Ass.... ikhwan wa akhwat fillah mudah-mudah2an tulisan ini yang dimuat koran
Radar Bekasi tanggal 1 September 2009 dapat bermanfaat. Amin
Puasa dan Peduli Sosial
Muhammad Zen, MA
Ketua DMI Medan Satria - Kota Bekasi &
Konsultan Syariah IMZ-Dompet Dhuafa Republika
Waktu seperti air yang mengalir, tak terasa kita sudah memasuki awal fase kedua
(magfiroh) dalam bulan romadhan yaitu hari kesebelas di bulan ini. Puasa adalah
media latihan setiap individu untuk menahan lapar dan haus dahaga sejak fajar
sampai magrib selama sebulan penuh lamanya. Pelajaran yang sangat berharga
tentunya dengan berpuasa melatih kita merasakan bagaimana posisi dan keadaan
orang-orang yang sering kehausan dan kelaparan. Dengan merasa seperti itu,
diharapkan kita menjadi sensitif terhadap persoalan-persoalan yang sering
dihadapi orang miskin dengan ringan tangan membantunya.
Sehingga, dengan puasa yang dilaluinya timbul cinta kasih kepada sesama
manusia. Kita merasakan tidak makan dan minum saja dari waktu yang telah
ditentukan tersebut saja betapa terasa lapar dan dahaga, letih, lemas, dan
kurang bertenaga. Bagaimana dengan saudara kita yang memiliki keterbelakangan
ekonomi tidak makan dan minum hampir setiap hari, boleh jadi ada yang lebih
dari satu, dua, dan tiga hari atau bahkan ada yang berminggu-minggu lamanya?
Puasa adalah ritual keagamaan yang penuh makna yang bernuansa
humanis/kemanusiaan. Ibadah puasa kian bermakna jika dilaksanakan dengan
disertai pemahaman akan hikmah di dalamnya bahkan dengan sukarela membantu
terhadap sesama dengan berlomba-lomba dalam kebaikan dan bersedekah. Apalagi di
bulan yang penuh ampunan Allah Swt. Pernah suatu ketika Rasulullah ditanya oleh
salah seorang sahabat; “ya Rasulullah perbuatan apa yang sangat mulia
(dilakukan oleh manusia)? Rasul menjawab: “Berbuat kebajikan atau bersedekah
pada bulan Romadhan”. (HR. Bukhori) Sebab, pada bulan ini amal kebajikan
termasuk sedekah akan dilipat gandakan oleh Allah sepuluh kali lipat (QS.
Al-An’am: 160) bahkan sampai lebih yaitu tujuh ratus kali lipat pahala yang
diperolehnya (QS. Al-Baqarah : 261).
Pada dasarnya saat kita melakukan amal sosial adalah untuk diri kita sendiri.
(QS. Al-Jatsiyah : 15) Sedekah berarti berderma atau melakukan perbuatan yang
baik karena Allah Swt semata. Banyak model sedekah yang dapat kita lakukan
dalam rangka peduli sosial. Sedekah membantu kepada mereka yang membutuhkan
baik dalam bentuk barang (makanan dan minuman atau lainnya) dan jasa, sedekah
juga bisa lewat dengan senyuman, berzikir sehingga enggan menyakiti orang lain
bahkan orang yang menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dalam jalan raya pun
dikategorikan oleh Rasul sebagai bentuk sedekah atau peduli sosial. (HR.
Bukhori) Orang yang gemar memberikan makanan pada orang yang kelaparan. Ini
adalah praktik riil bagaimana kepedulian itu ditunjukkan dengan kerelaan kita
memberikan sebagian harta kita untuk meringankan beban mereka dengan bersedekah
dan berzakat.
Islam adalah agama yang humanis, memperhatikan masalah sosial. Hal ini dapat
juga dicermati bagaimana saat kita beribadah shalat yang diakhiri dengan salam
(tengok kanan dan ke kiri ). Inipun boleh jadi sebagai simbol disamping sebagai
bentuk ibadah kepada Allah, agar kita selalu mengingat, memperhatikan dan
membantu meringankan beban kesulitan ekonomi saudara kita yang ada disamping
kanan dan samping kiri kita.
.
Allah Swt telah berjanji akan memasukkan mereka (yang meringankan beban
saudaranya dengan bersedekah/berzakat) ke dalam syurga firdaus yang kekal di
dalamnya (QS. Al-mu’minun: 10-11). Bahkan Allah akan memasukkan kepada mereka
yang tidak peduli sosial yaitu ke dalam neraka (saqar). “Apakah yang memasukkan
kamu ke dalam Saqar (neraka)?. Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak Termasuk
orang-orang yang mengerjakan shalat, Dan Kami tidak (pula) memberi Makan orang
miskin” (QS. Al-Muddatstsir (74): 42-45).
Al-hasil, Puasa yang kita lalui mudah-mudahan dapat membuat rasa peduli sosial
terlatih. Bahkan semakin meningkatkan amal sosial kita secara horizontal, yang
berdampak nyata pada masyarakat dan lingkungan. Di samping, sebagai bentuk
ibadah kepada Allah Swt secara vertikal agar keimanan dan ketakwaan kita
semakin meningkat. Amin.
Waallahu A’lam
Sumber: dimuat pada Koran “Radar Bekasi” : Tadarus, Tanggal 1 September 2009
Apakah wajar artis ikut Pemilu? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers.
http://id.answers.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]