Bissmillahirrohmaanirrohiim
"ALLAHUMMA LA KHOIRO ILLA KHOIRUKA WALAA THOYRO ILLA THOYRUKA" yang artinya "Ya
Allah, tiada yang dapat
mendatangkan kebaikan selain Engkau; tiada yang dapat menolak keburukan selain
Engkau; dan tiada daya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Engkau."
Segala
Puji bagi Allah. Tidak layak bagi seorang muslim yang mengimani Tuhannya
dan Islam sebagai agamanya, dan mengimani Muhammad SAW sebagai nabi dan
Rasulnya juga beriman terhadap Qodar baik dan buruknya, untuk meyakini adanya
pengaruh tertentu dari suatu dzat atau sifat, bahwa hal tersebut bisa
mendatangkan manfaat atau menolak mudharat.
Padahal
tidak diajarkan. Dalam agama (syara), tetapi hal itu hanya merupakan warisan
jahiliyah yang sudah dibatalkan Islam, dan kepercayaan semacam itu merupakan
perbuatan musyrik yang menghilangkan kesempurnaan tauhid karena hal itu
hanyalah bujukan syetan dan buaiannya.
Seperti
yang dicontohkan Allah tentang keluarga Fir'aun dalam firmannya : ”Kemudian
apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka
berkata: "Ini adalah karena (usaha) kami". Dan jika mereka ditimpa
kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang
besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari
Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS Al-A'raf [7] : 131)
Mereka
itu kalau ditimpa musibah atau paceklik mereka lemparkan kesialan itu kepada
Musa dan orang-orang yang menyertainya dari orang-orang mukmin, kemudian Allah
menjawab kesialan mereka itu dengan firmannya :
"…ketauhilah sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari
Allah"
Ibnu
Abbas Radhiyallaahu anhu berkata: artinya adalah apa yang telah ditentukan dan
ditetapkan bagi mereka. Maka kesialan mereka itu adalah karena kekufuran mereka
dan karena mereka mendustai ayat-ayat Allah dan RasulNya.
Terdapat
beberapa hadits yang melarang untuk merasa sial atau tathayur dengan sesuatu,
Tathayur ini pada mulanya adalah merasa sial pada sebagian burung, tapi
kemudian menjadi tanda bagi segala sesuatu yang disialkan, diantaranya seperti
yang terdapat pada hadits Abu Hurairah semoga Allah meridhainya. Bahwasanya
Nabi SAW bersabda:
"
Tidak ada Adwa , thiarah, hamah dan shafar " (HR. Bukhari
muslim )
dan
Muslim menambahkan dalam riwayatnya
"
dan tidak ada nau dan Ghaul "
Maka
Nabi SAW melarang Adwa (penularan penyakit ) yang sudah menjadi anggapan
orang-orang jahiliyah dalam menyandarkan penyakit kepada selain Allah, dan
bahwa penyakit itu terjangkit atau menular dengan sendirinya tanpa kehendak dan
takdir Allah ta'ala, lantas Nabi mengkhabarkan bahwa semua itu terjadi atas
kehendak dan takdir Allah Ta'ala dan seorang hamba diperintah untuk menjauhi
sebab-sebab kejahatan dan mencari keselamatan.
Perkataan
Nabi SAW : "Tidak ada Shafar" Maksudnya seperti pendapat salah satu
dua pendapat ulama yaitu "Bulan Shafar" dimana orang-orang
jahiliyah menganggap sial dengan bulan itu, seperti kata Muhammad bin Rasyid
dari orang yang pernah mendengarnya berkata:
"Adalah
orang-orang jahiliyah merasa sial dengan bulan shafar, mereka mengatakan bahwa
bulan shafar adalah bulan yang membawa kesialan tidak menguntungkan, maka nabi
membatalkan semua itu.
Imam
Ibnu Rajab rahimahullah berkata:
"Merasa
sial dengan bulan shafar termasuk jenis thiyarah yang terlarang, demikian pula
merasa sial dengan sebagian hari seperti dengan hari Rabu. Dan orang-orang
jahiliyah menganggap sial terhadap bulan Syawal khususnya dalam
pernikahan."
Dan
tidak diragukan lagi bahwa menganggap sial dengan angka 13 seperti pertanyaan
diatas adalah termasuk jenis thiyarah, yang tidak ada keterangan satu dalil pun
baik dari Al-qur'an ataupun Sunnah yang menjelaskan bahwa pada angka (hari) tsb
ada sebab-sebab kesialan, atau ketidak beruntungan. Hari itu adalah hari biasa
seperti hari-hari lainnya. Adapun kejadian-kejadian yang terjadi pada hari itu
adalah berdasarkan ketentuan dan takdir Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk terjadi
dengan cara seperti itu.
Andaikan
setiap orang menyibukkan diri untuk menghitung nomor-nomor dan tanggal yang
padanya terjadi musibah-musibah yang menimpa umat, maka akan terdapat
keselarasan diantara sebagiannya, akan tetapi keselarasan ini tidak ada
hubungannya dengan merasa sial dengan angka atau tanggal dimana terjadi suatu
kejadian atau musibah itu.
Adapun
obat kegalauan semacam ini adalah hendaknya seorang hamba menguatkan hati,
keyakinan dan tawakalnya kepada Allah, dan hendaknya mengetahui bahwa tidak ada
satu kejadianpun yang menimpa kecuali berdsarkan taqdir (ketentuan) dari Allah,
dan hendaknya berhati-hati terhadap buaian syetan dalam godaan-godaannya serta
jalan-jalannya, seseorang itu terkadang dihukum dengan terjerumus kepada
sesuatu yang dibenci, itu dikarenakan ia berpaling dari iman kepada Allah dan
berpaling dari mengi'tikadkan bahwa segala kebaikan itu berada ditangan Allah,
Dialah satu-satunya yang dapat menolak mudharat dengan kuasanya dan
kelembutannya.
Dan
Nabi telah memberikan petunjuk kepada kita bila kita terjerumus pada satu
thiyarah atau kesialan dengan satu kaffarah (tebusan), seperti pada hadits yang
terdapat pada hadits Abdullah bin Umar bahwasanya Nabi bersabda :
"barang
siapa yang mengurungkan hajatnya (kepentingannya) karena thiyarah, maka dia
telah berbuat syirik"
Para
sahabat bertanya : "Lalu apakah sebagai tebusannya ? " beliau
menjawab "supaya dia Mengucapkan do’a :
"ALLAHUMMA LA KHOIRO ILLA KHOIRUKA WALAA THOYRO ILLA THOYRUKA" yang artinya "Ya
Allah, tiada yang dapat
mendatangkan kebaikan selain Engkau; tiada yang dapat menolak keburukan selain
Engkau; dan tiada daya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Engkau."
Syaikh
Al Munajid
[Non-text portions of this message have been removed]