Nilai Segelas Air
May 20, 2009 at 8:16 am
(Islami) · Edit
Tags: Bobby Herwibowo, hikmah, Nilai Segelas Air
Oleh : ust. Bobby Herwibowo
“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup” (QS. 21:30)
Ayat ini merupakan ayat populer. Kerap dikutip orang saat menyatakan
betapa pentingnya eksistensi air. Tidak satu pun makhluk hidup di dunia
ini yang tidak butuh air. Bahkan komponen terbesar dalam tubuh manusia
dan banyak makhluk lainnya adalah air.
Air merupakan nikmat yang tiada ternilai. Proses sebuah air hingga
bisa dinikmati oleh manusia sering digambarkan oleh Allah Swt dalam
ayatNya dengan skema yang tidak main-main. Negeri kering nan tandus,
kemudian Allah Swt kumpulkan debit air dalam sebuah wadah
terbang-bergerak bernama awan. Lalu awan tersebut ditiup dan digiring
menuju negeri yang Dia Swt kehendaki. Maka atas izinNya hujan pun turun
membawa ribuan ton debit air. Membasahi bumi… lalu setelah itu manusia
menggunakannya untuk minum, mencuci, mandi, masak dan lain-lain. Duh
andai saja manusia menyadari proses ini, pasti mereka wajib bersyukur.
“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah
yang menurunkannya dari awan atau Kamikah yang menurunkannya? Kalau
Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu
tidak bersyukur?” (QS. 56 : 68-70)
Seorang raja bernama Harun Ar Rasyid sedang dalam sebuah perjalanan
melintasi sebuah gurun pasir menunggangi unta. Bersamanya ada sebuah
lelaki bijak sang penasehat raja bernama Ibnu As Samak. Perjalanan
panjang di siang yang panas. Terik matahari membuat dehidrasi dan sang
khalifah pun kehausan. Pada satu tempat yang teduh, Harun ar Rasyid
menepi. Disuruhnya As Samak untuk menggelar tikar dan membawa minuman
untuknya.
Ibnu Samak menggelar tikar untuk sang raja dan menuangkan segelas
air untuknya. Saat gelas sudah terisi oleh air, lalu Ibnu As Samak
berujar, “Khalifah…, dalam kondisi panas dan tenggorokan kehausan
seperti ini, andaikata bila kau tidak dapatkan air untuk minum kecuali
dengan harus mengeluarkan separuh kekayaanmu, sudikah engkau membayar
dan mengeluarkannya? !” Hari terik dan panas mencekat kerongkongan,
tanpa pikir panjang khalifah ar Rasyid menjawab, “Saya bersedia
membayarnya seharga itu asal tidak mati kehausan!”
Maka usai mendengarnya, Ibnus Samak memberikan segelas air itu dan khalifah pun
tidak lagi kehausan.
Ibnu Samak lalu duduk di sisi khalifah Harun. Sejurus kemudian Ibnu
Samak melontarkan pertanyaan lagi, “Khalifah, andai air segelas yang
kau minum tadi tidak keluar dari lambungmu selama beberapa hari
tentulah amat sakit rasanya. Perut jadi gak keruan dan semua urusan
jadi berantakan karenanya. Andai kata bila kau berobat demi
mengeluarkan air itu dan harus menghabiskan separuh kekayaanmu lagi,
akankah kau sudi membayarnya? ” Mendengar itu, sang khalifah merenungi
kondisi yang disebut oleh Ibnus Samak. Seolah mengamini maka khalifah
menjawab, “Saya akan membayarnya meski dengan separuh harta saya!”
Mendengar jawaban dari sang khalifah, maka Ibnus Samak sang
penasehat raja yang bijak kemudian berkomentar, “O…., kalau begitu
seluruh harta yang tuan khalifah miliki itu rupanya hanya senilai
segelas air saja!”
Saudaraku…,
Ramadhan sebentar lagi akan kita jelang. Di sana selama beberapa
hari Anda akan merasakan betapa segelas air akan menjadi tiada ternilai
harganya. Setelah menahan haus dan lapar sehari penuh. Saat waktu
ifthar menjelang, maka segelas air putih pun akan menjadi sesuatu yang
bermakna. Saat air membasahi tenggorokan yang kering dan kehausan, maka
Anda pun akan bersyukur kepada Allah Swt dengan suara lantang dengan
lantunan doa:
Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa alaa rizqika afthartu birahmatika yaa
Arhamar Rahimin.
Di bulan ramadhan segala nikmat menjadi indah terasa, demikian juga
nikmat seteguk air. Alangkah bagusnya bila ini terus berlangsung
sepanjang masa.
Puji syukur untukMu ya Rabb!
Silahkan Kunjungi Blog Priendah
[Non-text portions of this message have been removed]