From: Ismed Hasibuan <[email protected]>
Subject: Yvonne Ridley: Saya Kagum Dengan Hak-Hak Yang Diberikan Islam 
Date: Wednesday, March 25, 2009, 1:07 PM









Yvonne Ridley: Saya Kagum Dengan Hak-Hak Yang Diberikan Islam pada Kaum 
Perempuan
Cetak |  Kirim |  RSS Kamis, 12/03/2009 16:31 WIB 
Banyak orang yang menilai Islam tidak memberikan penghormatan terhadap kaum 
perempuan. Tapi tidak bagi Yvonne Ridley setelah ia mengenal Islam. Mantan 
wartawan asal Inggris yang pernah menjadi tawanan Taliban di Afghanistan ini, 
masuk Islam setelah ia mendalami al-Quran dengan harapan menemukan 
perintah-perintah Tuhan dalam Islam yang menempatkan perempuan pada posisi 
rendah. Apalagi ketika itu Ridley juga seorang aktivis feminisme.
Tapi semakin ia mendalami al-Quran, Ridley tidak menemukan apa yang dicarinya, 
ia malah menemukan ajaran Islam yang luhur tentang kaum perempuan, dimana Islam 
menempatkan kaum perempuan dalam derajat yang tinggi dan mulia. Inilah yang 
kemudian mendorong Yvonne untuk memilih menjadi seorang Muslim dan sekarang 
dikenal aktif berdakwah kemana-mana.
Bagaimana pengalaman Ridley menjadi seorang mualaf dan apa pandangannya tentang 
perempuan dalam Islam. Berikut petikan wawancara yang dilakukan situs 
Islamonline dengan Yvonne Ridley;
Seberapa jauh Anda tahu tentang Islam sebelum menjadi seorang Muslimah?
Saya cuma tahu sedikit tentang Islam sebelum menjadi Muslim. Saya hanya tahu 
dari media massa.
Bagaimana ceritanya Anda masuk Islam?
Saat saya menjadi tawanan Taliban, seorang ulama mendatangi saya. Dia 
menanyakan beberapa pertanyaan tentang agama dan menanyakan apakah saya mau 
pindah agama. Saat itu, saya takut kalau saya salah memberikan respon, maka 
saya akan dibunuh. Setelah berpikir masak-masak, saya berterima kasih pada 
ulama tadi atas tawarannya yang baik itu dan saya bilang bahwa sulit bagi saya 
membuat keputusan untuk mengubah hidup saya saat saya sedang menjadi tawanan. 
Tapi saya berjanji, jika saya dibebaskan dan kembali ke London, saya akan 
mempelajari tentang Islam.
Akhirnya saya bebas dan saya mulai membaca terjemahan al-Quran. Saya memilih 
surat-surat dalam al-Quran hanya yang ingin saya baca saja. Saya sangat kagum 
dengan hak-hak yang diberikan Islam pada kaum perempuan dan inilah yang paling 
membuat saya tertarik pada Islam.
Setelah memeluk Islam, apakah Anda membutuhkan bantuan dari komunitas Muslim?
Ya dan tidak. Saya mendapat banyak dukungan dari sesama Muslimah. Saya merasa 
beruntung jika dibandingkan dengan banyak mualaf lainnya. Banyak mualaf yang 
benar-benar membutuhkan dukungan semangat dan pendampingan hampir setiap hari. 
Yang menyedihkan, banyak diantara kami yang diabaikan setelah mengucapkan dua 
kalimat syahadat. Saya cuma ingin mengatakan, tahun-tahun pertama bagi para 
mualaf adalah saat-saat yang kritis bagi perkembangan mereka sebagai seorang 
Muslim, jadi sebaiknya para mualaf baru jangan diabaikan begitu ia usai 
mengucapkan syahadat.
Tantangan apa yang paling berat setelah Anda memeluk Islam?
Belajar menjadi orang yang lebih baik. Mungkin kedengarannya agak aneh, karena 
saya tidak merasa sebagai orang yang buruk sebelum memeluk Islam. Tapi setelah 
menjadi Muslim, saya harus belajar tentang etika Islam, misalnya tentang 
kesabaran dan toleransi. Buat mereka yang sudah mengenal baik siapa saya, pasti 
tahu betapa beratnya perjuangan saya ketika itu.
Bagaimana reaksi keluarga dan teman-teman ketika tahu Anda masuk Islam?
Mereka semua syok. Bagaimana bisa seorang gadis yang doyan pesta meninggalkan 
gaya hidup Baratnya dan memeluk Islam? Tapi setelah beberapa waktu, mereka tahu 
bahwa saya bersungguh-sungguh! Saya lebih sehat dan bahagia, badan saya jadi 
agak langsing. Mereka melihat bahwa apapun yang terjadi dalam kehidupan saya, 
saya menjadi orang yang lebih baik. Mereka membantah bahwa ini semua karena 
Islam. Teman-teman perempuan saya apakah saya punya pacar sehingga terlihat 
lebih sehat dan bahagia, saya menjawab "Apakah kamu pikir untuk terlihat lebih 
baik seperti sekarang saya harus punya pacar? Tidakkah kalian bisa menerima 
bahwa saya telah menemukan sesuatu yang memberikan saya banyak kebahagiaan, 
kekuatan dari dalam dan spiritulitas?"
Bagaimana Anda menyesuaikan diri dengan Jilbab yang Anda kenakan di Inggris, 
sementara banyak orang meributkan jilbab?
Saya senang sekali Anda menanyakan hal ini. Banyak orang berpendapat tentang 
jilbab, terutama kaum lelaki yang tidak perlu mengenakan jilbab. Mereka tidak 
tahu, betapa besar tantangan yang dihadapi perempuan berjilbab dan berniqab. 
Ketika seorang perempuan mengenakan jilbab, mereka memperjuangkan Islam, di 
baris terdepan. Mereka menjadi sasaran tindakan sewenang-wenang. Sedih rasanya 
melihat beberapa Muslimah yang diserang secara fisik gara-gara perdebatan 
jilbab terutama yang dipicu oleh para politisi dengan segala 
pernyataan-pernyataan buruk mereka tentang jilbab. Jilbab adalah kewajiban. 
Saya salut dengan para muslimah yang mengenakan jilbab, dengan kekuatan, 
semangat dan keimanan mereka.
Untuk Muslimah yang tidak mengenakan jilbab, saya ingin bilang pada orang-orang 
di sekeliling mereka agar bersabar dan berilah mereka waktu. Kita semua dalam 
perjalanan spiritual, beberapa diantara kita mencapai level tertentu dengan 
cepat dibandingkan yang lainnya. Butuh waktu. Kita selayaknya tidak terlalu 
kritis terhadap sesama Muslimah yang belum berjilbab, kita sebaiknya mendukung 
dan menolong mereka.
Saya juga tidak langsung mengenakan jilbab. Butuh waktu buat saya untuk 
mengenakannya, dan itu itu menjadi bagian dari pertumbuhan dan perkembangan 
saya sebagai seorang Muslim. Setiap harus selalu ada perbaikan. Jika 
pembicaraan ini dilakukan kembali 20 tahun mendatang, saya akan bilang bahwa 
saya masih belajar dan berkembang terus, Insya Allah.
Jika ada non-Muslim yang ingin tahu tentang Islam, apa pesan penting yang harus 
disampaikan seorang Muslim pada non-Muslim?
Kita harus menyampaikan pada Barat bahwa kaum perempuan tidak ditindas dalam 
Islam, kaum perempuan bukan makhluk kelas dua. Betul, ada sebagian perempuan 
yang berada di bawah kendali laki-laki. Tapi di kalangan non-Muslim di Barat, 
banyak juga perempuan yang tertindas. Masalah kekerasan dalam rumah tangga 
adalah isu global bagi perempuan, bukan isu Islam.
Banyak isu yang mempengaruhi kaum perempuan Muslim dan Barat. Tapi akan saya 
katakan pada kaum perempuan non-Muslim bahwa banyak hal yang substansial 
dibalik jilbab. Jika mereka mau melihat, mereka akan menyadari bahwa banyak 
Muslimah berjilbab yang sukses, pintar, berbakat dan dikenal di level 
internasional. Jadi, daripada buang-buang waktu meributkan jilbab, berhentilah 
dan bicaralah pada para muslimah. (ln/iol)
 =================================================
IMPORTANT - This electronic communication and any attachments may contain 
confidential and/or legally privileged information, and may only be used by the 
authorized recipients. If you receive this electronic communication in error, 
please delete all copies and advise the sender immediately. Any unauthorized 
dissemination, distribution or copying of this electronic communication or any 
attachments is strictly prohibited.



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke