Boediono, sekalipun mempunyai kelimpahan harta dan kecukupan waktu, namun sampai di usianya yang sudah diatas 65 tahun, masih juga belum menunaikan ibadah Haji. Fenomena ini, dapat diartikan sebagai cerminan dari sosok Boediono yang memahami Islam lebih secara substansial, atau dalam lain kata ia memahami Islam lebih mempertimbangkan konten-nya dari pada kemasan-nya. Bertitik tolak dari itulah maka, Boediono lebih memahami arti ‘kekafahan Islam’ dalam bentuk lain. Paling tidak diartikan dalam implementasi jalan hidupnya yang di menurut cara pandangnya SBY, sebagai seorang yang lurus, jujur, sederhana, konsisten, pekerja keras, ulet, dan bertanggungjawab, Beberapa kalangan menyebut Boediono sebagai figur ‘Islam Kaffah’ yang bukan ‘Islam Formal’ namun ‘Islam Subtansial’. Apa betul sih, Islam lebih menekankan kearah ‘subtansial’-nya dibanding ‘formal’-nya, sehingga dapat diartikan bahwa seseorang dengan kelimpahan harta dan kecukupan waktu serta usianya sudah diatas 65 tahun, tidak masalah walau belum menunaikan ibadah Haji, yang penting lurus, jujur, sederhana, konsisten, pekerja keras, ulet, dan bertanggungjawab ?. Sesungguhnya, jika ajaran agama Islam ini kita belah atau dikategorikan menjadi formal dan tidak formal (subtansial), lalu kita bilang bahwa kekafahan itu adalah kita boleh mengesampingkan yang formalnya asalkan kita mengerjakan dengan sunguh-sungguh yang tidak formalnya (subtansialnya) maka sesungguhnya ajaran Islam sudah selesai riwayatnya saat ini juga. Mohon maaf, pemikiran model begini ini biasanya manjur jika korbannya adalah umat Islam yang awam serta kurang punya landasan iman yang kuat. Pemikiran model seperti ini tak ubahnya seperti pemikirannya para Sekuleris dan Liberalis yang melancarkan Racun pemikiran dengan motivasi ingin merobohkan agama Islam, Bukankah wudhu'' itu ibadah formal, apakah kita tinggalkan wudhu'' dan konsentrasi pada kebersihan hati saja ?. Bukankah shalat itu ibadah formal, apakah kita tidak perlu lagi shalat 5 waktu dan cukup ingat Allah kapan saja di mana saja ?. Bukankah puasa itu ibadah formal, apakah kita tinggalkan puasa Ramadhan dan cukup yang penting sabar saja ?. Bukankah bayar zakat itu ibadah formal, apakah kita tidak lagi bayar zakat yang penting kita meresapi rasa keadilan sosial di hati masing-masing ?. Membedakan syariah menjadi dua macam yaitu formal dan tidak formal sebenarnya boleh-boleh saja. Tetapi kalau dibalik pembedaan ini ada jebakan yang mematikan, ada racun di balik ‘deskripsi’ yang ditawarkan. Racun pemikiran yang ingin memusnahkan syariat Islam itu sendiri. Cuma dengan bahasa yang lebih diperhalus. Tapi ujung-ujungnya sama saja, yaitu hancurkan syariat ajaran Islam. Apakah harus sampai sejauh ini cara para kader dakwah dalam memberikan keyakinan kepada umat Islam tentang ke-Islam-an kaffahnya Boediono ?.. Apakah harus dengan paham pemikiran yang sesat dan menyesatkan serta sudah terpeleset terlalu jauh seperti ini, hanya untuk tujuan semata menggaransi ‘kekafahan Islam’ sosok Boediono ?. Apakah kita, umat Islam yang lainnya, juga ingin bersama mereka yang ingin hancurkan Islam hanya karena terdorong oleh nafsu kita yang ingin memenangkan kandidat Capres dan Cawapres jagoan kita ?. Wallahualambishsawab. *** Partai-partai Islam seperti PPP, PKB, PAN, PKS, maupun PBB, sejak awal secara tegas membuat keputusan untuk bersanding bersama dalam barisan koalisi Partai Demokrat. Mereka mengamini keputusan Partai Demokrat untuk mengusung SBY sebagai capres dalam pesta demokrasi menentukan RI 1 untuk lima tahun mendatang. Mudah dipahami oleh masyarakat bahwa keputusan ini berangkat dari sebuah motivasi sederhana yaitu bersimbiosis secara mutualisme, berpijak pada hasil polling-polling lembaga survey yang menampakkan besarnya peluang SBY untuk melanjutkan kekuasaannya. Harapan yang mereka bawa, SBY bersedia menggandeng salah satu kader terbaiknya dalam masing-masing partai sebagai pendampingnya di kursi cawapres. Tapi harapan tinggal harapan, impian tinggal impian, ternyata SBY lebih memilih Prof. Dr. Boediono yang notabene tidak memiliki back ground kesejarahan politik, apalagi partai Islam, sebagai pendampingnya. Apa yang kurang dari Hatta Radjasa (PAN) ?. Apa Sutrisno Bachir (PAN) juga kurang ‘menjual’ ?. Apa yang tidak dimiliki oleh Hidayat Nur Wahid (PKS)? Lalu apakah Suryadharma Ali (PPP) ataupun Muhaimin Iskandar (PKB) juga kurang kompetitif ?. Kekecewaan mendalam dan tanda tanya besar bermain-main dalam benak para elite politik partai-partai Islam tersebut ketika SBY lebih memilih Prof. Dr. Boediono menjadi cawapresnya. Hingga hari ini pun, tak sedikit para elite politik dan ulama’ yang merupakan simpul pengikat koordinatif partai-partai Islam yang masih mempertanyakan siapa itu Boediono. Alasan apa yang membuat SBY memilih sosok kelahiran Blitar yang dibesarkan murni oleh karirnya di bidang ekonomi. Bahkan ada beberapa elite politik dan ulama’ yang mempertanyakan kadar ke-Islam-an Boediono. Dibandingkan dengan Hatta Radjasa, Hidayat Nur Wahid, Sutrisno Bachir, Suryadharma Ali, Muhaimin Iskandar, ataupun Akbar Tandjung, kadar ke-Islam-an Prof. Dr. Boediono memang kalah selangkah di bawah tokoh-tokoh lawas perpolitikan Indonesia tersebut. Inilah dissemination yang dapat mendekonstruksi kesepahaman pemikiran yang menjadi roh koalisi di bawah payung SBY. Partai Demokrat, secara luas, dipahami sebagai partai nasionalis. Ketika SBY membawa pesan nasionalis-relijius, kehadiran sosok islamis dari partai-partai Islam diharapkan dapat mengisi kekosongan ruang relikius tersebut. Simbiosis mutualisme di antara Partai Demokrat dengan PPP, PKB, PAN, PKS, dll dapat terbangun dengan saling mengisi kekosongan. Namun, dipilihnya Prof. Dr. Boediono oleh SBY, membuat koalisi berbasis simbiosis mutualisme tadi mengalami pergeseran roh kesepahaman. Beralih menjadi simbiosis komensalisme, bahkan parasitisme. Sayap kekuatan dalam konstruksi masing-masing partai politik banyak yang menunjukkan pengalihan dukungan ke JK-Win atau Mega-Pro. Hatta Radjasa dibesarkan oleh salah satu organisasi masyarakat Islam yang telah berusia lanjut bahkan lebih tua dari Negara Republik Indonesia sendiri, yakni Muhammadiyah. Ketika seorang Amien Rais sebagai tokoh Muhammadiyah, tokoh reformasi, pendiri PAN, merekomendasikan Hatta Radjasa kepada SBY, jelas fenomena ini bukanlah tanpa pertimbangan dan latar belakang pemikiran yang mendalam. Di sisi lain, Muhaimin Iskandar ataupun Suryadharma Ali merupakan sosok yang dibesarkan oleh pendidikan agama dalam Nahdlatul Ulama’ (NU). Begitu juga dengan, Akbar Tandjung, mantan ketua umum Partai Golkar yang sukses menggawangi Partai Golkar di masa transisi dari Orde Baru ke era Reformasi ini juga mencatat perjalanan panjang dalam organisasi pemuda berbasis Islam yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Terakhir, Hidayat Nurwahid. Figur mantan Presiden PKS, lulusan Pondok Pesantren Gontor, IAIN Yogya, dan Universitas Madinah ini dianggap mayoritas masyarakat Indonesia paling islamis di antara sederet alternatif tokoh politik di atas. Lalu bagaimana dengan ke-Islam-an Boediono ?. Sosok mantan Gubernur BI yang beberapa waktu lalu dihembus isu SARA berupa non-Islamnya Ny. Boediono ini, bisa dikatakan tidak memiliki kesejarahan kesantrian. Ada pengakuan seorang kyai sebuah pesantren di wilayah Jakarta, yang mengatakan bahwa Boediono pernah menjadi santri di pondok pesantrennya. Akan tetapi, pengakuan kyai tersebut diragukan kebenarannya oleh banyak pihak, karena tidak jelas kapan dan atau sebelum atau sesudah Prof. Dr. Boediono berangkat ke luar negeri. Biografi tokoh ini mencatat bahwa sebelum sekolah ke luar negeri, Boediono menamatkan pendidikannya di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, tidak di Jakarta. Sedangkan, pasca pulang dari pendidikannya di luar negeri, Prof. Dr. Boediono langsung masuk ke dalam birokrasi pemerintahan. Hal ini menimbulkan banyak keraguan atas pengakuannya yang diamini oleh pasangannya, SBY. Tetapi, fakta menunjukkan bahwa Prof. Dr. Boediono memiliki andil besar dalam memperkenalkan dan membangun perbankan berbasis syari’ah di Indonesia. Beliau seringkali menjadi mentor atau panelis dalam beragam seminar yang mengangkat tema-tema ekonomi syari’ah. Kalangan elite politik partai-partai Islam dan mayoritas ulama’ menilai fenomena ini sebagai penghargaan atas keilmuannya di bidang ekonomi dan perbankan, bukan dilandasi oleh kemampuan dan kesejatian dirinya yang berpijak pada nilai-nilai Islam, secara substansial (Indo Pos, 12/06). Sepenggal pidato SBY dalam deklarasi pasangan SBY-Berbudi di Gedung Sabuga, Bandung, mencatat bahwa dirinya memilih Boediono karena Boediono adalah seorang muslim yang lurus, jujur, sederhana, konsisten, seorang pekerja keras, ulet, dan bertanggungjawab. Pernyataan SBY tentang Boediono, yang diharapkannya menjadi jawaban atas tanda tanya masyarakat ini mengundang beberapa kontroversi. Kalangan Islam ‘formal’, yang seringkali menentukan kadar ke-Islam-an seseorang berpijak pada parameter formal seperti kefasihan membaca Al-Qur’an, penguasaan ilmu Fiqh, dll, menilai bahwa pernyataan SBY tentang Boediono lebih nampak sebagai pledoi semata. Mereka menilai sosok Boediono sama sekali tidak membawa representasi kadar ke-Islam-an yang dapat dipertanggungjawabkan. Sosok Boediono masih membawa kesamaran kefasihan membaca Al-Qur’an, atau menguasai kaidah ilmu Fiqh. Bahkan sosok Boediono tidak memiliki back ground kesejarahan aktif di organisasi Islam seperti di NU, Muhammadiyah, HMI, PMII, dan lain-lain. Bagaimana SBY bisa menyebut Boediono sebagai seorang muslim ?. Kriteria lurus, juru, sederhana, konsisten, maupun lainnya tersebut terlalu umum sebagai parameter kadar ke-Islam-an seorang induvidu. Bagi kalangan umat Islam, kriteria ini belum mencerminkan ke-Islam-an Boediono secara formal. Hal ini melatarbelakangi mencuatnya opini yang cenderung menyayangkan keputusan SBY karena tidak memilih sosok dari kalangan muslim formal sebagai cawapresnya untuk dapat meraih simpati pemilih Islam di Indonesia. PKS dan PPP bahkan pernah menyatakan bahwa dengan memilih Boediono, SBY dianggap tidak berpihak kepada umat Islam. Detik-detik menjelang masa kampanye terbuka menjadi saksi beragam kritik dari berbagai kalangan umat Islam terhadap SBY ketika memilih Boediono. Tetapi, ketidakgoyahan SBY akhirnya meluluhkan hati para elite politik partai-partai Islam dalam barisan koalisinya seperti PKS, PPP, PKB dan PAN, partai-partai yang dianggap merepresentasikan konstituen muslim. Parta-partai politik ini nyaris saja keluar dari koalisi pasca keputusan SBY untuk memilih Prof. Dr. Boediono. Bagi mereka, Boediono bukan sosok Islam formal, melainkan cenderung sebagai sosok Islam Abangan. Namun, perbedaan persepsi ini lebih nampak sebagai gertak sambal untuk meningkatkan bargain power daripada sebuah perbedaan yang mencerminkan kedewasaan berpolitik. Toh akhirnya, partai-partai tersebut tetap memelihara kesinambungan koalisi dengan SBY. Meski tak dapat dipungkiri, nampak betul setengah hati. Jikalau penilaian partai-partai politik Islam terhadap sosok Boediono mengacu pada pendekatan rasional dan keagamaan, hal ini merupakan fenomena ini merupakan wajah keberagaman sosiologi Islam di Indonesia. Akan tetapi, apabila penilaian tersebut bermuatan politis, berarti Islam hanya menjadi komoditas politik guna mendongkrak atau menjatuhkan kekuatan politik seseorang atau suatu kelompok. Clifford Geertz secara dikotomis telah membagi sosiologi Islam di Indonesia, terutama Jawa, menjadi dua kelompok yakni Santri dan Abangan. Menurut Geertz, kota Blitar sendiri yang merupakan tanah kelahiran sosok Boediono masuk dalam peta Islam Abangan. Di satu sisi, Kuntowijoyo mengatakan bahwa dikotomi Geertz tersebut, telah lama luntur seiring perkembangan teknologi, mobilitas, dan informasi. T erhitung sejak 90-an hingga sekarang dikotomi ala Clifford Geertz tersebut telah menghablur dan pergi bersama waktu. Jika dulu, ada pemisahan yang jelas antara orang-orang birokrasi dengan kalangan santri, sekarang keduanya saling bajak-membajak identitas. Santri bisa melakukan mobilitas ke wilayah birokrasi, sedangkan birokrat juga berbondong-bondong membawa aura santri ke dalam ranah birokrasi. Secara fisik, dapat kita cermati dari kuantitas tokoh birokrat yang berlatar belakang santri, atau bangunan masjid dan musholla di lingkungan lembaga-lembaga birokrasi. Sebagaimana sebuah konklusi dalam ilmu humaniora, satu simpul dalam satu tempat dan waktu dapat menemukan kebenaran namun di lain waktu dan tempat dapat diporak-porandakan. Apabila di masa lalu kadar ke-Islam-an seseorang dapat diukur dengan parameter tunggal secara formal, seperti kefasihan membaca Al-Qur’an, penguasaan ilmu Fiqh, dll. Hari ini parameter tersebut telah kehilangan validitasnya, ke’santri’an para birokrat tidak diikuti dengan etos kerja dan integritas islamis. Korupsi masih terus terjadi bahkan sebagian besar dilakukan oleh sosok-sosok Islam Formal. Meskipun berlatar-belakang pesantren ternyata tidak menghentikan dorongan atau mengurangi lakuan tindak korupsi. Fenomena inilah menjatuhkan kredibilitas sosok-sosok Islam Formal, secara umum, sehingga Islam menerima getahnya yakni mengalami degradasi eksistensi dalam peri kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam konteks seperti ini, kita bisa memahami alasan SBY ketika memilih Boediono yang tidak memiliki latar belakang ke-Islam-an Formal. Boediono adalah seorang muslim yang lurus, jujur, sederhana, konsisten, pekerja keras, ulet, dan bertanggungjawab, di mata SBY, menjadi uraian ‘kekafahan Islam’ sosok yang mengundang banyak iri hati ini. Prof. Dr. Boediono memang bukan sosok muslimin secara formal, tetapi bisa jadi dirinya adalah sosok muslimin yang dapat memahami Islam secara substansial. Bisa dikatakan bahwa SBY lebih mempertimbangkan konten dari pada kemasan. Kemasan menjadi faktor yang harus diabaikan, karena mutiara keluar dari mulut anjing tetaplah ia menjadi mutiara. Benar dan tidaknya, wallahu a’lam bissawab. Artikel ini dapat dibaca di : Ada Apa Dengan Keislaman Boediono ? http://public.kompasiana.com/2009/07/03/ada-apa-dengan-keislaman-boediono/ *** Tanya : Assalamualaikum wr. wb. Al-Ustadz yang saya hormati, ada sebagian orang yang berpendapat bahwa tidaklah wajib menegakkan syariat Islam dalam bentuk formal dalam artian dijadikan hukum posiitf negara dan mengatakan bahwa yang wajib adalah menerapkan prinsip-prinsip yang dibawa Islam saja semisal keadilan, persamaan dan sebagainya. Benarkah hudud Islam seperti potong tangan bagi pencuri, rajam bagi penzina yang sudah menikah dan sebagainya itu hanya bentuk keadilan yang harus ditegakkan saat zaman Islam awal saja sedang sekarang bentuk keadilannya bisa disesuaikan dengan kondisi masyarakat dewasa ini ?. Kalau tidak salah syaikh Ali Gum''ah dari Mesir pun berpendapat seperti itu (kalau tidak salah dengar). Mohon dijelaskan ustadz biar tidak salah pemahaman saya tentang syariah Islam. Sekian atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih. Wassalamualaikum wr. wb. Jawaban : Assalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Cara berpikir seperti itu sangat sesat dan sekaligus menyesatkan. Pemikiran itu sama saja dengan menghancurkan agama Islam, yang telah susah payah dibangun oleh Rasulullah SAW dan dipertahankan selama 14 abad oleh para pengikutnya. Kalau agama ini kita belah dua menjadi formal dan tidak formal, lalu kita bilang yang formal harus ditinggalkan sedangkan yang kita kerjakan yang tidak formalnya saja, maka Islam sudah selesai riwayatnya saat ini juga. Bukankah wudhu'' itu ibadah formal, apakah kita tinggalkan wudhu'' dan konsentrasi pada kebersihan hati saja ?. Bukankah shalat itu ibadah formal, apakah kita tidak perlu lagi shalat 5 waktu dan cukup ingat Allah kapan saja di mana saja ?. Bukankah puasa itu ibadah formal, apakah kita tinggalkan puasa Ramadhan dan cukup yang penting sabar saja ?. Bukankah bayar zakat itu ibadah formal, apakah kita tidak lagi bayar zakat yang penting kita meresapi rasa keadilan sosial di hati masing-masing ?. Nantinya akan ada orang yang bilang bahwa pernikahan itu ibadah formal, tidak perlu dilakukan saja, yang penting kasih sayang. Semua pemikiran model begini tidak lain hanyalah limbah pemikiran usang yang masih saja dijadikan lagu wajib oleh para Sekuleris dan Liberalis. Intinya hanya satu, mereka ingin robohkan agama Islam, tapi bukan dengan pedang dan mesiu, melainkan dengan Racun Pemikiran. Korbannya adalah umat Islam yang awam serta kurang punya landasan iman yang kuat. Mereka adalah massa yang mengambang, terombang-ambing di tengah derasnya arus pemikiran jahiliyah bertopeng ilmu. Ditambah lagi para mahasiswa universitas Islam yang sudah sejak 30 tahun terakhir ini jadi korban bulan-bulanan para orientalis barat kafir. Meski penampilannya mahasiswa, tetapi mentalnya tidak beda dengan para inlander di zaman Belanda. Kerjanya menjilat dan mengagumi para imperialis. Trik Licik : Pembedaan Syariah Formal dan Non Formal.. Membedakan syariah menjadi dua macam yaitu formal dan tidak formal sebenarnya boleh-boleh saja. Tetapi kalau dibalik pembedaan ini ada jebakan yang mematikan, sebaiknya kita berhati-hati. Dan nyatanya memang ada racun di balik ‘deskripsi’ yang ditawarkan, yaitu ingin memusnahkan syariat Islam itu sendiri. Cuma dengan bahasa yang lebih diperhalus. Tapi ujung-ujungnya sama saja, yaitu hancurkan syariat Islam. Ketika syariah dikatakan terdiri dari dua sisi, yaitu sisi formal dan sisi non formal, kita masih bisa terima. Yang formalnya adalah memotong tangan pencuri. Sedangkan yang non formalnya adalah menegakkan keadilan dan kedisiplinan. Tetapi ketika sudah dikatakan bahwa yang penting sisi non formalnya lebih esensial, lebih utama dan lebih dikedepankan, sementara yang formalnya tidak terlalu perlu dipertahankan, sebenarnya jebakan dan jeratnya sudah mulai bekerja. Nanti ujung terakhirnya, mereka akan meminta kita meninggalkan syariat yang formal dan hanya menjalankan yang non formal. Bukan hanya kita tidak boleh memotong tangan pencuri, merajam pezina, mencambuk peminum khamar, tetapi sampai tidak perlu lagi shalat, puasa dan bayar zakat. Alasannya, semua bentuk formal itu harus disesuaikan dengan zaman dan kondisi sosialnya. Dan mereka menuduh bahwa jilbab, potong tangan, rajam dan cambuk itu hanyalah format lokal yang hanya cocok untuk masa tertentu dan kondisi tertentu. Betapa lihainya lidah mereka dalam bersilat, seolah semuanya benar. Padahal intinya sudah jelas, buang jauh-jauh syariah Islam dan robohkan agama ini. Itulah esensi semua argumentasi kalangan Sekuleris bejat itu. Semoga kita terlindung dari paham syaithani yang menghembus di telinga. Dan semoga Allah hancurkan para pendukung pemikiran sesat ini, porak porandakan kesatuan mereka, cerai-beraikan sekutu mereka dan kembalikan lagi mereka ke jalan yang benar. Amien. Wallahu a''lam bishshawab, wassalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Artikel ini dapat dibaca di : Tidak Perlu Syariat yang Wajib Prinsip Islam Saja, Benarkah ?. http://ustsarwat.com/search.php?id=1160599466&cari=jilbab&tanya=answer *** [Non-text portions of this message have been removed]

