Kembali umat Islam berada dalam bulan Rabiul Awwal. Bagi sebagian Muslim, bulan
Rabiul Awwal adalah bulan istimewa. Alasannya, karena pada bulan inilah Baginda
Rasulullah Muhammad saw. lahir, tepatnya tanggal 12 Rabiul Awwal, lebih dari
empat belas abad yang lalu. Karena itulah, sebagian Muslim memandang penting
untuk memperingati hari kelahiran (maulid) beliau, tentu bukan semata-mata
karena kelahiran beliau sebagai seorang manusia. Sebab, meski Muhammad saw.
memiliki keistimewaan nasab dan akhlak terpuji, dari sisi kemanusiaan, beliau
sama dengan manusia lainnya. Allah SWT sendiri menyatakan demikian:
]قُلْ
إِنَّمَا
أَنَا بَشَرٌ
مِثْلُكُمْ[
Katakanlah, "Sungguh, aku ini manusia biasa seperti kalian..." (QS
Fushshilat [41]: 6).
Dalam posisinya sebagai manusia, kelahiran Muhammad saw. pun sama dengan
lahirnya kebanyakan manusia lainnya saat itu. Jadi, kalaupun hingga hari ini
umat Islam memperingati hari kelahiran beliau setiap tahun, tentu karena
posisinya yang sangat istimewa sebagai rasul (pembawa risalah/syariah) Allah
SWT. Itulah yang ditegaskan oleh Allah SWT:
]قُلْ
إِنَّمَا
أَنَا بَشَرٌ
مِثْلُكُمْ
يُوحَى
إِلَيَّ[
Katakanlah, "Sungguh, aku ini manusia biasa seperti kalian. (Hanya saja)
aku telah diberi wahyu
" (QS Fushshilat [41]: 6).
Itulah alasan utama sebagian kaum Muslim memperingati Maulid Nabi Muhammad saw.
Sikap ini muncul dari rasa cinta (mahabbah) yang mendalam terhadap beliau dalam
posisinya sebagai pengemban wahyu/risalah, yang tidak lain merupakan
syariah-Nya untuk diberlakuan atas umat beliau.
Mengagungkan atau Mengerdilkan?
Allah SWT berfirman:
]وَإِنَّكَ
لَعَلى
خُلُقٍ
عَظِيمٍ[
Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas khuluq yang agung
(QS al-Qalam [68]: 4).
Imam Jalalain dalam kitab tafsirnya menafsirkan kata khuluq dalam ayat di atas
dengan dîn (agama). Imam Ibn Katsirseraya mengutip Ibn Abbas, Mujahid, Abu
Malik, As-Sadi dan Rabi bin Anas, Adh-Dhahak dan Ibn Zaidjuga menyatakan bahwa
ayat di atas bermakna, "Wa innaka la'alâ dîn[in] `azhîm (Sesungguhnya engkau
[Muhammad] benar-benar berada di atas agama yang agung)," yakni Islam (Ibn
Katsir, Tafsîr Ibn Katsîr, IV/403).
Terkait ayat ini, Ibn Kasir juga menukil sebuah hadis yang dituturkan oleh
Muammar dari Qatadah, bahwa Aisyah Ummul Mukminin ra. pernah ditanya tentang
akhlak Rasulullah saw. Beliau menjawab, "
Kâna khuluquhû al-Qur'ân (Akhlaknya adalah al-Quran)." (HR Muslim).
Dari penjelasan Ibn Katsir di atas bisa disimpulkan, bahwa keagungan Baginda
Nabi Muhammad saw. terletak pada `akhlak'-nya, sementara `akhlak' beliau adalah
al-Quran itu sendiri. Dengan kata lain, keagungan akhlak Baginda Nabi saw.
adalah cerminan dari keagungan al-Quran, karena memang seluruh
budi-pekerti/perilaku Rasulullah saw. mencerminkan seluruh isi al-Quran. Dengan
demikian, maksud dari takrîm[an] wa ta'zhîm[an] (memuliakan dan mengagungkan)
Rasulullah saw. sebagai motif sebagian kaum Muslim dalam memperingati Maulid
Nabi saw. sejatinya tidak lain adalah memuliakan dan mengagungkan al-Quran.
Baginda Nabi saw. memiliki akhlak al-Quran karena beliau mengamalkan seluruh
isi al-Quran dan menerapkan hukum-hukumnya, baik terkait dengan perkara akidah
(keimanan), ibadah (shalat, shaum, zakat, haji, dll), muamalah (sosial,
pendidikan, politik, pemerintahan, keamanan, dll) maupun `uqûbât (hukum dan
peradilan).
Hanya menjadikan al-Quran sekadar sebagai kitab bacaan bukanlah sikap
mengagungkan al-Quran. Hanya mengamalkan sebagian kecil isi al-Quran (misalnya
hanya dalam perkara akidah, ibadah dan akhlak saja), bukan pula sikap
mengagungkan al-Quran. Sikap demikian justru mengkerdilkan keagungan al-Quran,
yang berarti mengkerdilan keagungan Nabi Muhammad saw. sebagai representasi
al-Quran.
Anehnya, disadari atau tidak, sikap itulah yang selama ini ditunjukkan oleh
sebagian besar umat Islam saat ini. Hal itu terjadi seiring dengan Peringatan
Maulid Nabi saw. yang setiap tahun dilaksanakan oleh sebagian kaum Muslim.
Berbagai ceramah dan tablig yang disampaikan dalam Peringatan Maulid Nabi saw.
dari mulai di mushala-mushala kecil di pinggir kampung hingga di istana negara
di ibukota hanya berisi pesan-pesan yang justru mengkerdilkan keagungan Baginda
Nabi Muhammad saw. dan kebesaran al-Quran yang dibawanya, bukan mengagungkan
keduanya. Bagaimana tidak! Yang sering diserukan oleh mereka hanyalah seruan
untuk meneladani akhlak Rasulullah saw. secara pribadi, atau paling banter
dalam kapasitasnya sebagai pemimpin rumah tangga. Di luar itumisalnya dalam
posisi Baginda Rasulullah saw. sebagai pemimpin negara/kepala pemerintahan yang
menerapkan syariah Islam secara total dalam kehidupan masyarakatjarang sekali
diungkap; seolah-olah hal demikian tidak layak untuk diteladani oleh umat Islam.
Dalam setiap Peringatan Maulid Nabi saw. para penguasa Muslim pun hampir pasti
selalu menyerukan tentang pentingnya meneladani akhlak Baginda Nabi Muhammad
saw. sebagai pribadi. Namun, tak sekalipun mereka menyerukan pentingnya umat
Islam, termasuk penguasanya, untuk menerapkan syariah Islam secara total dalam
segala aspek kehidupan masyarakat (di bidang pendidikan, ekonomi, politik,
pemerintahan, peradilan, keamanan dll). Padahal semua itu telah dipraktikkan
dan dicontohkan secara jelas oleh Baginda Rasulullah saw. dalam hampir separuh
episode kerasulannya di Madinah al-Munawwarah pasca hijrah. Yang terjadi, para
penguasa tetap menjalankan hukum-hukum kufur yang bersumber dari ideologi
Kapitalisme, dan sebaliknya tetap enggan menerapkan hukum-hukum Islam. Di
sejumlah negeri Islam, para penguasanya bahkan berusaha keras memerangi siapa
saja yang berjuang untuk menerapkan syariah Islam secara total dalam negara.
Sikap mereka ini persis seperti sikap Abu Lahab. Dalam riwayat penuturan Urwah
bin az-Zubair dari Tsuwaibah, mantan budak Abu Lahab yang kemudian pernah
menyusui Muhammad saw. saat bayi, disebutkan bahwa Abu Lahab memerdekakan
Tsuwaibah karena gembira atas kelahiran Muhammad saw. (karena Muhammad saw.
memang keponakannya, peny.) (Lihat: HR al-Bukhari dan Ibn Hajar al-Asqalani
dalam Fath al-Bâri). Namun pada akhirnya, dia menjadi orang yang paling
membenci, memusuhi dan selalu menghalang-halangi dakwah Nabi saw. yang berupaya
menyebarluaskan risalah Allah sekaligus menegakkan syariah-Nya.
Jika demikian, dimana letak sikap mengagungkan Baginda Nabi saw., sementara
yang terjadi adalah pengkerdilan atas keagungan beliau? Dimana pula letak upaya
mengagungkan al-Quran, sementara yang sedang dipraktikkan pada dasarnya adalah
pengkerdilan atas keagungan al-Quran?
Meneladani Kepemimpinan Nabi saw.
Sebentar lagi, bangsa Indonesia bakal mengikuti Pemilu 2009, yang tidak lain
ditujukan untuk memilih para calon pemimpin yang baru, baik yang duduk di
pemerintahan (eksekutif) maupun di DPR (legislatif).
Dalam pandangan syariah, memilih pemimpin bagi kaum Muslim termasuk ke dalam
kewajiban kolektif (fardhu kifayah). Dalilnya antara lain adalah firman Allah
SWT:
]أَطِيعُوا
اللهَ
وَأَطِيعُوا
الرَّسُولَ
وَأُولِي
الأمْرِ
مِنْكُمْ[
Taatilah oleh kalian Allah dan Rasul-Nya serta pemimpin di antara kalian
(QS an-Nisa' [4]: 59).
Ayat ini secara tegas memerintahkan kaum Muslim untuk menaati Allah SWT,
Rasul-Nya dan pemimpin mereka. Perintah ini sekaligus berarti perintah untuk
`mengadakan' sosok orangnya.
Sejumlah hadis juga mengisyarakatkan bahwa kaum Muslim wajib membaiat (memilih
dan mengangkat) seorang khalifah, yakni pemimpin bagi kaum Muslim secara umum.
Rasul saw., misalnya bersabda:
«وَمَنْ
مَاتَ
وَلَيْسَ فِي
عُنُقِهِ
بَيْعَةٌ
مَاتَ
مِيتَةً
جَاهِلِيَّةً»
Siapa saja yang mati, sementara di pundaknya tidak ada baiat (kepada
imam/khalifah), maka dia mati dalam keadaan Jahiliah (HR Muslim).
Hadis ini pun meniscayakan keharusan adanya sosok orang yang harus dibaiat
sebagai pemimpin/khalifah.
Ijmak Sahabat semakin menegaskan kewajiban memilih dan mengangkat pemimpin ini.
Hal ini dibuktikan oleh sikap para Sahabat yang menunda penguburan jenazah
Rasulullah saw. saat wafatnya selama dua malam tiga hari, kemudian mereka lebih
mendahulukan upaya memilih dan membaiat khalifah (pengganti) beliau dalam
urusan pemerintahan, bukan dalam urusan kerasulan.
Namun demikian, berbicara tentang kepemimpinan seharusnya tidak hanya terbatas
pada sosok orangnya, tetapi juga sistem pemerintahan. Semua nash al-Quran dan
al-Hadis yang berbicara tentang kepemimpinan senantiasa menyinggung kedua aspek
ini, baik secara tersurat maupun tersirat. Baginda Rasulullah saw., misalnya,
selain sebagai pengemban risalah, adalah juga seorang kepala Negara Islam
(Daulah Islamiyah). Sistem pemerintahan yang beliau jalankan tidak lain adalah
sistem pemerintahan Islam yang berdasarkan syariah Islam.
Ijmak Sahabat tentang wajibnya mengangkat sekaligus membaiat khalifah pun tidak
terlepas dari kedua aspek ini: sosok pemimpin dan sistem pemerintahan yang
dijalankannya. Khulafaur Rasyidin dan para khalifah setelah mereka adalah sosok
para pemimpin Kekhilafahan Islam. Khilafah Islam tidak lain adalah sistem
pemerintahan yang didasarkan pada syariah Islam, yang dicirikan dengan
penerapan syariah Islam itu secara total dalam segala aspek kehidupan
masyarakat dan bernegara.
Jika memang demikian model kepemimpinan Baginda Nabi Muhammad saw., maka sudah
seharusnya umat Islam saat ini pun mencontohnya, sebagai upaya untuk
`menyempurnakan' upaya takrim[an] wa ta'zhim[an] terhadap beliau. Upaya ini
sekaligus akan menjadi bukti cinta kita yang sebenar-benarnya kepada Allah SWT,
sekaligus bukti bahwa kita benar-benar meneladani Baginda Nabi Muhammad saw.:
]قُلْ إِنْ
كُنْتُمْ
تُحِبُّونَ
اللَّهَ
فَاتَّبِعُونِي
يُحْبِبْكُمُ
اللَّهُ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَاللَّهُ
غَفُورٌ
رَحِيمٌ[
Katakanlah, "Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku." (QS
Ali Imran [3]: 31).
Lalu mengapa saat ini para penguasa Muslim enggan menerapkan syariah Islam
dalam negara sebagai bukti bahwa mereka benar-benar meneladani Rasulullah saw.?
Mengapa mereka tidak mau mengatur urusan ekonomi, politik, pemerintahan,
sosial, budaya, pendidikan, peradilan dll dengan hukum-hukum Islam? Bukankah
semua itu justru pernah dipraktikan oleh Rasulullah saw. selama bertahun-tahun
di Madinah dalam kedudukannya sebagai kepala Negara Islam? Mengapa mereka malah
tetap menerapkan hukum-hukum kufur produk dari ideologi Kapitalisme dan
menentang syariah Islam? Ataukah mereka hendak `meneladani' sikap Abu Lahab
yang bergembira menyambut kelahiran Muhammad saw., tetapi pada akhirnya menjadi
musuh yang paling sengit terhadap beliau saat beliau menjadi rasul yang
berjuang mendakwahkan risalah Allah dan menegakkan syariah-Nya?! Wal `Iyâdzu
billâh! []