dengan segala
kegemerlapannya, sehingga tidak terbersit sedikitpun untuk memiliki cita-cita 
berjihad dan
kemudian akan mendapatkan mati syahid ?.

Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda :  “Hampir tiba masanya kalian 
diperebutkan
seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya ”.  Maka seseorang 
bertanya : 
”Apakah karena sedikitnya jumlah kita ?”.  Rasulullah shollallahu ’alaih wa 
sallam menjawab
: ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah 
mencabut rasa
gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam 
hati kalian
penyakit Al-Wahn”.  Seseorang bertanya :  ” Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu 
? ”. 
Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menjawab : ”Cinta dunia dan takut akan 
kematian”.
(HR Abu Dawud)

Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam :  “
Barangsiapa mati dan tidak pernah berperang (di jalan Allah) dan tidak pernah 
Bercita-Cita
untuknya,  maka ia mati dalam salah satu cabang Kemunafikan ”.  (HR Muslim)


Wallahu’alambishshawab.

***

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
"مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ صَادِقًا بَلَّغَهُ
اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى
فِرَاشِهِ".

Rasulullah SAW bersabda  : "Barang siapa yang berdoa kepada Allah dengan benar 
untuk mendapatkan
mati syahid, maka Allah akan menyampaikannya kedudukan para syuhada walau pun 
dia mati di atas
tempat tidur". (H.R. Muslim)

Kata syahadah dalam Bahasa Arab memiliki banyak makna, diantara maknanya adalah 
mati syahid di
jalan Allah, dan inilah yang dimaksud dari hadits di atas.  Dalam hadits ini 
dijelaskan bahwa
apabila kita memohon kepada Allah SWT agar diberikan kemuliaan berupa mati 
syahid, maka kita akan
diberikan pahala seperti orang yang mati syahid walaupun pada akhirnya kita 
tidak mati di medan
tempur melainkan mati di atas tempat tidur. Seperti halnya Khalid bin Walid RA 
sahabat yang
terkenal gagah berani dan dalam hampir setiap pertempuran yang dia alami dan 
dia pimpin baik
sebelum dia masuk Islam atau pun setelah masuk Islam kemenangan selalu 
diraihnya. Namun di akhir
hayatnya Khalid menderita sakit lalu meninggal di atas tempat tidurnya.

Dalam hadits ini juga terdapat anjuran untuk selalu berazam atau berniat 
melakukan kebaikan
diantaranya adalah memohon kepada Allah agar kita bisa mati di jalan Allah SWT, 
mati dalam
peperangan membela agama-Nya. Berarti jalan menuju mati syahid di jalan Allah 
SWT adalah berjihad
di jalan-Nya agar kalimat-Nya menjadi yang paling tinggi dan agama hanya untuk 
Allah SWT semata,
serta mengeluarkan manusia dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam yang 
terang benderang,
menyebarkan agama Islam, menegakkan keadilan, menolak kazaliman dan kerusakan, 
menjaga kaum
muslimin serta menghancurkan musuh dan menolak segala tipu daya mereka.

Pernahkah terlintas dalam benak kita untuk bisa berperang, berjihad dalam arti 
mengangkat senjata
dalam rangka mempertahankan akidah, memelihara agama yang mulia ini serta 
meninggikan kalimat
Allah SWT, meninggikan kalimat tauhid, tidak ada ilah selain Allah SWT ?.

Abu Hurairah RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda :

مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ
نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ

“ Barang siapa yang mati dan belum berperang dan tidak terlintas dalam dirinya 
untuk berperang,
maka dia mati dalam prilaku orang munafik ”. (H.R. Muslim)

Adakah dalam diri kita niat atau keinginan untuk mendapatkan mati syahid di 
jalan-Nya ?, atau jiwa
kita ini takut akan kematian dan lebih suka kepada dunia dengan segala 
kegemerlapannya ? .
Sehingga tidak terbersit sedikitpun untuk memiliki cita-cita berjihad dan 
kemudian akan
mendapatkan mati syahid (syahadah).

Orang-Orang kafir, terutama kaum Yahudi dalam memerangi kaum Muslimin dengan 
potensi dan
persenjataan sangat canggih dan paling mutakhir serta jumlah personilnya yang 
sangat banyak namun
mereka tidak akan mampu menghadapi ketegaran dan semangat membaja kaum Muslimin 
yang
mempertahankan akidahnya. 

Kaum Muslimin, ketika berjihad mereka mencari mati, mencari syahadah (mati 
syahid), sehingga
mereka pun menjadi tidak takut mati.


Membekali Para Mujahidin :

Sebenarnya bagi orang yang belum mampu atau belum memiliki kesempatan untuk 
berangkat ke medan
jihad, maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berjihad, yaitu 
dengan membekali atau
membantu orang yang sedang berperang di jalan Allah SWT atau biasa disebut 
Mujahidin adalah
termasuk ikut berjihad.

Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda :  " Barangsiapa yang membekali seorang 
yang berperang di
jalan Allah maka sungguh ia telah ikut berperang… ”.  (H.R. Bukhari dan Muslim)

Saat ini ada beberapa bumi jihad yang masih terus berlangsung antara para 
Mujahidin melawan para
teroris dan para penjajah serta para agresor. Di palestina misalnya, khususnya 
di Jalur Gaza.
Setelah dibombardir selama 22 hari mereka membutuhkan banyak bantuan mulai dari 
makanan, pakaian
sampai pada berbagai macam persenjataan untuk melindungi bumi palestina yang 
sampai saat ini masih
di jajah dan diduduki oleh zionisl Israel. Bahkan selama ini banyak upaya makar 
yang dilakukan
orang-orang kafir dan para sekutunya dalam menghentikan pasokan senjata agar 
kaum Muslimin menjadi
lemah dan tidak dapat melakukan perlawanan.


Derajat dan Kedudukan Para Mujahidin di Surga :

Abu Hurairah RA berkata : Rasulullah SAW bersabda : " … sesungguhnya di dalam 
surga terdapat
seratus tingkat yang disediakan bagi orang-orang yang berjihad di jalan Allah, 
jarak antara
tingkat yang satu dengan yang lain sama seperti jarak antara langit dan bumi, 
jikalau kalian
meminta surga maka mintalah surga firdaus karena dia marupakan surga yang 
berada paling utama dan
yang paling tinggi, di atasnya terdapat 'arsy Allah dan darinya mengalir 
sungai-sungai surga" 
(H.R. Bukhari).


Keutamaan Mati Syahid di Jalan Allah :

Anas RA meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda : "Tiada seorangpun yang telah 
masuk surga lalu ingin
kembali ke dunia untuk memperoleh sesuatu yang ada di dalamnya kecuali orang 
yang mati syahid
(syuhada). Dia berharap untuk kembali ke dunia sehingga terbunuh kembali 
(sebagai syahid) sebanyak
sepuluh kali, karena apa yang didapatkannya dari kemuliaan (bagi para 
syuhada)." (H.R Bukhari dan
Muslim)

para syuhada diberikan enam kemuliaan sebagaimana sabda Rasulullah SAW :  " 
Sesungguhnya para
syuhada mendapatkan enam kemuliaan di sisi Allah : Allah akan mengampuninya 
pada waktu darahnya
keluar pertama kali dari tubuhnya, diperlihatkan untuknya tempat duduknya di 
surga, diberi hiasan
dengan perhiasan iman, dinikahkan dengan tujupuluh dua orang bidadari dari 
surga, diselamatkan
dari siksa kubur, mendapatkan keamanan dari ketakutan yang sangat besar 
(kegoncangan di padang
mahsyar), dipakaikan baginya mahkota kerendahan hati yang sebutir mutiaranya 
lebih baik dari dunia
seisinya, dan diperbolehkan baginya untuk memberikan syafaat bagi tujuhpuluh 
orang kerabatnya ". 
(HR. Tirmidzi)


Orang Yang Tergolong Mati Syahid di Jalan Allah :

Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda :  " Orang yang 
teramasuk mati syahid
terbagi dalam lima golongan, yaitu Orang yang meninggal terkena wabah penyakit 
tha'un, orang yang
mati karena sakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang mati karena 
tertimpa benda berat,
dan orang yang mati karena perang di jalan Allah ". (H.R Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : "Orang yang 
teramasuk mati syahid
selain yang terbunuh di jalan Allah ada tujuh :  Orang yang meninggal terkena 
wabah penyakit
tha'un termasuk syahid, orang yang mati karena sakit perut termasuk syahid, 
orang yang mati
tenggelam termasuk syahid, orang yang mati karena tertimpa benda berat termasuk 
syahid, orang yang
mati karena luka (pada bagian dalam tubuh) di daerah sekitar pinggang termasuk 
syahid, orang yang
mati terbakar termasuk syahid, dan wanita yang meninggal karena melahirkan 
termasuk syahid ". (HR.
Abu Dawud dan Nasa'i)

Sa'id bin Zaid RA berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda :  " 
Barangsiapa yang terbunuh
karena membela hartanya maka dia syahid, siapa yang terbunuh karena membela 
agamanya termasuk
syahid, siapa yang mati terbunuh karena membela dirinya termasuk syahid, orang 
yang terbunuh
membela keluarganya termasuk syahid ". (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).


Namun mati syahid yang paling tinggi kedudukannya adalah mereka yang terbunuh 
di jalan Allah.
Sabagaimana firman Allah (Q.S. Ali Imran/3  : 168-170)

Dalam ayat ini jelas sekali bahwa yang dimaksud dengan syahadah (mati syahid) 
adalah meraka yang
telah berperang di jalan Allah SWT, yaitu untuk menegakkan agama-Nya. Dia 
berperang bukan untuk
mendapatkan harta rapasan perang (ghanimah) atau untuk kepentingan diri dan 
kelompoknya. Dia
berperang hanya untuk meninggikan kalimat Allah SWT.

Seseorang pernah mendatangi Rasulullah SAW lalu dia berkata :  “ Seorang 
laki-laki berperang
untuk mendapatkan harta rampasan perang (ghanimah), yang lainnya berperang agar 
terkenal dan yang
satunya lagi berperang agar dikatakan sebagai pemberani, siapakah diantara 
mereka yang berperang
di jalan Allah ?”.  Maka Rasulullah SAW menjawab : “Barang siapa yang berperang 
agar kalimat
Allah menjadi paling tinggi maka dialah yang telah berperang di jalan Allah”. 
(H.R. Bukhari)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata : “Apabila kamu berperang demi 
mempertahankan
negerimu karena dia adalah negeri Islam dan kamu ingin melindunginya lantaran 
dia negeri Islam,
maka inilah yang debut dengan perang di jalan Allah. Karena kamu berperang agar 
kalimat Allah
menjadi tinggi lagi mulia”.

Pernahkah kita melantunkan kalimat Al-mautu fi sabilillah asma amanina, mati di 
jalan Allah adalah
cita-cita kami tertinggi?.

Al-Imam Al-Syahid Hasan Al-Banna, pendiri Jamaah Al-Ikhwan Al-Muslimun (IM) di 
Mesir dalam
Majmu’ah Al-Rasail menyebutkan dalam pembahasan doa-doa ma’tsurat, sebelum 
menutup doanya
mengajarkan kepada para anggotanya agar membaca doa rabithah yang diantara 
isinya dalah permohonan
kepada Allah SWT agar bisa mati di jalan Allah. Sehingga banyak para aktifis 
dakwah membaca doa
rabithah ini setelah membaca dzikir dan doa ma’tsurat yang Al-Syahid susun.

Semoga kita diberikan kemuliaan mendapatkan syahadah (mati syahid), dan semoga 
saudara-saudara
kaum Muslimin kita khususnya di Jalur Gaza yang menjadi korban kebiadaban 
tentara teroris Israel
dicatat oleh Allah SWT sebagai para syuhada.  Amien ya Rabbal ‘alamien

Wallahu a’lam bishshsawab


Mati Syahid di Atas Tempat Tidur.
http://www.warnaislam.com/kajian/hadits/2009/1/25/48600/Mati_Syahid_Atas_Tempat_Tidur.htm

***

Aku yang siapkan generasiku
Aku yang lahirkan generasiku
Aku yang besarkan generasiku
Aku yang akan hantar generasiku menjemput syahidnya

Aku yang akan melakukan itu semua
Aku kesal kau lumpuhkan generasiku
Aku kesal kau bunuh generasiku
Aku kesal kau kerdilkan generasiku
Tapi aku sangat puas ketika generasiku syahid untuk menghancurkanmu
Dan aku tetap akan menyìapkan puluhan, ratusan, jutaan dan milyaran generasi 
untuk syahid
dijalanNya.

Aku tidak akan menyebut ini hanya sebagai krisis kemanusiaan
Aku juga tidak akan menyebutkan semua ini hanya perang internasional
Aku juga tidak peduli apa resolusi dari PBB
Karena aku tau, kau yahudi yang tetap akan yahudi
Dan aku pastikan, aku dan generasiku adalah pencarì syahid diseisi langit dan 
bumi milikNya

Aku akan meratap kepada Tuhanku
Aku akan meminta kepada Tuhanku
Aku akan memohon kepada Tuhanku
Agar kau dihancurkan sampai tak tersisa
Agar kau dibumihanguskan sampai tak berasap
Agar kau dihilangkan dari muka bumi

Kau sakitì generasiku
Maka kau telah merobek hati kami
Kau larang kami bertemu dengan Tuhan kami
Maka kau telah mengusik ketenangan jiwa-jiwa kami

Bersiap-siaplah generasiku
Tidak dalam terbangun dan tertidur.....bersiap siagalah
Kita hantarkan batu-batu pilihan Tuhan
Kita hantarkan tembakan-tembakan pilihan Tuhan
Kita hantarkan do'a-do'a kehancuran untuk mereka

Bangunlah generasiku digelap dan senyapnya lailmu
Bangunlah generasiku didinginnya subuhmu
Bergeraklah generasiku diterbitnya Duhamu
Berlarilah mengejar mereka direkahan mentariNya
Lemparkan batu-batu Tuhanmu ditinggi sinaran matahariNya
Kumpulkan cinta dan asamu diremangnya senja,
Dan bukalah hati, pendengaran dan matamu digelap malamNya
Dan bersamalah selalu dalam alunan surat cintaNya
Karena kita akan bertemu kembali dengan lail, subuh, duha, mentari dan matahari 
esok hari..
Dan karena akulah yang akan membangunkanmu kembali wahai generasiku....


Kutukan Para Bunda untuk Israel.
http://www.warnaislam.com/umum/puisi/2009/1/22/180/Kutukan_Para_Bunda_Israel.htm

***

  

Kirim email ke