http://www.facebook.com/note.php?note_id=96152207053&ref=mf

Ilaah Baru itu Bernama “MASHLAHAT DAKWAH”
Selasa, 30 Juni 2009 09:25

Setiap penyelewengan dari manhaj dakwah Rasulullah Shollallohu 'alaihi wasallam 
walau sejengkal saja, pada akhirnya pasti akan menjadi penyimpangan yang luar 
biasa jauhnya

Oleh: Abu Izzuddin Al Hazimi, Amir Jama’ah Ansharut Tauhid Kabupaten Magelang

Masih segar dalam ingatan kita manuver para petinggi partai –yang mengaku- 
Islam yang tanpa rasa malu mempertontonkan tingkah polah mereka yang lebih 
layak dilakukan oleh para badut politik. Berbagai pernyataan yang membingungkan 
umat pun meluncur deras dari mulut-mulut mereka. Dari “Kekecilan baju kalau 
memakai atribut Islam, Isu syari’ah Islam sudah tidak menjual lagi, NKRI sudah 
final, Cuma selembar kain kok diributkan dan sebagainya”.

Kita mungkin heran, bagaimana bisa para figur panutan yang dulunya begitu fasih 
menjelaskan makna Thoghut kepada para mad’u nya, begitu bersemangat 
mendakwahkan syari’ah Islam dan menanamkan Aqidah Al Wala’ Wal Bara’ kepada 
umat, kini berubah 180 derajat, berkoalisi dengan partai sekuler yang sangat 
anti syari’ah Islam bahkan menjadi kepanjangan tangan musuh-musuh Islam.

Sebenarnya fenomena seperti ini sudah diingatkan oleh Asy Syahid –Insya Allah- 
Sayyid Quthub Rahimahullah yang nota bene adalah “guru spiritual” para tokoh 
politik itu. Bahwa setiap penyelewengan dari manhaj dakwah Rasulullah 
Shollallohu 'alaihi wasallam walau sejengkal saja, pada akhirnya pasti akan 
menjadi penyimpangan yang luar biasa jauhnya.

Dalam surat wasiat 1 untuk adiknya, Aminah Quthub, Sayyid Quthub Rahimahullah 
menulis :

“Sulit bagi saya membayangkan bagaimana mungkin kita akan sampai pada tujuan 
mulia dengan menggunakan wasilah (alat bantu/perantaraan) yang kotor. Tujuan 
yang mulia hanya akan hidup di dalam hati nurani yang mulia pula. Karenanya, 
bagaimana mungkin nurani yang mulia itu mau menggunakan wasilah busuk lagi 
kotor. Atau –yang lebih ironis lagi- bahkan mendambakan hidayah dan pertolongan 
Allah melalui wasilah busuk itu ?

Ketika kita telah tersesat dalam sebuah penyimpangan, sebagai dampak dari 
lumpur kesalahan yang kita lalui, maka tidak terelakkan lagi kita pasti akan 
berada dalam penyelewengan yang sangat kotor. Karena jalan yang penuh dengan 
lumpur pasti akan meninggalkan bekas kotor pada kaki orang-orang yang 
melewatinya.. Demikian pula halnya dengan wasilah yang kotor, pastilah akan 
menimbulkan noda hitam yang akan terus menempel dan meninggalkan bekas 
kekotoran pada jiwa kita serta pada tujuan yang akan kita capai”.

Dalam Tafsir Fi Dzilalil Qur’an, menjelaskan surah Al Hajj ayat 52, yang artinya

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Rasul pun dan tidak (pula) 
seorang Nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitan pun 
memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu. Allah menghilangkan apa yang 
dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat- Nya. Dan Allah 
Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS Al Hajj 52)

Sayyid Quthub Rahimahullah mengatakan :

“Panasnya pergolakan dan kecamuk pertarungan telah mendorong para aktifis 
dakwah sepeninggal Rasulullah Shollallohu 'alaihi wasallam untuk terus merupaya 
menegakkan Risalah ini. Namun di sisi lain tidak sedikit dari mereka yang 
kemudian mengambil jalan pintas dengan menggunakan berbagai wasilah, strategi 
dan metode yang melenceng dari kaidah dan manhaj dakwah yang telah dicontohkan 
oleh Rasulullah. Hal itu tidak lain disebabkan oleh ketergesa-gesaan dan 
ketidak sabaran untuk segera memperoleh kemenangan dan keberhasilan dakwah 
mereka.

Jalan pintas itu adalah hasil ijtihad mereka atas apa yang mereka sebut dengan 
“mashlahat dakwah”. Padahal yang dimaksud dengan mashlahat dakwah yang 
sebenarnya adalah sikap istiqomah dari para pengemban amanah dakwah agar 
senantiasa berada di atas manhaj dakwah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wasallam tanpa sedikit pun tergoda untuk berpaling darinya 
walau selangkah pun. Adapun hasil akhir dari dakwah adalah perkara ghaib yang 
tidak ada satupun yang tahu kecuali Allah Azza Wa Jalla wa Jalla.

Dengan demikian tidak selayaknya bagi para aktifis dakwah menjadikan hasil 
akhir sebagai tolok ukur dan tujuan utama dakwah mereka. Kewajiban mereka 
hanyalah menegakkan dakwah di atas manhaj yang lurus dan bersih dari berbagai 
penyimpangan, seraya bertawakkal dan menyerahkan seluruh hasil usaha yang telah 
dilakukan dengan penuh istiqamah kepada Allah Azza Wa Jalla wa Jalla. Jika ini 
telah dilakukan, niscaya kebaikan lah yang akan diperoleh, apapun hasil yang 
dicapai.

Ayat di atas mengingatkan mereka bahwa syaitan tidak akan pernah berhenti 
menghembuskan tipu daya dan godaan-godaannya terhadap para aktifis dakwah. 
Allah telah melindungi para Rasul dan nabi yang ma’shum sehingga mereka mampu 
membebaskan diri dari setiap tipu daya syaitan dan tetap istiqamah pada manhaj 
dakwah yang lurus. Namun tidak demikian halnya dengan para aktifis dakwah 
setelah mereka. Karena itu sudah seyogyanya bagi setiap aktifis dakwah agar 
berhati-hati dan waspada terhadap godaan syaitan ini dan tidak memberi 
kesempatan sedikit pun kepada syaitan untuk menjerumuskan mereka ke dalam 
kesesatan disebabkan oleh besarnya keinginan untuk segera mencapai keberhasilan 
dakwah dan memberikan “mashlahat” bagi umat Islam.

Tidak ada jalan lain, kalimat “mashlahat dakwah” harus dibuang jauh-jauh dari 
kamus para aktifis dakwah, karena ia telah memalingkan mereka dari tujuan 
dakwah yang mulia dan menjadi pintu masuk syaitan untuk menyesatkan mereka 
setelah gagal menjerumuskan mereka melalui pintu mashlahat pribadi.

“Mashlahat dakwah” telah menjelma menjadi berhala, Ilaah yang diibadahi oleh 
para aktifis dakwah dan menjadikan mereka melupakan manhaj dakwah Rasul yang 
murni dan orisinal. Karena itu, wajib bagi setiap aktifis dakwah untuk tetap 
istiqamah di atas manhaj Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam serta dengan 
sekuat tenaga menjaga agar tidak tergoda oleh segala bujuk rayu yang pada 
akhirnya justru akan menghancurkan bangunan dakwah yang telah mereka bina.

Ketahuilah bahwa satu-satunya bahaya yang harus terus diwaspadai oleh para 
aktifis dakwah adalah penyimpangan dari manhaj dakwah Rasulullah saw dengan 
alasan apapun, sekecil apapun penyimpangan itu. Karena sesungguhnya Allah lah 
yang lebih Mengetahui tentang mashlahat dibandingkan mereka. Sedangkan mereka 
tidak dibebani sama sekali untuk mewujudkan mashlahat itu. Mereka hanya 
diwajibkan atas satu hal saja : “agar tidak menyimpang sedikit pun dari Manhaj 
Rasulullah saw dan tidak menyerah kalah lalu meninggalkan jalan dakwah yang 
penuh berkah ini. “ . 2

Semoga Allah merahmati Sayyid Quthub atas nasehat yang sangat berharga ini, di 
saat kita menyaksikan dengan mata telanjang aksi para politikus partai –yang 
mengaku- Islam yang menghalalkan segala cara, menjual diri kepada para Thaghut 
dengan mengatasnamakan “mashlahat dakwah”.

Rasanya siapa pun yang memiliki hati nurani yang bersih pasti akan mengatakan 
bahwa tingkah polah mereka hanyalah menjual agama untuk kepentingan syahwat dan 
nafsu kekuasaan belaka. Mereka mengatasnamakan Islam untuk semua tindakan 
mereka, padahal Islam telah berlepas diri dari mereka.

Jika memang kemenangan yang mereka dambakan, alangkah jauhnya perbandingan 
antara tingkah polah yang mereka pertontonkan dengan gambaran Al Qur’an tentang 
para pejuang Tauhid sejati dalam surat Al Buruj. Lebih lanjut Sayyid Quthub 
menulis dalam bukunya “Ma’alim Fit Thariq” tentang arti dan hakekat kemenangan 
sejati :

“Kehidupan dunia yang diwarnai oleh berbagai macam keadaan dan suasana. 
Kenikmatan hidup, kesenangan, penderitaan, kebahagiaan memperoleh sesuatu, 
kekecewaan kehilangan sesuatu, bukanlah merupakan nilai yang paling mahal di 
dalam neraca timbangan. Kehidupan dunia lahiriah ini bukanlah merupakan faktor 
yang menentukan nilai menang atau kalah, untung atau rugi. Kemenangan hakiki 
bukanlah selama-lamanya berarti kemenangan lahiriah, yang nampak dipandang oleh 
mata kasar. Sebab kemenangan yang nampak disaksikan oleh mata kasar dan panca 
indera lahir itu hanyalah salah satu bentuk kemenangan saja. Padahal kemenangan 
itu amatlah beragam bentuknya.


Sesungguhnya nilai yang paling berharga di dalam neraca Allah Ta’ala adalah 
nilai aqidah. Sesuatu yang paling laris dalam perniagaan Allah adalah iman. 
Kemenangan yang paling bernilai di sisi Allah ialah kemenangan ruh atas 
kebendaan, kemenangan aqidah menghadapi sakit dan sengsara, kemenangan iman 
menempuh badai fitnah dan ujian.

Di dalam kisah pembunuhan beramai-ramai di dalam parit api (Ashabul Uhdud), 
yang kita perbincangkan ini, nyata sekali kemenangan orang-orang beriman itu 
mengalahkan perasaan takut dan sakit.. Kemenangan mengatasi godaan-godaan 
duniawi, kemenangan menghadapi fitnah, kemenangan kehormatan dan harga diri 
umat manusia di sepanjang zaman. Inilah kemenangan sejati !”. 3

Sebuah pelajaran amat berharga dari seorang Sayyid Quthub yang telah menorehkan 
sejarah hidup dan perjuangannya dengan tinta dan darahnya, hingga syahid 
menjemput.

Allahumma Anta Rabbuna, farzuqnaa al istiqamah wasy syahadah, Ya Allah, 
Engkaulah Rabb kami, maka anugerahkanlah kepada kami sikap istiqamah dalam 
berjihad di jalan-Mu dan matikanlah kami sebagai para syuhada’.

maraji:
1 Wasiat ini pertama kali dirilis oleh Majalah Al Fikr Tunisia edisi VI Maret 
1959 dengan judul “Cahaya dari Kejauhan”.

2 Tafsir Fi Dzilalil Qur’an Juz 4 halaman 2435, Al Qoul An Nafiis Fit Tahdzir 
Min Khodi’ati Iblis (Mashlahah Da’wah) karangan Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisi 
halaman 60 - 61

3 Petunjuk Sepanjang Jalan (Ma’alim Fit Thariq) 161 - 162

===
Ayo Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits
http://media-islam.or.id

__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam?  Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam  
http://id.mail.yahoo..com 

Kirim email ke