(ERAMUSLIM)

Senin, 10/08/2009 07:30 WIB
                                
                                Assalamu'alaikum....
Bung Rizki, sy bingung dengan aksi terorisme dimana terkadang
dibelakangnya pelakunya orang muslim seperti Noordin M Top cs sering
dalam tindakannya menggunakan dalil Al Qur'an...sehingga kesannya yg
disampaikan dan tindakannya ada benarnya, namun disisi lain banyak umat
islam mengecam aksi terorisme dan menilai hal tersebut melenceng dari
ajaran islam, jadi bagaimana kita harus bersikap dalam hal ini?
jelasnya...mana/siapa yang benar? maaf susunan katanya agak rancu...
Terima kasih....
                                                                NK              
                
                                

                                Jawaban
                                









Wa’alaikumusalam warahmatullahi wabaralatuh,
NK yang dirahmati Allah Swt. Sebelum kita masuk ke
dalam inti pertanyaan Anda, ada baiknya kita menengok dulu istilah
“terorisme” yang sekarang ngetrend lagi paska pemboman dua hotel
Amerika di Kuningan, Jakarta, kemarin. 
Sekarang, istilah “Terorisme” diartikan sebagai
“Tindakan meneror, merusak, dan menghancurkan segala hal yang
berhubungan dengan kepentingan AS”. Sebab itu “Dunia” menyatakan jika
HAMAS adalah teroris, Muslim Moro adalah teroris, dan sebagainya.
Sedang Zionis-Israel yang jelas-jelas Dajjal itu tidak disebut teroris.
Kaum NeoLib yang jelas-jelas sejak tahun 1967 menjual murah bangsa ini
kepada imperialisme asing Yahudi Internasional, juga tidak dikatakan
sebagai teroris, padahal dampaknya sangat dahsyat ribuan kali ketimbang
semua pemboman yang pernah terjadi di Indonesia. Istilah Terorisme
memang dijadikan AS sebagai istilah pengganti untuk “Common-Enemy”
setelah istilah “Cold War” atau “The Red Devil” tidak laku lagi.
Nah, jika benar pelaku dua pemboman kemarin itu
Noordin M Top, maka perbuatan itu jelas tidak benar dalam kacamata
syariah Islam, walau dalil yang dipakai ayat-ayat Qur’an. Hal ini biasa
terjadi. Bukankah dukun dan paranormal saja melakukan kemusyrikan juga
menggunakan ayat-ayat dari kitab yang sama? Dan bahkan banyak politisi
yang juga jualan ayat Qur’an namun niatnya bukan untuk dakwah, sekadar
untuk meningkatkan taraf kesejahteraan keluarga dan kelompoknya. Juga
banyak ayat-ayat Qur’an digunakan untuk menipu umat. Kemarin kita semua
bisa melihat bagaimana ayat-ayat Qur’an digunakan untuk mendukung
pemimpin yang tidak mau membubarkan ajaran sesat Ahmadiyah, yang
berarti dia tidak mau mematuhi perintah Allah Swt. Padahal Rasulullah
SAW jelas-jelas mewajibkan umat-Nya untuk memerangi nabi-nabi palsu
seperti si ghulam ahmad itu samai ke akar-akarnya.  Semuanya ini jelas
sesat.
Peperangan dalam Islam bersifat membebaskan, yakni
pembebasan manusia dari penghambaan kepada selain Allah SWT. Perang
dalam Islam sangat bersifat adil, tidak sembarangan, tidak boleh
membunuh non-kombatan, tidak boleh merusak pepohonan, tidak boleh
berlebihan, dan sebagainya. Jadi, perang ekonomi ya hadapilah dengan
perlawanan ekonomi juga (boikot produk pro-Zionis misalkan seperti yang
difatwakan Dr. Yusuf Qaradhawy), perang pemikiran ya hadapilah dengan
perlawanan di bidang pemikiran juga, dan perang dengan meriam dan tank
ya baru dihadapi dengan senjata yang seimbang. 
Apa yang dilakukan teroris dengan meledakkan bom
dua kali di Bali dan tiga kali di Kuningan, jelas suatu tindakan yang
tidak bisa dibenarkan dalam syarat-syarat peperangan dalam Islam. Benar
jika Bali dipenuhi oleh turis dari Barat, benar jika JW Marriot dan
Ritz Carlton milik Amerika, tapi apakah mereka memerangi umat Islam
dengan bom dan peluru? Di Indonesia jelas tidak. Kalau pun mereka
memerangi umat Islam, paling-paling dengan perang ekonomi dan
pemikiran, maka harusnya dihadapi juga dengan perlawanan di bidang
ekonomi dan pemikiran, bukan dengan bom. Itu baru adil.
Sayangnya, kebanyakan umat Islam sekarang ini
banyak yang menjadi umat yang reaktif, bukan umat yang aktif. Kita
sangat tertinggal hampir dalam semua sektor dibandingkan dengan umat
yang lain. Dulu pernah ada gerakan dakwah yang militan dan lurus,
menyampaikan al-haq dan melawan al-bathil dengan penuh izzah walau
kepada penguasa sekali pun, sayang sekarang semuanya sudah sirna
terbakar gemerlap kursi kekuasaan, sehingga yang haq bisa jadi bathil
dan juga sebaliknya. Yang model begini pun dengan menggunakan ayat-ayat
Qur’an, sama seperti yang dilakukan dukun. 
Kita sebagai umat Islam dalam memandang aksi-aksi
terorisme yang kemarin terjadi di Kuningan memang harus bersikap
prihatin. Namun jangan salah, teroris yang membom dua hotel di Kuningan
kemarin itu “cuma” menewaskan sembilan orang. Ada teroris yang jauh
lebih besar, lebih berbahaya, lebih ganas, lebih rakus, yakni teroris
yang dilakukan dengan diam-diam, dengan penuh senyum, yang dilakukan
para Neolib sejak empatpuluh tahun lalu di negeri ini. 
Teroris yang beraksi di Kuningan kemarin adalah
teroris kelas kacangan, sedangkan teroris yang menjajah negeri ini
sejak empatpuluhan tahun lalu adalah teroris yang sesungguhnya, yan
telah berhasil menipu jutaan orang. Korban yang jatuh akibat perbuatan
mereka ini jumlahnya ratusan juta orang, dan berjalan dari generasi ke
generasi. Yang belakangan inilah yang seharusnya lebih harus diwaspadai
dan dilawan. Tapi itu, ya lawannya dengan adil dan bermartabat, sesuai
dengan kaidah perang dalam Islam.
Wallahu’alam bishawab. Wassalamu’alaikum warahmatulahi wabarakatuh.       



      Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih 
cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. 
Dapatkan IE8 di sini! 
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke