Artikel Khutbah Jum'at :
Kewajiban Kita Berpartisipasi Dalam Dakwah Ilallah
Selasa, 16 Maret 04

Jamaah Jum’at yang berbahagia.
Pada jum’at yang berbahagia ini, mari kita sama-sama memanjatkan puji
dan syukur kepada Allah yang telah memberikan kekuatan kepada kita
berupa kesehatan, untuk memenuhi panggilanNya, yaitu menunaikan ibadah
shalat Jum’at. Shalawat dan salam kita berikan kepada nabi besar
Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam yang telah menuntun umat manusia
dari jahiliyah, yang penuh kegelapan menuju Islam yang terang
benderang, dan juga kepada para sahabatnya serta para generasi
selanjutnya yang memperjuangkan Islam hingga akhir zaman nanti.

Mari kita sama-sama meningkatkan rasa taqwa kita kepada Allah yang
selalu melihat gerak-gerik kita, dengan sebenar-benar takwa, Dengan
menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya.
Dalam kesempatan ini, saya selaku khatib ingin membahas sebuah tema
yang sangat penting sekali dan dibutuhkan oleh umat Islam yaitu:
Kewajiban kita berpartisipasi dalam dakwah Islamiah.

Jamaah Jum’at yang berbahagia.
Sebelum membicarakan pokok permasalahannya, sebaiknya kita memahami:
Apa itu dakwah? Dakwah secara bahasa adalah berarti seruan, dan ajakan
(kamus Ash Shihah 6/2336, kamus Mu’jamul Wasit 1/286). Adapun menurut
istilah pengertiannya banyak sekali, di antaranya adalah menurut
syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Dakwah adalah mengajak seseorang agar
beriman kepada Allah dan yang dibawa oleh para rasulNya dengan cara
membenarkan apa yang mereka beritakan dan mengikuti apa yang mereka
perintahkan (Majmu’ Fatawa oleh Syaikul Islam Ibnu Taimiyah 15/157).

Semua umat Islam sepakat bahwa dakwah adalah amalan yang disyariatkan
dan masuk kategori fardhu kifayah. Tidak boleh kategori diabaikan,
diacuhkan, dan dikurangi bobot kewajibannya. Hal itu disebabkan
terdapat banyak perintah dalam Al-Qur’an dan As Sunah untuk berdakwah
dan amar ma’ruf nahi mungkar, seperti firman Allah:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebaikan, memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang
mungkar.” (Ali Imran:104).

Ayat ini bersifat umum dan merupakan kewajiban atas setiap individu
untuk melaksanakannya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
Huruf (من) disitu berarti penjelas. Kalau menjadi penjelas maknanya
jadilah kamu wahai kaum mukminin sebagai umat yang menyeru kepada
kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar
(lihat Jami’ul Bayan oleh At-Thabary 4/26). Atau sebagaimana yang
dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir, maksud dari ayat ini adalah
jadilah kamu sekelompok orang dari umat yang melaksanakan kewajiban
dakwah. Kewajiban ini wajib atas setiap muslim, sebagaimana hadits
shohih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah,
telah bersabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam , “Barangsiapa
yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya,
kalau tidak mampu, hendaklah mengubah dengan lisannya, kalau tidak
mampu hendaklah mengubah dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah
iman.” Dan pada riwayat lain, “Dan setelah itu tidak ada iman
sedikitpun.” (Lihat Tafsil Al-Qur’an Al-‘Azhim, oleh Al-Hafizh Ibnu
Katsir, 1/390).

Jamaah Jum’at yang berbahagia.

Ingatlah, wahai kaum muslimin bahwa dakwah Ilallah merupakan kewajiban
yang disyari’atkan dan menjadi tanggung jawab yang harus dipikul kaum
muslimin seluruhnya. Artinya setiap muslim dituntut untuk berdakwah
sesuai kemampuannya dan peluang yang dimilikinya. Oleh sebab itu
wajiblah bagi kita untuk semangat berpartisipasi dalam berdakwah
menyebarkan Islam ke mana saja dan di mana saja kita berada.

Dakwah dan amar ma’ruf merupakan prasyarat khairu ummah. seandainya
umat ini tak mau berdakwah, maka akan mengalami kerugian dan
kemunduran dalam pelbagai aspek kehidupan. Sebab mulianya umat dengan
dakwah, dan kerugiannya akibat meninggalkan dakwah. Allah berfirman:

”Kamu semua adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia menyuruh
kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada
Allah.” (Ali Imran: 110).

Jadi dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah akan memberikan predikat
yang terbaik kepada umat manusia bila memenuhi tiga syarat yaitu:

1. Menyuruh kepada yang ma’ruf
2. Mencegah dari yang mungkar, dan
3. Mau beriman kepada Allah. Jamaah Jum’at yang berbahagia.

Dakwah merupakan pekerjaan terbaik, hal itu sesuai dengan firman Allah:

“Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru
kepada Allah, mengerjakan amal shalih dan berkata sesungguhnya aku
termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Fushshilat: 33).

Adapun orang yang berdakwah karena hanya ingin mengharapkan ridha
Allah dalam dakwahnya, maka Allah akan memberikan padanya balasan yang
setimpal. Hal itu sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi
wa Salam :

لِأَنْ يَهْدِيَكَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ
يَكُوْنَ لَكَ مِنْ حُمُرِ النَّعَمِ. (رواه مسلم).

  “Sungguh jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui engkau
(dakwah engkau) maka itu lebih baik bagimu daripada engkau memiliki
onta merah.” (Hadits shahih riwayat Muslim dalam kitab fadha’il, no.
2406).

Jadi, karena dakwah merupakan perbuatan terbaik dan pelakunya akan
dibalas dengan balasan yang besar. Maka dengan segera Rasulullah tetap
tegar dalam dakwah, walau diganggu, dipersulit dan meskipun akan
dibunuh tidaklah hal itu menghalangi beliau dalam berdakwah demi
tegaknya dien Islam.

Para da’i hendaknya menyadari bahwa ancaman, intimidasi, dan teror
serta ancaman bunuh dari musuh adalah sunnatullah yang sudah dialami
para nabi sebelum Nabi Muhammad dan hal itu akan berlanjut sampai hari
Kiamat.

Jamaah Jum’at yang berbahagia.

Marilah kita sejenak merenung dan meresapi untaian di bawah ini. Apa
yang dialami Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam dan para sahabat
dalam berdakwah? Mereka disiksa, diteror ada yang dibunuh, bahkan ada
pula yang diembargo ekonomi dalam jangka waktu yang lama. Mereka
sempat makan rumput-rumputan dan daun-daunan hingga mulut dan lidah
mereka pecah-pecah.

Apa yang dialami Imam empat yang terkenal itu?

Imam Abu Hanifah, beliau dijebloskan dalam penjara gara-gara berdakwah
dan mengatakan yang haq itu haq dan yang batil itu batil.

Imam Malik, karena menegakkan kebenaran beliau rela dipukuli sampai
kedua tulang belikat beliau hampir lepas karena kerasnya pukulan.

Imam Syafi’i, gara-gara membela kebenaran beliau dimasukkan bui dan
mau dibunuh oleh raja pada saat itu.
Imam Ahmad bin Hanbal, yang pada zamannya ada fitnah dari kaum
mu’tazilah bahwa Al-Qur’an adalah makhluk Allah. Akhirnya, beliau
menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah bukan makhluk. Dari
pernyataannya yang tegas itu, beliau dimasukkan bui dan dicambuk
beberapa kali, hingga sebagian algojo yang menyiksa beliau membuat
kesaksian dengan mengatakan, bahwa Imam Ahmad dicambuk sebanyak
delapan puluh kali, jikalau gajah dicambuk seperti itu maka akan mati
terkapar. Maka beliau terkenal dengan sebutan Imam As-Sunnah, karena
membela sunnah Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam dan Al-Haq.

Lalu apa yang diderita Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya yang
terkenal yaitu Syaikhul Islam Ats-Tsani Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah?

Ibnu Taimiyah, karena berdakwah dan membela kebenaran, beliau rela
masuk penjara, tak sempat menikah hingga beliau mati dalam penjara.
Kata-kata beliau yang cukup terkenal yang patut kita ambil pelajaran:

“Apakah yang akan diperbuat musuh-musuh kepadaku?
Jika aku dipenjara, penjaraku adalah khalwat (untuk beribadah pada Rabb).
Jika diasingkan, pengasinganku adalan tamasya.
Jika aku dibunuh, kematianku adalah syahadah.
Itulah kata-kata beliau dalam tekadnya membela kebenaran.

Siapakah yang mampu menundukkan orang-orang yang segala alternatif
perjuangannya adalah serba baik, sebagaimana beliau? Tidak ada,
kecuali Maha Perkasa yang dengannya justru menaklukkan manusia ke
dalam lindungan syari’at Islam nan agung dan penuh rahmat (Lihat buku
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah oleh Abul Hasan An-Nadawi).

Ibnul Qayyim, dalam membela kebenaran ia rela diikat badannya lalu
diarak keliling kampung dan diludahi masyarakat, namun beliau tetap
tegar dalam berdakwah sampai akhir hayatnya (Dari kitab Zadul Ma’ad).

Adapun ulama-ulama yang baru-baru ini meninggalkan kita, yaitu Syaikh
Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz (2000 M) dan Syaikh Muhammad
Nasiruddin Al-Albani. Mereka adalah ulama-ulama yang gemar berdakwah
dan menyebarkan Islam hingga akhir hayatnya. Begitu juga Syaikh
Muhammad Shalih Al-Utsai-min yang telah wafat pula (1421 H / 2001 M).

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.

Seorang da’i haruslah pandai dalam menyampaikan dakwah. Sebab
darinyalah satu sebab dari beberapa sebab umat dapat paham Islam yang
benar. Oleh karena itu dakwahnya harus sesuai Al-Qur’an dan As Sunah
serta sesuai dengan manhaj nubuwwah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa
Salam . Sebagaimana hal itu sesuai dengan firman Allah:

“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang
baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An-Nahl: 125).

Seorang da’i haruslah selalu introspeksi diri, apakah dakwahnya karena
Allah atau karena yang lain:

Dalam firman Allah di atas tadi, kata bil hikmah, Imam Syafi’i memberi
komentar: “Setiap hikmah dalam Al-Qur’an berarti As-Sunnah”.

Dan berkaitan dengan kata As-Sunah artinya adalah dakwah itu harus
mengikuti sunnah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam, bukan
berdakwah mengajak orang pada golongan, partai tertentu yang marak
hari ini, demokrasi, sekularisme dan lain-lain yang antagonis dengan
Islam, silakan lihat komentar Imam Syafi’i dalam kitab Al-Madkhal fil
Aqidah, hal 24.

Jamaah Jum’at yang berbahagia.

Dakwah itu mempunyai urgensi yang banyak sekali, namun intinya kurang
lebih adalah tersebarnya kebenaran pada umat manusia (khususnya kaum
muslimin), lalu mereka bisa merubah pola pikir hidupnya dari jelek
menjadi baik, dari beribadah kepada makhluk berubah menjadi beribadah
kepada Khaliq. Lalu mereka membela Islam, mendakwahkan Islam
semampunya hingga dengan usaha mereka setelah rahmat Allah manusia
masuk Islam secara berbondong-bondong.

Maka alangkah bahayanya kalau dakwah itu sampai tidak berjalan, mogok
total tanpa ada yang menjalankan, maka ketika itu adzab Allah akan
turun ke bumi menimpa manusia semuanya. Apakah di dalamnya itu orang
beriman atau bukan beriman. Firman Allah:
“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa
orang-orang zhalim di antara kamu, dan ketahuilah Allah amat keras
siksanya”. (Al-Anfal: 25).

Jamaah Jum’at yang berbahagia.

Demikian ringkasan dari kutbah Jum’at yang saya sampaikan, yang
intinya sebagai bahan ringkasan dari khutbah tersebut adalah marilah
kita tingkatkan partisipasi kita dalam berdakwah sesuai dengan
kemampuan kita, profesi kita, hingga Allah memanggil kita, karena
keutamaan umat ada dalam dakwah dan kerugian umat akibat meninggalkan
dakwah. Sekali lagi mari kita tingkatkan semangat kita berdakwah
sesuai dengan manhaj salafush shalih. Semoga Allah menolong kita dalam
menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Amin ya
Robbal’alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ،
إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ
لَوْ لاَ أَنْ هَدَانَا اللهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى حَقَّ
تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ وَمَلاَئَكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى
النَّبِيِّ، صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
وَالتَّابِعِيْنَ أَجْمَعِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ
وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا
اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.
رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا
مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي
الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيتَآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ
وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ
الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ
وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Oleh:Muh. Ubaidillah Al-Ghifary
YAYASAN AL-SOFWA
Jl.Raya Lenteng Agung Barat No.35 PostCode:12810 Jakarta Selatan - Indonesia
Phone: 62-21-78836327. Fax: 62-21-78836326. e-mail: info
@alsofwah.or.id | website: www.alsofwah.or.id | Member Info Al-Sofwa
Artikel yang dimuat di situs ini boleh di copy & diperbanyak dengan
syarat tidak untuk komersil.


------------------------------------

===
Paket Umrah Mulai US$ 1.490
Paket ONH Plus 2009 (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900
Informasi lengkap di:
http://www.media-islam.or.id
Ingin belajar Islam? Kirim email ke [email protected]! 
Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke