Bismillahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
Dahulu, ditahun 1989, untuk masuk kuliyah Al Azhar tidak sesulit sekarang.
Dulu, kita tidak ada test di Depag, langsung terjun bebas, daftar dan masuk
sesuai pilihan kuliyah kita. Hanya saja untuk kenaikan tingkat tidak semudah
sekarang. Masa dulu sulit sekali orang naik tingkat untuk tahun pertama itu,
sekarang malah ada yang nilainya cukup tinggi. Apakah memang otak orang dahulu
yang kurang(rasanya enggak juga sih), atau karena mahasiswa asing ribuan
jumlahnya, ketimbang dahulu yang sangat-sangat sedikit, terbukti, mahasiswi
baru dimasa saya hanya berjumlah 9 orang.sehingga para dosen-dosennya sudah
mengerti dan terbiasa dengan bahasa Arabnya orang asing tersebut, terutama
bahasa Arab orang maleeziy(Malaysia) dan Indonesia, Thailand.Atau karena sebab
lain, entahlah, saya juga kurang tau pasti.Yang jelas, disaat itu dari 9 orang
mustajjiddah(mahasiswi baru).
Selesai Lc, saya juga menggandeng seorang anak pr, karena tahun ke III saya
sudah menikah dengan kekasihku sebelumnya Abdurrahim Sumin, yang beliau inilah
banyak memegang peranan dalam setiap langkah-langkah keberhasilan dikuliyah
yang saya dapatkan juga dalam kehidupan, karena petuah-petuah dan
nasehat-nasehatnya sebagai seorang suami yang umur kami lumayan terpaut 9
tahun. Hanya saja, namanya perempuan, semuda apapun dianya saat menikah, tetap
saja dia akan kelihatan tua dibanding suaminya. Maklumlah lelaki biasanya kalau
sudah menikah tambah muda, karena ada yang ngurusinya, beda dengan perempuan
setelah menikah, ngurusi anak lelaki orang dulunya, juga melahirkan anak, jadi
rentan akan keriput-keriput dan ketuaan.(Moga-moga tidak penuaan dini, bukan
pernikahan dini saja yang ada, ketuaan dinipun ada juga, akibat pikiran, atau
memang sudah gen, keturunannya, gampang cepat kelihatan lebih tua dari umurnya).
Selesai Lc(S1), aku sudah tak ingin kuliyah lagi. Capek dah rasanya kuliyah di
Al Azhar dengan segudang problematikanya, apalagi kalau ngurus karne(card
mahasiswa), harus bayar rusum(uang untuk pengurusan card tersebut), harus
antrian, mahasiswa Al Azhar), biasanya tasdiq ini dipakai untuk iqamah(izin
tinggal), atau bea siswa, atau lainnya. Yang pasti, setiap mahasiswa memerlukan
tasdiq tersebut setiap tahunnya. Ini, antreannya minta ampun, panjang luar
biasa. Kadang sudah datang pagi- eh..kagak taunya kata petugasnya
"Bukrah"(besok), namanya Bukrah orang Mesir bukannya benar-benar besok
sebagaimana hari ini selasa, besokny.a rabu. Besoknya orang Mesir bisa sampai
seminggu, dua minggu atau bulanan, bahkan lebih dari itu, bayangkan kecewanya
kita menghadapi hal semacam ini. Jujur, saya sering menangis, dalam berurusan
itu. Dan inilah yang bikin saya tak mau menyambung S2 di Al Azhar awalnya.
Namun, berkat dorongan dari suamiku ini juga, akupun ikut test AlQuran 8 juz
ketika itu, untuk diterima masuk Dirasat 'Ulya(kuliyah 2 tahun dulu (kalau
normal)baru bisa nulis). Dan yang bisa ikut test inipun selain harus lulus
ujian AlQuran, juga nilainya harus Jayyid(good). Alhamdulillah, untuk nilai aku
tidak ada masalah. Yang masalah adalah ujian AlQurannya, karena saat akan test
itu, aku baru saja melahirkan anak lelaki(anak kedua)ku.Baru tiga hari
melahirkan, masih sakit-sakitnya bekas jahitan, terpaksa harus naik kebangunan
di tingkat tiga, dengan tangga(kagak ada liftnya di Al Azhar itu, dulunya,
sampai sekarang juga). Untuk itu, aku dibimbing oleh suamiku sampai naik ke
bangunan tingkat tiga, dan dengan membawa bantal, alas, biar kagak sakit kena
papan, maklumlah bangku kuliyah masih kelihatan kuno, dulunya, mungkin juga
sampai sekarang(hehehe, klasik, bukan pelajarannya saja yang klasik, tapi
peralatannya juga klasik, unik dan mengasyikkan).
Saat kami mengadakan aqiqahan anak kedua tersebut(mungkin berapa minggu atau
bulan kali, setelah test AlQuran itu), aku dengar berita, kalau diantara
mahasiswi Indonesia yang ikut test S2 itu, satu orang yang tidak lulus.
"Wah,..aku deh…ini, siapa lagi, kalau bukan saya, karena satu-satunya perempuan
yang ikut test kala itu yang sudah punya anak, dan juga testnya tiga hari
sehabis melahirkan, hanya saya, semua masih single, alias masih gadis. Sudah
deh,..saya ngak berminat lagi saya pikir".
Datang adik-adik mahasiswi kerumah. Apa mereka bilang :"Kak, selamat yah…kakak
lulus ujian AlQurannya?". "Oh yah,..masak sih..jangan ngacau,..". Ada yang
tanya. "Kakak emangnya saat ujian ngisinya gimana, serasa terisinya soal
semuanya". Saya jawab aja. "Soal diisi terisi semua lembaran 18 halaman itu".
Cumanya saja, namanya saja karena sejak hamil 8 bulan perut dah besar, sering
sesak nafas, sehingga jarang mengulang hafalan AlQuran, kecuali dalam hati
saja, apalagi saat nifas, mana ada pegang AlQuran. Ini yang bikin ragu lulus
apa tidaknya.
Sebelum ikut test AlQuran itu, aku dah daftar juga di Damascus, bahkan uang
untuk bayar kuliyahpun sudah kami titipkan keteman. Syukurnya, teman itu belum
mengasihkannya ke fakultas di Damascus itu. Aku ragu, bisa menyelesaikan S2 di
Al Azhar ini, terutama jurusan ilmu-ilmu hadits, yang memang belum ada
mahasiswi Indonesiapun yang lolos masuk bidang itu, kalau syari'ah cukup
banyak. Maka pernah aku sempat mengirim lamaran untuk pindah jurusan di S2 ini.
Dari jurusan hadits ke jurusan Syari'ah. Tetap saja aku diterima di jurusan
hadits itu. Aku tak yakin lulus untuk dirasat Ulyanya, karena memang sangat
sulit sekali, gurunya streng, terutama guru tafsir dan ilmu musthalahulhadits,
terkenal dikuliyah gurunya syadiid jiddan-jiddan.
Aku merasa kalah sebelum bertanding. Kukatakan pada suamiku, Ima kuliyah di
Jakarta atau di Damascus sajalah Uda, atau di Sudan, yang cepat, bisa selesai
S2, hanya makan waktu 2-3 tahun kan? Di Al Azhar ini lama minta ampun, mana
sulit setengah mati lagi. Satu mata kuliyah ngak lulus, gugur semuanya. Ima
ngak mau sibuk dengan ujian-ujian yang bikin stress dan menegangkan, geger otak
dibuatnya, mana administrasi di suun thalibahnya lagi, repot minta ampun.
Suamiku tetap saja menyabarkan.
Dicoba dulu. Kalau tak lulus gimana? Saya bilang. "Coba lagi tahun depan".
"Kalau tak lulus lagi, gimana?" "Coba lagi tahun depannya". Lantas kalau sudah
drop out", yah..pindah jurusan, begitu seterusnya". Kalau Ima di Sudan, Sudan
panas, Ima bakalan kagak tahan hidup disana. Disini aja, kalau dah panas dikit
aja, Ima ngak keluar-keluar rumah. Kalau di Damascus atau Jakarta, kita pisah
sama anak-anak juga, lagian biaya akan semakin mahal.(Dulu kuliyah di Al
Azharkan untuk S2 tidak bayar, setahun sebelum saya menyelesaikan S2 baru ada
aturan bayarnya 1000 pound).
Syukurnya dah hampir selesai baru ada aturan bayar, kalau dari awal, wah..tiap
tahun bayar 1000 pound lumayan banyak juga tuh.Dimana saya tidak pernah
mengurus bea siswa lagi di Mesir itu. Hanya keuntungan saya, disaat baru
setahun menulis, saya ikut test PNS, dan lulus, kemudian ambil tugas belajar,
dan gaji jalan terus. Inilah yang akan membantu untuk bayar uang kuliyah dan
juga beli-beli buku, serta dah pasti bantuan materil dan moral dari suami
tercinta yang beliau ini mau habis-habisan demi selesainya kuliyah saya.
Saya tidak tau, kenapa beliau begitu menginginkan saya melanjutkan kuliyah,
sangat mendukung sekali, padahal sayanya dah capek, karena di AlAzhar dengan
urusan administrasinya ini lho? Tak sedikit linangan air mata saya keluar demi
semua ini, apalagi setelah tinggal di lokasi yang jauh dari kuliyah, dulu di
lokasi Nasr City, setelah menulis di Doqqi, jauh sekali. Kepustaka darmadash
pun jauhnya minta ampun. Dimana pembimbing sayapun dekan di fakultas Al Azhar
Khanka, di propinsi lain dari kota Mesir, lumayan jauh, dan terpencil.
Untuk mengajukan tulisan agar diedit saya harus kesana. Suami sering
mengantarkan saya, terutama hari sabtu, kedutaan libur, jadi bisalah
diantarkannya. Terkadang beliau sendiri pergi ke Khanka, menemui pembimbing
saya, mengantarkan skripsi yang dah ditulis itu. Beliau memang tidak membantu
saya dalam penulisan, kecuali pengetikan, karena isi dari mata kuliyah saya
berbeda dengan mata kuliyahnya. Beliau bidang Tafsir dan bahasa Arab, sementara
saya hadits, tentu yang mengerti dengan bidang saya yah saya sendiri. Beliau
sabar mengetik dikomputer tulisan yang sudah saya tulis dengan tulisan tangan
itu. Kadang, kita upahkan ke orang Mesir untuk mengetiknya, sekaligus edit sisi
bahasanya.
Luar biasa kesabaran suami saya ini, padahal beliau juga sangat sibuk dikantor,
tapi untuk urusan kuliyah, beliau sangat komitment harus selesai.Apalagi
setelah tugas belajar dari Depag, tentu malu kalau tak selesai. Saya sendiri
merasa seakan-akan tidak selesai kuliyah S2 ini, habis yang akan dikerjakan
banyak sekali, karena judul ditentukan oleh kuliyah, mana dulu belum ada CD
haditsnya. Kalau sekarang dah ada CD gampang cari hadits. Dulu saya terpaksa
membuka buku 11 jilid, lembar demi perlembar.Apalagi Imam Assyuyuthi, banyak
referensi bukunya sudah hilang, dicari manuscripnya sampai ke Kuwait, saya di
Kuwait ada seminggu hanya untuk mansucrip ini. Begitu berat perjuangan
menyelesaikan S2 ini. Makanya saya juga pernah bilang lagi, ngak mau ambil S3
di Al Azhar ini lagi.Ampun, dan taubat deh..!!
Lagi-lagi logika suami saya masuk akal juga saya pikir. Kan kalau sudah ambil
Doktor, judul kita tentukan sendiri. Lagian tidak ada kuliyahnya. Langsung
menulis. Masak untuk S2 saja Ima bisa menyelesaikan, koq S3 tinggal nulis tidak
bisa? Kalau masalah biaya, akan sama juga jatuhnya, bahkan akan lebih mahal
ketimbang di Negara lain, katakanlah Sudan, atau Jakarta. Ini logika suami
saya. Dan saya pikir benar juga sih.
Ok lah saya bilang. Ima ambil S3. dan untuk S3 ini juga saya harus tugas
belajar, karena lagi-lagi PNS. Mengurus tugas belajar inipun minta ampun
kesulitan dari sekolah. Saya tak dapat izin dari sekolah, namun izin dari
menteri Agama langsung saya dapatkan. Dengan linangan air mata saya mengurusnya
di Padang dan Jakarta, alhamdulillah, tidak sampai 3 hari selesai urusan itu.
Dan tanpa bayar uang sama sekali untuk dapat izin tugas belajar itu. Hanya
pihak sekolah saja yang terlalu mempersulit saya ketika itu. Saya yakin sekali
akan do'a "ya Allah, tidak ada yang melarang (rezeki) itu, jika memang Engkau
sudah menetapkan untuk memberi rezeki itu, dan tidak ada pula yang dapat
memberikan saya rezeki, apabila Engkau telah tetapkan, tidak ada rezeki itu
untuk saya" Saya benar-benar yakin akan Do'a dan Allah ta'ala. Taqdir, Qadha
sangat saya yakini sekali dalam hidup ini. AlQuran benar-benar sudah menjalar
dalam tubuh saya untuk meyakini isinya 100%, tanpa
keraguan sedikitpun.
Perlu diketahui, kenapa saya bisa lulus ujian dirasat 'Ulya tanpa ada
pengulangan sama sekali. Sekali ujian langsung lulus, padahal untuk nyambung
kuliyah itukan bukan kemauan dari dalam diri saya, tapi suami saya.
Kuncinya hanya satu. Saya tidak ingin mengecewakan suami saya, saya ingin
membahagiakan beliau ini. Kalau saya sudah masuk dalam medan perang, maka saya
harus memenangkan peperangan itu. Itulah prinsip saya dalam hal apapun. Resiko
apapun akan saya hadapi, kalau saya sudah menetapkan pilihan terhadap sesuatu.
Kalau selagi belum menetapkan pilihan, maka saya banyak alasan-alasan untuk
menolaknya.dari A-Z saya akan kemukakan alas an itu. Namun bila saya dah
tetapkan pilihan itu "Iya", maka saya akan komitmen dan konsekwen dengan
pilihan itu, maka saya harus lulus, harus berhasil, dengan usaha do'a dan
tawakkal pada Allah Ta'ala.
Mulailah saya mikirin judul thesis apa yang bisa cepat diterima oleh fakultas.
Karena untuk diterima judul ini juga di Al Azhar tidak gampang. Ada yang sudah
setahun, dua tahun, tiga tahun, sekali dua kali sampai ada yang 12 kali
mengajukan judul baru diterima judul yang ke 13nya. Luar biasa sulit di Al
Azhar ini.
Saya mikir-mikir, apa kira-kira judul yang cepat diterima dan bermanfaat buat
Negara saya?. Akhirnya ketemu juga judul itu, memang berat, dan akan
mendapatkan pertentangan dari kaum adat Minang kelaknya. Jangankan thesis ini,
makalah saya yang cuman beberapa lembar saja, sudah minta ampun perlawanan
mereka pada saya, tapi akhir-akhir ini saya lihat, sepertinya sudah bisa
menerima, kalau Agama diatas segalanya dari adat itu sendiri, dan adat istiadat
yang dibuat manusia haruslah tunduk pada hukum Allah Ta'ala dan Sunnah
Rasulullah, karena hakikatnya adat ataupun hukum ciptaan manusia, tidak kekal,
akan punah juga, terutama bila hukum itu bertentangan dengan AlQuran dan Hadits.
[Non-text portions of this message have been removed]