<[email protected]>
Date: Wednesday, April 22, 2009, 12:25 PM









 
21 April, 2009 - Published 10:26 GMT
Yusuf Arifin
Produser BBC Siaran Indonesia 
Kritik soal ritual sepakbola 
Anda pasti sudah tahu bahwa Inggris ini negeri gila bola. Tetapi kegilaan itu 
kelihatannya menjadi keprihatinan seorang petinggi Gereja Anglikan. 
Doa a meminta mbok ya kalau libur-libur keagamaan semacam Paskah kemarin 
janganlah digelar pertandingan sepakbola. 
Hari libur keagamaan adalah untuk merenungkan kembali nilai-nilai agama bukan 
untuk sekadar bergembira ria karena libur. 
Hari libur keagamaan sebaiknya dipergunakan untuk menata kembali keimanan.
Memang apa boleh buat dalam dunia industri hiburan, sepakbola benar-benar telah 
menjadi nadi hiburan rakyat Inggris ini. 
Hari Sabtu adalah hari tradisional pertandingan. Ada saluran televisi dan radio 
yang secara khusus membahas sejak prediksi pertandingan, siaran pertandingannya 
sendiri, dan pasca pertandingan. 
Seharian penuh, puluhan pertandingan, karena setidaknya empat divisi yang 
bertanding.
Hari Minggu terulang lagi, walau pertandingan tidak sebanyak hari Sabtu. Hari 
Senin juga ada pertandingan walau porsinya lebih sedikit lagi. 
Tetapi Selasa dan Rabu, porsinya naik lagi, walau arahnya bukan semata 
doemestik: Liga Champions Eropa. 
Dengan Inggris mendapat jatah empat kesebelasan maka tak heran perhatian 
kembali tertuju ke lapangan sepakbola. 
Apalagi biasanya klub-klub Inggris sering masuk hingga babak akhir liga 
Champions, sehingga perhatian tercurah hingga akhir kompetisi. 
Hari kamis jatah Piala UEFA dimainkan, biasanya ada empat klub Inggris pula 
yang bermain disini. 
Di samping kompetisi itu masih ada dua piala diomestik yang diperebutkan: Piala 
FA dan Piala Liga. 
Praktis hanya hari Jumat saja sepakbola benar-benar libur di Inggris ini.
Waktu luang
Hari libur, seperti Paskah kemarin, karena libur nasional yang cukup panjang, 
adalah kesempatan bagi administrator persepakbolaan Inggris untuk justru 
menggelar pertandingan sebanyak-banyaknya. 
Karena libur, mereka tahu, masyarakat akan mempunyai waktu luang sehingga 
kemungkinan menonton pertandingan sepakbola baik langsung maupun lewat televisi 
akan lebih tinggi lagi. 
Bukan hanya di libur keagamaan Paskah. Cobalah perhatikan dirangkaian libur 
Natal setiap akhir tahun. Salah satu hari libur penting ummat Kristiani setara 
Paskah. 
Apa yang terjadi? Di seputar hari-hari inilah Inggris sibuk menggelar 
pertandingan sepakbolanya. 
Bahkan mereka punya tradisi untuk menggelar pertandingan sepakbola yang 
dianggap paling penting sehari setelah Natal. 
Lalu juga menggelar pertandingan ditengah pekan menjelang Natal. Pokoknya 
menjelang dan sekitar Natal, semakin berjejallah pertandingan bola. 
Karenanya bisa dimengerti bukan kalau petinggi gereja Anglikan menyatakan 
keprihatinannya bukan? 
Tetapi jawaban administrator sepakbola Inggris mengabaikan itu semua. Bagi 
mereka persoalannya sederhana saja. 
Ritual
Sepakbola tidak akan memakan waktu seharian penuh, hanya beberapa jam saja. 
Tersedia cukup banyak waktu kalau ada yang berkehendak pergi ke gereja atau 
melakukan kegiatan semacamnya.
Ada benarnya tetapi juga ada salahnya. Benar bahwa pertandingan sepakbola 
hanyalah beberapa jam saja dan cukup memberi kesempatan kepada mereka yang 
ingin melakukan kegiatan keagamaan. 
Tetapi tidaklah sesederhana itu. Menonton sepakbola di Inggris ini layaknya 
sebuah peribadatan tersendiri, dalam pengertian semacam ada ritualnya: 
mengenakan seragam kebesaran klub yang didukung, mengunjungi pub atau tempat 
minum yang tersebar di sekitar stadion terlebih dahulu untuk bercakap-cakap dan 
bertemu sesama pendukung --dan ini bisa satu dua jam sebelum pertandingan 
dimulai, baru kemudian berbondong ke stadion, baru kemudian menonton 
pertandingan. 
Seusai pertandingan kembali ke pub, biasanya kali ini ke pub lokal dekat rumah, 
membperbincangkan dan menganalisa hasil pertandingan sambil mendengar 
pembahasan mungkin dari televisi--mungkin radio. 
Belum kalau klub yang didukung melakukan pertandingan tandang yang jauh. Sehari 
penuh pasti waktu harus dihabiskan. Hampir dipastikan tak akan ada waktu yang 
lain. 
Jadi keprihatinan petinggi gereja tadi memang ada benarnya: sepakbola telah 
mencaplok hari libur kegamaan. 
Persoalannya kalau tidak ada sepakbola apakah kemudian mereka pergi ke gereja 
atau merenungkan persoalan kegamaan? Itu yang saya tidak tahu.



New Email names for you! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does! 















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke