I. PENGANTAR Langit akhlak rubuh, diatas negeriku berserak-serak Hukum tak tegak, doyong berderak-derak Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan Lima belas ini - itu tekanan dan sepuluh macam ancaman Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada, Tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang menyelam ditumpukan jerami selepas menuai padi langit akhlak rubuh, diatas negeri berserak-serak hukum tak tegak, doyong berderak-derak malu aku jadi orang Indonesia Penggalan-penggalan kalimat dari puisi Taufiq Ismail yang berjudul "Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia" tersebut memberikan kesan dan gambaran yang amat jelas tentang kondisi bangsa dan masyarakat Indonesia yang sudah berubah, yaitu berubah dari banyak citra yang positif menjadi bangsa yang dipenuhi stigma buruk yang memalukan. Berbagai survei baik yang dilakukan oleh orang Indonesia sendiri maupun yang dilakukan oleh berbagai lembaga asing membeberkan hasil yang memalukan, antara lain; Indonesia menduduki peringkat nomor satu sebagai negara terkorup di dunia, lembaga peradilan dan kepolisiannya dinilai paling buruk di Asia, serta hutang negeri Indonesia kepada berbagai lembaga dan negara asing termasuk lima besar di dunia. Di sisi lain, wajah bangsa Indonesia jelas terlihat buram bahkan gelap. Berbagai skandal keuangan dan moral jumlahnya tak terhitung, berbagai kerusuhan dan konflik antar etnis seolah-olah tak mampu diselesaikan serta berbagai penyakit sosial dengan mudah ditoleransi. Berbagai wajah buruk yang memalukan tersebut jelas-jelas bertentangan dengan pernyataan yang mengatakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius, punya Pancasila dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Lalu dimana keberadaan berbagai agama yang selama ini tertera di semua KTP (Kartu Tanda Penduduk) orang Indonesia ? II. ARTI DAN FUNGSI AGAMA BAGI KEHIDUPAN Agama bagi manusia memiliki banyak sekali arti dan fungsi dalam kehidupannya. Sebagian arti dan fungsi agama bagi manusia adalah : a. Membantu manusia untuk memperoleh hidup yang lebih baik William James, dalam bukunya, The Varietes of Religius Experience : A Study in Human Nature, mengatakan : "Bahwa permasalahan penting dari agama adalah bagaimana Tuhan dan agama membantu dalam usaha manusia untuk mendapatkan hidup yang baik." Pendapat ini menegaskan bahwa agama harus menjadi sesuatu yang hidup dan memandu manusia dalam mebangun kehidupan yang lebih beradab dan berperadaban. Agama mengatur bagaimana sebaiknya manusia berhubungan dan berprilaku terhadap sesama manusia agar mampu melahirkan dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.b. Sarana untuk hidup taat dan menyembah Tuhan Dalam tiap agama pasti kita temukan ajaran yang mengtur pemeluknya untuk mentaati seperangkat nilai dan norma yang jelas-jelas berasal dari Tuhan sekaligus ditemukan ajaran ajaran yang mengatur bagaimana manusia harus menjalankan "peribadatan" untuk menyembah Tuhan. Erich From dalam bukunya Psichoanalysis and Religion mengakui fungsi agama sebagai sarana untuk taat dan menyembah Tuhan. Hal ini dapat dilihat dari definisi agama yang dirumuskannya yaitu: "Suatu sistim pemikiran dan tindakan yang dipeluk secara bersama oleh suatu yang memberikan kepada individu kerangka orientasi dan obyek pengabdian." Agama membantu ummat manusia untuk menciptakan tata kehidupan yang aman dan tertib.c. Sebagai kekuatan yang mempengaruhi pembentukan kepribadian Dilihat dari fungsi dan peran agama dalam memberi pengaruh terhadap individu, baik dalam bentuk sistem nilai, motivasi maupun pedoman hidup, maka pengaruh yang paling penting adalah agama berfungsi sebagai pembentuk kata hati atau conscience (Erich From dalam Manusia Bagi Dirinya, terjemahan Akademika Jakarta, 1998). Bila kata hati sudah terbentuk oleh kekuatan agama, maka seseorang akan menjadi pribadi yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan tidak mudah terpengaruh hal-hal negatif dalam hidupnya. Individu yang memelihara kata hati yang bersumber dari agama berarti telah memiliki "inner controle" yang kuat.d. Agama sebagai sumber kebahagiaan Elizabeth K. Nottingham (dalam bukunya Agama dan masyarakat, Suatu Pengantar Sosialogi Agama, terjemahan Rajawali, Jakarta, 1975) menjelaskan bahwa agama berkaitan dengan usaha-usaha manusia untuk mengukur dalamnya makna dari keberadaan diri sendiri dan keberadaan alam semesta. Selain itu agama dapat membangkitkan kebahagiaan bathin yang paling sempurna. Berdasarkan pendapat Elizabeth K. Nottingham tersebut, nampak bahwa agama membantu manusia untuk memilih "cara pandang" (pemahaman) yang benar terhadap berbagai problem kehidupan. Modernisasi yang dulu dianggap mendatangkan kebahagiaan dan kesejahteraan, dalam kenyataanya malah mendatangkan "The agony of Modernization" yaitu "Azab sengsara karena modernisasi". Hal ini diakibatkan karena modernisasi dan pembangunan yang kita laksanakan telah kehilangan rohnya yaitu agama yang dihayati. Dalam menghadapi modernisasi, agama yang membantu manusia untuk tidak kehilangan makna dalam kehidupannya, sehingga tidak tenggelam dalam kesibukan-kesibukan yang hanya mengahdirkan kelelahan fisik dan kegersangan psikologis.e. Agama sebagai sumber kesehatan jiwa Organisasi kesehatan dunia (WHO), pada tahun 1959 merumuskan 8 kriteria jiwa / mental yang sehat, dan tidak memasukkan agama sebagai salah satu aspek / elemen kesehatan jiwa. Namun berdasarkan berbagai kenyataan dan penelitian yang dilakukan oleh para psikiater dan psikolog, diperoleh bukti adanya korelasi yang sangat signifikan antara penghayatan agama / spritual dengan kesehatan jiwa. Semakin baik penghayatan agama seseorang maka semakin sehat jiwanya, dan semakin buruk penghayatan agama seseorang, maka semakin buruk pula kualitas kesehatan jiwanya. Maka pada tahun 1984, WHO telah menyempurnakan batasan sehat dengan menambahkan satu elemen yaitu elemen agama/spritual. DR. Jalaluddin, dalam bukunya Psikologi Agama (terbitan Rajawali Press, 1997) menyimpulkan bahwa dalam prakteknya fungsi agama bagi masyarakat antara lain : "Berfungsi edukatif, penyelamat, pendamai hati, sicial controle, pemupuk rasa solidaritas, transformatif, kreatif, dan sublimatif. III. KEBERAGAMAAN (RELIGIUSITAS) DI INDONESIA Kalau keberagamaan (religiusitas) dilihat dari banyaknya ibadah dan raminya orang mengunjungi tempat ibadah, maka Indonesia adalah sebuah negara yang nampak sangat religius. Namun kalau religiusitas dilihat dari perlikau orang Indonesia di luar tempat ibadah, maka julukan Indonesia sebagai bangsa yang religius perlu dikaji ulang. Terlalu banyak prestasi buruk orang Indonesia yang bertentangan dengan ajaran mulia agama. Bagaimana hal ini dapat terjadi ? Robert W. Crapps dalam bukunya An Introduction to Psychology of Religion, dapat membantu kita menemukan jawabannya. Crapps berpendapat bahwa apabila seseorang sudah kehilangan penghayatan agama secara pribadi dan terjebak pada bentuk keberagamaan yang "formalistik" dan lebih mengagungkan agama dalam bentuk ungkapan institusi/lembaga agama dan budaya setempat, maka hal ini akan mengakibatkan agama akan terabaikan isinya dan iman sejati yang ada dalam agama sesungguhnya ditenggelamkan. Orang akhirnya hanya "berpakaian" keagamaan, tetapi belum berpribadi religius. Gordon W. Allport dalam bukunya , Personality and Personal Encounter mengenalkan istilah agama ekstrinsik dan agama intrinsik. Yang dimaksud Allport dengan istilah agama ekstrinsik adalah agama yang yang diperalat untuk mendukung dan membenarkan kepentingan pribadi. Agama semacam ini tidak menjadi motif utama dalam hidup, tetapi sekadar berperan sebagai alat. Dalam keadaan seperti itu, agama dijadikan budak bagi kepentingan, keinginan, dan kebutuhan yang sama sekali tidak berkaitan dengan nilai yang ada dalam agama dan iman sendiri. Para penganut agama ekstrinsik bukan menjunjung agama, tetapi malah memanfaatkan agama untuk mendukung membenarkan gaya hidup dan prilaku mereka. Sebaliknya agama intrinsik "memenuhi seluruh hidup dengan motivasi dan arti. Dengan demikian agama memiliki kekuatannya sendiri dan dalam ukuran tertentu memberi arah dalam hidup. Kalu penganut agama ekstrinsik "memanfaatkan" agama, maka penganut agama intrinsik "meletakkan kepentingan pribadi dibawah nilai yang ada pada agama mereka. Model religiusitas formalistik (sebagaimana yang diistilahkan oleh Robert W. Crapps) dan religiusitas eksternal (menurut istilah Gordon W. Allport) nampaknya yang dianut dan berkembang di Indonesia, yaitu suatu bentuk religiusitas yang bergerak dan berhenti hanya pada permukaan. Agama hanya dibutuhkan ketiak membuat KTP (Kartu Tanda Penduduk), mengucapkan sumpah jabatan, peringatan dan ceremonial hari-hari besar keagamaan, namun dibuang jauh-jauh dalam pergulatan kehidupan yang sesungguhnya. IV. BAGAIMANA SEHARUSNYA YANG KITA LAKUKAN? Agama seyogyanya menjadi sesuatu yang hidup menyirami, menyinari, dan menyertai setiap pikiran, sikap, dan prilaku kita. Beragama tidak boleh berhenti hanya pada banyak jumlah tempat ibadah, banyaknya orang yang hadir pada acara-acara peribadatan dan bentuk formalisme keagamaan lainnya. Namun agama harus menjadi sesuatu yang dihayati dan ajarannya diamalkan dengan penuh keikhlasan. Kita perlu bersyukur bahwa di Indonesia telah banyak memiliki institusi dan organisasi-organisasi keagamaan, namun jangan sampai institusi dan organisasi-organisasi keagamaan itu menjadikan model keberagamaan orang Indonesia terlalu formalistik dan ekstrinsik, sehingga agama menjadi lumpuh kekuatannya dan akhirnya tidak mampu bersentuhan dengan kenyataan hidup masyarakat. Masih tingginya kriminalitas dan maraknya berbagai bentuk pathologi sosial serta semakin suburnya budaya permissive dan hedonis di Indonesia mengharuskan para pemimpin agama, tokoh masyarakat, dan para pejabat pemerintah untuk mengkritisi dan mengevaluasi kerja dan karyanya kita selama ini. Mungkin selama ini kita beragama hanya di mimbar, di rapat-rapat, dan di surat-surat keputusan organisasi, namun kita kehilangan dialog dengan Tuhan, kehilangan dialog hati dengan masyarakat dan kehilangan pelayanan yang jiwani dan ilahiyah kepada umat. Mungkin juga orang Indonesia telah menjadi hamba Tuhan yang malas, karena ketika tidak mampu menyembuhkan dan menjauhkan masyarakat dari minuman keras dan perjudian (misalnya), kita berapologi dengan mengatakan bahwa hal itu sudah menjadi budaya dan tradisi masyarakat. Kita harus jujur mengakui bahwa seringkali Tuhan kita kalahkan oleh pertimbangan budaya, pertimbangan ekonomi bahkan juga politik. Keberagamaan yang dibangun dan dikembangkan di Indonesia haruslah keberagamaan yang meliputi seluruh aspek/dimensi dari agama itu sendiri, bukan agama yang tampil hanya pada satu atau beberapa aspeknya saja. Agama akan kehilangan manfaat dan kekuatannya kalau hanya ditampilkan dari aspek ibadat dan ritualitasnya, atau juga ditampilkan dari aspek idiologinya saja. Glock and Stark dalam bukunya, Religion and Society in Tension mengatakan: Bahwa dalam agama paling tidak memiliki lima aspek/dimensi, yaitu : Idiology (Dimensi iman dan kepercayaan), Religious practice (Dimensi ritual dan peribadatan), Religious knowledge (Dimensi pengetahuan), Religious Feeling (Dimensi penghayatan) dan Religious effect (Dimensi pengamalan). Dengan beragama secara utuh yaitu beragama yang meliputi seluruh aspek dan dimensinya, maka akan melahirkan pribadi-pribadi yang utuh, bukan pribadi-pribadi yang mengalami split personality. Mungkin, langkah awal yang dapat dilakukan untuk memeluk agama secara utuh adalah dengan melihat dan memahami agama dengan benar. Peter Berger, dalam bukunya Some Second Thought on Substantive Versus Functional Definitions of Religion, menganjurkan agar manusia kembali melihat dan memahami agama dari "isinya yang dalam" atau from within. Sedangkan Gordon W. Allport, dalam bukunya The Nature of Prejudice menganjurkan agar dalam melihat dan menghayati agama (termasuk bagi mereka yang memiliki perbedaan organisasi dan paham keagamaan) harus menjauhkan diri dari segala bentuk prasangka, sehingga agama tidak menjadi sesuatu yang diperalat atau dimanfaatkan. Memahami agama dari isinya yang dalam dan menjauhkan agama dari prasangka (sebagaimana yang disarankan Berger dan Allport) tersebut sebaiknya menjadi model keberagamaan yang seharusnya dikembangkan oleh setiap pribadi manusia Indonesia termasuk para pemimpin dan anggota Polri. Berbagai konflik dan kerusuhan yang selama ini terjadi boleh jadi salah satu penyebabnya adalah orang beragama didasarkan pada pemahaman yang dangkal dan disertai prasangka. Akibatnya orang menjadi kehilangan cinta kasih terhadap orang lain dan dengan penuh emosi serta kebencian mengusung nama Tuhan untuk menghancurkan orang lain yang dianggap berbeda. V. PENUTUP Untuk hidup sehat dengan agama dan hidup beragama secara sehat tidak perlu menunggu dibuatnya TAP MPR RI, akan tetapi harus segera dilakukan mulai saat ini dan dimulai dari setiap diri. Insya Allah kondisi memalukan sebagaimana yang digambarkan oleh penyair Taufiq Islamil bahwa "Langit Akhlak Rubuh dan Budi Pekerti Mulia hanya ada didalam Kitab Suci" dapat dihindari, sehingga perlahan-lahan Indonesia tercerahkan kembali. HM. Jamaludin Ahmad, Psi. Psikolog Polda Metro Jaya http://biropersonel.metro-polri.net/index.php?option=com_content&view=article&id=102:hidup-sehat-dengan-agama&catid=97 [Non-text portions of this message have been removed]

