Dari Moderator:
Hipertensi/darah tinggi berkaitan erat dengan penyakit jantung dan stroke.

Ini merupakan penyakit pembunuh nomor 3 di AS (Di Indonesia mungkin nomor 3 
juta) di mana 700 ribu orang tewas setiap tahun dan biayanya sangat besar 
(misalnya ipar saya kena stroke saja yang pertama habis rp 100 juta lebih.

Padahal Nabi sudah memberikan solusi/cara mengatasinya. Yaitu dengan 
bekam/hijamah. Yaitu mengeluarkan darah kotor/mati di berbagai titik tubuh 
sehingga aliran darah menjadi lancar dan tekanan darah juga berkurang karena 
volumenya dikurangi sedikit (sekitar 1/4 dari jumlah kantong orang donor darah).

Bekam juga bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit yang bisa dideteksi lewat 
darah (mis: Gula) karena bekam megganti darah kotor dengan darah bersih secara 
alami. Dalam 5 hari setelah darah kotor dikeluarkan, tubuh kita memproduksi 
darah baru yang segar dan bersih.

Info tentang bekam bisa dibaca di:
www.media-islam.or.id

Wassalam
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan penyakit yang sangat
berbahaya, dan menyebabkan kematian. Sayangnya masih banyak orang yang
menderita hipertensi tidak menyadarinya. Perlu diketahui, asupan garam
yang berlebihan bisa menjadi pemicu.

Spesialis jantung dan pembuluh darah dari Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Dr. santosao Karokaro, SpJP
mengatakan hipertensi sering disebut sebagai "The silent disease"
karena hipertensi tidak memiliki keluhan dan tanda khas.

"Orang
jarang sekali mengetahui dirinya mengidap hipertensi sebelum
memeriksakan dirinya ke dokter. Diperkirakan satu dari empat orang
penderita hipertensi tidak mengetahui tekanan darahnya tinggi," ungkap
Santoso pada peringatan hari hipertensi dunia yang selenggarakan
Novartis Indonesia dan Yayasan Jantung Indonesia di Jakarta, akhir
pekan lalu.

Hipertensi dapat dikelompokkan dalam dua kategori
besar, yaitu primer dan sekunder. Hipertensi primer artinya hipertensi
yang belum diketahui penyebabnya dengan jelas.

Santoso
mengatakan, hipertensi primer disebabkan oleh bertambahnya usia dan
stres. Sedangkan hipertensi sekunder bisa idkatakan penyebabnya sudah
pasti misalnya ganjal yang tidak berfungsi dan terganggunya
keseimbangan hormon.

Namun
yang pasti, lanjutnya, gaya hidup lah yang menjadi faktor utama
penyebab hipertensi. Misalnya, Pola makan masyarakat yang tidak
seimbang.

"Hipertensi dianggap hal yang biasa karena terkait
gaya hidup modern. Kegemukan, asupan garam yang tinggi, asupan alkohol
adalah penyebab hipertensi yang banyak ditemukan dari tahun ke tahun,"
paparnya.

Lebih lanjut Santoso memaparkan hipertensi
meningkatkan risiko gagal jantung, penyakit jantung koroner,demensia,
kerusakan ginjal, stroke, kebutaan dan kematian. Juga fakta penting,
bahwa seseorang dengan tekanan darah tinggi tidak harus menunggu
bertahun-tahun  sebelum terjadi komplikasi.

"Hipertensi bisa menyerang tanpa peringatan, dan serangan pertama bisa  
merupakan yang terakhir," imbuhnya.

Secara
umum seseorang dikatakan menderita hipertensi jika tekanan darah
sistolik/diastolikn ya melebihi 140/90 mmHg (normalnya 120/80 mmHg).
Sistolik adalah tekanan darah pada saat jantung memompa darah ke dalam
pembuluh nadi (saat jantung mengkerut). Diastolik adalah tekanan darah
pada saat jantung mengembang dan menyedot darah kembali (pembuluh nadi
mengempis kosong).

Kurangi asupan garam

Waspadai
asupan garam berlebih karena garam merupakan sumber sodium yang utama
dan faktor utama penyebab meningkatnya tekanan darah atau hipertensi
yang dapat berkembang menjadi penyakit-penyakit kardiovaskuler.

Hipertensi
terjadi jika ada peningkatan volume darah dan penyemputan pembuluh
darah yang memaksa kerja jantung untuk memompa darah dan nutrisi. Garam
menyebabkan tubuh menhan air dengan tingkat melebihi ambang batas
normal tubuh sehingga dapat meningkatkan volume darah dan tekanan darah
tinggi.

Dengan begitu garam menjadi cikal bakal penyakit yang
menyebabkan kematian nomor satu di dunia yakni jantung. Secara global ,
menurut data Yayasan Jantung Indonesia, tujuh juta jiwa meninggal
setiap tahunnya akibat tekanan darah tinggi.

Angka
kematian ini bisa dicegah dengan merubah pola makan misalnya mengurangi
asupan sodium. Meskipun sodium terkandung dalam garam namun 80%
kandungan sodium  terdapat pada makanan yang diproses atau makanan
kemasan.

"Mengurangi konsumsi garam menjadi 6 gr per hari dapat menurunkan resiko stroke 
hingga 24%," imbuh Santoso.

Di
Indonesia menurut data dari Indonesian Society of Hypertension asupan
garam harian mencapai 15 gr hingga dua kali liat yang direkomendasikan
WHO yaitu 5 sampai 6 gr per hari. Ada tiga tahap diet rendah garam
yakni terdiri dari diet ringan (konsumsi garam 3,75-7,5 gram per hari),
menengah (1,25-3,75 gram per hari) dan berat (kurang dari 1,25 gram per
hari).

Dengan begitu pengurangan asupan garam secara nasional
adalah cara paling cepat dan murah untuk mencegah penyakit
kardiovaskuler, imbuhnya. Dalam hal ini peran aktif masyarakat sangat
diperlukan untuk menurunkan angka kematian akibat kardiovaskuler.

Selain
pada garam sumber sodium yang perlu diwaspadai berasal dari penyedap
masakan (MSG). Budaya masyarakat Indonesia dalam menggunakan MSG di
setiap masakan sangat megkhawatirkan. Belum lagi jajanan bebas seperti
bakso, soto atau makanan kemasan. Tanpa disadari, asupan garam per hari
sangat tinggi yang dapat memicu tekanan darah semakin meningkat.
(cr1/rin)

http://www.republika.co.id/berita/51265/Antara_ Garam_Hipertensi _dan_Jantung





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke