Pertanyaan klasik yang sering muncul, Indonesia merupakan negara berpenduduk mayoritas beragama Islam, tapi mengapa partai-partai Islam tidak menang dalam pemilu ?.
Ada pendapat, jawaban atas pertanyaan itu sederhana saja : Islam (politik) di Indonesia tidak tunggal. Ideologinya "sama", tapi pemaknaannya variatif, simbol dan figur-figurnya beraneka. Bagi Dr. Kuntowijoyo, Islam itu berdimensi banyak, tapi politik berdimensi tunggal. Dimensi tunggal politik myopic (kacamata kuda) kepentingan. ”Kalau sudah kena politik, kepentinganlah yang mengedepan. Jadi, tidak aneh kalau secara politik jumlah partai Islam lebih dari satu, dengan beragam kepentingan yang kerap berbeda-beda”, kata Alfian dalam tulisannya, ”Partai Islam atau Islamis ?” (Tempo, 11 Juli 2008). Eksperimentasi wadah tunggal organisasi Islam pernah terjadi pada era sebelum kemerdekaan. Para tokoh berbagai organisasi Islam pada 1937 mendirikan MIAI atau Majelis al-Islam A'la Indonesia. KH Hasyim Asy'ari (NU) merupakan inisiator awal ide badan kerja sama ini, dan berhasil menarik minat kalangan "modernis", seperti KH Mas Mansur (Muhammadiyah) dan Wondoamiseno (Sarekat Islam). MIAI bergerak secara politik, mengkoordinasikan berbagai kegiatan dan menyatukan umat Islam menghadapi politik penjajah Belanda, antara lain dengan menolak undang-undang perkawinan dan wajib militer bagi umat Islam. KH Hasyim Asy'ari menjadi ketua badan legislatif dengan 13 organisasi tergabung dalam MIAI. Setelah Jepang datang, MIAI berganti menjadi Masyumi. Masyumi baru menjadi partai politik (Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia) pada 7 November 1945 di Yogyakarta, sebagai hasil Kongres Umat Islam. Ada delapan ormas Islam pendukung Masyumi saat itu : NU, Muhammadiyah, Persatuan Islam (Persis), Persatuan Umat Islam (PUI), Al-Irsyad, Mai’iyatul Wasliyah, Al-Ittihadiyah, dan Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA). Sarekat Islam atau Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) juga bergabung, namun tahun 1948 PSII menyatakan keluar dari Masyumi. Pada 1952, NU juga keluar dari Masyumi. Akibatnya, pada Pemilu 1955, hadir banyak partai Islam: Masyumi, NU, PSII, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), PPTI, dan AKUI. Total suara yang diperoleh partai-partai Islam itu di DPR 43,9 persen atau 116 kursi. Yang terbesar adalah Masyumi, 20,9 persen suara atau 57 kursi (sebanding dengan PNI), dan NU, 45 kursi (18,4 persen suara). Pada masa Orde Baru terjadi fusi atau penyederhanaan partai. Partai-partai Islam ”terpaksa” atau ”dipaksa” bergabung ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP). PPP bersaing dengan Golongan Karya (Golkar) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI), dan selalu memperoleh posisi kedua setelah Golkar dalam pemilu-pemilu Orde Baru. Menurut catatan peneliti politik LIPI, Lili Romly, PPP memperoleh suara tertinggi pada Pemilu 1977, 29,3 persen, dan terendah pada 1987 dan 1992, masing-masing 16 persen. Pada pemilu pasca Orde Baru, raihan suara parpol Islam tidak menggembirakan.. Pada Pemilu 1999 gabungan suara parpol Islam hanya 17,8 persen. Pada Pemilu 2004 naik menjadi 21,17 persen. Melihat data-data itu, menurut Lily Romli, dapat ditarik kesimpulan, secara kuantitas kekuatan politik Islam bukanlah mayoritas. Bahkan hasil Pemilu 1955 juga menunjukkan kekuatan parpol Islam masih kalah.. Ketika itu kelompok politik sekuler meraih 61 persen suara. Sedangkan kelompok politik islamis hanya sukses meraup 29,9 persen (Media Indonesia Online, 23 Juli 2008). Menurut pengamat politik Bachtiar Effendy, partai Islam diyakini tidak akan menjadi pemenang pemilihan umum. Perolehan terbanyak partai-partai Islam dalam sejarah, menurut catatannya, hanya 42,5 persen pada Pemilu 1955 (Tempo Interaktif, 15/10). Tampaknya, politisi Islam mesti melakukan studi banding ke Turki, guna mempelajari kiat sukses partai AKP yang kini berhasil berkuasa di negara bekas pusat Khilafah Islam Utsmani itu. AKP berhasil mengantarkan kadernya, Abdullah Gul, sebagai Presiden Turki dan Racep Thayib Erdogan sebagai Perdana Menteri. Menurut sejumlah pengamat, kunci sukses AKP, selain bersatunya politisi Islam dalam satu wadah (AKP), juga utamanya karena keteladanan para petinggi partai, menaati ajaran Islam dan memunculkan akhlak Islami, dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Keteladanan itulah yang menjadi daya tarik, pengundang simpati, vote getter, bagi umat Islam Turki. Bagaimana dengan teladan para tokoh parpol Islam di Indonesia ?. Wallahu a’lam. Tidak Memilih Parpol Islam http://www.warnaislam.com/blog/jurnalistik/2009/2/17/48660/Tidak_Memilih_Parpol_Islam.htm *** Apa yang dicapai Erdogan sekarang ini sesungguhnya bukanlah hasil sulapan semalam, namun hasil dari proses keteladanan, kesungguhan, dan keteguhan politik Islam di Turki sekuler. Model perjuangan para politisi Islam dan juga partai politik Islam di Turki modern banyak menginspirasi partai-partai Islam di berbagai negara di dunia. Keberanian Perdana Menteri Turki, Recep Tayyib Erdogan (Rajab Thoyib Erdogan), mendamprat Presiden Zionis-Israel, Shimon Perez, dalam pertemuan Davos, Januari lalu mengagetkan seluruh dunia. Bukan saja membuat kagum para akivis kemanusiaan dunia, namun juga membuat merah telinga Shimon Perez sendiri yang sangat terlihat dari ‘gestur’ wajahnya yang tertekan saat Erdogan meninggalkan begitu saja podium tanpa menyalami Perez. Banyak orang Islam di berbagai negeri mengeluh, mengapa bukan para pemimpin Arab yang bersikap demikian, mengapa bukan para raja-raja dan pangeran Saudi dan juga Presiden Mesir yang mampu bersikap jantan seperti itu, mengapa mereka malah memperlihatkan sikap pengecut terhadap Zionis-Israel ?. Liga Sekjen Arab, Amr Mousa sendiri, menyatakan salut dengan Erdogan, “Saya rasa tidak ada satu pun orang Arab yang berani bertindak seperti Erdogan !”. Di Indonesia, banyak kalangan menyatakan mengapa bukan SBY yang berani bersikap demikian ? . Pertanyaan itu dijawabnya sendiri, “ Jangankan berani mendamprat Zionis secara langsung, menghadapi pernyataan kontroversial salah seorang petinggi Demokrat yang membuat kuping Golkar merah saja sudah kalang-kabut ”. Nyali pemimpin seperti itu sudah bisa terbaca ketika Bush mau berkunjung ke Bogor beberapa tahun lalu. Ketika itu SBY amat sangat berlebihan dalam menyambut Bush, merusak sebagian lahan Kebun Raya Bogor untuk dibangun Helipad yang akhirnya tidak dipakai Bush, menempatkan tentara berseragam dengan perlengkapan tempur garis pertama dalam jarak setiap dua meter mengepung rapat istana Bogor, bagaikan seorang lurah di pedesaan yang menyambut kehadiran seorang Kaisar Dunia. Sebab itu dia dilecehkan Bush, yang dengan nakalnya meloncat keluar dari mobilnya saat berhenti tepat di depan SBY. Dari podium pertemuan Davos tersebut, Erdogan langsung pulang ke Turki. Di negerinya, Erdogan disambut bagaikan pahlawan besar. Turki modern telah menorehkan sejarahnya sendiri dengan tinta emas, dan mengatakan kepada dunia, jika Turki adalah sebuah bangsa yang besar dan berani membela keadilan dan kebenaran. Padahal dunia juga tahu jika Turki Modern adalah Turki yang masih menjunjung tinggi asas sekularisme, bersahabat dekat dengan Uni Eropa dan Amerika, membuka hubungan diplomatik dengan Zionis-Israel, dan sebagainya. Namun siapa tahu, jauh di lubuk hati orang-orang Turki, mereka sungguh-sungguh mendambakan sebuah Turki yang sangat gemilang saat Turki masih menjadi sentral bagi kekhalifahan Islam. Apa yang dilakukan Erdogan terhadap tokoh Zionis tersebut seolah mengulangi sebuah episode sejarah keemasan Turki saat dipimpin oleh Khalifah Sultan Abdul Hamid II di awal abad ke-20. Saat itu Theodore Hertzl, pemimpin Gerakan Zionis Internasional, mendatangi Abdul Hamid untuk meminta agar Turki Utsmani mau membagi sebagian tanah Palestina untuk dijadikan negara Israel. Permintaan Hertzl ini disertai dengan bujuk rayu dan janji, jika keinginannya dituruti maka Turki dan juga Sultan Abdul Hamid II akan diberi hadiah sangat besar oleh gerakan Zionis Internasional. Namun dengan sikap tegas Abdul Hamid mengusir Hertzl seraya berkata, “Turki tidak akan pernah sekali pun menyerahkan Tanah Palestina kepada kamu hai orang-orang Yahudi. Tanah Palestina bukanlah milik Turki, melainkan milik seluruh umat Islam dunia. Jangan bermimpi bisa menginjak Tanah Palestina selama saya masih hidup !”. Sebab itu, Hertzl dan para tokoh Zionis lainnya merancang suatu konspirasi untuk menghancurkan kekhalifahan Islam Turki Utsmani sehingga kekhalifahan ini benar-benar ambruk pada tahun 1924 dan Turki pun diubah menjadi negeri Sekuler. Salah satu konspirasi Zionis adalah dengan menggandeng ‘Abdul Wahab’ untuk memberontak terhadap Turki Utsmaniyah dan mendirikan ‘Kerajaan Arab Saudi’, suatu ‘monarki absolut’ yang sesungguhnya merupakan suatu bentuk pemerintahan yang bertentangan dengan Sunnah Rasul SAW alias Bid’ah Kubro. Sebab itu, sampai hari ini para pemimpin Saudi Arabia bisa bermesra-mesraan dengan kaum Zionis, baik yang Israel maupun yang Amerika, namun menyimpan kecurigaan yang berlebihan terhadap kelompok-kelompok perjuangan yang ingin membela izzah Islam seperti HAMAS dan sebagainya. Sebab itu pula, ketika sekolah-sekolah di Turki yang notabene mengaku Sekular setiap hari mengumpulkan amplop berisi sumbangan uang para murid untuk diberikan kepada rakyat Palestina di jalur Gaza yang tengah dibantai Zionis-Israel, lembaga-lembaga pendidikan yang berkhidmat pada penguasa Saudi model seperti ini —termasuk yang berdiri di Indonesia— tidak tergerak hatinya untuk turut menyumbangkan amplop berisi uang kepada rakyat Palestina. Bahkan di masjid-masjid, ketika umat Islam mendirikan sholat ghaib bagi Muslim Palestina, para taklid-buta Saudi ini ‘tidak bersedia’ melakukannya dengan alasan bid’ah. Naudzubillah min dzalik !. Ada sebuah hadits Rasulullah SAW tentang hari akhir yang berbunyi, “Kamu akan akan memerangi Semenanjung Arabia, lalu Allah akan menaklukkannya untukmu. Setelah itu Persia, di mana Allah akan menaklukkannya untukmu. Kemudian Rum, di mana Allah akan menaklukkannya untukmu. Kemudian kamu akan memerangi Dajjal, dan Allah akan menaklukkannya untukmu”. (HR. Muslim). Adakah hadits tersebut memerintahkan pasukan Muslim di bawah komando Imam Mahdi untuk menghancurkan para pemimpin Saudi yang kelakuannya seperti sekarang ini ?. Wallahu’alam bishawab. Semoga saja tidak dan semoga saja tidak semua pemimpin Saudi dan para pengikutnya seperti itu. Amin. Politik Islam Turki. Saat ini Erdogan mendapat nama yang harum, bukan saja di mata rakyat sipil Turki, namun juga di mata para pemimpin militer Turki yang selama ini dikenal sebagai penjaga garis Sekulerisme paling gigih dan konservatif. Padahal, mereka tahu semua jika Erdogan berasal dari partai yang kental dengan Islam dan memiliki seorang isteri yang juga menutup aurat. Apa yang dicapai Erdogan sekarang ini sesungguhnya bukanlah hasil sulapan semalam, namun hasil dari proses keteladanan, kesungguhan, dan keteguhan politik Islam di Turki sekuler. Model perjuangan para politisi Islam dan juga partai politik Islam di Turki modern banyak menginspirasi partai-partai Islam di berbagai negara di dunia. Dalam tulisan kedua akan dipaparkan sejarah awal Turki sekuler dan awal kembang-tumbuhnya partai Islam di sana. (bersambung) Berkaca Pada Politik Islam Turki (1). http://www.eramuslim.com/berita/laporan-khusus/berkaca-pada-politik-islam-turki-1.htm *** Tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah klik http://www.SyaikhAchmadSyaechudin.org ____________________________________________________________________ Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! http://id.yahoo.com/

