1 ). Memegang Tanggung jawab, amanah yang
diembankan kepadanya dengan penuh keikhlasan..
Tanggung jawab
dan memikul amanah, serta melaksanakannya adalah suatu hal yang teramat berat.
Namun
ini adalah unsur azasi dari sikap seorang pemimpin.
Tanggung jawab
ini merupakan tiang pokok yang harus dimiliki, karena ini merupakan kebutuhan
masyarakat dalam mencapai keberhasilan, ketinggian dan kemenangan.
Allah SWT
berfirman : " Dan sungguh kamu kelak akan ditanya terhadap apa-apa yang
telah kamu lakukan " ( An Nahl 93 ).
Masing-masing
kita mempunyai tanggung jawab. Rasulullah SAW bersabda dari riwayat Ibn Umar :
" Masing-masing kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin bertanggung
jawab terhadap apa yang di pimpinnya, raja ,atau Presiden adalah seorang
pemimpin,kepala
RT ( suami ), adalah seorang pemimpin di rumahnya , Istri juga pemimpin
terhadap rumah suaminya, serta anak-anaknya, maka masing-masing kamu adalah
pemimpin, dan pasti setiap pemimpin kelak akan mempertanggung jawabkan apa yang
dipimpinnya " ( H.R.Muslim ).
Masing-masing
kita kelak akan ditanya, apa yang kita perkatakan, kita lakukan, gerakan kaki
dan tangan, ataupun diamnya, akan dipertanggung jawabkan kelak dihadapan Allah
SWT. Namun tanggung jawab Hakim , Presiden, raja, jauh lebih besar dari semua
itu.
Oleh sebab itu
dengan segala kekuatan dan tanggung jawab terhadap beban yang dipikul, hendaklah
pemimpin konsekwen atas semua itu, mampu dalam memanage dan ikhlas dalam
perbuatannya tersebut.
Tanggung jawab
adalah beban yang tidak gampang dan mudah, namun suatu beban yang sangat berat,
tidak ada yang mampu memikul beban ini, selain seorang yang berilmu, pemberani,
tahu management pemerintahan, bijaksana dalam bertindak.
Karena apa,..?
Karena semua ini adalah tanggung jawab masyarakat, Negara, agama, person, juga
jiwa sendiri. Semua itu tanggung jawab yang maha berat.Tidak akan ada yang
mampu melaksanakannya kecuali bagi mereka yang benar ahli dalam bidang ini.
Orang yang
kuat, tidak lemah, tidak gampang lari dari masalah, serta tidak takut terhadap
kekuasaan orang yang dzalim, ia selalu memberikan orang yang teraniaya akan
hak-hak mereka, bergaul dengan para fakir miskin seolah-olah mereka adalah
anak-anaknya, tidak menghancurkan dan menghalangi, apalagi mengambil hak-hak
mereka, dengan tanpa basa-basi, pura-pura menampakkan rasa cinta dan kasih
disaat butuh saja. Seorang pemimpin tidak kan menyakiti manusia dengan
prajuit-prajuitnya..
Oleh sebab
itulah Rasulullah SAW,memukul ( dengan halus ),pundaknya Abu Dzar saat Abu dzar
meminta beliau agar diberi jabatan,apa jawab Rasulullah ? " Wahai Abu Dzar
engkau adalah orang yang lemah, sementara tanggung jawab ini adalah amanah
Allah, kelak dihari kiamat semua akan dipertanggung jawabkan , bagi siapa yang
tidak menunaikan amanah tersebut, ia akan mendapat kehinaan dan penyesalan
tiada akhir, tetapi bagi siapa yang dapat melaksanakannya dengan baik,
memberikan
manusia sesuai dengan haknya, kelak ia akan mendapat ganjaran yang baik pula
".( H.R.Muslim ).
2 ).Sikap Bermusyawarah dalam mencapai
kata Mufakat.
Musyawarah
adalah satu hal pokok dari tiang-tiang kehidupan. ia adalah suatu tanda dari
beberapa tanda
jalan menuju jalan yang lurus, sehingga memungkinkan pemegangnya mencapai apa
yang dituju dari kehidupan bermasyarakat itu.
Allah SWT
berfirman : " Dan perihal diantara mereka adalah dengan cara bermusyawarah
".
Dalam ayat
yang lain juga disebutkan : " Berkatalah ratu Balqis wahai para pejabatku,
berikanlah aku nasehat dalam permasalahanku ini, aku tidak sanggup
memutuskannya sendiri, sehingga kamu memberi nasehat padaku ".
Dalam sebuah
Hadist disebutkan : " Jika pemimpin-pemimpin kamu adalah orang-orang yang
paling baik diantara kamu, orang-orang kaya menjadi orang yang pemurah ( suka
berderma ), dan segala hal kamu selalu diselesaikan dengan jalan Musyawarah,
maka
punggung bumi lebih baik bagi kamu ketimbang perut bumi.
Jika
pemimpin-pemimpin kamu adalah orang yang paling jahat ( penjahat bagi kamu ),
serta
yang kaya-kaya diantara kamu menjadi orang yang bakhil, dan segala sesuatu hal
kamu serahkan pada wanita kamu, maka perut bumi lebih baik bagi kamu ketimbang
kulit bumi itu sendiri "( H.R At Tirmidzi bab Al Fitan= Fitnah ).
Tidak dapat
disangkal lagi , bahwa rasulullah adalah contoh tauladan yang baik dalam hal
musyawarah ini. Lihatlah sikap beliau dalam setiap peperangan , perang Badr,
Khandaq
( yang menerima usulan Salman Al Farisi untuk membangun parit besar, sebagai
pelindung kaum muslimin ).,dan segala macam lainnya, selalu beliau
bermusyawarah dulu dengan para sahabat lainnya, beliau tidak pernah memutuskan
sendiri dalam masalah kenegaraan semacam itu.
Jika kita suka
bermusyawarah, maka kesalahan kita akan sedikit, kebaikan yang banyak, namun
sebaliknya bila hal ini tidak kita lakukan, maka kesalahan kita akan besar.
Karena
apa? Karena sudah jelas, segala sesuatu kalau dikerjakan dan di putuskan
bersama-sama maka akan mudah dan segala resiko akan ditanggung bersama-sama,
apapun
efek positif dan negatifnya.
Oleh sebab itu
Musyawarah ini sangat penting, ia bagaikan kuda yang menjaga tuannya. Meski
seseorang itu pintarnya selangit, umur dan pengalamannya sudah matang, namun
tetap saja Musyawarah itu jauh lebih baik, ketimbang berpendapat sendiri.
3 ). Bersikap Adil
Wasssalamu'alaikum.
Rahima.S.Sarmadi.Abd.Rahim.
"Laa tahtaqir Syaian mahmaa kaana shaghiiran"
(Jangan anggap enteng segala sesuatu meskipun ia kecil)
[Non-text portions of this message have been removed]