Sebelumnya perlu saya jelaskan bahwa
tulisan ini tidak bermaksud menjadikannya sebagai isu Sara, karena NKRI dengan
Pancasila sudah merupakan komitmen final bagi kita semua.
Tulisan ini hanya mencoba mengemukakan fakta yang sebenarnya, munculnya
fenomena pindah agama karena motivasi
kekuasaan, agar tidak menjadi isu politik yang menjatuhkan karena dalam
Pemilu isu ini cukup penting mengingat mayoritas
penduduk negeri ini beragama Islam, wacana ini tentu dalam ranah primordial
yang masih kental di negara ini.
Pernyataan kalau isteri Boediono Bu Hera
beragama Katolik berasal mula dari pemberitaan di Tabloid INDONESIA MONITOR
Edisi “MEMBONGKAR
KEDOK BOEDIONO”, Terbit Selasa, 2 Juni 2009.
Isi pemberitaan ini memuat dua saksi atau
pendapat yaitu Presiden Ikhwanul Muslimin Indonesia (IMI) Habib Husein
Al-Habsyi dan Prof
Suparman Direktur Pascasarjana Universitas Tarumanegara.
Pernyataan ke dua tokoh tersebut tidak
diragukan lagi, seandainya pemberitaan Tabloid Indonesia Monitor ini tidak
benar atau fitnah tentu pihak Tim Sukses SBY atau The Fox sudah melakukan
tindakan somasi baik kepada Tabloid
Indonesia Monitor maupun kepada Presiden Ikhwanul Muslimin Indonesia (IMI)
Habib Husein Al-Habsyi dan Prof Suparman Direktur Pascasarjana Universitas
Tarumanegara.
Pemberitaan Tabloid Indonesia Monitor ini
terjadi pada tanggal 2 Juni 2009, tetapi klarifikasi atau sorotan atas isu ini
tidak pernah diributkan oleh Tim
Sukses SBY.
Ujuk-ujuk pada masa kampanye SBY di Sumbar
Presiden Partai Keadilan Sejahtera Tifatul Sembiring menegaskan bahwa Ibu
Herawati yang merupakan istri calon wakil presiden Boediono adalah benar-benar
seorang muslimah karena dia pernah
belajar mengaji kepada seorang kader PKS di Jakarta. kompas.com, Minggu, 21
Juni 2009 | 23:48 WIB.
Dan pada tanggal 25/6 sesuai pemberitaan detik.com Bu Hera dengan berkerudung
warna merah muda menghadiri
silaturahim bersama 1.000 muslimah di Gedung Cut Nyak Dien di kompleks Bumi
Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, Kamis (25/6/2009).
Dari pemberitaan ini secara jelas Bu Hera
Mengaku muslimah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Bu Hera baru masuk
Islam pada Bulan Juni ini.
Motivasi ini tentu bisa dipahami,
jangankan isu Bu Hera beragama Katolik bisa menurunkan secara drastis
elaktibilitas SBY, isu jilbab saja sudah diantifikasi SBY dengan isterinya Ibu
Kristiani ikut-ikutan memakai jilbab, kita tunggu
saja mungkin besok Bu Hera juga sudah pake jilbab.
Artinya motivasi pindah agama ini karena mengejar kekuasaan.
Kejadian ini sebenarnya hanya peristiwa pengulangan saja, seperti yang
dilakukan Ibu Kristiani Yudhoyono pada tahun 2004, di mana menjelang Pilpres
2004 isu ini juga cukup santer kalau Bu Kristiani beragama Kristen.
Jangan kaget anda mendengar cerita ini,
secara sederhana di mana pun di muka bumi tidak
ada wanita muslimah memakai nama atau bernama “Kristiani”, nama bagi seorang
muslim itu sangat penting karena
merupakan doa.
Artinya jika ada orang tua muslim memberi
nama anaknya “Kristiani” itu berarti orang tuanya dan bagi orang lain
mendoakannya agar kelak menjadi kristiani (penganut kristiani).
Harus diakui memang berat bagi mereka yg
tadinya beragama non muslim untuk
dapat meraih simpati pemilih.
Sehingga sangat disadari dan harus direlakan oleh saudaranya yang seiman jika
kemudian mereka yang non muslim akan berpindah agama menjadi muslim jika sudah
ingin meraih kekuasaan negara.
Lalu kenapa baik Bu Hera maupun Bu
Kristiani masuk Islam lalu tidak mengganti nama agar lebih islami seperti para
muallaf lainnya ?.
Kalau mereka melakukan itu, tentu mereka ketahuan kedoknya kalau memang
sebelumnya beragama non muslim, dalam masyarakat kita terutama kalangan muslim
perkawinan beda agama dianggap tercela
atau zina di dalam Islam.
Herannya baik SBY di tahun 2004 maupun
Boediono pada masa Pilpres ini, sama-sama tidak melakukan klarifikasi resmi,
misalnya dalam bentuk konfrensi pers, kalau tuduhan isteri mereka non muslim
adalah tidak benar, padahal untuk isu
lain yang lebih ringan mereka selalu melakukan klarifikasi di depan para
wartawan.
Semoga postingan ini bisa menjelaskan
kondisi sebenarnya.
Bagaimanapun sebagai sesama muslim saya bersukur Bu Kristiani Yudhoyono dan Bu
Herawaty
Boediono sudah memeluk agama Islam,
walaupun motivasinya karena kekuasaan.
Semoga motivasi ini keduanya menemukan makna sejati sebagai muslimah.
Apa pun itu semuanya Ilahirajiun.
Artikel ini dapat dibaca di :
“Pindah Agama Karena Kekuasaan”
http://public.kompasiana.com/2009/06/26/bu-hera-pindah-agama-karena-kekuasaan/
***
Dalam konteks masyarakat demokratis,
perkara pindah agama bukan fenomena besar bahkan mungkin akan kerap terjadi.
Ada banyak faktor yang mendorong seseorang
berpindah agama. Mulai dari faktor-faktor teologis-ideologis yang dalam hingga
dorongan remeh temeh seperti karena gengsi dan prestise.
Mulai dari motif yang bisa dinalar hingga
motif yang tidak mudah dikunyah akal sehat. Mulai dari dorongan ekonomi dan
politik hingga dorongan cinta
kasih.
Seorang teman berani mengambil tindakan
pindah agama hanya karena ingin menyesuaikan dengan agama pasangannya. Ada juga
yang pindah agama untuk tujuan meningkatkan taraf
hidup yang bersangkutan karena diiming-imingi dana dalam jumlah tertentu
oleh kelompok agama tertentu.
Namun, pindah agama selalu menjadi fenomena mengguncangkan. Kalau tidak
bagi diri yang berpindah agama, maka sekurangnya bagi keluarga dan lingkungan,
tempat yang bersangkutan tumbuh dan berkembang.
Orang tua bisa mengambil tindakan kejam
dengan tidak mengakui anak yang pindah agama sebagai bagian dari keluarga. Para
agamawan pun sering terpukul dengan perkara pindah agama ini.
Sebab, dengan adanya anggota yang
“tanggal” atau lepas, maka berkuranglah
jemaat si agamawan tadi.
Agamawan yang tak jarang tampil bak
seorang pengiklan atau salesman dagangan, merasa gagal dalam menyampaikan
dakwah dan misinya ketika ada anggotanya
yang berpindah.
Pindah agama adalah perkara yang paling
dibenci oleh agamawan--maaf, bukan oleh Tuhan karena kebesaran Tuhan tidak akan
pernah mengalami defisit hanya karena makhluknya yang bernama manusia ini
mondar-mandir dalam menganut agama.
Saya hampir selalu menangkap kesan tentang
ketidak-relaan kaum agamawan untuk melepas kepergian anggotanya ke “tempat”
atau agama lain. Mereka tampak berat hati..
Maka, untuk membentengi agar seseorang
tidak keluar dari suatu agama, para teolog sering membuat sejumlah “ancaman”,
mulai dari sanksi-sanksi eskatologis seperti neraka hingga sanksi hukum bunuh
di dunia.
Tanpa pernah dipahami konteks (sabab al-wurud)nya, maka dirapalkanlah
sebuah hadits, ”man baddala dinahu
faqtuluhu (barang siapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah).
Karena itu, keputusan setiap orang untuk mengkonversi agamanya bukan perkara
mudah. Diperlukan tidak hanya keberanian tapi juga kesiapan mental jika suatu
waktu mengalami diskriminasi dan ekskomunikasi dari agamawan, keluarga,
dan masyarakat sekitarnya.
Sebagai seorang muslim yang pro-demokrasi,
saya sendiri cenderung tidak mempersoalkan seseorang untuk melakukan apostasi
karena dua alasan.
Pertama,
tidak ada gunanya seseorang dipaksa berada di dalam suatu agama sementara yang
bersangkutan sudah tidak merasa nyaman dan at-home dalam agama itu.
Memeluk suatu agama dengan keterpaksaan ini adalah cara beragama yang
pura-pura. Beragama yang fresh adalah beragama yang berangkat dari
kesadaran batin yang mendalam dan dengan keyakinan penuh perihal kebenaran
ajaran agama itu.
Kedua,
setiap orang memiliki hak untuk masuk dalam suatu agama atau keluar dari suatu
agama. Itu adalah hak fundamental yang
lekat pada setiap orang. Dalam Alquran, setiap orang diberi hak untuk memilih
apakah ia akan menjadi theis atau atheis. Allah SWT berfirman, faman sya`a fal
yu`min waman sya`a falyakfur.
Nah !.
Artikel ini dapat dibaca di :
Pindah Agama
http://islamlib..com/id/artikel/pindah-agama/
***
Kampanye Pilpres di Indonesia, semuanya
bisa dijadikan jualan untuk meraih simpati public. Termasuk juga jualan agama.
Sesuatu yang tidak terbiasa dikerjakan akan dipaksakan dan dicitrakan sebagai
telah terbiasa dikerjakannya.
Mereka yang jarang menginjakkan kakinya di
atas sajadah, bahkan menjadi terlihat rajin pergi ke masjid, asalkan ada
wartawan yang meliputnya. Bahkan akan dibuat sedemikian rupa agar yang
bersangkutan duduknya di barisan paling depan.
Mereka yang tidak biasa mengerjakan sholat
Jumat berjamaah akan berupaya untuk mengundang wartawan agar menyiarkannya
bahwa dirinya rajin sholat Jumat berjamaah. Mereka yang tidak biasa mengikuti
majelis pengajian akan menghadiri majelis pengajian. Mereka yang tidak biasa
memakai jilbab akan memakai jilbab pada saat disorot kamera televisi. Bahkan
ibadah umroh pun menjadi diperuntukkan hanya sebagai daya tarik untuk
konstituen pemilihnya saja.
Agama dihinakan hanya sebagai barang
mainan layaknya., Simbol-simbol agama dilecehkan hanya sebagai pencitraan
sementara
selama kampanye saja. Ujub dan riya menjadi diperbolehkan atas nama pencitraan
kesolehan dalam menjalankan ajaran agama.
Walau semua itu serba dusta, kemunafikan,
kebohongan, hanya bagaikan drama sandiwara yang kepura-puraan belaka. Sampai
kapan rakyat hanya akan dijadikan obyek sebuah kedustaan dan kepura-puraan ?.
Orang-orang pun tak lagi sungkan untuk
berkata bohong dan mantap untuk berbicara dusta, hanya untuk membela capres
cawapres yang didukungnya, serta meraih kekuasaan duniawi.
Padahal berdusta itu besar sekali dosanya
di mata Allah SWT.
“Terkutuklah orang-orang yang banyak
berdusta”. [QS Adz Dzaariyaat:10]
“Suatu khianat besar bila kamu berbicara
kepada kawanmu dan dia mempercayai kamu sepenuhnya padahal dalam pembicaraan
itu kamu berbohong kepadanya”. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
“Hendaklah kamu selalu benar. Sesungguhnya
kebenaran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke surga. Selama
seorang benar dan selalu memilih kebenaran dia tercatat di sisi Allah seorang
yang benar (jujur). Hati-hatilah terhadap dusta. Sesungguhnya dusta membawa
kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Selama seorang dusta dan
selalu memilih dusta dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta
(pembohong)”. (HR. Bukhari)..
Terlepas dari kepura-puraan dan
pencitraan, dalam Pilpres kali ini sungguh menarik untuk diamati, apakah
politik aliran dan ideologi Islam politik memang benar telah mati ?.
Apakah perempuan berjilbab akan lebih
menarik simpati dibandingkan dengan perempuan tak berjilbab yang belum bisa
mengaji ?.
Apakah selembar kain yang
dinamai Jilbab akan tak lagi punya arti ?.
Apakah keinginan akan sebuah perubahan
yang menuju kearah kemandirian bangsa akan terkalahkan oleh sebuah mantra
ajaib ” I Love the United States, with All its Faults. I
consider it My Second Country ”.
Wallahualambishshawab.
Artikel ini dapat dibaca di :
Parade Kebohongan dan Kepura-puraan
http://public.kompasiana.com/2009/06/26/parade-kebohongan-dan-kepura-puraan/
***
[Non-text portions of this message have been removed]