> Date: Saturday, January 31, 2009, 8:21 AM > Berawal dari Ingin Tahu
> KOELN - Pengalaman batin para mualaf Jerman umumnya dimulai > dari rentetan pertanyaan seperti dialami Sarah, yang bernama > asli Sabine Leinkeit, 48 tahun. "Saya tidak habis > pikir, bagaimana orang rela membunuh dirinya demi agama. Ada > apa rupanya dengan Islam," katanya mengingat saat-saat > dia menyaksikan tayangan berita 11 September 2001, yang > menghancurkan menara kembar WTC. > > Ibu dua anak itu mencari jawaban di Internet yang justru > membuatnya tertarik mempelajari Islam sampai delapan jam > sehari. "Kebenaran yang benar-benar saya rasakan di > hati," kata Sarah, yang kemudian bertemu dengan Ahmed, > seorang pemuda Mesir, yang menjadi guru Islamnya yang > pertama. > > Keingintahuan Nicola-Zeyneb Trostorss, 42 tahun, berawal > dari perkenalannya dengan pemuda Turki di tempat kerjanya. > Bekas manajer perusahaan karpet itu terkesan oleh sang > pemuda yang, di matanya, amat baik hati. Saat makan siang > bareng, ia kerap ditawari roti Turki. "Tapi dia menolak > saya tawari sandwich. Padahal isinya ayam. Menurut dia, > karena ayamnya disembelih bukan atas nama Allah. Saya > melongo," kata Zeyneb sambil tertawa mengingat kejadian > itu. > > Zeyneb, yang kala itu berusia 25 tahun, mengingat dirinya > sebagai wanita bebas, yang sejak berusia 16 tahun sudah jadi > perokok serta gemar minum minuman beralkohol dan berkonvoi > motor besar bersama teman-temannya. > > Ketika sang pemuda pamit untuk berjihad di perang Bosnia, > ia mempunyai satu permintaan kepada Zeyneb. "Pergilah > ke masjid. Di situlah tempat yang paling baik untuk belajar > tentang Islam," katanya. Ditemani sang ibu, ia datang > ke sebuah masjid. "Saya terkesan sekali oleh > keramahtamahan para muslimah di sana. Terus terang, saya > jatuh cinta pada atmosfer masjid. Hati saya terasa nyaman > sekali," katanya. > > Tak semua orang tua Jerman shocked pada pilihan hidup > anaknya, memang. Setidaknya itu yang dibuktikan Max-Bilal > Heidelberger, 29 tahun. Sejak 14 tahun Bilal--begitu nama > Islamnya--sudah tertarik mempelajari huruf Arab. > "Bahasa Arab terkenal di dunia dan saya ingin > menguasainya," kata Bilal mengenang. Menguasai bahasa > Arab memang tidak berarti meyakini Islam. > > Ia tertarik memperdalam Islam setelah Habib--pemuda Maroko > yang mengunjunginya di Jerman--mengajaknya ke masjid. Ia > ditunjukkan cara berwudu dan bersembahyang di masjid. > "Semula saya mengira begitulah perilaku sopan di dalam > masjid," kata Bilal. Dan pengalaman pertamanya itu amat > berkesan. "Saya terpesona oleh adab masjid: semua orang > duduk di lantai dan mendengarkan khotbah. Juga suasana > persaudaraan di situ. Saya merasa ketertarikan pada Islam > mulai memasuki hati saya. Rasanya seperti masuk ke dunia > baru," ujar Bilal. SRI PUDYASTUTI BAUMEISTER (JERMAN) > > > > http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/01/31/Internasional/krn.20090131.155395.id.html >

