Bismillahirrahmaanirrahiim.
 
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
 
Gelora Asmara….
 
Aku cemburu tatkala suamiku berbicara dengan perempuan lain
Itu Mah..biasa dan sah..sah saja…
 
Anakku cemburu ketika aku dimanjakan suamiku
Itu adalah hal yang wajar..wajar saja
 
Suamikupun cemburu tatkala aku dekat dengan pria lain
Itu bahkan hal yang wajib,..jangan seperti seekor babi jantan yang santai aja 
lihat betinanya dengan babi-babi yang lain.
 
Menurut Ibn Qayyim Al Jauziyah,
 
Cemburu itu ada dua kategori:
 
Cemburu "terhadap sesuatu", dan cemburu "dari sesuatu".
 
Cemburu yang terpuji adalah cemburu terhadap perbuatan-perbuatan, dimana jangan 
sampai memiliki tendensi untuk selain kekasihnya.
Atau cemburu kepadanya, karena khawatir amal perbuatannya tercampuri dengan 
hal-hal yang dibenci oleh kekasihnya, seperti Riya, berbangga diri.
 
Seorang hamba hendaknya selalu cemburu apabila ada waktu sedikit yang berjalan 
untuk selain Allah, yakni ia berjalan untuk mendapatkan selain Ridha Allah.
 
Allah memiliki sifat yang Maha Tinggi. Dia juga cemburu kepada hamba-hambaNya
Apabila memiliki kecintaan selain kepadaNya.
 
Apabila Ma'rifat telah tertanam dihati seseorang, maka pohon cinta akan tumbuh 
dengan sendirinya.
 
Apabila pohon itu telah tertanam, dan akarnya telah kuat, maka sulitlah pohon 
itu akan tumbang, bahkan ia akan selalu menghasilkan buah-buah kebaikan yang 
ranum dan manis rasanya.
 
Kecintaan kita kepada manusia, adalah yal yang lumrah dan merupakan fitrah 
manusia. Namun jangan sampai kita lupa, karena kecintaan kita tersebut 
melalaikan atau membuat cinta kita kepada Allah dibawah tingkatannya daripada 
cinta kita kepada manusia.(Naudzubillahimindzalik).
 
Seorang lelaki, karena saking cintanya pada anak-anak dan istrinya, sampai ia 
melupakan mana halal, mana haram. Untuk membahagiakan dan memberikan 
penghidupan yang layak dan semestinya, atau bahkan kehidupan yang mewah 
sekalipun sang lelaki tersebut rela melakukan pencurian, korupsi, penipuan atau 
apapun demi mendapatkan material untuk kesenangan keluarganya. Ini adalah 
bentuk kecintaan yang salah kaprah.
 
Seorang perempuan demi menjaga cinta suaminya terhadapnya, ia rela melakukan 
kejahatan apa saja, bahkan apabila sang suami beristeri dua, dia rela menyuruh 
suaminya menceraikan istri kedua, atau pertama atau ketiga keempat, agar cinta 
sang suami khusus untuknya. Padahal ini sangat terlarang. Dalam sebuah hadits 
bagi seorang perempuan yang menyuruh suami untuk memutuskan/menceraikan 
perempuan selain dirinya, maka nerakalah tempatnya. (Naudzubillahi Mindzalik), 
dalam AlQuranpun salah satu kategori manusia perusak dimuka bumi ini adalah 
mereka yang memutuskan tali silaturrahmi, apatah lagi menyuruh orang untuk 
memutuskan tali silaturrahmi. Ini juga suatu bentuk akibat kecintaan yang salah 
kamar. Seharusnya kamar no 12, masuk ke no 21, alias terbalik. Bisa fatal 
akibatnya.
 
Cinta adalah gelora asmara, yang kedatangannya tak diundang, kepergiannyapun 
terkadang tak diinginkan. Ia datang dengan sendirinya. Kata orang dari mata 
turun kehati. Dari hati turun kemana yah…? Kejantung kali yah, karena 
berdenyut-denyut nadi, getaran-getaran debar jantung begitu kencangnya tatkala 
kita sedang merindukan orang yang dicintai, atau tatkala namanya disebut 
didepan kita..
 
Pernahkah kita bertanya, sebatas apakah cinta kita kepada Allah Ta'ala. Apakah 
ada getaran getaran asmara, goncangan dan debaran, air mata mengalir bila 
mengingatNya, atau disaat kita sedang membaca surat-suratNya. AlQuran adalah 
surat Cinta Allah Ta'ala kepada hamba-hambaNya.Sebagaimana firmanNya: 
"….apabila dibacakan kepadanya ayat-ayatNya, bertambah keimanannya…."
 
Surat cinta dari sang pacar saja, entah berapa kali harus kita baca, mungkin 
ribuan kali. Sampai kumal itu kertas. Mau tidur dibaca berulang-ulang, bangun 
tidur, dibaca lagi..dan lagi…kapan saja seakan surat itu dibawa kemana-mana. 
Sampai kita hafal isinya huruf perhuruf, bukan bait perbait lari. Seluruhnya 
hafal, titik koma, tanda serunyapun kita hafal.. 
 
Pernahkah kita bertanya dalam diri kita sendiri. Kapan kita selalu 
mengulang-ulang surat Cinta Allah Ta'ala kepada kita, kapan kita sampai 
menghafalnya, dan membawanya kemanapun kita pergi, karena surat itu ada 
terpatri dalam hati kita.Sampai hukum-hukum tajwid, Mad(panjang pendeknya), 
hukum Idgham, Idzharnya dan sebagainya, sudahkan kita menghafalnya. 
 
Jawaban ini ada dalam diri kita masing-masing.
 
Gelora Asmara pancaran hati ini, melalui surat dan kalamNya, kita bersama-sama 
meraih CintaNya yang hakiki dan sejati, tak pernah mati, ketinggalan zaman, tak 
pernah pupus oleh hujan dan terik mentari. Karena Cinta kita berlandaskan 
Illahi ta'ala. Kita bertemu, dan berpisahpun karena Allah ta'ala semata.
 
Wassalamu'alaikum. Rahima. Biaro, Bukittinggi, 23 April 2009.
 
 
 
 
 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke