weleh2 syerem banget denger ceritanya ya, btw kalo saya pribadi kalo lagi sakit, diusahakan dulu minum obat yg cocok yg bisa dibeli di warung/apotek atau minum obat traditional, kalo ga sembuh2 juga baru ke dokter, itupun ke dokter klinik yg murah meriah & saya selalu simpan copy resep & saya tulis diresep itu untuk sakit apa, misalnya sakit diare, jadi jika saya sakit diare saya tinggal bawa copy resep diare tsb & jangan lupa untuk minta copy resepnya lagi sama apoteker, lumayanlah hemat biaya dokter sekitar 30rb - 80rb, intinya sih memang kita harus punya uang kalo berobat ke rumah sakit, pernah pengalaman saya waktu melahirkan disuatu rumah sakit didaerah Jakarta Pusat, pihak RS minta deposit minimal 5jt, suami saya menyanggupinya & pihak RS menganjurkan saya untuk dirawat di ruang VIP karena katanya deposit saya mencukupi & masih sisa banyak untuk ukuran melahirkan normal, tapi suami saya menolaknya, selain biayanya lebih mahal, saya juga ga berani berada diruang seorang diri karena ruang VIP cuma berisi 1 orang, akhirnya saya memilih untuk ditempatkan dikelas 2, yang isinya 3 pasien, saya lebih senang begini karena bisa kenalan & bertukar pengalaman dg ibu2 yg baru melahirkan seperti saya, kembali kemasalah uang, bayangkan kalo seandainya kita ga punya uang untuk deposit RS, apakah kita masih dilayani ? moto RS utamakan nyawa atau uang ?
----- Original Message ----- From: rifky pradana To: [email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; [email protected] Sent: Monday, June 08, 2009 7:41 PM Subject: [Sabili] Bgmn Sistemnya agar Sakit tdk Mahal ?. Ini bukan cerita politik, bukan pula cerita rekayasa apalagi untuk pencitraan, akan tetapi diilhami berita yang dirilis pada salah satu harian online yang judulnya : RS Omni juga gugat pasien meninggal yang menceritakan bahwa utang orang yang sudah dikubur tersebut juga berlaku hukum pinjam meminjam dari tengkulak yang legal alias bank yakni bunga atau riba. Mengapa situasi demikian bisa terjadi ?. Baiklah saya ceritakan pengalaman seorang pasien : Sebutlah tuan X umur 52 tahun, pekerjaan pedagang kue, penampilan bisa bayar, datang ke bagian emergency karena sakit kepala dan tegang leher disertai muntah dan pandangan kabur sejak 7 hari sebelum masuk RS. Setelah wawancara kilat dokter jaga langsung menganjurkan ( sedikit menekan) agar Tn.X dirawat, apalagi melihat penampilan Tn.X mampu untuk membayar semua yang diperlukan selama perawatan. Pendek cerita setelah perawatan mulailah terjadi pemeriksaan komplit super komplit kepada Tn.X , mulai dari pemeriksaan kimia darah lengkap dengan biaya hampir 2 jt, kemudian foto dada ( apa hubungannya dengan sakit kepala ya ) , dan foto kepala segala posisi, foto leher segala posisi, Elektro Encephalo Grafi( melihat fisiologi otak ), Elektromyografi( melihat fisiologi otot leher) , CT.Scan kepala lengkap dengan kontras, hingga pemeriksaan MRI mulai dari perut hingga kepala yang menelan biaya hampir 25 jt. Selama perawatan, Tn.X terpaksa harus mau dirawat di ruang semi VIP, karena ruang kelas standard dilaporkan penuh, dan selama perawatan Tn.X dilengkapi dengan pemasangan infus dengan cairan berwarna merah , kesannya menyeramkan. Setelah perawatan seminggu total pengeluaran Tn X sudah mencapai hampir 125 juta rupiah, termasuk biaya perawatan, honor dokter spesialis sebanyak 3 orang plus biaya administrasi yang dihitung 10% dari total biaya , bisa dibayangkan berapa besar biaya administrasi tersebut bukan ?. Menyadari persoalan yang dihadapi, Tn.X meminta pulang ( sembuh sendiri karena kaget jumlah pengeluaran untuk perawatan ), dan menanyakan apa penyakit yang diderita kepada dokter nya yang merawat. Dalam surat kontrol yang diberikan yang diberikan , dokter menuliskan diagnosa perawatan dengan : Tension head ache artinya kalau bahasa awam sakit kepala karena ketegangan. Gila, hanya untuk mengatasi sakit kepala karena ketegangan harus mengeluarkan biaya hampir 125 juta rupiah. Tapi beruntunglah…. karena Tn.X masih hidup, dan harus mencicil biaya tersebut plus bunga nya dengan usaha berjualan kue, karena setiap bulan akan berhadapan dengan debt collector rumah sakit dan teror telefon dari pihak rumah sakit. Inilah gambaran pelayanan kesehatan rumah sakit saat ini pada umumnya, seandainya Tn.X mempunyai seorang dokter keluarga, yang memahami segala persoalan pasiennya luar dalam baik fisik maupun psikologis , tentu permasalahan seperti ini bisa dihindari. Seandainya Tn.X punya dokter keluarga, biaya yang dikeluarkan paling banter 125 ribu perak sudah termasuk obat. Namun dengan situasi industri rumah sakit saat ini maka pasien yang telah dikubur karena meninggal di RS akan tetap punya utang plus bunganya dan akan dikejar debt collector dengan segala dampak sosial lainnya. Ngeri memang, siapa sih yang mau sakit ?. Kesehatan itu memang mahal, tapi kesehatan itu bisa murah kalau kita mau membuat sistimnya murah. Artikel ini dapat dibaca di : Rumah Sakit : Sudah Dikubur Utang Tetap Utang Plus Bunga. http://public.kompasiana.com/2009/06/05/rumah-sakit-sudah-dikubur-utang-tetap-utang-plus-bunga/#more-19755 *** Saya kasihan sama Mba prita mulyasari yg masuk penjara karena gara-gara curhat sama temen-temen via internet. tapi RS omni tidak terima merasa dijelek-jelekan oleh mba prita. Menurut saya RS Omni boleh tidak salah nuntut kalau ada UU pencemaran nama baik supaya orang tidak sembarangan bicara yg bisa usaha orang bangkrut. Dan, di sana banyak pegawai yg bekerja yg tidak mudah cari kerja lagi kalo kena PHK. dan kita juga perlu ada RS bonafide spt RS Omni daripada berobat ke luar negeri. Kalau RS omni ditutup terus pasien berobat kemana ?. Kalau jaksa dan polisi tangerang mengamankan mba prita berarti RS omni tidak salah menurut hukum indonesia yg berdasarkan pncasila dan UUD 45. Jangan mudah marah mas-mas di internet nanti cepat tua. Hati boleh panas tapi kepala dingin seperti saya dong. Kalau kurang dingin tempelkan batu es dari kulkas di jidat. Maka dari itu ikutilah nasihat saya. Artikel ini dapat dibaca di : RS Omni Boleh Nuntut Sesuai UU. http://public.kompasiana.com/2009/06/07/rs-omni-boleh-nuntut-sesuai-uu/ *** Berbagai kisah dan tulisan akhirnya bagaikan jamur di musim hujan, sehubungan dengan mencuatnya kasus yang menimpa mba Prita. Kisah yang ditulis dan topik tulisan yang dirilis oleh yang dianggap pakar di bidangnya membuat kesimpulan sementara bahwa memang kita, dalam hal ini pemerintah harus menyadari tentang adanya yang keliru dalam pelaksanaan program untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, baik dalam menyusun strategi maupun pelaksanaan kegiatan yang menyentuh langsung pelayanan kesehatan, sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah dalam kapasitasnya sebagai pengemban amanat rakyat, sebagaimana yang diamanatkan oleh konstitusi yang kita sepakati bersama yang menekankan bahwa negara menjamin kesehatan warga negara. Untuk lebih tajam lagi mengandung arti bahwa pemerintah bertanggung jawab penuh untuk membuat masyarakat sehat, bebas dari penyakit jasmani dan rohani termasuk untuk rehabilitasi cacad fisik dan mental. Kita tidak bisa mengesampingkan keberhasilan yang dilakukan saat era Suharto, kita harus akui bahwa pada era tersebut telah dicanangkan dan diimplementasikan program Health for All in 2000, dan kita telah berhasil membangun Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat, dengan mengedepankan pelayanan kesehatan primer dengan berbagai program seperti : immunisasi untuk pencegahan penyakit balita, kesehatan ibu dan anak, pelayanan pengobatan penyakit primer , keluarga berencana, perawatan kesehatan masyarakat, bidan desa dan lain-lain. Dan sebagai lembaga rujukan, telah dibangun berbagai rumah sakit sebagai pusat rujukan dengan berbagai type sesuai dengan kebutuhan di berbagai daerah dari tingkat kabupaten hingga tingkat nasional sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah dalam melaksanakan amanat konstitusi kita, baik rumah sakit pemerintah maupun rumah sakit yang dikelola lembaga sosial swasta, yang pada awalnya banyak dikelola lembaga keagamaanyang mengedepankan pelayanan bukan bisnis. Dalam prakteknya lembaga pelayanan swasta yang berbasis keagamaan biasanya mendapat bantuan dari berbagai donatur untuk melakukan kegiatan pelayanannya, dan disamping itu ada strategi yang tergolong sangat manusiawi yang dilakukan pihak pengelola rumah sakit tersebut, yakni dengan melakukan subsidi silang, dimana pasien yang berasal dari masyarakat yang mampu akan menolong masyarakat yang tidak mampu, atau pasien yang mampu akan membayar lebih, untuk menutupi biaya pengobatan masyarakat yang tidak mampu. Dalam hal ini rumah sakit swasta tersebut hanyalah bagaikan jembatan untuk menyalurkan bantuan dalam pelayanannya, situasi ini tentu adalah suatu yang wajar dan manusiawi, dan disitulah sebenarnya nilai sosial rumah sakit. Akan tetapi, seiring dengan perubahan zaman , berubah lah gaya hidup, tidak terkecuali pola pelayanan rumah sakit terjerumus juga ke dalam lingkaran setan “kebutuhan masyarakat” yang menuntut pelayanan yang eksklusif. Lebih parah lagi adalah adanya pergeseran nilai yang menempatkan bahwa rumah sakit telah berubah menjadi simbol status, ini bisa dicermati dari kenyataan bahwa status seseorang akan dianggap bonafid atau ada kebanggaan tersendiri kalau dirawat atau meninggal di rumah sakit tertentu yang tergolong rumah sakit mahal yang ruang perawatannya melebihi dari kemewahan sebuah president suite hotel berbintang lima bertaraf internasional. Hal yang lebih memperburuk adalah, arus liberalisme dan kapitalisme sudah merasuk dunia rumah sakit. Liberalisme dan kapitalisme telah merubah rumah sakit dari lembaga pelayanan sosial menjadi industri kesehatan yang dalam prakteknya akan menempatkan masyarakat sebagai pengguna jasa rumah sakit sebagai objek( pembeli) untuk mendapatkan untung yang sebesar-besarnya sebagaimana yang dianut faham liberalisme dan kapitalisme. Cobalah anda perhatikan saat ini apa yang terjadi, betapa lobby rumah sakit telah berubah bak lobby hotel bintang lima, betapa mewah ruang perawatannya, suasana nyaman telah dirubah menjadi mewah. Dan kalau anda suatu saat terpaksa harus menjalani perawatan jangan heran kalau semua alat diagnostik yang ada di rumah sakit tersebut akan disusahakan untuk anda pakai, dan anda harus bayar semuanya, karena anda harus percaya bahwa dokter selalu memberikan pelayanan dan pemeriksaan yang terbaik untuk anda, dan para dokter harus patuh pada managemen rumah sakit. Kasihan juga dokter yang punya dedikasi harus melacurkan diri…. Ironis memang saat rumah sakit berubah menjadi rumah monster. Siapa capres yang bisa mengatasi permasalahan ini dalam 5 tahun kedepan ?. Mari kita doakan bersama….semoga rumah sakit kembali pada fungsinya sebagai lembaga yang meringankan penderitaan orang sakit sebagai perbuatan yang mulia. Artikel ini dapat dibaca di : Saat Rumah Sakit Berubah Menjadi Rumah Monster….. http://public.kompasiana.com/2009/06/06/saat-rumah-sakit-berubah-menjadi-rumah-monster/ *** [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]

