----- Original Message -----
From: DKM Nurul Yaqin
To: mjny
Sent: Saturday, February 28, 2009 1:42 PM
Subject: < MJNY > Membangun Indonesia Melalui Sadar Pendidikan
Membangun Indonesia Melalui Sadar Pendidikan
Written by Rahmat Arafah Al - Madany *
*Penulis adalah mahasiswa International Islamic Call College Tripoli Libya
Saturday, 28 February 2009
www.nurulyaqin.org
Ilmu pengetahuan merupakan pondasi utama memajukan sebuah
bangsa dan Negara. Suatu bangsa dan Negara yang mengabaikan akan pentingnya
sebuah pendidikan bagi generasi penerus, maka bangsa tersebut akan lemah dalam
segala hal, maka bangsa tersebut akan selalu hidup dalam kemunduran tanpa
adanya kemajuan yang sangat berarti. Indonesia yang meupakan penduduk yang
mayoritas muslim, bahkan dapat disinyalir bahwa Indonesia merupakan Negara
terbesar di dunia yang kapasitas penduduknya beragama Islam. Sebagai pemeluk
agama yang setia, kita dapat mempelajari betapa Islam begitu besarnya membrikan
perhatian terhadap pendidikan. Hal ini dapat kita pelajari dari wahyu yang
pertama kali diturunkan oleh Allah SWT kepada baginda besar Muhammad SAW yaitu
surat Al-'Alaq ayat 1-5 yang artinya " bacalah dengan (menyebut) nama tuhanmu
yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dri segumpal darah. Bacalah,
dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia
mengajarkan manusia apa yang ia tidak diketahuinya".
Kekuatan yang dimiliki ummat dan kemenangan yang selalu dijanjikan Allah
SWT kepada mereka, bukan hanya bertumpu pada sisi aqidah atau ibadah saja dan
tanpa diiringi dengan ilmu pengetahuan Islam dan ekspansi kebaikan atau amal
islami dalam kehidupannya. Namun, kekutan dan kemenangan itu tegak kokoh di
atas tiga pilar yang satu sama lain tidak boleh terpisahkan yaitu, iman, ilmu
dan amal (ibadah), dan saat ini, ketika ummat mulai meninggalkan tsaqafah
islamiah dan ilmu pengetahuan lainnya yang bermanfaat, maka kekuatan dan
kemenangan tersebut berangsur-angsur akan hilang dan pada akhirnya digantikan
dengan ketidakberdayaan serta kelemahan. Sebagaimana Allah nyatakan dalam
firman-Nya. ".Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan
orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang
dapat menerima pelajaran." (az-Zumar: 9) ".niscaya Allah akan meninggikan
orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan." (al-Mujaadilah: 11), mengenai hal ini, Imam Syafi'i berkata,
"Sesungguhnya jati diri seorang pemuda-demi Allah-ada dalam ilmu dan
ketakwaannya. Apabila keduanya tidak ada dalam dirinya, maka ia bukanlah pemuda
sebenarnya."
Ilmu merupakan kekuatan, siapa yang paling unggul ilmunya dialah yang
memimpin. Sekarang peradaban yang menguasai dunia adalah peradaban Barat. Ini
logis, sebab Baratlah yang menguasai iptek dan science. Berkaitan dengan inilah
tatkala Allah SWT memberikan isyarat tentang pengembangan ilmu pengetahuan di
dalam Kitab Suci-Nya, Dia menyeru tidak secara khusus ditujukan kepada
orang-orang beriman, namun seruan-Nya dilakukan secara umum kepada seluruh
jamaah jin dan manusia, sehingga siapa yang lebih dahulu melakukan observasi,
kajian dan pengembangan, maka dialah yang mendapatkannya (QS. Ar Rahman,
55:33).
Pada masa silam para ulama umat Islam selain memiliki penguasaan terhadap
ilmu-ilmu agama, mereka juga menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan umum
yang berorientasi pada pengembangan sarana kehidupan.
Sebagai contoh Ibnu Sina misalkan, yang di Barat disebut dengan
Avecienna, selain seorang ulama yang pakar dalam bidang kedokteran sesungguhnya
dia juga menulis buku-buku tentang fiqih, tafsir dan akidah.
Al Qur'an sebagai Way of Life orang-orang Islam, padanya paling tidak ada
3 tipe ayat, yang apabila kaum Muslimin mensikapinya secara benar dan
proporsional, bisa jadi akan menghantarkannya pada kejayaan, kemajuan dan
supremasi. Ketiga tipe ayat itu adalah:
Pertama, ayat-ayat tentang keimanan dan keyakinan kepada yang ghaib,
seperti iman kepada Allah, malaikat, takdir/qadha, hari Kiamat, pahala, dosa,
surga, neraka dan sebagainya. Terhadap masalah yang seperti ini pendekatan
yang harus dilakukan adalah dengan menggunakan hati, yaitu iman.
Kedua, ayat-ayat yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan
isyarat-isyaratnya. Terhadap masalah ini pendekatannya adalah dengan
menggunakan akal, yaitu dipikirkan, diobervasi, dikaji, dan dikembangkan
sehingga lahirlah science dan teknologi.
Ketiga, ayat-ayat tentang hukum dan undang-undang. Terhadap ayat-ayat
yang seperti ini kewajiban umat Islam adalah melaksanakan dan menegakkannya.
Pendekatan yang benar dan proporsional akan melahirkan umat yang memiliki
keimanan yang kokoh, cerdas dan berilmu pengetahuan dan percaya diri dan bangga
dengan identitas dirinya. Inilah modal utama ke arah kejayaan dan supremasi
Umat Islam.
Dalam kenyataannya umat ini justru mengalami kelemahan dalam hal itu
semua. Walhasil umat sekarang dalam keadaan hina, mundur dan terkebelakang,
sebagai konsekwensi jauhnya mereka dari tuntunan dan pedoman hidupnya: "Apakah
kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang
lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan
kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan
kepada siksa yang sangat besar. Allah tidak lengah dari apa yang mereka
perbuat." (QS. Al Baqarah:85)
Sebenarnya, negara-negara Islam belum sepenuhnya keluar dari cengkeraman
para negara agresor dan penjajah, seperti Indonesia, Tunisia, Siria, Mesir, dan
negeri-negeri yang lainnya. Mereka masih terjajah. Tidak kah mereka membawa
empat slogan yang selalu didengung-dengungkan? Yaitu, God (Tuhan atau
penyebaran agama), Gold (Emas), Gospel (kekayaan), dan Glory (kejayaan). Empat
tujuan ini masih mereka nikmati, meskipun mereka telah hengkang dari
negeri-negeri jajahannya. Maka meskipun secara fisik dunia Islam tidak
terjajah, namun setiap dimensi kehidupan ummat masih dalam cengkeraman
konspirasi mereka. Dan konspirasi mereka inilah yang dewasa ini dikerjakan oleh
tangan-tangan LSM-LSM dan Yayasan-yayasan yang digerakkan oleh anak-anak muslim
yang sudah dicuci otaknya dan yang didanai oleh mereka, para penjajah. Seperti
Freemansory, Rotary Club, Lion Club, LSM sosialis komunis dan yang lainnya.
Mereka bergerak sesuai keinginan donatur-donatur mereka yang semuanya ingin
memberangus kebenaran Islam.
Setelah peperangan usai dan para penjajah hengkang dari bumi ummat
Islam, namun negara-negara ketiga yang notabane negeri muslim semakin hari
semakin terbelakang dan terpuruk dalam bidang iptek dan industri. Ini juga
merupakan langkah-langkah strategis yang dilakukan pihak Barat dan musuh-musuh
Islam yang tidak pernah ingin melihat ada satu negara muslim yang berkembang
dan mengalami kemajuan. Mari kita renungkan beberapa komentar dan pernyataan
para orientalis berikut ini;
Salah seorang pejabat pada Kementerian Luar Negeri Perancis pada
tahun 1952 mengatakan: "Bahaya yang sebenarnya mengancam kita adalah Islam.
Untuk itu marilah kita beri apa yang dibutuhkan oleh dunia Islam serta
menanamkan pada diri mereka perasaan ketidakmampuan untuk menjadi negara
industri. Apabila kita lemah dalam pelaksanan strategi tersebut, maka
kemungkinan besar ummat Islam mencapai kemajuan dan menjadi salah satu kekuatan
raksasa di dunia untuk ke dua kalinya."
Bekas dictator Portugal, Salazar berkata: "Saya khawatir akan muncul
ditengah umat Islam seorang tokoh yang mampu menyatukan potensi mereka dan
mengarahkannya kepada kita."
Mungkin kita bisa bertanya; dimanakah posisi negara-negara muslim dewasa
ini? Di saat negara-negara modern telah berbicara tentang berbagai revolusi
besar yang hendak dijalankan; revolusi teknologi, revolusi biologi (geneologi,
cloning, penemuan peta gen manusia dan lain sebagainya), revolusi elektronik,
revolusi ruang angkasa, revolusi komunikasi, informasi dan seterusnya. Di mana
posisi kita di tengah negara maju ini?
Dalam bidang pemikiran, para penjajah melahirkan antek-antek mereka dari
anak-anak negeri untuk mempengerahui ummat Islam tentang cara berfikir yang
benar. Mereka mengajak kembali kepada paradigma yang dimiliki oleh para
penjajah tersebut bukan kembali kepada Islam. Dengan dalih mereka telah
menemukan kemajuan dan sementara dunia Islam dalam kegelapan ilmu pengetahuan.
Jadi mereka menyerukan genarasi-generasi muslim untuk berkiblat kepada
nilai-nilai yang diyakini para penjajah. Dan nilai-nilai ini bersandarkan
kepada keyakinan, filsafat dan adat istiadat yang berkembang di tengah mereka.
Sehingga tanpa disadari atau tidak, kita selaku ummat islam mulai menafikan
akan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai pegangan dan pedoman dalam hidup.
Bahkan kita melihat banyak dari kalangan umat ini yang bangga dengan
referensi Barat dalam bidang keilmuan yang seharusnya tidak layak untuk
dijadikan sebagai referensi maupun rujukan utama. Seperti dalam bidang
psikologi yang mengacu kepada pendapat Sigmun Freud, bidang sosiologi dan moral.
Seharusnya, umat ini ketika menjadikan Islam sebagai referensi utama,
mereka harus kembali kepada Al-Quran, Al-hadits, Ijma', Perkataan Sahabat,
Perkataan Tabi'in dan dalil-dalil yang dibenarkan dan diakui dalam terminology
istinbat dan ijtihad.
Dari hasil kerja para penjajah sebelum mereka meninggalkan negara-negara
jajahannya adalah keterbelahan jiwa ummat dalam memegang tali Allah SWT. Mereka
menjadi minder ketika disebut muslim, mereka malu dan merasa terbelakang
apabila ditanyakan tentang identitas dirinya sebagai muslim. Padahal seharusnya
mereka berani menunjukkan dengan jelas apa identitas mereka dan siapa mereka?
Hal ini dikarenakan seorang muslim memiliki identitas yang khas, kepribadian
independen dan loyalitas yang jelas. Ia adalah pemilik risalah bumi dan pemikul
panji dakwah universal yang berkarakter rabbaniah, insaniah dan akhlakiah.
Dampaknya dari itu semua, Rasulullah dan para sahabat tidak lagi
dijadikan panutan dan suri tauladan dalam kehidupan sehari-hari. Kita lebih
bangga dengan budaya yang dikembangkan dan diperkenalkan oleh dunia Barat
kepada negara-negara muslim, khususnya Indonesia
Untuk menghadapi berbagai problematika umat dewasa ini, baik yang
bersifat permanen dan inheren maupun yang bersifat kontemporer karena faktor
eksternal, maka seluruh Umat Islam harus membangun kembali kesadaran akan
agamanya dan mengaplikasikan nilai-nilainya dalam setiap dimensi kehidupannya.
Ada tiga fokus yang sangat mendasar, dimana setiap individu muslim harus
memperbaiki dirinya dalam hal ini.
Pertama, Memiliki ilmu pengetahuan.
".Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang
yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima
pelajaran." (az-Zumar: 9)
".niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (al-Mujaadilah: 11)
Imam Syafi'i berkata, "Sesungguhnya jati diri seorang pemuda-demi
Allah-ada dalam ilmu dan ketakwaannya. Apabila keduanya tidak ada dalam
dirinya, maka ia bukanlah pemuda sebenarnya."
Kedua, Belajar secara kontinyu.
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah
orang-orang yang beruntung." (Ali 'Imran: 104)
Ketiga, Berjuang sepanjang masa.
"Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah
Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.Dan
berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah
memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu
kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai
kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al
Qur'an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua
menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah
zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka
Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong." (al-Hajj: 77-78)
Akhirnya, kita hanya bisa berdoa dan berharap semoga kita termasuk
orang-orang yang memulai untuk berbenah diri dalam menghadapi berbagai
problematika ummat sekarang ini.
Allah wa Rasuluh A'lam Bishshawab
Tripoli, 26 Februari 2009, 11.30pm
*Penulis adalah mahasiswa International Islamic Call College Tripoli Libya
=================================================
Rasulullah SAW bersabda:
"Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh aku bermaksud hendak
menyuruh orang-orang mengumpulkan kayu bakar, kemudian menyuruh
seseorang menyerukan adzan, lalu menyuruh seseorang pula untuk menjadi imam
bagi orang banyak. Maka saya akan mendatangi orang-orang yang tidak ikut
berjama'ah,
lantas aku bakar rumah-rumah mereka." (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu
Hurairah RA).
=================================================
Salurkan Zakat, Infaq dan Sodaqoh (ZIS) anda
ke Bank Syariah Mandiri, Capem Cikarang
Acc/No : 005-017-6791
Acc/Name : DKM Masjid NURUL YAQIN
Hotline Bendahara MJNY : 0816-1894727
Hotline Koord. Komitmen Bulanan : 021-70911172
Website : www.nurulyaqin.org
Email : [email protected]
=================================================
[Non-text portions of this message have been removed]