Hiruk-pikuk kampanye Pilpres 2009 mulai digelar. Rakyat disuguhi berbagai iklan 
dan orasi politik capres/cawapres. Para capres/cawapres berbusa-busa menawarkan 
janji, saling serang kelemahan lawan; juga membuat pernyataan, opini dan klaim 
keberhasilan.

Pada saat yang sama, kebanyakan raktyat negeri ini masih dililit dengan 
berbagai persoalan. Contoh kecil adalah penderitaan dan nestapa yang menimpa 
Siti Hajar (33). TKI di Malasyia yang asal Limbangan Garut Jawa Barat itu 
terluka parah akibat siraman air panas dan dipukuli majikannya. Baru saja kasus 
ini masuk proses penyidikan, polisi menemukan kasus yang tidak kalah memilukan: 
Nurul Widayanti TKI asal Desa Dindeen, Wadungan, Ngawi, Jatim tewas tergantung 
di rumah orangtua majikannya, juga di Malasyia. Sangat mungkin, derita yang 
sama—yang tidak diekspos—juga banyak dialami oleh TKI lainnya yang tersebar di 
kawasan Asia Pasifik (351.966) dan Timur Tengah (343.487) berdasarkan data 
tahun 2007 (Kompas, 15/6/09).

Masalah juga banyak muncul di ranah hukum dan peradilan. Seorang Ibu, Prita 
Mulyasari, ditahan Kejaksaan hanya karena mengeluhkan pelayanan baik RS Omni 
Internasional Alam Sutra, Serpong melalui surat elektronik (email). Ia dianggap 
mencemarkan nama baik rumah sakit tersebut. Penahanan prematur yang tidak 
memenuhi prosedur hukum ini juga mengingatkan kasus yang sering terjadi menimpa 
rakyat yang belum melek hukum. Tahun lalu terungkap kasus pembunuhan mutilasi 
berantai Ryan yang juga pelaku pembunuhan Moh Asrori, 24, warga Desa 
Kalangsemanding, Kecamatan Perak, Jombang. Dalam kasus ini, polisi telah 
melakukan salah tangkap terhadap Imam Khambali alias Kemat, Devid Eko Priyanto 
dan Sugik. Mereka telah terlanjur divonis masing-masing 17 dan 12 tahun atas 
kasus 'pembunuhan Asrori' di kebun tebu.

Duka juga menyapa TNI. Banyak anggota TNI gugur bukan di medan perang, 
melainkan menjadi korban Alutsista yang sudah "usang kadaluwarso". Dalam 
sepekan dua pesawat Heli jatuh. Yang terbaru adalah Helikopter Puma SA-330 
dengan nomer registrasi HT 3306 yang jatuh pada hari Jumat (12/6) sekitar pukul 
14.13 WIB di daerah Atang Sanjaya Bogor. Kecelakaan ini mengakibatkan gugurnya 
empat orang TNI dan tiga lainya luka serius. Tentu ironis. TNI, institusi yang 
menjadi pilar tegaknya negeri yang sangat luas teritorialnya ini, hanya 
memiliki peralatan tempur dan anggaran alakadarnya.

Masalah lainnya, isu Ambalat kembali mencuat. Kedaulatan Indonesia pun rentan 
terkoyak. Seperti yang sudah terjadi, Indonesia `kalah' oleh Malaysia dalam 
kasus sengketa "Sipadan-Lingitan", yang kini sudah berada dalam pangkuan 
Malasyia. Sebelumnya, Timor-Timor lepas dari kesatuan negeri ini. Peluang itu 
bisa berulang di bagian timur Indonesia (Maluku, Papua) maupun barat Indonesia 
(Aceh) jika Pemerintah tetap tidak serius menjaga kedaulatan negeri ini.

Di sektor keuangan, Indonesia juga menjadi negara yang tidak pernah merdeka 
dari jeratan hutang dan bunganya. Pada Desember 2003 posisi hutang Indonesia 
adalah Rp 1.275 triliun. Pada Januari 2009, hutang Indonesia membengkak menjadi 
Rp 1.667 triliun. Jumlah tersebut, jika dibagi dengan jumlah penduduk 
Indonesia, menjadi Rp 7,7 juta perkepala. Selama kepemimpinan SBY-JK, hutang 
meningkat hampir 13% (Rp 400 triliun) hanya dalam kurun waktu empat tahun, 
yakni naik sekitar Rp 80 triliun pertahun. Inilah "prestasi hutang" terbesar 
dari pemerintahan SBY-JK dibandingkan dengan pemerintahan sebelumnya. Jelas, 
angka ini tidak sebanding dengan anggaran untuk sektor yang menyangkut hajat 
asasi hidup rakyat seperti pertanian (Rp 8 triliun), pendidikan (Rp 62 
triliun), kesehatan (Rp 20 triliun), kementerian lingkungan hidup (Rp 376 
miliar). Sementara itu, dalam APBN 2009, untuk membayar hutang tersebut 
dianggarkan dana sebesar Rp 162 triliun.

Yang lebih parah, dalam dokumen yang ditemukan INFID, program BLT yang diklaim 
sebagai program hasil rancangan Pemerintah Indonesia ternyata ada dalam dokumen 
Bank Dunia. Dalam "Document Policy Loan (DPL)" Bank Dunia, program BLT tersebut 
didukung oleh ADB (Asian Development Bank) dan Jepang, dan ini adalah program 
Bank Dunia (Media Indonesia, 15/6).

Ini tentu ironis. Pasalnya, Pemerintah ternyata memberikan "uang cuma-cuma" 
kepada sebagian rakyat dari hasil hutang luar negeri yang juga harus ditanggung 
rakyat. Dengan kata lain, sebagian rakyat yang mendapatkan BLT sebesar Rp 300 
ribu setiap tiga bulan, ternyata sekaligus diberi beban hutang oleh Pemerintah 
sebesar Rp 7,7 juta perkepala.
Kepedulian Musiman

Bagaimana sikap penguasa terhadap borok-borok yang bermunculan silih berganti 
ini? Ternyata kepedulian penguasa dan elit politik hanya bersifat musiman. 
Rakyat hanya diperhatikan setiap menjelang Pemilu dan Pilpres. Ironisnya, 
derita rakyat sekadar dieksploitasi ramai-ramai sekadar untuk mendongkrak 
popularitas dan perolehan suara di Pilpres 2009.

Pertanyaannya, akankah pergantian kepemimpinan Indonesia 2009 membawa perubahan 
bagi rakyat? Mampukah penguasa baru membawa Indonesia menjadi negara yang 
merdeka dari penjajahan ekonomi, politik, hukum dan budaya? Bisakah sekadar 
pergantian sosok pemimpin menjadi satu-satunya solusi bagi Indonesia untuk 
mengatasi krisis multidemensi yang kronis ini?

Sekularisme: Akar Masalah

Lebih dari setengah abad Indonesia merdeka dari penjajahan fisik. Namun, hingga 
kini mayoritas rakyatnya tidak hidup dalam kebaikan; kebanyakan mereka miskin, 
bodoh, dan teraniaya. Padahal negeri dengan populasi jumlah penduduk terbesar 
nomer empat di dunia (setelah Cina, India dan AS) ini memiliki potensi 
sumberdaya pertanian dan kekayaan mineral yang sangat melimpah.

Mengapa semua ini terjadi? Jika ditelaah secara jernih, semua persoalan yang 
tengah dihadapi Indonesia dan belahan Dunia Islam lainnya berpangkal pada 
penerapan sistem sekular-kapitalis dan tidak adanya kedaulatan syariah. Dengan 
kata lain, sistem Islam tidak diterapkan di tengah-tengah masyarakat. Inilah 
akar berbagai persoalan ikutan seperti kemiskinan, kebodohan, korupsi, 
kerusakan moral, kezaliman, disintegrasi serta penjajahan dalam segala 
bentuknya.

Sejak kemerdekaan hingga saat ini, sekularisme (keyakinan yang menolak campur 
tangan agama dalam kehidupan) mengatur Indonesia, terlepas dari siapapun yang 
berkuasa. Syariah Islam yang berasal dari Zat Yang Maha Pengatur tidak pernah 
diterapkan sejak negeri ini merdeka. Akibatnya, rakyat Indonesia terus-menerus 
hidup dalam krisis yang tidak berkesudahan. Indonesia, dengan sistem 
sekularnya, terbukti gagal mengantarkan rakyat (warga negara) pada kemakmuran, 
kesejahteraan dan keadilan. Inilah fakta dan keniscayaan dari sebuah sistem 
yang rusak, yang bersumber dari akal dan hawa nafsu manusia.

Di Indonesia, sistem sekular yang mencampakkan syariah Allah ini tidak pernah 
sungguh-sungguh mendapatkan dukungan dari umat. Sebabnya, ia kontradiksi dengan 
akidah umat Islam yang menjadi mayoritas di negeri ini.

Rahasia Kejayaan

Agar Indonesia maju, bagi umat Islam tidak ada pilihan kecuali kembali pada 
rahasianya, yaitu penerapan sistem (syariah) Islam secara kâffah. Islam harus 
menjadi ideologi yang melandasi semua bentuk interaksi kehidupan sosial, baik 
dalam negeri maupun luar negeri. Syariah Islam telah menyiapkan negara dengan 
ditopang oleh sejumlah struktur yang diperlukan, di antaranya adanya khalifah 
(kepala negara), para mu'âwin (pembantu khalifah), para wali (kepala daerah), 
hingga para qâdhi (hakim), petugas administrasi dan majelis umat.

Dalam sistem ekonomi Islam, terdapat berbagai ketentuan syariah yang berkaitan 
dengan tanah, kepemilikan, industri, perdagangan dalam dan luar negeri dan 
sistem lainya. Semua itu menjadi perangkat penting untuk menjamin terciptanya 
kemakmuran dan kesejahteraan.

Lalu terkait dengan politik luar negeri, ada ketentuan syariah mengenai 
kewajiban untuk membangun tentara yang kuat, bukan berdasarkan konsep tipuan 
Barat, yakni "minimum deterrence" (pertahanan minimal). Konsep ini hanyalah 
dimaksudkan untuk mematikan kekuatan militer Dunia Ketiga, khususnya Dunia 
Islam, dan demi melanggengkan kekuasan Barat atas negeri-negeri jajahannya.

Islam, dengan seperangkat konsepnya yang lengkap dan mudah diterapkan, akan 
menjadikan Indonesia berdaulat atas seluruh kekayaan dan potensi melimpah yang 
dimilikinya. Dengan menerapkan syariah Islam, Indonesia tidak akan menjadi 
negara yang mengabdi pada kepentingan asing, mengatur rakyatnya dengan 
undang-undang ataupun konsensus pihak asing (misal: Konsensus Washington) yang 
liberal dan menjadikan rakyat "kere" di negerinya sendiri yang subur, persis 
seperti pepatah: seperti unta yang mati karena kehausan, padahal ia memikul air 
di punggungnya.

Yang pasti, Allah SWT sudah jauh-jauh hari mengingatkan umat ini atas sikap 
abainya terhadap penerapan syariah Islam:

    وَمَنْ 
أَعْرَضَ 
عَنْ ذِكْرِي 
فَإِنَّ لَهُ 
مَعِيشَةً 
ضَنْكًا 
وَنَحْشُرُهُ
 يَوْمَ 
الْقِيَامَةِ
 أَعْمَى (١٢٤

    Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (al-Quran), sesungguhnya 
baginya penghidupan yang sempit dan pada Hari Kiamat nanti Kami akan 
membangkitkannya dalam keadaan buta (QS Thaha [20]: 124).

Syariah dan Khilafah: Jalan Baru Indonesia

Setelah Sosialisme ambruk, Kapitalisme-liberalisme yang sekarang diterapkan pun 
gagal total dalam memajukan negeri-negeri Muslim, termasuk Indonesia, maka 
tentu tidak ada jalan lain bagi kaum Muslim kecuali kembali pada syariah Islam. 
Indonesia akan bangkit dan maju hanya dengan menerapkan syariah Islam ini 
secara kâffah. Inilah yang berkali-kali diingatkan oleh Hizbut Tahrir 
Indonesia, termasuk saat peluncuran "Manifesto Hizbut Tahrir untuk Indonesia 
yang Lebih" di Jakarta beberapa waktu lalu, dan serentak dilaksanakan di 
seluruh daerah di Indonesia dalam pekan-pekan terakhir ini.

Singkatnya, dengan Manifesto-nya, Hizbut Tahrir kembali mengingatkan bahwa umat 
Islam dan manusia secara keseluruhan hanya akan kembali dapat menikmati 
kehidupan yang adil, damai, dan sejahtera dalam naungan ridha Allah SWT dengan 
cara menerapkan syariah Islam secara kâffah dalam sebuah negara yang diwariskan 
oleh Rasulullah saw., yakni Khilâfah `ala Minhâj an-Nubuwwah. Yang terpenting, 
hanya dalam Khilafah yang menerapkan syariah secara kâffah umat Islam dapat 
merealisasikan ketundukan, ketaatan dan kepasrahannya secara total kepada Allah 
SWT. Bersamaan dengan itu, Indonesia terus berusaha menyiapkan kemampuan diri 
untuk memimpin bangsa-bangsa lain di seluruh dunia, menjadi negara yang 
berpengaruh dan disegani serta bisa membawa dunia ini dalam naungan Islam yang 
rahmatan lil `alamin, insya Allah. []

Kirim email ke