(Postingan seorang teman dari milis tetangga):
 
Seorang kawan akhir pekan kemarin mengajak menghadiri peluncuran sebuah buku. 
Judulnya, "Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di 
Indonesia ". Buku tersebut diterbitkan oleh Gerakan Bhinneka Tunggal Ika, The 
Wahid Institute, dan Maarif Institute. Hak ciptanya dipegang oleh sebuah 
yayasan yang bernama LibForAll Foundation

Dari nama-nama tersebut dengan mudah dikenali bahwa buku itu dipromotori oleh 
dua organisasi keagamaan legendaris: NU dan Muhammadiyah. Gus Dur bahkan 
bertindak sebagai editor buku (tak usah dipersoalkan bagaimana Gus Dur yang 
memiliki keterbatasan penglihatan, bisa menjadi editor buku setebal 324 
halaman).

Mantan Ketua PP Muhammadiyah, Syafii Ma'arif dan tokoh NU KH Mustofa Bisri ikut 
menulis pengantar dan penutup dalam buku ini.

Saya sedang dalam proses membacanya, tetapi intisari buku tersebut adalah 
membeberkan adanya agenda-agenda 'terselubung' sejumlah kelompok, termasuk 
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang disebut-sebut hendak mendirikan negara 
Islam. Kelompok Islam seperti PKS atau Hizbut Tahrir yang dianggap memiliki 
afiliasi kosmoplitanistik dengan gerakan-gerakan di luar negeri, ditengarai 
hendak memanfaatkan sistem demokrasi untuk mengubah konstitusi berdasarkan 
Islam.

Buku ini telah beredar versi soft-copy-nya dan bisa diunduh secara gratis.

Di sebuah milis, ada posting yang agak seru tentang buku ini:

"Kami baru menerima berita dari Mas Ahmad Suaedy Direktur the Wahid Institute, 
toko-toko yang menjual buku "Ilusi Negara Islam" diteror: akan diserbu, dibakar 
melalui telepon-telepon tak dikenal. 

Di Gramedia pun buku ini belum sempat beredar. Anda mungkin akan kesulitan 
mendapatkan buku ini di pasaran. Syukur alhamdulillah, melalui jasa internet, 
pembredelan dan ancaman untuk sebuah karya tidak akan berhasil sempurna. Kini 
bagi siapa pun yang ingin membaca buku ini silakan mengunduhnya (download) 
melalui alamat berikut: 

http://www.bhinneka tunggalika. org/galeri. html

Sebelum karut marut dalam beberapa hari ke depan, sepertinya kita (jurnalis) 
perlu berhati-hati menyikapi kontroversi seputar penerbitan buku ini. Di satu 
sisi kita perlu konsisten mendukung kebebasan akademik (karena buku ini hasil 
penelitian) dan kebebasan berpendapat; buku harus dibalas dengan buku; 
dialektika dan argumen harus dibenturkan melebihi benturan fisik. 

Tapi di sisi lain, kita tetap harus skeptis terhadap 'dramatisasi' situasi 
sebagai bagian (misalnya) dari strategi 'pemasaran' buku.

Buku ini sendiri memang berpotensi mengunduh reaksi balik yang keras. Dalam 
salah satu lampirannya, misalnya, ada: 

Surat Keputusan Pimpinan Pusat (SKPP) Muhammadiyah No. 149/KEP/I.0/ B/2006, 
untuk membersihkan Muhammadiyah dari Partai Ke­adilan Se­jahte­ra (PKS).

Padahal judul resmi SKPP itu adalah: Kebijakan Pimpinan Pusat Muhammadiyah 
Mengenai Konsolidasi Organisasi dan Amal Usaha Muhammdiyah (yang ditandatangani 
Din Syamsuddin, 1 Desember 2006). 

Bahwa PKS disebut di poin 3, bunyinya juga tidak ada yang eksplisit menyatakan 
"membersihkan Muhammdiyah dari PKS". Saya merinding dengan diksi "membersihkan" 
ini. Teringat 1965: Bersihkan kabinet dari unsur-unsur PKI.

Sementara di lampiran lain, ada himbauan untuk membentuk Front Pancasila 
Penegak NKRI. Ini mengingatkan saya pada nama-nama milisi yang dibentuk di 
Timor Timur, Aceh, atau daerah konflik lain. Ada aroma permusuhan yang 
dihembuskan secara kencang melalui pilihan kata, meski barangkali niatnya tak 
akan sejauh itu.

Karena itu, melalui 'fatwa' ini (hehehe...), jurnalis perlu tetap waras dalam 
memberitakan kontroversi buku ini agar tidak terjadi gesekan horizontal. 
Apalagi, konteks politik juga harus dipahami di tengah musim pemilu seperti 
ini. 

Akhirul kalam, selamat membaca dan berpolemik.. .




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke